Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB SATU
Aku Bertarung dengan Regu Pemandu Sorak
Hal terakhir yang ingin kulakukan pada libur musim panasku adalah lagi-lagi meledakkan sekolah. Tapi di sanalah aku, pada Senin pagi, minggu pertama Juni, duduk dalam mobil ibuku di depan Goode High School di East 81st.
Goode berupa gedung besar dari batu cokelat yang menghadap ke Sungai East. Sekumpulan mobil BMW dan Lincoln Town diparkir di luar, di depannya. Sambil menengadah ke gerbang batu lengkung keren itu aku bertanya-tanya berapa lama aku punya waktu sebelum diusir dari tempat ini.
“Santai saja.” Ibuku tidak terdengar santai. “Ini Cuma tur orientasi. Dan ingat, Sayang, ini sekolah Paul. Jadi, kalau bisa jangan ... kau tahulah.”
“Menghancurkannya?”
“Iya.”
Paul Blofis, pacar ibuku, berdiri di depan gedung, menyambut calon-calon murid kelas sembilan saat mereka menaiki undakan. Dengan rambut kelabu keperakan, pakaian denim, dan jaket kulit, dia mengingatkanku pada seorang aktor TV, tapi dia cuma guru Bahasa Inggris. Dia berhasil meyakinkan Goode High School agar menerimaku di kelas sembilan meskipun aku telah dikeluarkan dari semua sekolah yang pernah kumasuki. Aku sudah mencoba memperingatkan bahwa itu bukan ide bagus, tapi dia tak mau mendengarkan. Kupandangi ibuku. “Ibu belum memberi tahu dia yang sebenarnya tentang aku, ya?”
BAB SATU
Aku Bertarung dengan Regu Pemandu Sorak
Hal terakhir yang ingin kulakukan pada libur musim panasku adalah lagi-lagi meledakkan sekolah. Tapi di sanalah aku, pada Senin pagi, minggu pertama Juni, duduk dalam mobil ibuku di depan Goode High School di East 81st.
Goode berupa gedung besar dari batu cokelat yang menghadap ke Sungai East. Sekumpulan mobil BMW dan Lincoln Town diparkir di luar, di depannya. Sambil menengadah ke gerbang batu lengkung keren itu aku bertanya-tanya berapa lama aku punya waktu sebelum diusir dari tempat ini.
“Santai saja.” Ibuku tidak terdengar santai. “Ini Cuma tur orientasi. Dan ingat, Sayang, ini sekolah Paul. Jadi, kalau bisa jangan ... kau tahulah.”
“Menghancurkannya?”
“Iya.”
Paul Blofis, pacar ibuku, berdiri di depan gedung, menyambut calon-calon murid kelas sembilan saat mereka menaiki undakan. Dengan rambut kelabu keperakan, pakaian denim, dan jaket kulit, dia mengingatkanku pada seorang aktor TV, tapi dia cuma guru Bahasa Inggris. Dia berhasil meyakinkan Goode High School agar menerimaku di kelas sembilan meskipun aku telah dikeluarkan dari semua sekolah yang pernah kumasuki. Aku sudah mencoba memperingatkan bahwa itu bukan ide bagus, tapi dia tak mau mendengarkan. Kupandangi ibuku. “Ibu belum memberi tahu dia yang sebenarnya tentang aku, ya?”
Ibuku mengetuk-ngetukkan jemarinya dengan gugup ke roda setir. Dia berdadan untuk wawancara kerja—dengan rok birunya yang terbagus dan sepatu hak tingginya.
“Ibu pikir sebaiknya kita menunggu,” akunya.
“Supaya kita nggak menakuti dia.”
“Ibu yakin orientasinya bakal baik-baik saja, Percy. Cuma pagi ini saja.”
“Baguslah.” gumamku. “Aku bahkan bisa dikeluarkan sebelum tahun ajaran dimulai.”
“Berpikirlah positif. Besok kau akan berangkat ke perkemahan! Setelah orientrasi, kau punya janji kencan—“
“Itu bukan kencan!” protesku. “Cuma Annabeth, Bu. Ya ampun!”
“Dia datang jauh-jauh dari perkemahan untuk menemuimu.”
“Yah, memang sih.”
“Kalian bakal pergi nonton.”
“Iya.”
“Cuma kalian berdua.”
“Ibu pikir sebaiknya kita menunggu,” akunya.
“Supaya kita nggak menakuti dia.”
“Ibu yakin orientasinya bakal baik-baik saja, Percy. Cuma pagi ini saja.”
“Baguslah.” gumamku. “Aku bahkan bisa dikeluarkan sebelum tahun ajaran dimulai.”
“Berpikirlah positif. Besok kau akan berangkat ke perkemahan! Setelah orientrasi, kau punya janji kencan—“
“Itu bukan kencan!” protesku. “Cuma Annabeth, Bu. Ya ampun!”
“Dia datang jauh-jauh dari perkemahan untuk menemuimu.”
“Yah, memang sih.”
“Kalian bakal pergi nonton.”
“Iya.”
“Cuma kalian berdua.”
“Bu!”
Ibuku mengangkat kedua tangannya, menyerah, tapi aku tahu dia berusaha keras agar tidak tersenyum. “Lebih baik kau masuk, Sayang. Sampai ketemu nanti malam.”
Aku hampir keluar dari mobil ketika aku memandang ke arah undakan sekolah. Paul Blofis sedang menyapa seseorang gadis berambut merah keriting. Dia mengenakan T-shirt merah marun dan jin lusuh berhiaskan gambar-gambar yang dibuat dengan spidol. Saat dia berbalik, kulihat sekilas wajahnya, dan bulu-bulu di lenganku pun berdiri tegak.
“Percy?” tanya ibuku. “Ada masalah apa?”
“Ng-nggak ada,” kataku terbata-bata. “Apa sekolah ini punya pintu masuk samping?”
“Lurus di blok ini terus belok kanan. Kenapa?”
“Sampai ketemu nanti.”
Ibuku mulai mengatakan sesuatu, tapi aku langsung keluar dari mobil dan berlari, berharap agar si gadis berambut merah tidak melihatku.
Apa yang dia lakukan di sini? Peruntunganku tak mungkin sejelek ini, kan.
Yeah, betul sekali. Aku bakal menemukan bahwa peruntunganku memang bisa lebih jelek lagi. Menyelinap diam-diam untuk mengikuti orientasi ternyata tidak terlalu sukses. Dua pemadu sorak berseragam ungu-putih sedang berdiri di pintu masuk samping menunggu untuk menyergap para murid baru.
Ibuku mengangkat kedua tangannya, menyerah, tapi aku tahu dia berusaha keras agar tidak tersenyum. “Lebih baik kau masuk, Sayang. Sampai ketemu nanti malam.”
Aku hampir keluar dari mobil ketika aku memandang ke arah undakan sekolah. Paul Blofis sedang menyapa seseorang gadis berambut merah keriting. Dia mengenakan T-shirt merah marun dan jin lusuh berhiaskan gambar-gambar yang dibuat dengan spidol. Saat dia berbalik, kulihat sekilas wajahnya, dan bulu-bulu di lenganku pun berdiri tegak.
“Percy?” tanya ibuku. “Ada masalah apa?”
“Ng-nggak ada,” kataku terbata-bata. “Apa sekolah ini punya pintu masuk samping?”
“Lurus di blok ini terus belok kanan. Kenapa?”
“Sampai ketemu nanti.”
Ibuku mulai mengatakan sesuatu, tapi aku langsung keluar dari mobil dan berlari, berharap agar si gadis berambut merah tidak melihatku.
Apa yang dia lakukan di sini? Peruntunganku tak mungkin sejelek ini, kan.
Yeah, betul sekali. Aku bakal menemukan bahwa peruntunganku memang bisa lebih jelek lagi. Menyelinap diam-diam untuk mengikuti orientasi ternyata tidak terlalu sukses. Dua pemadu sorak berseragam ungu-putih sedang berdiri di pintu masuk samping menunggu untuk menyergap para murid baru.
“Hai!” Mereka tersenyum, yang menurut tebakanku adalah pertama dan terakhir kalinya ada pemandu sorak yang seramah itu padakku. Yang satu pirag dengan mata biru sedingin es. Yang lain adalah gadis Afro-Amerika dengan rambut gelap keriting seperti rambut Medusa (dan percayalah padaku, aku tahu apa yang kubicarakan). Nama kedua gadis itu tersulam melingkar-melingkar di masing-masing seragam mereka, tapi berkat diseleksiaku kata-kata itu terlihat bagaikan spageti tanpa arti.
“Selamat datang di Goode,” si gadis pirang berkata. “Kau bakal suka banget sama sekolah ini.”
Tapi saat dia memandangiku naik-turun, raut wajahnya mengatakan sesuatu yang lebih mirip seperti, Ihhh, siapa sih pecundang ini?
Gadis yang satu lagi melangkah mendekatiku, terlalu dekat sehingga rasanya tak nyaman. Aku mempelajari sulaman di seragamnya dan berhasil membaca Kelli. Dia berbau seperti mawar dan sesuatu yang lain yang kukenal dari pelajaran berkuda di perkemahan—aroma kuda yang baru saja dimandikan. Bau yang aneh bagi seorang pemandu sorak. Mungkin dia puya kuda atau apalah. Pokoknya, dia berdiri begitu dekat sehingga aku punya firasat dia bakal mencoba mendorongku jatuh ke anak tangga. “Siapa namamu, Ikan?”
“Ikan?”
“Anak baru.”
“Eh, Percy.”
Gadis-gadis itu bertukar pandang. “Oh, Percy Jackson,” kata si pirang. “Kami sudah menunggumu.”
“Selamat datang di Goode,” si gadis pirang berkata. “Kau bakal suka banget sama sekolah ini.”
Tapi saat dia memandangiku naik-turun, raut wajahnya mengatakan sesuatu yang lebih mirip seperti, Ihhh, siapa sih pecundang ini?
Gadis yang satu lagi melangkah mendekatiku, terlalu dekat sehingga rasanya tak nyaman. Aku mempelajari sulaman di seragamnya dan berhasil membaca Kelli. Dia berbau seperti mawar dan sesuatu yang lain yang kukenal dari pelajaran berkuda di perkemahan—aroma kuda yang baru saja dimandikan. Bau yang aneh bagi seorang pemandu sorak. Mungkin dia puya kuda atau apalah. Pokoknya, dia berdiri begitu dekat sehingga aku punya firasat dia bakal mencoba mendorongku jatuh ke anak tangga. “Siapa namamu, Ikan?”
“Ikan?”
“Anak baru.”
“Eh, Percy.”
Gadis-gadis itu bertukar pandang. “Oh, Percy Jackson,” kata si pirang. “Kami sudah menunggumu.”
Merema mengirimkan O-ow gawat yang membuat bulu kudukku merinding. Mereka menghalangi pintu masuk, tersenyum dengan cara yang tidak begitu ramah. Tanganku merayap secara instingtif ke saku, tempatku menyimpan bolpenku yang mematikan, Reptide.
Lalu suara lain datang dari dalam bangunan. “Percy?” Itu Paul Blofis, di suatu tempat di lorong. Aku tidak pernah selega ini mendengar suaranya.
Para pemandu sorak mundur. Aku tak sabar ingin melewati mereka sehingga lututku tak sengaja menabrak paha Kelli.
Klang.
Kakinya menghasilkan bunyi rongga kosong seperti logam, seolah aku baru saja menabrak tiang bendera.
“Aduh,” gumamnya. “Lihat-lihat dong, Ikan.”
Aku menatap ke bawah, tapi kakinya terlihat kaki yang biasa-biasa saja. Aku terlalu takut untuk mengajukan pertanyaan. Aku melejit ke lorong, para pemandu sorak itu tertawa-tawa di belakangku.
“Rupanya kau di situ!” kata Paul kepadaku. “Selamat datang di Goode!”
“Hei, Paul—eh, Pak Blofis.” Aku melirik ke belakang, tapi para pemandu sorak aneh sudah menghilang.
“Percy, kau kelihatan seperti baru melihat hantu.” “Iya, eh—“
Lalu suara lain datang dari dalam bangunan. “Percy?” Itu Paul Blofis, di suatu tempat di lorong. Aku tidak pernah selega ini mendengar suaranya.
Para pemandu sorak mundur. Aku tak sabar ingin melewati mereka sehingga lututku tak sengaja menabrak paha Kelli.
Klang.
Kakinya menghasilkan bunyi rongga kosong seperti logam, seolah aku baru saja menabrak tiang bendera.
“Aduh,” gumamnya. “Lihat-lihat dong, Ikan.”
Aku menatap ke bawah, tapi kakinya terlihat kaki yang biasa-biasa saja. Aku terlalu takut untuk mengajukan pertanyaan. Aku melejit ke lorong, para pemandu sorak itu tertawa-tawa di belakangku.
“Rupanya kau di situ!” kata Paul kepadaku. “Selamat datang di Goode!”
“Hei, Paul—eh, Pak Blofis.” Aku melirik ke belakang, tapi para pemandu sorak aneh sudah menghilang.
“Percy, kau kelihatan seperti baru melihat hantu.” “Iya, eh—“
Paul menepuk punggungku. “Dengar, aku tahu kau gugup, tapi jangan khawatir. Kami punya banyak murid di sini yang menderita GPPH (gangguan pemusatan perhatian dan hiperaktivitas) dan diseleksia. Guru-guru tahu bagaimana caram membantumu.”
Aku hampir saja ingin tertawa. Seandainya saja GPPH dan diseleksia adalah kekhawatiranku yang terbesar. Maksudku, aku tahu Paul mencoba menolong, tapi kalau kuberi tahu dia yang sebenarnya tetang diriku, entah dia bakal berpikir aku ini gila atau dia bakal lari kabur sambil menjerit-jerit. Para pemandu sorak itu, misalnya. Aku punya firasat buruk soal mereka ....
Lalu aku melihat ke arah lorong, dan kuingat aku punya masalah lain. Si gadis berambut merah yang kuingat di undakan depan baru saja masuk lewat pintu utama.
Jangan lihat aku, doaku.
Dia melihatku. Matanya membelalak.
“Di mana orientasinya?” Aku menanyai Paul.
“Di gimnasium. Ke arah situ. Tapi—“
“Daah.”
“Percy?” Dia berseru, tapi aku sudah lari.
Kupikir aku berhasil meloloskan diri darinya. Sekumpulan anak-anak sedang menuju gimnasium, dan segera saja aku hanyalah salah seorang dari tiga ribu anak empat belas tahun yang semuanya dijejalka ke bangku penonton. Marching band memainkan lagu pertempuran sumbang yang terdengar seakan ada orang yang memukul-mukul sekarung kucing dengan tongkat bisbol logam. Anak-anak yang lebih tua, kemungkinan pengurus OSIS, berdiri di depan sambil memeragakan seragam sekolah Goode dan memamerkan sikap, Hai, kami keren, lho. Para guru mondar-mandir, tersenyum dan berjabat tangan dengan para murid. Dinding gim ditempeli spanduk besar ungu-putih yang berbunyi SELAMAT DATANG CALON MURID BARU, GOODE MEMANG BAGUS, KITA SEMUA SEKELUARGA, dan aneka slogan bahagia yang kurang lebih membuatku ingin muntah.
Aku hampir saja ingin tertawa. Seandainya saja GPPH dan diseleksia adalah kekhawatiranku yang terbesar. Maksudku, aku tahu Paul mencoba menolong, tapi kalau kuberi tahu dia yang sebenarnya tetang diriku, entah dia bakal berpikir aku ini gila atau dia bakal lari kabur sambil menjerit-jerit. Para pemandu sorak itu, misalnya. Aku punya firasat buruk soal mereka ....
Lalu aku melihat ke arah lorong, dan kuingat aku punya masalah lain. Si gadis berambut merah yang kuingat di undakan depan baru saja masuk lewat pintu utama.
Jangan lihat aku, doaku.
Dia melihatku. Matanya membelalak.
“Di mana orientasinya?” Aku menanyai Paul.
“Di gimnasium. Ke arah situ. Tapi—“
“Daah.”
“Percy?” Dia berseru, tapi aku sudah lari.
Kupikir aku berhasil meloloskan diri darinya. Sekumpulan anak-anak sedang menuju gimnasium, dan segera saja aku hanyalah salah seorang dari tiga ribu anak empat belas tahun yang semuanya dijejalka ke bangku penonton. Marching band memainkan lagu pertempuran sumbang yang terdengar seakan ada orang yang memukul-mukul sekarung kucing dengan tongkat bisbol logam. Anak-anak yang lebih tua, kemungkinan pengurus OSIS, berdiri di depan sambil memeragakan seragam sekolah Goode dan memamerkan sikap, Hai, kami keren, lho. Para guru mondar-mandir, tersenyum dan berjabat tangan dengan para murid. Dinding gim ditempeli spanduk besar ungu-putih yang berbunyi SELAMAT DATANG CALON MURID BARU, GOODE MEMANG BAGUS, KITA SEMUA SEKELUARGA, dan aneka slogan bahagia yang kurang lebih membuatku ingin muntah.
Tak satu pun murid baru lain terlihat antusias berada di sini juga. Maksudku, datang ke orientasi di bulan Juni, padahal seolah belum dimulai sampai bulan September, tidaklah keren. Tapi di Goode, “Kami siap untuk unggul lebih awal!” Paling tidak begitulah kata brosur.
Marching band berhenti bermain. Seorag laki-laki yang mengenakan setelan garis-garis menghampiri mikrofon dan mulai bicara, tapi suaranya bergema di sepenjuru gimnasium sehingga aku sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan. Dia bisa saja sedang kumur-kumur.
Seseorang mencengkeram bahuku. “Ngapain kau di sini?”
Ternyata dia: mimpi burukku yang berambut merah.
“Rachel Elizabeth Dare,” kataku.
Rahangnya ternganga seolah dia tidak bisa percaya aku berani-beraninya mengingat namanya. “Dan kau Percy apalah. Aku nggak ingat nama lengkapmu. Desember lalu waktu kau mencoba membunuhku.”
“Dengar ya, aku nggak—maksudku—Apa yang kau lakukan di sini?”
“Sama sepertimu, kurasa. Orientasi.” “Kau tinggal di New York”
Marching band berhenti bermain. Seorag laki-laki yang mengenakan setelan garis-garis menghampiri mikrofon dan mulai bicara, tapi suaranya bergema di sepenjuru gimnasium sehingga aku sama sekali tidak tahu apa yang dia katakan. Dia bisa saja sedang kumur-kumur.
Seseorang mencengkeram bahuku. “Ngapain kau di sini?”
Ternyata dia: mimpi burukku yang berambut merah.
“Rachel Elizabeth Dare,” kataku.
Rahangnya ternganga seolah dia tidak bisa percaya aku berani-beraninya mengingat namanya. “Dan kau Percy apalah. Aku nggak ingat nama lengkapmu. Desember lalu waktu kau mencoba membunuhku.”
“Dengar ya, aku nggak—maksudku—Apa yang kau lakukan di sini?”
“Sama sepertimu, kurasa. Orientasi.” “Kau tinggal di New York”
“Apa, kau pikir aku tinggal di Bendunga Hoover?”
Hal itu tidak pernah terpikir olehku. Kapan pun aku memikirkan dia (bukan berarti aku bilang aku memikirkan dia: dia cuma terlintas di benakku sesekali, oke?), aku selalu mengira dia tinggal di wilayah Bendungan Hoover, karena disanalah aku bertemu dengannya. Saat itu kami mungkin menghabiskan sepuluh menit bersama, dan selama itu aku taksengaja mengayunkan pedang ke arahnya, dia menyelamatkan nyawaku, dan aku lari kabur seraya dikejar-kejar sekawanan mesin pembunuh supranatural. Kau tahulah, semacam perjumpaan kebetulan yang biasa saja.
Seorang cowok di belakang kami berbisik, “Hei, diam. Para pemandu sorak lagi ngomong!”
“Hai, Teman-Teman!” Seorang gadis berceloteh ke mikrofon. Dia adalah si pirang yang kulihat di pintu masuk. “Namaku Tammi, dan yang ini, tahu, kan, Kelli.” Kelli melakukan gerakan meroda.
Di sebelahku, Rachel terpekik, seolah-olah seseorah telah menusuknya dengan peniti. Beberapa anak melihat ke arahnya dan mencemooh, tapi Rachel semata memandangi para pemandu sorak dengan ngeri. Tammi tampaknya tidak menyadari seruan itu. Dia mulai bicara tentang segala macam kegiatan hebat yang bisa kami ikuti selama tahun pertama kami.
“Lari.” Rachel memberitahuku. “Sekarang.”
“Kenapa?”
Rachel tidak menjelaskan. Dia mendorong-dorong untuk mendapatkan jalan ke tepi bangku penonton, mengabaikan para guru yang mengerutkan kening dan gerutuan anak-anak yang diinjaknya.
Aku ragu-ragu. Tammi sedang menjelaskan bagaimana kami akan dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil dan melakukan tur keliling sekolah. Kelli menangkap pandangan mataku dan memberiku senyuman geli, seolah dia menunggu-nunggu untuk melihat apa yang bakal kulakukan. Akan terlihat buruk kalau aku pergi sekarang. Paul Blofis ada di bawah sana bersama guru-guru yang lain. Dia akan bertanya-tanya apa yang salah.
Hal itu tidak pernah terpikir olehku. Kapan pun aku memikirkan dia (bukan berarti aku bilang aku memikirkan dia: dia cuma terlintas di benakku sesekali, oke?), aku selalu mengira dia tinggal di wilayah Bendungan Hoover, karena disanalah aku bertemu dengannya. Saat itu kami mungkin menghabiskan sepuluh menit bersama, dan selama itu aku taksengaja mengayunkan pedang ke arahnya, dia menyelamatkan nyawaku, dan aku lari kabur seraya dikejar-kejar sekawanan mesin pembunuh supranatural. Kau tahulah, semacam perjumpaan kebetulan yang biasa saja.
Seorang cowok di belakang kami berbisik, “Hei, diam. Para pemandu sorak lagi ngomong!”
“Hai, Teman-Teman!” Seorang gadis berceloteh ke mikrofon. Dia adalah si pirang yang kulihat di pintu masuk. “Namaku Tammi, dan yang ini, tahu, kan, Kelli.” Kelli melakukan gerakan meroda.
Di sebelahku, Rachel terpekik, seolah-olah seseorah telah menusuknya dengan peniti. Beberapa anak melihat ke arahnya dan mencemooh, tapi Rachel semata memandangi para pemandu sorak dengan ngeri. Tammi tampaknya tidak menyadari seruan itu. Dia mulai bicara tentang segala macam kegiatan hebat yang bisa kami ikuti selama tahun pertama kami.
“Lari.” Rachel memberitahuku. “Sekarang.”
“Kenapa?”
Rachel tidak menjelaskan. Dia mendorong-dorong untuk mendapatkan jalan ke tepi bangku penonton, mengabaikan para guru yang mengerutkan kening dan gerutuan anak-anak yang diinjaknya.
Aku ragu-ragu. Tammi sedang menjelaskan bagaimana kami akan dipecah ke dalam kelompok-kelompok kecil dan melakukan tur keliling sekolah. Kelli menangkap pandangan mataku dan memberiku senyuman geli, seolah dia menunggu-nunggu untuk melihat apa yang bakal kulakukan. Akan terlihat buruk kalau aku pergi sekarang. Paul Blofis ada di bawah sana bersama guru-guru yang lain. Dia akan bertanya-tanya apa yang salah.
Lalu aku memikirkan Rachel Elizabeth Dare, dan kemampuan istimewa yang dia tunjukkan musim dingin lalu di Bendungan Hoover. Dia bisa melihat sekelompok penjaga kemanan yang sama sekali bukan penjaga keamanan, yang bahkan sama sekali bukan manusia. Jantungku berdebar-debar, aku bangkit dan mengikutinya ke luar gimnasium.
Aku menemukan Rachel di ruangan band. Dia sedang bersembunyi di balik drum bass di seksi perkusi.
“Ayo ke sini.” Katanya. “Tundukkan kepalamu!”
Aku merasa agak tolol, bersembunyi di balik sekumpulan bongo, tapi aku berjongkok di sampingnya.
“Kenapa mereka mengikutimu?” tanya Rachel.
“Maksudmu para pemandu sorak?”
Dia mengangguk gugup.
“Kayaknya nggak tuh,”kataku. “Mereka itu apa? Apa yang kau lihat?”
Mata hijaunya diselimuti rasa takut. Dia punya percikan bintik-bintik di wajahnya yang mengingatkanku pada rasi bintang. T-shirt merah marunnya memuat tulisa FAK. SENI HARVARD. “Kau ... kau nggak bakal percaya padaku.”
“Oh, iya, aku bakal percaya,” janjiku. “Aku tahu kau bisa melihat menembus Kabut.” “Apa?”
Aku menemukan Rachel di ruangan band. Dia sedang bersembunyi di balik drum bass di seksi perkusi.
“Ayo ke sini.” Katanya. “Tundukkan kepalamu!”
Aku merasa agak tolol, bersembunyi di balik sekumpulan bongo, tapi aku berjongkok di sampingnya.
“Kenapa mereka mengikutimu?” tanya Rachel.
“Maksudmu para pemandu sorak?”
Dia mengangguk gugup.
“Kayaknya nggak tuh,”kataku. “Mereka itu apa? Apa yang kau lihat?”
Mata hijaunya diselimuti rasa takut. Dia punya percikan bintik-bintik di wajahnya yang mengingatkanku pada rasi bintang. T-shirt merah marunnya memuat tulisa FAK. SENI HARVARD. “Kau ... kau nggak bakal percaya padaku.”
“Oh, iya, aku bakal percaya,” janjiku. “Aku tahu kau bisa melihat menembus Kabut.” “Apa?”
“Kabut. Itu ... yah, semacam tabir yang menyembunyikan kenyataan yang sebenarnya. Beberapa manusia dilahirkan dengan kemampuan untuk melihat menembusnya. Seperti kau.”
Dia menelaahku dengan saksama. “Kau melakukan itu di Bendungan Hoover. Kau menyebutku manusia. Seakan kau bukan.”
Aku merasa ingin meninju bongo. Apa tadi yang kupikirkan? Aku takkan pernah bisa menjelaskan. Aku bahkan semestinya tak mencoba.
“Kasih tahu aku, dong.” Dia memohon. “Kau tahu artinya, bukan? Semua hal mengerikan yang kulihat ini?”
“Well, oke, ini bakal kedengaran aneh. Apa kau tahu apa pun tentang mitologi Yunani”
“Kayak ... Minotaurus dan Hydra?”
“Iya, hanya saja coba jangan ucapkan nama-nama itu waktu aku ada di dekatmu, oke?”
“Dan Erinyes,” katanya, melakukan pemanasan. “Dan Siren, dan—“
“Oke!” Aku melihat ke sekeliling aula band, yakin bahwa Rachel akan membuat sekumpulan makhluk haus darah mengerikan menyembul keluar dari dinding, tapi kami masih sendirian. Dari lorong, kudengar gerombolan anak-anak keluar dari gimanasium. Mereka memulai tur kelompok. Kami tidak punya waktu lama untuk bicara. “Semua monster itu” kataku, “semua dewa Yunani—mereka nyata.”
Dia menelaahku dengan saksama. “Kau melakukan itu di Bendungan Hoover. Kau menyebutku manusia. Seakan kau bukan.”
Aku merasa ingin meninju bongo. Apa tadi yang kupikirkan? Aku takkan pernah bisa menjelaskan. Aku bahkan semestinya tak mencoba.
“Kasih tahu aku, dong.” Dia memohon. “Kau tahu artinya, bukan? Semua hal mengerikan yang kulihat ini?”
“Well, oke, ini bakal kedengaran aneh. Apa kau tahu apa pun tentang mitologi Yunani”
“Kayak ... Minotaurus dan Hydra?”
“Iya, hanya saja coba jangan ucapkan nama-nama itu waktu aku ada di dekatmu, oke?”
“Dan Erinyes,” katanya, melakukan pemanasan. “Dan Siren, dan—“
“Oke!” Aku melihat ke sekeliling aula band, yakin bahwa Rachel akan membuat sekumpulan makhluk haus darah mengerikan menyembul keluar dari dinding, tapi kami masih sendirian. Dari lorong, kudengar gerombolan anak-anak keluar dari gimanasium. Mereka memulai tur kelompok. Kami tidak punya waktu lama untuk bicara. “Semua monster itu” kataku, “semua dewa Yunani—mereka nyata.”
“Sudah kuduga!”
Aku akan merasa lebih nyaman seandainya dia menyebutku pembohong, tapi Rachel terlihat seolah aku baru saja mengonfirmasi kecurigaannya yang terburuk.
“Kau nggak tahu berapa berat rasanya,” katanya. “Selama bertahun-tahun kupikir aku ini gila. Aku nggak bisa memberi tahu siapa pun. Aku nggak bisa—“ Matanya menyipit. “Tunggu. Siapa kau? Maksudku yang sebenarnya?”
“Aku bukan monster.”
“Yeah, aku tahu kok. Aku bisa melihat seandainya kau memang monster. Kau terlihat seperti ... kau. Tapi, kau bukan manusia, ya?”
Aku menelan ludah. Meskipun kupikir aku sudah melalui tiga tahun untuk membiasakan diri akan siaoa diriku, aku tidak pernah membicarakanya dengan manusia fana yang awam sebelumnya—maksudku, selain ibuku, tapi dia sudah tahu sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi akhirnya kuberanikan diriku.
“Aku blasteran,” kataku. “Aku separuh manusia.”
“Dan, separuh lagi apa?”
Tepat saat itu Tammi dan Kelli melangkah masuk ke ruangan band. Pintu terbanting, tertutup di belakang mereka.
“Rupanya kau di situ, Percy Jackson,” kata Tammi. “Waktunya untuk orientasimu.” “Mereka mengerikan!” Rachel terkesiap.
Aku akan merasa lebih nyaman seandainya dia menyebutku pembohong, tapi Rachel terlihat seolah aku baru saja mengonfirmasi kecurigaannya yang terburuk.
“Kau nggak tahu berapa berat rasanya,” katanya. “Selama bertahun-tahun kupikir aku ini gila. Aku nggak bisa memberi tahu siapa pun. Aku nggak bisa—“ Matanya menyipit. “Tunggu. Siapa kau? Maksudku yang sebenarnya?”
“Aku bukan monster.”
“Yeah, aku tahu kok. Aku bisa melihat seandainya kau memang monster. Kau terlihat seperti ... kau. Tapi, kau bukan manusia, ya?”
Aku menelan ludah. Meskipun kupikir aku sudah melalui tiga tahun untuk membiasakan diri akan siaoa diriku, aku tidak pernah membicarakanya dengan manusia fana yang awam sebelumnya—maksudku, selain ibuku, tapi dia sudah tahu sebelumnya. Aku tidak tahu kenapa, tapi akhirnya kuberanikan diriku.
“Aku blasteran,” kataku. “Aku separuh manusia.”
“Dan, separuh lagi apa?”
Tepat saat itu Tammi dan Kelli melangkah masuk ke ruangan band. Pintu terbanting, tertutup di belakang mereka.
“Rupanya kau di situ, Percy Jackson,” kata Tammi. “Waktunya untuk orientasimu.” “Mereka mengerikan!” Rachel terkesiap.
Tammi dan Kelli masih mengenakan kostum pemandu sorak ungu-putih mereka, memegang pom-pom dari pertemuan tadi.
“Mereka sebenarnya terlihat seperti apa?” tanyaku, tapi Rachel tampaknya terlalu ling-lung untuk menjawab.
“Oh, lupakan dia.” Tammi memberiku senyuman cemerlang dan mulai berjalan menghampiri kami. Kelli tetap berada dekat pintu, menghalangi jalan keluar kami.
Mereka telah menjebak kami. Aku tahu kami harus melawan untuk keluar, tapi senyuman Tammi begitu menyilaukan sehingga mengalihkan perhatianku. Mata birunya indah, dan bagaimana rambutnya menyapu bahunya ....
“Percy,” Rachel memperingatkan.
Aku mengatakan sesuatu yang betul-betul cerdas seperti, “Ehhh?”
Tammi makin dekat. Dia mengulurkan pom-pom-nya.
“Percy!” Suara Rachel seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. “Sadar, dong!”
Perlu seluruh tekadku, tapi aku berhasil mengeluarkan bolpen dari sakuku dan membuka tutupnya. Reptide membesar menjadi pedang perunggu sepanjang semeter, bilahnya berkilau dengan cahaya pucat keemasan. Senyuman Tammi berubah menjadi cemoohan. “Oh, ayolah,” protesnya. “Kau tidak memerlukan itu. Bagaimana kalau diganti ciuman saja?”
“Mereka sebenarnya terlihat seperti apa?” tanyaku, tapi Rachel tampaknya terlalu ling-lung untuk menjawab.
“Oh, lupakan dia.” Tammi memberiku senyuman cemerlang dan mulai berjalan menghampiri kami. Kelli tetap berada dekat pintu, menghalangi jalan keluar kami.
Mereka telah menjebak kami. Aku tahu kami harus melawan untuk keluar, tapi senyuman Tammi begitu menyilaukan sehingga mengalihkan perhatianku. Mata birunya indah, dan bagaimana rambutnya menyapu bahunya ....
“Percy,” Rachel memperingatkan.
Aku mengatakan sesuatu yang betul-betul cerdas seperti, “Ehhh?”
Tammi makin dekat. Dia mengulurkan pom-pom-nya.
“Percy!” Suara Rachel seolah berasal dari tempat yang sangat jauh. “Sadar, dong!”
Perlu seluruh tekadku, tapi aku berhasil mengeluarkan bolpen dari sakuku dan membuka tutupnya. Reptide membesar menjadi pedang perunggu sepanjang semeter, bilahnya berkilau dengan cahaya pucat keemasan. Senyuman Tammi berubah menjadi cemoohan. “Oh, ayolah,” protesnya. “Kau tidak memerlukan itu. Bagaimana kalau diganti ciuman saja?”
Dia berbau bagaikan mawar dan bulu binatang yang bersih—bau yang aneh tapi entah bagaimana memabukkan.
Rachel mencubit lenganku, keras-keras. “Percy, dia mau menggigitmu! Lihat dia!”
“Dia Cuma cemburu.” Tammi menoleh kepada Kelli. “Bolehkah, Nona?”
Kelli masih menghalangi pintu, menjilat bibirnya dengan lapar. “Silakan, Tammi. Kerjamu bagus.”
Tammi melangkah maju lagi, tapi aku munyorongkan ujung pedangku ke dadanya. “Mundur.”
Dia menyeringai. “Anak baru,” katanya dengan muak. “Ini sekolah kami, Blasteran. Kami memakan siapa pun yang kami pilih!”
Lalu dua mulau berubah. Rona menghilang dari wajah dan lengannya. Kulitnya berubah menjadi seputih kapur, matanya sepenuhnya merah. Giginya tumbuh menjadi taring.
“Vampir!” Aku tergagap. Lalu kulihat kakinya. Di bawah rok pemandu sorak, kaki berwarna cokelat dan berjumbai dengan kuku kaki keledai. Kaki kanannya berbentuk seperti kaki manusia, tapi terbuat dari perunggu. “Uhh, vampir ber—“
“Jangan sebut-sebut soal kaki!” bentak Tammi. “Mengolok-olok tuh nggak sopan!”
Dia maju dengan kaki anehnya yang tidak cocok satu sama lain. Dia terlihat betul-betul aneh, terutama dengan pom-pom, tapi aku tak bisa tertawa—tidak saat menghadapi mata merah serta taring tajam itu. “Vampir, katamu?” Kelli tertawa. “Legenda konyol itu didasarkan pada kami, dasar bodoh. Kami adalah empousa, pelayan Hecate.”
Rachel mencubit lenganku, keras-keras. “Percy, dia mau menggigitmu! Lihat dia!”
“Dia Cuma cemburu.” Tammi menoleh kepada Kelli. “Bolehkah, Nona?”
Kelli masih menghalangi pintu, menjilat bibirnya dengan lapar. “Silakan, Tammi. Kerjamu bagus.”
Tammi melangkah maju lagi, tapi aku munyorongkan ujung pedangku ke dadanya. “Mundur.”
Dia menyeringai. “Anak baru,” katanya dengan muak. “Ini sekolah kami, Blasteran. Kami memakan siapa pun yang kami pilih!”
Lalu dua mulau berubah. Rona menghilang dari wajah dan lengannya. Kulitnya berubah menjadi seputih kapur, matanya sepenuhnya merah. Giginya tumbuh menjadi taring.
“Vampir!” Aku tergagap. Lalu kulihat kakinya. Di bawah rok pemandu sorak, kaki berwarna cokelat dan berjumbai dengan kuku kaki keledai. Kaki kanannya berbentuk seperti kaki manusia, tapi terbuat dari perunggu. “Uhh, vampir ber—“
“Jangan sebut-sebut soal kaki!” bentak Tammi. “Mengolok-olok tuh nggak sopan!”
Dia maju dengan kaki anehnya yang tidak cocok satu sama lain. Dia terlihat betul-betul aneh, terutama dengan pom-pom, tapi aku tak bisa tertawa—tidak saat menghadapi mata merah serta taring tajam itu. “Vampir, katamu?” Kelli tertawa. “Legenda konyol itu didasarkan pada kami, dasar bodoh. Kami adalah empousa, pelayan Hecate.”
“Mmmm.” Tammi tertatih-tatih semakin dekat denganku. “Sihir hitam membentuk kami dari hewan logam, dan hantu! Kami ada untuk menyantap darah pria-pria muda. Nah, ayo beri aku ciuman itu!”
Dia memamerkan taring-taringnya. Aku jadi lumpuh karena ketakutan sehingga aku tidak bisa bergerak, tapi Rachel melemparkan snare drum ke kepala si empousa.
Si monster mendesis dan memukul drum itu menjauh. Drum itu menggelinding di sepanjang lorong antara penyangga-penyangga partitur, pegasnya berkelontangan menabrak permukaan drum. Rachel melemparkan xilofon, tapi si monster semata menepuknya menjauh juga.
“Aku biasanya tidak membunuh anak perempuan,” geram Tammi. “Tapi untukmu, manusia fana, aku akan membuat pengecualian. Penglihatanmu sedikit terlalu bagus!”
Dia menyerang Rachel.
“Tidak!” Aku menyabet dengan Reptide. Tammi mencoba menghindari bilah mata pedangku, tapi aku tepat mengiris menembus seragan pemandu soraknya dan dengan lolongan mengerikan dia pun meledak menjadi debu di sekujur tubuh Rachel.
Rachel terbatuk. Dia terlihat seolah baru saja ada sekarung terigu yang ditumpahkan di atas kepalanya. “Menjijikkan!”
“Monster memang begitu,” kataku. “Sori.”
“Kau membunuh aak didikku!” teriak Kelli. “Kau perlu pelajaran soal semangat sekolah, Blasteran!” Lalu dia pun mulai berubah. Rambut kawatnya berubah menjadi kobaran api yang merintih. Matanya jadi merah. Dia menumbuhnkan taring. Dia berlari dengan langkah panjang ke arah kami, kaki kuningan dan kaki keledainya berderap tak seragam di lantai ruangan band.
Dia memamerkan taring-taringnya. Aku jadi lumpuh karena ketakutan sehingga aku tidak bisa bergerak, tapi Rachel melemparkan snare drum ke kepala si empousa.
Si monster mendesis dan memukul drum itu menjauh. Drum itu menggelinding di sepanjang lorong antara penyangga-penyangga partitur, pegasnya berkelontangan menabrak permukaan drum. Rachel melemparkan xilofon, tapi si monster semata menepuknya menjauh juga.
“Aku biasanya tidak membunuh anak perempuan,” geram Tammi. “Tapi untukmu, manusia fana, aku akan membuat pengecualian. Penglihatanmu sedikit terlalu bagus!”
Dia menyerang Rachel.
“Tidak!” Aku menyabet dengan Reptide. Tammi mencoba menghindari bilah mata pedangku, tapi aku tepat mengiris menembus seragan pemandu soraknya dan dengan lolongan mengerikan dia pun meledak menjadi debu di sekujur tubuh Rachel.
Rachel terbatuk. Dia terlihat seolah baru saja ada sekarung terigu yang ditumpahkan di atas kepalanya. “Menjijikkan!”
“Monster memang begitu,” kataku. “Sori.”
“Kau membunuh aak didikku!” teriak Kelli. “Kau perlu pelajaran soal semangat sekolah, Blasteran!” Lalu dia pun mulai berubah. Rambut kawatnya berubah menjadi kobaran api yang merintih. Matanya jadi merah. Dia menumbuhnkan taring. Dia berlari dengan langkah panjang ke arah kami, kaki kuningan dan kaki keledainya berderap tak seragam di lantai ruangan band.
“Aku empousa senior,” geramnya. “Tidak ada pahlawan yang pernah mengalahkanku selama seribu tahun.”
“Oh ya?” kataku. “Berarti sudah saatnya.”
Kelli jauh lebih sigap daripada Tammi. Dia menghindari serangan pertamaku dan berguling ke seksi brass, menjatuhkan sederet trombon dengan tabrakan nyaring, Rachel susah payah menghindar. Aku menempatkan diri di antara dirinya dan si empousa. Kelli mengitari kami, matanya beralih dari aku ke pedang.
“Bilah kecil yang cantik sekali,” katanya. “Sayang sekali ia menjadi penghalang di antara kita.”
Sosoknya berdenyar—kadang-kadang monster kadang-kadang pemandu sorak cantik. Aku berusaha tetap memfokuskan pikiranku, tapi hal itu sungguh mengalihkan perhatian.
“Kasihan.” Kelli terkekeh. “ Kau bahkan tak tahu apa yang terjadi, ya? Segera, perkemahan kecil indahmu akan terbakar, teman-temanmu akan dijadikan budak Sang Penguasa Waktu, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya. Mengakhiri hidupmu sekarang adalah hal yang welas asih, sebelum kau harus menyaksikan itu.”
Dari lorong, kudengar suara-suara. Kelompok tur tengah mendekat. Seorang pria mengucapkan sesuatu tentang kombinasi loker.
Mata si empousa menyala-nyala. “Sempurna! Kita akan kedatangan teman!” Dia mengambil sebuah tuba dan melemparkannya kepadaku. Rachel dan aku menunduk. Tuba itu melesat di atas kepala kami dan jatuh menabrak jendela.
“Oh ya?” kataku. “Berarti sudah saatnya.”
Kelli jauh lebih sigap daripada Tammi. Dia menghindari serangan pertamaku dan berguling ke seksi brass, menjatuhkan sederet trombon dengan tabrakan nyaring, Rachel susah payah menghindar. Aku menempatkan diri di antara dirinya dan si empousa. Kelli mengitari kami, matanya beralih dari aku ke pedang.
“Bilah kecil yang cantik sekali,” katanya. “Sayang sekali ia menjadi penghalang di antara kita.”
Sosoknya berdenyar—kadang-kadang monster kadang-kadang pemandu sorak cantik. Aku berusaha tetap memfokuskan pikiranku, tapi hal itu sungguh mengalihkan perhatian.
“Kasihan.” Kelli terkekeh. “ Kau bahkan tak tahu apa yang terjadi, ya? Segera, perkemahan kecil indahmu akan terbakar, teman-temanmu akan dijadikan budak Sang Penguasa Waktu, dan tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghentikannya. Mengakhiri hidupmu sekarang adalah hal yang welas asih, sebelum kau harus menyaksikan itu.”
Dari lorong, kudengar suara-suara. Kelompok tur tengah mendekat. Seorang pria mengucapkan sesuatu tentang kombinasi loker.
Mata si empousa menyala-nyala. “Sempurna! Kita akan kedatangan teman!” Dia mengambil sebuah tuba dan melemparkannya kepadaku. Rachel dan aku menunduk. Tuba itu melesat di atas kepala kami dan jatuh menabrak jendela.
Suara-suara di lorong terdiam.
“Percy!” teriak Kelli, pura-pura ketakutan, “kenapa kau melemparkan itu?”
Aku terlalu kaget untuk menjawab Kelli mengambil penyangga partitur dan menjatuhkan sederet klarinet serta seruling. Kursi-kursi dan alat-alat musik jatuh menghatam latai.
“Hentikan!” kataku.
Orang-orang berpacu di lorong sekarang, menghampiri kami.
“Waktunya menyambut para tami!” Kelli memamerkan taringnya dan berjala ke pintu. Aku mengenjarnya dengan Reptide. Aku harus menghentikannya agar tidak menyakiti manusia-manusia fana.
“Percy, jangan!” teriak Rachel. Tapi aku tidak menyadari apa rencana Kelli sampai sudah terlambat.
Kelli menjeblak pintu hingga terbuka. Paul Blofis dan sekumpulan murid baru melangkah mundur karena kaget. Aku mengangkat pedangku.
Pada detik terakhir, si empousa menoleh ke arahku seperti korban yang mengkeret. “Oh jangan, kumohon!” tangisnya. Aku tidak bisa menghentikan pedangku. Bilahnya sudah bergerak.
Tepat sebelum perunggu langit menghantamnya, Kelli meledak menjadi kobaran api bagaikan bom Molotov. Gelombang api memerciki segalanya. Aku tak pernah melihat monster melakukan sesuatu seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak punya waktu untuk bertanya-tanya soal itu. Aku mundur ke ruangan band saat kobaran api menelan ambang pintu. “Percy?” Paul Blofis terlihat betul-betul tercengang, menatapku dari sebrang api. “Apa yang sudah kau lakukan?”
“Percy!” teriak Kelli, pura-pura ketakutan, “kenapa kau melemparkan itu?”
Aku terlalu kaget untuk menjawab Kelli mengambil penyangga partitur dan menjatuhkan sederet klarinet serta seruling. Kursi-kursi dan alat-alat musik jatuh menghatam latai.
“Hentikan!” kataku.
Orang-orang berpacu di lorong sekarang, menghampiri kami.
“Waktunya menyambut para tami!” Kelli memamerkan taringnya dan berjala ke pintu. Aku mengenjarnya dengan Reptide. Aku harus menghentikannya agar tidak menyakiti manusia-manusia fana.
“Percy, jangan!” teriak Rachel. Tapi aku tidak menyadari apa rencana Kelli sampai sudah terlambat.
Kelli menjeblak pintu hingga terbuka. Paul Blofis dan sekumpulan murid baru melangkah mundur karena kaget. Aku mengangkat pedangku.
Pada detik terakhir, si empousa menoleh ke arahku seperti korban yang mengkeret. “Oh jangan, kumohon!” tangisnya. Aku tidak bisa menghentikan pedangku. Bilahnya sudah bergerak.
Tepat sebelum perunggu langit menghantamnya, Kelli meledak menjadi kobaran api bagaikan bom Molotov. Gelombang api memerciki segalanya. Aku tak pernah melihat monster melakukan sesuatu seperti itu sebelumnya, tapi aku tidak punya waktu untuk bertanya-tanya soal itu. Aku mundur ke ruangan band saat kobaran api menelan ambang pintu. “Percy?” Paul Blofis terlihat betul-betul tercengang, menatapku dari sebrang api. “Apa yang sudah kau lakukan?”
Anak-anak menjerit dan berlari menyusuri lorong. Alarm kebakaran melolong. Semprotan air di langit- langit mendesis menyala.
Dalam kekacauan, Rachel menarik-narik lengan bajuku. “Kau harus keluar dari sini!”
Dia benar. Sekolah sedang terbakar dan aku akan dituduh bertanggung jawab. Manusia tidak bisa melihat menembus Kabut dengan benar. Bagi mereka kelihatannya aku baru saja menyerang seseorang pemandu sorak tanpa daya di hadapan sekumpulan saksi mata. Tidak mungkin aku bisa menjelaskannya. Aku berpaling dari Paul dan berlari cepat ke arah jendela ruangan band yang pecah.
Aku keluar dari gang ke East 81st dan berlari, tepat berpapasan denga Annabeth.
“Hei, kau datang lebih awal!” Dia tertawa, mencengkeram bahuku untuk mencegahku jatuh ke jalan. “Hati-hati kalau jalan, Otak Ganggang.”
Selama persekian detik suasana hatinya bagus dan segalanya baik-baik saja. Dia mengenakan jin dan T- shirt jingga perkemahan dan kalung manik-manik tanah liatnya. Rambut pirangnya ditarik ke belakang membentuk ekor kuda. Mata kelabunya berkilau. Dia tampak siap nonton film, menjalani siang yang asyik sambil nongkrong bareng.
Lalu Rachel Elizabeth Dare, masih diselimuti debu monster, datang tiba-tiba, keluar dari gang sambil berteriak, “Percy, tunggu!” Senyum Annabeth meleleh. Dia menatap Rachel, lalu sekolah. Untuk pertama kalinya, dia tampaknya menyadari asap hitam dan alarm kebakaran yang melengking.
Dalam kekacauan, Rachel menarik-narik lengan bajuku. “Kau harus keluar dari sini!”
Dia benar. Sekolah sedang terbakar dan aku akan dituduh bertanggung jawab. Manusia tidak bisa melihat menembus Kabut dengan benar. Bagi mereka kelihatannya aku baru saja menyerang seseorang pemandu sorak tanpa daya di hadapan sekumpulan saksi mata. Tidak mungkin aku bisa menjelaskannya. Aku berpaling dari Paul dan berlari cepat ke arah jendela ruangan band yang pecah.
Aku keluar dari gang ke East 81st dan berlari, tepat berpapasan denga Annabeth.
“Hei, kau datang lebih awal!” Dia tertawa, mencengkeram bahuku untuk mencegahku jatuh ke jalan. “Hati-hati kalau jalan, Otak Ganggang.”
Selama persekian detik suasana hatinya bagus dan segalanya baik-baik saja. Dia mengenakan jin dan T- shirt jingga perkemahan dan kalung manik-manik tanah liatnya. Rambut pirangnya ditarik ke belakang membentuk ekor kuda. Mata kelabunya berkilau. Dia tampak siap nonton film, menjalani siang yang asyik sambil nongkrong bareng.
Lalu Rachel Elizabeth Dare, masih diselimuti debu monster, datang tiba-tiba, keluar dari gang sambil berteriak, “Percy, tunggu!” Senyum Annabeth meleleh. Dia menatap Rachel, lalu sekolah. Untuk pertama kalinya, dia tampaknya menyadari asap hitam dan alarm kebakaran yang melengking.
Dia mengerutkan kening sambil memandangku. “Apa yang kau lakukan kali ini? dan siapa ini?”
“Oh, Rachel—Annabeth. Annabeth—Rachel. Mmm, dia teman. ‘Kayaknya.”
Aku tidak yakin harus memanggil Rachel apa. Maksudku, aku nyaris tidak mengenalnya, tapi setelah berada dalam dua situasi hidup-atau-mati bersama-sama, aku tidak bisa memanggilnya bukan siapa- siapa.
“Hai,” kata Rachel. Lalu dia menoleh kepadaku. “Kau dalam masalah besar. Dan kau masih berutang penjelasan padaku!”
Sirine polisi melolong di FDR Drive.
“Percy,” kata Annabeth dingin. “Kita harus pergi.”
“Aku mau tahu lebih banyak soal blasteran,” Rachel berkeras. “Dan mosnter. Dan soal dewa.” Dia mencengkeram lenganku, mengeluarkan spidol permanen, dan menulis nomor telepon di tanganku. “Kau harus meneleponku dan menjelaskan, oke kau berutang itu padaku. Sekarang pergilah.”
“Tapi—“
“Akan kukarang cerita,” kata Rachel. “Akan kuberi tahu mereka bahwa itu bukan salahmu. Pergilah!”
Dia lari kembali ke arah sekolah, meninggalkan Annabeth dan aku di jalan. Annabeth menatapku selama sedetik. Lalu dia berpaling dan menjauh.
“Oh, Rachel—Annabeth. Annabeth—Rachel. Mmm, dia teman. ‘Kayaknya.”
Aku tidak yakin harus memanggil Rachel apa. Maksudku, aku nyaris tidak mengenalnya, tapi setelah berada dalam dua situasi hidup-atau-mati bersama-sama, aku tidak bisa memanggilnya bukan siapa- siapa.
“Hai,” kata Rachel. Lalu dia menoleh kepadaku. “Kau dalam masalah besar. Dan kau masih berutang penjelasan padaku!”
Sirine polisi melolong di FDR Drive.
“Percy,” kata Annabeth dingin. “Kita harus pergi.”
“Aku mau tahu lebih banyak soal blasteran,” Rachel berkeras. “Dan mosnter. Dan soal dewa.” Dia mencengkeram lenganku, mengeluarkan spidol permanen, dan menulis nomor telepon di tanganku. “Kau harus meneleponku dan menjelaskan, oke kau berutang itu padaku. Sekarang pergilah.”
“Tapi—“
“Akan kukarang cerita,” kata Rachel. “Akan kuberi tahu mereka bahwa itu bukan salahmu. Pergilah!”
Dia lari kembali ke arah sekolah, meninggalkan Annabeth dan aku di jalan. Annabeth menatapku selama sedetik. Lalu dia berpaling dan menjauh.
“Hei!” Aku berlari menyusulnya. “Tadi ada dua empousa,” aku mencoba menjelaskan. “Jadi begini, mereka itu pemandu sorak, dan mereka bilang perkemahan akan terbakar, dan—“
“Kau memberi tahu seorang cewek fana tentang blasteran?”
“Dia bisa melihat menembus Kabut. Dia melihat monster sebelum aku melihatnya.”
“Jadi, kau memberi tahu dia yang sebenarnya.”
“Dia mengenaliku dari Bendungan Hoover, jadi—“
“Kau pernah ketemu dia sebelumnya?”
“Mmm, musim dingin lalu. Tapi serius, aku nyaris nggak kenal dia.”
“Dia lumayan imut.”
“Aku—aku nggak pernag berpikir soal itu.”
Annabeth terus berjalan ke arah York Avenue.
“Aku akan membereskan soal sekolah,” janjiku, tak sabar untuk mengubah topik. “Tenang, semuaya akan baik-baik saja.” Annabeth bahkan tak mau memandangku. “Kurasa acara kita siang ini batal. Kita harus mengeluarkanmu dari sini karena sekarang polisi akan mencari-carimu.”
“Kau memberi tahu seorang cewek fana tentang blasteran?”
“Dia bisa melihat menembus Kabut. Dia melihat monster sebelum aku melihatnya.”
“Jadi, kau memberi tahu dia yang sebenarnya.”
“Dia mengenaliku dari Bendungan Hoover, jadi—“
“Kau pernah ketemu dia sebelumnya?”
“Mmm, musim dingin lalu. Tapi serius, aku nyaris nggak kenal dia.”
“Dia lumayan imut.”
“Aku—aku nggak pernag berpikir soal itu.”
Annabeth terus berjalan ke arah York Avenue.
“Aku akan membereskan soal sekolah,” janjiku, tak sabar untuk mengubah topik. “Tenang, semuaya akan baik-baik saja.” Annabeth bahkan tak mau memandangku. “Kurasa acara kita siang ini batal. Kita harus mengeluarkanmu dari sini karena sekarang polisi akan mencari-carimu.”
Di belakang kami, asap membumbung dari Goode High School. Dalam tiang-tiang abu yang gelap, kupikir aku hampir bisa melihat sebuah wajah—monster wanita bermata merah, sedang menertawaiku.
Perkemahan kecil indahmu terbakar, kata Kelli tadi. Teman-temanmu akan dijadikan budak Sang Penguasa Waktu.
“Kau benar,” kataku kepada Annabeth, hatiku melecus. “Kita harus ke Perkemahan Blasteran. Sekarang.”[]
Perkemahan kecil indahmu terbakar, kata Kelli tadi. Teman-temanmu akan dijadikan budak Sang Penguasa Waktu.
“Kau benar,” kataku kepada Annabeth, hatiku melecus. “Kita harus ke Perkemahan Blasteran. Sekarang.”[]
Comments
Post a Comment