Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 7

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB TUJUH
Tyson Memimpin Pembobolan Penjara
Kabar bagusnya: terowongan kiri lurus tanpa jalan keluar samping, lika-liku, atau belokan. Kabar buruknya: ujungnya buntu. Setelah lari-lari hampir sejauh seratus meter, kami berpapasan dengan batu raksasa yang sepenuhnya menghalangi jalan kami. Di belakang kami, bunyi seretan langkah kaki dan napas berat bergema menyusuri lorong. Sesuatu—jelas bukan manusia—sedang membuntuti kami.
“Tyson,” kataku, “bisakah kau—“
“Ya!” Dia menghantamkan bahunya ke batu begitu keras sampai-sampai seluruh terowongan berguncang. Debu berjatuhan dari langit-langit.
“Cepat!” kata Grover. “Jangan jatuhkan atapnya, tapi cepat!”
Batu itu akhirnya bergeser dengan bunyi geretak mengerikan. Tyson mendorongnya ke sebuah ruangan kecil dan kami menyelinap ke baliknya.
“Tutup jalannya!” kata Annabeth.
Kami semua sampai di sisi lain batu dan mendorong. Apa pun yang sedang mengejar melolong frustasi saat kami mendorong batu itu kembali ke tempatnya dan menyegel koridor.
“Kita memerangkapnya,” kataku.
“Atau memerangkap diri kita sendiri,” kata Grover.
Aku menoleh. Kami berada di ruangan semen seluas enam meter persegi, dan dinding di seberang ditutupi oleh jeruji logam. Kami masuk tepat ke dalam sel.
“Demi Hades!” Annabeth menarik-narik jeruji. Jeruji itu tidak bergerak. Lewat jeruji kami bisa melihat barisan sel di sebuah berbentuk yang mengelilingi pekarangan gelap—paling tidak tiga lantai pintu logam dan podium logam.
“Penjara,” kataku. “Mungkin Tyson bisa membobol—“
“Sst,” kata Grover. “Dengar.”
Di suatu tempat di atas kami, suara isakan bergema di sepenjuru ruangan. Ada bunyi lain juga—suara serak yang menggumamkan sesuatu yang tidak bisa kumengerti. Kata-katanya aneh, seperti batu yang dikocok-kocok dalam gelas plastik.
“Bahasa apa itu?” bisikku.
Mata Tyson membelalak. “Nggak mungkin.”
“Apa?” tanyaku.
Dia mencengkeram dua jeruji di pintu sel kami dan membengkokkannya cukup lebar sehingga bahkan Cyclops pun bisa lewat.
“Tunggu!” seru Grover.
Tapi Tyson tidak mau menunggu. Kami berlari mengejarnya. Penjara itu gelap, hanya ada beberapa lampu floresens berkedip-kedip di atas.
“Aku tahu tempat ini,” Annabeth memberitahuku. “Ini Alcatraz.”
“Maksudmu di pulau dekat San Fransisco itu?”
Dia mengangguk. “Sekolahku berkaryawisata ke sini. Tempat ini jadi seperti museum.”
Tampaknya tak mungkin kami bisa keluar begitu saja dari Labirin di penjuru lain negeri, tapi Annabeth sudah tinggal di San Fransisco setahun penuh, mengawasi Gunung Tamalpais yang terletak tepat di seberang teluk. Dia sepertinya tahu apa yang dia bicarakan.
“Berhenti,” Grover memperingatkan.
Tapi Tyson terus maju. Grover mencengkeram lengannya dan menariknya ke belakang dengan seluruh kekuatannya. “Stop, Tyson!” bisiknya. “Tak bisakah kau melihatnya?”
Aku melihat ke arah yang ditunjuknya, dan perutku pun melilit-lilit. Di balkon lantai dua, di seberang pekarangan, ada monster yang lebih menyeramkan daripada apa pun yang pernah kulihat sebelumnya.
Monster itu mirip centaurus, dengan tubuh wanita dari pinggang ke atas. Tapi alih-alih tubuh bagian bawah yang menyerupai kuda, ia memiliki badan seekor naga—paling tidak sepanjang enam meter, hitam dan berisik dengan cakar raksasa dan ekor berduri. Kakinya kelihatannya terjerat sulur tumbuhan, namun kemudian kusadari kakinya mencuatkan ular, ratusan ular berbisa melejit kesana –kemari, terus-menerus mencari sesuatu untuk digigit. Rambut wanita itu juga terbuat dari ular, seperti Medusa. Yang paling aneh, di sekeliling pinggangnya, tempat bagian sang wanita bertemu bagian naga, kulitnya meletup dan berubah wujud, kadang-kadang menghasilkan kepala aneka hewan—serigala, beruang, dan singa ganas, seakan dia memakai sabuk binatang yang senang tiasa berubah. Aku punya firasat aku sedang melihat sesuatu yang baru separuh terbentuk, monster yang begitu kuno dari awal masa, sebelum bentuk-bentuk ditentukan seutuhnya.
“Itu dia,” rintih Tyson.
“Merunduk!” kata Grover.
Kami meringkuk dalam bayang-bayang, tapi si monster tidak memperhatikan kami sama sekali. Dia tampaknya sedang bicara kepada seseorang di dalam sel di lantai dua. Dari sanalah isak tangis berasal. Si wanita naga mengatakan sesuatu dalam bahasa bergemuruhnya yang aneh.
“Apa yang dia bilang?” gumamku “Bahasa apa itu?”
“Bahasa masa lalu,” Tyson gemetaran. “Yang digunakan Ibu Bumi untuk bicara pada para Titan dan ... anak-anaknya yang lain. Sebelum para dewa.”
“Kau memahaminya?” tanyaku. “Bisa kau terjemahkan?”
Tyson memejamkan matanya dan mulai berbicara dengan suara serak mengerikan wanita itu. “Kau akan bekerja untuk raja penderitaan.”
Annabeth gemetar. “Aku benci waktu dia melakukan itu.”
Seperti semua cyclops, Tyson punya pendengaran manusia super dan kemampuan hebat untuk menirukan suara. Hampir-hampir seakan dia sedang trans saat dia berbicara dengan suara-suara lain itu.
“Aku takkan melayani,” kata Tyson dengan suara dalam yang terluka.”
Dia beralih ke suara si monster: “Maka aku akan menikmati rasa sakitmu, Briares.” Tyson tersentak saat dia mendengar nama itu. Aku tidak pernah mendengarnya menyimpang dari karakter suara seseorang yang ditirukannya, tapi dia mengeluarkan bunyi berdeguk, seolah tercekik. Lalu dia melanjutkan dalam suara si monster. “Jika kau pikir pemenjaraanmu yang pertama tak tertahankan, kau belum merasakan siksaan yang sebenarnya. Pikirkan ini sampai aku kembali.”
Si wanita naga menyeret langkahnya ke arah tangga, ular-ular berbisa berdesis di sekitar kakunya seperti rok dari rumput. Dia merentangkan sayap yang tidak kulihat sebelumnya—sayap kelelawar raksasa yang dia lipat merapat ke punggung naganya. Dia melompat dari podium dan terbang melintasi pekarangan. Kami meringkuk lebih rendah dalam bayang-bayang. Angin panas berbau belerang menerpa wajahku saat si monster terbang melintas. Lalu dia pun menghilang di sudut.
“S-s-seram,” kata Grover. “Aku tak pernah melihat monster sekuat itu.”
“Mimpi terburuk cyclops,” gumam Tyson. “Kampê.”
“Siapa?” tanyaku.
Tyson menelan ludah. “Semua cyclops tahu soal dia. Cerita-cerita tentang dia menakuti kami waktu kami bayi. Dia sipir kami di tahun-tahun buruk.”
Annabeth mengangguk. “Aku ingat sekarang. Waktu para Titan berkuasa, mereka memenjarakan anak-anak Gaea dan Ouranos yang lebih tua—para cyclops dan Hekatonkheir.”
“Heka-apa?” tanyaku.
“Para Tangan Seratus,” kata Annabeth. “Mereka disebut begitu karena ... yah, mereka punya seratus tangan. Mereka kakak cyclops.”
“Sangat kuat,” kata Tyson. “Hebat! Setinggi langit. Kuat sekali sampai-sampai mereka bisa menghancurkan gunung.”
“Keren,” kataku. “Kecuali kalau kau gunung.”
“Kampê itu si sipir,” kata Tyson. “Dia bekerja untuk Kronos. Dia menahan kakak-kakak kami di Tartarus, selalu menyiksa mereka, sampai Zeus datang. Dia membunuh Kampê dan membebaskan cyclops dan Tangan Seratus untuk membantu melawan Titan pada perang besar.”
“Dan sekarang Kampê sudah kembali,” kataku.
“Parah,” Tyson menyimpulkan.
“Jadi, siapa yang di dalam sel?” tanyaku. “Kau menyebutkan nama—“
“Briares!” kata Tyson bersemangat. “Dia Tangan Seratus. Mereka setinggi langit dan—“
“Iya,” kataku. “Mereka menghancurkan gunung.”
Aku mendongak ke sel di atas kami, bertanya-tanya bagaimana mungkin sesuatu yang setinggi langit bisa muat dalam sel kecil, dan kenapa dia menangis.
“Kurasa kita harus memeriksaya,” kata Annabeth, “sebelum Kampê kembali.”
Ketika kami mendekati sel, isakan makin keras. Saat aku pertama kali melihat makhluk di dalam, aku tidak yakin apa yang sedang kupandangi. Dia seukuran manusia dan kulitnya sangat pucat, sewarna susu. Dia mengenakan cawat seperti popok besar. Kakinya tampaknya terlalu besar untuk badannya, dengan kuku-kuku kaki kotor retak, delapan jari di masing-masing kaki. Tapi paruh atas tubuhnyalah yang aneh. Dia membuat Janus kelihatan amat sangat normal. Dadanya mencuat lebih banyak lengan daripada yang bisa kuhitung, berbaris-baris, di seluruh tubuhnya. Lengan-lengannya terlihat layaknya lengan normal, tapi ada banyak sekali, semuanya saling terjalin sehingga dadanya mirip gulungan spageti yang dipilin-pilin seseorang ke garpu. Beberapa tangannya menutupi wajahnya seiring dengan isakannya.
“Entah langit nggak setinggi zaman dulu,” gumamku, “atau dia yang pendek.”
Tyson tidak memperhatikan. Dia jatuh berlutut.
“Briares!” serunya.
Isak tangis berhenti.
“Sang Tangan Seratus yang Hebat!” kata Tyson. “Tolonglah kami!”
Briares mendongak. Wajahnya panjang dan sedih, dengan hidung bengkok dan gigi jelek. Dia punya mata cokelat pekat—maksudku betul-betul cokelat tanpa pupil putih atau hitam, seperti mata yang terbuat dari tanah liat.
“Larilah, sementara kau bisa, Cyclops,” kata Briares sengsara. “Aku bahkan tak bisa menolong diriku sendiri.”
“Kau si Tangan Seratus!” Tyson berkeras. “Kau bisa melakukan apa saja!”
Briares mengusap hidungnya dengan lima atau enam tangan. Beberapa tangan yang lain memainkan logam dan kayu dari tempat tidur yang patah, seperti Tyson yang selalu memain-mainka suku cadang. Luar biasa untuk disaksikan. Tangan-tangan itu seakan punya pikiran sendiri. Tangan-tangan tersebut merakit perahu mainan dari kayu, lalu membongkarnya sama cepatnya seperti saat merakitnya. Tangan-tangan lain menggaruk lantai semen tanpa alasan jelas. Yang lain main batu, kertas, gunting. Beberapa yang lain membuat bayagan bebek da anjing di dinding.
“Aku tak bisa,” keluh Briares. “Kampê sudah kembali! Para Titan akan bangkit dan melemparkan kami kembali ke Tartarus.”
“Pasang muka beranimu!” kata Tyson.
Seketika wajah Briares berubah wujud menjadi sesuatu yang lain. Mata cokelat yang sama, tapi selain itu benar-benar berbeda. Dia punya hidung mancung, alis melengkung, dan senyum aneh, seakan dia sedang mencoba bersikap berani. Tapi kemudian wajahnya kembali seperti sebelumnya.
“Tidak bagus,” kataya. “Wajah takutku terus menerus kembali.”
“Bagaimana kau melakukan itu?” tanyaku.
Annabeth menyikutku. “Jangan nggak sopan. Para Tangan Seratus punya lima puluh wajah yang berbeda.”
“Pasti susah buat masuk buku tahunan,” kataku.
Tyson masih terpesona. “Semua pasti oke, Briares! Kami akan menolongmu! Boleh aku minta tanda tanganmu?”
Briares menyedot ingus. “Apa kau punya seratus pena?”
“Teman-teman,” Grover menginterupsi. “Kita harus keluar dari sini. Kampê akan kembali. Dia akan merasakan kehadiran kita cepat atau lambat.”
“Bobol jerujinya,” kata Annabeth.
“Yes!” kata Tyson, tersenyum bangga. “Briares bisa melakukannya. Dia kuat sekali. Lebih kuat dari Cyclops bahkan! Lhiat!”
Briares merengek. Selusin tangan mulai main tepuk tangan, tapi tak satu pun berusaha membobol jeruji.
“Kalau dia kuat sekali,” kataku, “kenapa dia terjebak dalam penjara?”
Annabeth menyikut igaku lagi. “Dia ketakutan,” bisiknya. “Kampê mengurungnya di Tartarus seribu tahun. Menurutmu bagaimana perasaannya?”
Sang Tangan Seratus menutupi wajahnya lagi.
“Briares?” tanya Tyson. “Ada ... ada masalah apa? Tunjukkan kekuatan hebatmu pada kami!”
“Tyson,” kata Annabeth, “kupikir sebaiknya kau bobol jerujinya.”
Senyum Tyson meleleh pelan-pelan.
“Akan kubobol jerujinya,” ulangnya. Dia mencengkeram pintu sel dan merenggutnya dari engselnya seakan pintu itu terbuat dari tanah liat basah.
“Ayo, Briares,” kata Annabeth. “Ayo keluar dari sini.”
Annabeth mengulurkan tangan. Selama  sedetik, wajah Briares berubah wujud membenuk ekspresi penuh harap. Sejumlah lengannya terulur, tapi dua kali lipat dari jumlah itu menampar lengan-lengannya menjauh.
“Aku tak bisa,” katanya. “Dia akan menghukumku.”
“Tidak apa-apa,” Annabeth berjanji. “Kau bertarung melawan Titan sebelumnya, dan kau menang, ingat?”
“Aku ingat perang itu.” Wajah Briares berubah lagi—alis bertaut dan mulut monyong. Wajah merajuknya, menurut tebakanku. “Petir mengguncang dunia. Kami melemparkan banyak batu. Para Titan dan monster hampir saja menang. Sekarang mereka jadi kuat lagi. Kampê bilang begitu.”
“Jangan dengarkan dia,” kataku. “Ayo!”
Dia tidak bergerak. Aku tahu Grover benar. Kami tidak punya banyak waktu sebelum Kampê kembali. Tapi aku tidak bisa meninggalkannya di sini begitu saja. Tyson bakal menangis berminggu-minggu.
“Satu permainan batu, kertas, gunting,” semburku. “Kalau aku menang, kau harus ikut dengan kami. Kalau aku kalah, akan kami tinggalkan kau di penjara.”
Annabeth memandangku seakan aku sudah gila.
Wajah Briares berubah menjadi ragu-ragu. “Aku selalu menang batu, kertas, gunting.”
“Kalau begitu ayo kita lakukan!” Aku menghantamkan kepalanku ke telapak tanganku tiga kali.
Briares melakukan hal yang sama dengan keseratus tangannya, yang kedengarannya seperti tentara yang berbaris tiga lagkah kedepan. Dia maju dengan selongsoran bantu, sekotak set gunting, dan cukup kertas untuk membuat searmada pesawat.
“Sudah kukatakan padamu,” katanya sedih. “Aku selalu—“ Wajahnya berubah bingung. “Apa yang kau buat itu?”
“Pistol,” aku memberitahunya, menunjukkannya pistol jariku. Ini tipuan yang Pak Blofis lakuka padaku tapi aku tak bakal memberitahunya soal itu. “Pistol mengalahkan apa saja.”
“Itu tidak adil.”
“Aku tidak bilang apa-apa soal keadilan. Kampê tidak akan bersikap adil kalau kita nongkrong terus di sini. Dia bakal menyalahkanmu karena merengut jeruji. Sekarang ayo!”
Briares menyedot ingus. “Demigod tukang curang.” Tapi dia pelan-pelan bangkit berdiri dan mengikuti kami keluar sel.
Aku mulai merasa penuh harap. Yang harus kami lakukan cuma turun ke lantai bawah dan menemukan pintu masuk Labirin. Tapi kemudian Tyson membeku.
Di lantai dasar tepat di bawah, Kampê menyeringai ke arah kami.
“Ke arah lain,” kataku.
Kami melaju menyusuri podium. Kali ini Briares dengan senang hati mengikuti kami. Malahan dia berlari cepat paling depan, seratus tangan melambai-lambai dengan panik.
Di belakang kami, kudengar bunyi sayap raksasa saat Kampê terbang ke udara. Dia mendesis dan mengeram dalam bahasa kunonya, tapi aku tidak perlu terjemahan untuk tahu bahwa dia berencana menghabisi kami.
Kami terburu-buru menuruni tangga, melewati koridor, dan melintasi pos penjaga—keluar ke blok sel penjara lainnya.
“Kiri,” kata Annabeth. “Aku ingat ini dari tur kami.”
Kami menyerbu ke luar dan mendapati diri kami berada di halaman penjara, dikelilingi oleh menara keamanan dan kawat berduri. Setelah berada di dalam begitu lama, cahaya siang hampir membutakanku. Para turis berkeliaran ke sana-sini, memotret. Angin dingin melecut dari teluk. Di selatan, San Fransisco berkilau putih dan indah, tapi di utara, di atas Gunung Tamalpais, angin badai besar berpusing. Seisi langit tampak bagaikan topi hitam yang berputar-putar dari gunung tempat Atlas terpenjara, dan tempat istana Titan di Gunung Tamalpais bangkit kembali. Sulit dipercaya bahwa turis tidak bisa melihat badai supranatural yang sedang mendidih, tapi mereka tidak memberikan isyarat apa pun bahwa ada yang tidak beres.
“Keadaannya tambah parah,” kata Annabeth,  menatap ke utara. “Badai memang parah sepanjang tahun ini, tapi itu—“
“Terus bergerak,” ratap Briares. “Dia di belakang kita!”
Kami berlari ke ujung jauh halaman, sejauh mungkin dari blok sel penjara.
“Kampê terlalu besar untuk melewati pintu itu,” kataku penuh harap.
Lalu dinding pun meledak.
Para turis menjerit saat Kampê muncul dari debu dan reruntuhan, sayapnya terentang selebar halaman dia memegang dua pedang—pedang sabit pajang perunggu yang berkilau dengan aura aneh kehijauan, kepulan uap mendidih yang berbau apak dan panas, bahka sampai ke seberang halaman.
“Racun!” pekik Grover. “Janga biarka benda-benda itu menyentuhmu atau ....”
“Atau kita bakal mati?” tebakku.
“Yah ... setelah kau mengerut pelan-pelan jadi debu, ya.”
“Mari kita hindari pedang-pedang itu,” aku memutuskan.
“Briares, berjuanglah!” desak Tyson. “Membesarlah keukuran sebenarnya!”
Tapi, Briares kelihatannya justru mencoba mengerut lebih kecil lagi. Dia tampaknya mengenakan wajah ngeri banget-nya.
Kampê menggemuruh ke arah kami, berpacu dengan kaku naganya, ratusan ular melata di sekeliling tubuhnya.
Selama sedetik aku mempertimbangkan untuk mengunus Reptide dan menghadapinya, tapi aku kehilangan nyali. Lalu Annabeth mengucapkan apa yang kupikirkan. “Lari.”
Itulah akhir perdebatan. Makhluk ini tak bisa diajak bertarung. Kami berlari melewati halaman penjara dan keluar dari gerbang penjara, si monster tepat di belakang kami. Para manusia fana menjerit-jerit dan berlarian. Sirene darurat mulai melengking.
Kami mencapai dermaga tepat saat sebuah perahu tur sedang menurunkan penumpang. Sekelompok pengunjung baru membeku saat mereka melihat kami menerjang ke arah mereka, diikuti oleh gerombolan turis yang ketakutan, diikuti oleh .... Aku tidak tahu apa yang mereka lihat lewat Kabut, tapi sepertinya tidak mungkin bagus.
“Perahu?” tanya Grover.
“Terlalu lambat,” kata Tyson. “Kembali ke labirin. Satu-satunya kesempatan.”
“Kita perlu pengalih perhatian,” kata Annabeth.
Tyson merenggut sebuah tiang lampu logam dari tanah. “Aku akan alihkan perhatian Kampê. Kalian lari duluan.”
“Kubantu kau,” kataku.
“Nggak,” kata Tyson. “Kau pergi. Racun bakal menyakiti Cyclops. Sakit sekali. Tapi tak akan membunuh.”
“Kau yakin?”
“Pergi, Kak. Kutemui kau di dalam.”
Aku membenci gagasan itu. Aku hampir kehilangan Tyson sekali sebelumnya, dan aku tidak mau mengambil risiko itu lagi. Tapi tidak ada waktu untuk berdebat, dan aku tidak punya ide yang lebih bagus. Annabeth, Grover, dan aku masing-masing meraih satu tangan Briares dan menyeretnya menuju kios dagangan sementaraTyson meraung, menurunkan tiangnya, dan menyerbu Kampê laksana kesatria bertombak.
Monster itu sebelumnya memelototi Briares, tapi Tyson mendapatkan perhatiannya segera setelah dia menusuknya di dada dengan tiang, mendorongnya ke dinding. Dia menjerit dan menyabetkan pedangnya, menyayat tiang hancur berkeping-keping. Racun menetes membentuk genangan di sekelilingnya, mendesis melubangi semen.
Tyson melompat mudur saat rambut Kampê melecut dan mendesis, ular-ular berbisa di sekelilingnya menjulurkan lidah mereka ke segala arah. Seekor snga mencuat dari wajah-wajah aneh yang baru setengah terbentuk di sekitar pinggang dan mengaum.
Saat kami berlari menuju blok sel, hal terakhir yang kulihat adalah Tyson yang mengangkat kios Dippin’ Dots dan melemparkan kepada Kampê. Es krim dan racun meledak ke mana-mana, semua ular kecil di rambut Kampê diperciki es krim tutti-frutti.Kami melejit kembali ke halaman penjara.
“Tidak sanggup,” Briares terengah-engah.
“Tyson mempertaruhkan nyawanya untuk menolongmu!” bentakku padaya. “Kau harus sanggup.”
Saat kami mencapai pintu blok sel, aku mendengar auman marah. Aku melirik ke belakang dan melihat Tyson berlari ke arah kami dengan kecepatan penuh, Kampê tepat di belakangnya. Dia bersimbah es krim dan T-shirt. Salah satu kepala beruang di pinggangnya sekarang mengenakan kacamata hitam Alcatraz miring.
“Cepat!” kata Annabeth, seakan aku perlu diberi tahu soal itu.
Kami akhirnya menemukan sel tempat kami masuk tadi, tapi dinding belakangnya sekarang mulus sepenuhnya—tidak ada tanda batu besar atau apa pun.
“Cari tandanya!” kata Annabeth.
“Ini!” Grover menyentuh goresan kecil, dan goresan tersebut berubah menjadi D Yunani. Tanda Daedalus berkilau biru, dan dinding batu menggeretak terbuka.
Terlalu pelan. Tyson muncul lewat sel blok, pedang Kampê mengibas di belakangnya, tanpa pandang bulu mengiris jeruji sel dan dinding batu.
Aku mendorong Briares ke dalam labirin, lalu Annabeth dan Grover.
“Kau bisa melakukannya!” kataku kepada Tyson. Tapi seketika aku tahu dia tak bisa. Kampê menyusul. Dia mengangkat pedangnya. Aku perlu pengalih perhatian—sesuatu yang besar. Aku menampar arlojiku dan ia berpusing menjadi perisai peunggu. Dengan putus asa, kulemparkan perisai ke muka si monster.
PLAK! Perisai menabrak mukanya dan dia terhuyung-huyung cukup lama sehingga Tyson bisa meluncur melewatiku ke dalam labirin. Aku tepat di belakangnya.
Kampê menerjang, tapi dia terlambat. Pintu batu tertutup dan sihir menyegel kami di dalam. Aku bisa merasakan seluruh terowongan berguncang saat Kampê menggedor-gedornya, meraung marah. Tapi, kami tak menunggu main “tok, tok ada siapa di sana” bersamanya. Kami berpacu ke kegelapan, dan untuk pertama kalinya (dan terakhir kali) aku lega bisa kembali ke Labirin.[]

Comments