Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 15

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB LIMA BELAS
Kami Mencuri Sejumlah Sayap Agak Bekas
“Ke arah sini!” teriak Rachel.
“Kenapa kami harus mengikutimu?” tuntut Annabeth. “Kau menuntun kami tepat memasuki jebakan maut itu.”
“Itulah jalan yang perlu kalian datangi,” kata Rachel. “Dan begitu juga ini. Ayolah!”
Annabeth tidak tampak senang soal itu, tapi dia lari bersama kami. Rachel tampaknya tahu persis ke mana dia pergi. Dia melesat mengitari belokan dan bahkan tidak ragu-ragu di persimpangan. Sekali dia berkata, “Merunduk!” dan kami semua meringkuk saat sebuah kapak raksasa berayun di atas kepala kami. Lalu kami terus lanjut seakan-akan tidak ada yang terjadi.
Aku tidak tahu berapa kali kami berbelok. Kami tidak berhenti untuk beristirahat sampai kami sampai ke sebuah ruangan seukuran gimnasum dengan pilar-pilar marmer tua yang menyangga atap. Aku berdiri di ambang pintu, mendengarkan bunyi-bunyi pengejaran, namun aku tidak mendengar apa-apa. Rupanya kami sudah kehilangan Luke dan antek-anteknya di labirin.
Lalu kusadari sesuatu yang lain: Nyonya O’Leary lenyap. Aku tidak tahu kapan dia menghilang. Aku tidak tahu apa dia tersesat atau terkejar oleh monster atau apa. Hatiku terasa berat. Dia telah menyelamatkan nyawa kami, dan aku bahkan tak menunggu untuk memastikan bahwa dia mengikuti kami.
Ethan jatuh ke lantai. “Kalian gila.” Dia melepaskan helmnya. Wajahnya berkilau karena keringat.
Annabeth terengah-engah. “Aku ingat kau! Kau salah satu anak yang belum ditentukan di pondok Hermes bertahun-tahun lalu.”
Ethan memelototi Annabeth. “Iya, dan kau Annabeth. Aku ingat.”
“Apa—apa yang terjadi pada matamu?”
Ethan berpaling, dan aku punya firasat itulah topik yang nggak akan dibahasnya.
“Kau pasti si blasteran dalam mimpiku,” kataku. “Yang disudutkan anak buah Luke. Rupanya memang bukan Nico.”
“Siapa Nico?”
“Lupakan saja,” kata Annabeth cepat-cepat. “Kenapa kau mencoba bergabung dengan pihak yang salah?”
Ethan mencibir. “Tidak ada pihak yang benar. Para dewa tidak pernah memedulikan kita. Kenapa aku tidak boleh—“
“Mendaftar ke pasukan yang menyuruhmu bertarung sampai mati demi hiburan?” kata Annabeth. “Wah, kenapa ya?”
Ethan berusaha berdiri. “Aku tidak akan berdebat denganmu. Makasih atas bantuannya, tapi aku mau keluar dari sini.”
“Kami sedang mengincar Daedalus,” kataku. “Ikutlah bersama kami. Setelah kita berhasil, kau akan diterima kembali di perkemahan.”
“Kalian memang betul-betul gila kalau kalian pikir Daedalus bakal membantu kalian.”
“Dia harus melakukannya,” kata Annabeth. “Akan kami buat dia mendengarkan.”
Ethan mendengus. “Ya sudah. Semoga berhasil deh.”
Aku mencengkeram lengannya. “Kau mau berkeliaran sendirian di dalam labirin? Itu bunuh diri.”
Dia menatapku dengan kemarahan yang nyaris tak terkendali. Bagian pinggir dari kain penutup mayanya terburai dan warna hitamnya sudah memudar, sepertinya dia sudah lama sekali mengenakannya. “Kau seharusnya tidak membiarkanku hidup, Jackson. Belas kasihan tidak punya tempat dalam perang ini.”
Lalu dia berlari ke kegelapan, kembali ke arah kami datang.
Annabeth, Rachel, dan aku begitu kelelahan sehingga kami langsung berkemah di ruangan besar itu. Aku menemukan sejumlah kayu sisa dan kami menyalakan api. Bayangan menari-nari di pilar-pilar yang menjulang di sekeliling kami bagaikan pepohonan.
“Ada sesuatu yang salah dengan Luke,” gumam Annabeth, menusuk-nusuk api dengan pisaunya. “Apa kau lihat caranya berakting tadi?”
“Dia keliahatannya cukup senang menurutku,” kataku. “Semestinya dia menghabiskan hari yang menyenangkan, menyiksa pahlawan.”
“Itu tidak benar! Ada sesuatu yang salah dengannya. Dia kelihatan ... gugup. Dia menyuruh monster-monsternya untuk tidak membunuhku. Dia ingin memberitahukan sesuatu padaku.”
“Mungkin, ‘Hai, Annabeth! Duduklah di sini bersamaku dan lihat sementara kurobek-robek teman-temanmu. Pasti bakal asyik!’”
“Kau menyebalkan,” gerutu Annabeth. Dia menyarungkan belatinya dan memandang Rachel. “Jadi, ke arah mana sejarang, Sacagawea*?”
Rachel tidak merespons seketika. Dia menjadi lebih pendiam sejak kejadian di arena. Sekarang, kapan pun Annabeth membuat komentar sarkastis, Rachel hampir tidak repot-repot menjawab. Dia membakar ujung sebatang tingkat di api dan menggunakannya untuk menggambar sosok abu di lantai, gambaran monster-monster yang kami lihat. Dengan beberapa goresan dia menangkap kemiripan seekor dracarna secara sempurna.
----------------
*Wanita Indian yang menjadi pemandu dalam salah satu ekspedisi ke wilayah Barat Amerika Serikat pada awal abad ke-19.
“Akan kita ikuti jalan ini,” katanya. “Sinar terang di lantai.”
“Sinar terang yang membimbing kami langsung memasuki perangkap?” tanya Annabeth.
“Jangan ganggu dia, Annabeth,” kataku. “Dia melakukan yang terbaik yang dia bisa.”
Annabeth berdiri. “Apinya mau mati. Aku akan mencari kayu bakar lagi sementara kalian membicarakan strategi.” Dan dia berderap pergi ke dalam bayang-bayang.
Rachel menggambar sosok lain dengan tongkatnya—Antaeus dari abu yang bergelantungan dari rantainya.
“Annabeth biasanya nggak seperti itu.” Aku memberitahunya. “Aku nggak tahu apa masalahnya.”
Rachel mengangkat alisnya. “Apa kau yakin kau nggak tahu?”
“Apa maksudmu?”
“Cowok,” gumamnya. “Betul-betul buta.”
“Hei, jangan marahi aku juga dong! Begini, aku minta maaf kau jadi terlibat dalam perkara ini.”
“Nggak, kau benar,” katanya. “Aku bisa melihat jalannya. Aku tidak bisa menjelaskannya, tapi jalan itu betul-betul jelas.” Dia menunjuk ke arah ujung lain ruangan, kegelapan. “Bengkel kerja Daedalus ke arah sana. Jantung labirin. Kita sangat dekat sekarang. Aku nggak tahu kenapa jalannya melewarti arena tadi. Aku—aku minta maaf soal itu. Kupikir kau bakal mati.”
Dia kedengarannya hampir menangis.
“Hei, aku biasanya memang bakal mati,” janjiku. “Jangan merasa tidak enak.”
Dia mengamati wajahku. “Jadi, kau melakukan ini setiap musim panas? Bertarung dengan monster? Menyelamatkan dunia? Apa kau tak pernah berkesempatan melakukan, tahulah, hal-hal normal?”
Aku tidak pernah benar-benar berpikir seperti itu. Kali terakhir aku memiliki kehidupan yang normal ... yah, tidak pernah. “Blastera terbiasa dengan yang seperti ini, kurasa. Atau mungkin bukan terbiasa, tapi ....” Aku bergerak tak nyaman. “Bagaimana denganmu? Apa yang biasanya kau lakukan?”
Rachel mengangkat bahu. “Aku melukis. Aku banyak membaca.”
Oke, pikirku. Sejauh ini kami mendapat skor nol pada tabel kemiripan. “Bagaimana dengan keluargamu?”
Aku bisa merasakan tameng mentalnya terangkat, seakan ini bukan topik yang aman. “Oh ... mereka cuma, tahulah, keluarga.”
“Kau bilang mereka nggak bakal sadar kalau kau pergi.”
Dia meletakkan tongkat menggambarnya. “Wow, aku betul-betul capek. Aku boleh tidur sebentar, kan?”
“Oh, tentu. Sori kalau...”
Tapi Rachel sudah bergelung, menggunakan tas punggungnya sebagai bantal. Dia memejamkan matanya dan berbaring sangat diam, tapi aku punya firasat dia tidak benar-benar tidur.
Beberapa menit kemudian, Annabeth kembali. Dia melemparkan beberapa ranting ke api unggun. Dia memandang Rachel, lalu memandangku.
“Aku akan berjaga pertama,” katanya. “Kau sebaiknya tidur juga.”
“Kau nggak perlu bersikap seperti itu.”
“Seperti apa?”
“Seperti ... ah, sudahlah.” Aku membaringkan diri, merasa sengsara. Aku begitu lelah sampai-sampai aku jatuh tertidur segera setelah mataku terpejam.
***
Dalam mimpiku kudengar tawa. Tawa dingin dan kejam, seperti pisau yang sedang diasah.
Aku berdiri di tepi lubang di kedalaman Tartarus. Di bawahku kegelapan meluap bagaikan sup sehitam tinta.
“Begitu dekat dengan kehancuranmu sendiri, Pahlawan Kecil,” suara Kronos mencela. “Dan kau masih saja buta.”
Suara itu berbeda dari sebelumnya. Suara itu seakan hampir mewujud sekarang, seolah berbicara dari tubuh sungguhan alih-alih ... apa pun dirinya dalam kondisinya yang terpotong-potong.
“Aku berutang banyak terima kasih kepadamu,” kata Kronos. “Kau telah memastikan kebangkitanku.”
Banyangan di gua menjadi semakin dalam dan semakin berat. Aku mencoba mundur dari tepi lubang, tapi rasanya seperti berenang di minyak. Waktu melambat. Napasku hampir berhenti.
“Hadiah,” kata Kronos. “Raja Titan selalu membayar utangnya. Mungkin sekilas teman-tema yang kau tinggalkan ....”
Kegelapan beriak di sekitarku, dan aku berada di gua yang berbeda.
“Cepat!” kata Tyson. Dia masuk tergopoh-gopoh ke ruangan. Grover terhuyung-huyung di belakangnya. Ada gemuruh dari arah koridor kedatangan mereka, dan kepala ular yang sangat besar menyerbu masuk ke dalam gua. Maksudku, makhluk ini betul-betul besar sampai-sampai badannya nyaris tak cukup lewat terowongan. Sisiknya mengilap seperti tembaga. Kepalanya berbentuk wajik seperti ular derik, dan mata kuningnya berbinar-binar benci. Saat ia membuka mulutnya, taringnya setinggi Tyson.
Ia melecut ke arah Grover, tapi Grover buru-buru menghindar. Si ular menyasar ke tanah. Tyson mengangkat sebuah batu besar dan melemparkannya ke si monster, menghantamnya di antara kedua matanya, tapi si ular cuma bergelung dan mendesis.
“Ia bakal memakanmu!” Grover berteriak kepada Tyson.
“Bagaimana kau tahu?”
“Ia baru saja memberitahuku! Lari!”
Tyson melesat ke satu sisi, tapi si ular menggunakan kepalanya seperti pentungan dan menjatuhkan Tyson.
“Tidak!” teriak Grover. Tapi sebelum Tyson bisa memperoleh kembali keseimbangannya, si ular melilit tubuhnya dan mulai meremas.
Tyson bertahan, mendorong dengan seluruh kekuatannya yang luar biasa, tapi si ular meremas semakin erat. Grover dengan panik memukuli si ular menggunakan seruling alang-alangnya, tapi dia seakan-akan cuma menggedor dinding batu.
Seluruh ruangan terguncang saat si ular merenggangkan otot-ototnya, bergetar untuk mengatasi kekuatan Tyson.
Grover mulai memainkan seruling, dan stalaktit-stalaktit berjatuhan dari langit-langit. Seisi gua tampaknya akan runtuh ....
Aku terbangun dengan Annabeth yang mengguncang-guncangkan bahuku. “Percy, bangun!”
“Tyson—Tyson dalam masalah!” kataku. “Kita harus menolongnya!”
“Dahulukan yang utama,” katanya. “Gempa bumi.”
Memang benar, ruangan sedang bergemuruh. “Rachel!” teriakku.
Matanya terbuka seketika. Dia merenggut tasnya, dan kami bertiga pun lari. Kami hampir sampai di terowongan di sisi jauh ketika sebuah pilar di samping kami mengerang dan roboh. Kami terus melaju saat ratusan ton marmer jatuh menghantam lantai di belakang kami.
Kami berhasil mencapai koridor dan berbelok tepat waktu untuk menyaksikan pilar-pilar lain tumbang. Kepulan asap putih membumbung di atas kami, dan kami terus berlari.
“Kau tahu tidak?” kata Annabeth. “Ternyata aku memang suka jalan yang ini.”
Tidak lama sebelum kami melihat cahaya di depan—seperti penerangan listrik yang biasa.
“Di sana,” kata Rachel.
Kami mengikutinya ke dalam sebuah lorong dari baja tahan karat, seperti yang kubayangkan ada di stasiun ruang angkasa atau semacamnya. Lampu-lampu flouresensi berpendari dari langit-langit. Lantainya berupa jeruji logam.
Aku sudah sangat terbiasa berada di kegelapan sehingga aku harus memicingkan mata. Baik Annabeth dan Rachel terlihat pucat di tengah cahaya terang itu.
“Ke arah sini,” kata Rachel, mulai berlari. “Kita sudah dekat!”
“Ini salah besar!” kata Annabeth. “Bengkel kerja harusnya ada di bagian tertua labirin. Ini nggak mungkin—“
Dia terdiam, sebab kami sampai di depan pintu ganda dari logam. Tergores di baja, setinggi mata, ada huruf besar D Yunani.
“Kita sudah sampai,” Rachel mengumumkan. “Bengkel kerja Daedalus.”
***
Annabeth menekan simbol di pintu dan pintu ganda itu pun berdesis terbuka.
“Arsitektur kuno apaan,” kataku.
Annabeth cemberut. Bersama-sama kami masuk ke dalam.
Hal pertama yang menarik perhatianku adalah cahaya siang hari—sinar matahari terik yang menembus jendela-jendela raksasa. Bukan sesuatu yang kau duga ada di jantung sebuah penjara bawah tanah. Bengkel kerja tersebut mirip studio seorang seniman, dengan langit-langit setinggi sembila meter dan penerangan ala industri, lantai batu mengilap, dan bangku-bangku kerja di sepanjang jendela. Tangga spiral mengarah ke loteng di lantai dua. Setengah lusin penyangga lukisan memanjang diagram buatan tangan yang menggambarkan bangunan serta mesin, mirip sketsa Leonardo da Vinci. Beberapa komputer laptop betebaran di meja-meja. Toples-toples kaca berisi minyak hijau—api Yunani—berbaris di satu rak. Ada penemuan-penemuan juga—mesin-mesin logam aneh yang tak masuk akal bagiku. Salah satunya berupa kursi perunggu yang ditempeli berbagai kabel listrik, seperti semacam alat penyiksaan. Di pojok lain berdirilah telur logam raksasa yang kira-kira seukuran manusia. Ada jam antik yang tampaknya seluruhnya terbuat dari kaca, jadi kau bisa melihat semua roda giginy berputar. Dan di dinding tergantung beberapa set sayap perunggu dan perak.
“Di immortales,” gumam Annabeth. Dia lari ke penyangga lukisan terdekat dan melihat sketsa di atasnya. “Dia genius. Lihat kurva-kurva di bangunan ini!”
“Dan seorang seniman,” kata Rachel kagum. “Sayap-sayap ini luar biasa!”
Sayap-sayap itu terlihat lebih canggih daripada yang kusaksikan dalam mimpiku. Bulu-bulunya teranyam lebih rapat. Alih-alih segel dari lilin, semacam selotip perekat terentang di sisi-sisinya.
Aku meletakkan tanganku pada Reptide. Rupanya Daedalus sedang tidak di rumah, tapi bengkel kerja itu kelihatannya digunakan baru-batu ini. Laptop-laptop menyalakan screen saver-nya. Muffin blueberry yang baru dimakan separuh dan secangkir kopi bertengger di sebuah meja kerja.
Aku berjalan ke jendela. Pemandangan di luar menakjubkan. Aku mengenali Pegunungan Rocky di kejauhan. Letak kami tinggi di kaki bukit, paling tidak 150 meter, dan di bawah terhamparlah lembah, dipenuhi kumpulan tebih curam merah dan karang serta batu runcing bagaikan pilar. Tampilan seperti kota mainan dengan blok-blok seukuran pencakar langit yang dibangun oleh anak besar, yang kemudian dia putuskan untuk robohkan.
“Di mana kita?” aku bertanya-tanya.
“Colorado Springs,” sebuah suara berkata di belakang kami. “Taman Para Dewa.”
Di tangga spiral di atas kami, dengan senjata terhunus, berdirilah ahli pedang kami yang hilang, Quintus.
“Kau,” kata Annabeth. “Apa yang kau lakukan pada Daedalus?”
Quintus tersenyum samar. “Percayalah padaku, Sayangku. Kau tidak ingin bertemu dia.”
“Dengar, Pak Penghianat,” geram Annabeth. “aku tidak bertarung dengan wanita naga dan pria berbadan tiga dan Sfinks edan untuk menemuimu. Sekarang di mana DAEDALUS?”
Quintus menuruni tangga, memegangi pedangnya di sampingnya. Dia mengenakan jin dan sepatu bot dan T-shirt konselornya dari Perkemahan Blasteran, yang sekarang tampak seperti penghinaan karena kami tahu dia seorang mata-mata. Aku tak tahu apa aku bisa mengalahkannya dalam pertarungan pedang. Dia lumayan bagus. Tapi kurasa aku harus mencoba.
“Kau pikir aku ini agen Kronos,” katanya. “Bahwa aku bekerja untuk Luke.”
“Tentu saja,” kata Annabeth.
“Kau gadis yang pintar,” katanya. “Tapi kau salah. Aku hanya bekerja untuk diriku sendiri.”
“Luke menyebut-nyebut dirimu,” kataku. “Geryon juga tahu tentangmu. Kau pernah ke peternakannya.”
“Tentu saja,” katanya. “Aku sudah pernah ke hampir semua tempat. Bahkan di sini.”
Dia berjalan melewatiku seolah aku bukan ancaman sama sekali dan berdiri dekat jendela. “Pemandangan berbah dari hari ke hari,” gumamnya. “Letaknya selalu di suatu tempat yang tinggi. Kemarin di pencakar langit yang menghadap ke Manhattan. Sehari sebelum itu, ada pemandangan Danau Michigan yang indah. Tapi tempat ini selalu kembali ke Taman Para Dewa. Menurutku Labirin menyukainya. Cocok dengan namanya, kukira.”
“Kau pernah ke sini sebelumnya,” kataku.
“Oh, ya.”
“Apa di luar sana itu ilusi?” tanyaku. “Proyeksi dari sesuatu?”
“Bukan,” gumam Rachel. “Itu asli. Kita betul-betul di Colorado.”
Quintus memandanginya. “Kau punya penglihatan yang jernih, ya? Kau mengingatkaku pada seorang gadis fana lain yang pernah kukenal. Putri lain yang akhirnya berduka.”
“Cukup main-mainnya,” kataku. “Apa yang kau lakukan pada Daedalus?”
Quintus menatapku. “Nak, kau perlu belajar melihat dengan jelas dari temanmu. Akulah Daedalus.”
Ada banyak jawaban yang mungkin saja kuberikan, dari “Sudah kuduga” sampai “PEMBOHONG!” sampai “Iya deh, dan aku Zeus.”
Satu-satunya yang bisa terpikir olehku untuk kukatakan adalah, “Tapi kau bukan seorang penemu! Kau ahli pedang!”
“Aku penemu dan ahli pedang,” kata Quintus. “Dan arsitek. Dan cendikiawan. Aku juga cukup jago bermain basket untuk laki-laki yang baru mulai waktu umurnya dua ribu tahun. Seniman tulen harus ahli melakukan banyak hal.”
“Itu benar,” kata Rachel. “Seperti aku yang bisa melukis dengan tangan dan juga kakiku.”
“Kau lihat?” kata Quintus. “Gadis dengan berbagai bakat.”
“Tapi kau bahkan tidak mirip Daedalus,” protesku. “Aku melihatnya dalam mimpi, dan ....” Tiba-tiba pikiran mengerikan terlintas dalam benakku.
“Ya,” kata Quintus. “Kau akhirnya menebak yang sebenarnya.”
“Kau automaton. Kau membuatkan dirimu tubuh baru.”
“Percy,” kata Annabeth gelisah, “itu tidak mungkin. Itu—itu tidak mungkin automaton.”
Quintus tergelak. “Apa kau tahu apa arti Quintus, Sayangku?”
“Kelima, dalam bahasa Latin. Tapi—“
“Ini tubuhku yang kelima.” Sang ahli pedang mengulurkan lengan bawahnya. Dia menekan sikunya dan sebagian pergelangan tanganya mencuat terbuka—katup segiempat di kulitnya. Di bawahnya, gigi roda-gigi rofda mendesing. Kabel-kabel berkilau.
“Luar biasa!” kata Rachel.
“Aneh,” kataku.
“Kau menemukan cara untuk mentransfer animus-mu ke dalam sebuah mesin?”  kata Annabeth. “Itu ... tidak wajar.”
“Oh, kuyakinkan kau, Sayangku, ini masih diriku. Aku masih Daedalus. Ibu kita, Athena, memastikan agar aku takkan pernah melupakannya.” Dia menarik bagian belakang kerah bajunya. Di dasar lehernya ada tanda yang kulihat sebelumnya—bentuk gelap berupa burung yang dicangkokkan ke kulitnya.
“Cap pembunuh,” kata Annabeth.
“Untuk keponakanmu, Perdix,” tebakku. “Bocah yang kau dorong dari menara.”
Wajah Quintus berubah muram. “Aku tidak mendorongnya. Aku cuma—“
“Membuatnya kehilangan keseimbangan,” kataku. “Membiarkannya mati.”
Quintus memandang lewat jendela ke pegunungan berwarna ungu. “Aku menyesali apa yang kulakukan, Percy. Aku marah dan getir. Tapi aku tak bisa mengembalikannya, dan Athena tidak pernah membiarkaku lupa. Saat Perdix meninggal, Athena mengubahnya menjadi unggas kecil—ayam hutan. Dia mengecap bentuk unggas itu di leherku sebagai pengingat. Tidak peduli tubuh apa yang kupakai, cap ini selalu muncul di kulitku.”
Aku menatap matanya, dan kusadari dia adalah pria yang sama yang kulihat dalam mimpiku. Wajahnya mungkin sepenuhnya berbeda, tapi jiwa yang sama ada di sana—kecerdasan dan segala kesedihan yang sama.
“Kamu memang betul-betul Daedalus,” aku memutuskan. “Tapi kenapa kau datang ke perkemahan? Kenapa memata-matai kami?”
“Untuk melihat apakah perkemahan kalian layak diselamatkan. Luke memberiku satu cerita. Aku lebih memilih membuat kesimpulan sendiri.”
“Jadi, kau memang pernah bicara pada Luke.”
“Oh, ya. Beberapa kali. Dia cukup persuasif.”
“Tapi sekarang kau sudah melihat perkemahan!” Annabeth berkeras. “Jadi, kau tahu kami perlu bantuan. Kau tidak bisa membiarkan Luke melewati labirin!”
Daedalus meletakkan pedangnya di bangku kerja. “Labirin tidak dalam kendaliku lagi, Annabeth. Aku menciptakannya, ya. Malah, Labirin terikat dengan daya hidupku. Tapi aku telah membiarkannya hidup dan tumbuh sendiri. Itulah harga yang kubayar demi privasi.”
“Privasi dari apa?”
“Para dewa,” katanya. “Dan kematian. Aku sudah hidup selama dua milenium, Sayangku, bersembunyi dari kematian.”
“Tapi bagaimana mungkin kau sembunyi dari Hades?” tanyaku. “Maksudku ... Hades punya Erinyes.”
“Mereka tidak tahu segalanya,” katanya. “Atau melihat segalanya. Kau sudah pernah bertemu mereka, Percy. Kau tahu ini benar. Pria yang pintar dapat bersembunyi cukup lama, dan aku telah mengubur diriku dalam-dalam. Hanya musuh terbesarku yang terus mengejarku, dan bahka dia pun telah kuhindari.”
“Maksudmu Minos,” kataku.
Daedalus mengangguk. “Dia memburuku tanpa kenal lelah. Sekarang setelah dia menjadi pengadil orang mati tak ada yang lebih diinginkannya daripada diriku yang datang ke hadapannya supaya dia bisa menghukumku atas kejahatanku. Setelah anak-anak perempuan Cocalus membunuhnya, hantu Minos mulai menyiksaku dalam mimpi-mimpiku. Dia berjanji dia akan memburuku sampai ketemu. Kulakukan satu-satunya hal yang kubisa. Aku menarik diri sepenuhnya dari dunia. Aku turun ke dalam Labirin. Kuputuskan ini akan jadi pencapaianku yang terbesar: aku akan mencurangi kematian.”
“Dan kau berhasil,” kata Annabeth takjub, “selama dua ribu tahun.” Dia kedengarannya terkesan, terlepas dari hal-hal yang mengerikan yang telah Daedalus perbuat.
Tepat saat itu gonggongan lantang bergema dari koridor. Kudengar bunyi ba-BUM, ba-BUM, ba-BUM cakar-cakar besar, dan Nyonya O’Leary melompat masuk ke bengkel kerja. Dia menjilat wajahku sekali, kemudian hampir menjatuhkan Daedalus dengan lompatannya yang antusias.
“Ini teman lamaku!” kata Daedalus, menggaruk-garuk belakang telinga Nyonya O;Leary. “Satu-satunya temanku selama tahun-tahun panjang yang sepi ini.”
“Kau membiarkannya menyelamatkanku,” kataku. “Peluit itu benar-benar bekerja.”
Daedalus mengangguk. “Tentu saja peluit itu bekerja, Percy. Kau berhati baik. Dan aku tahu Nyonya O’Leary menyukaimu. Aku ingin membantumu. Mungkin aku—aku merasa bersaah juga.”
“Bersalah soal apa?”
“Karena misimu akan sia-sia.”
“Apa?” kata Annabeth. “Tapi kau masih bisa membantu kami. Harus! Berikan benang Ariadne kepada kami supaya Luke tidak bisa menggunakannya.”
“Ya ... benang itu. Kuberi tahu Luke bahwa mata manusia fana berpenglihatan jeli adalah pemandu terbaik, tapi dia tidak memercayaiku. Dia begitu terfokus akan gagasan mengenai sebuah benda ajaib. Dan benang itu bermanfaat. Tidak seakurat teman fanamu ini, mungkin. Tapi cukup baik. Cukup baik.”
“Di mana benang itu?” kata Annabeth.
“Ada pada Luke,” kata Daedalus sedih. “Maafkan aku, Sayangku. Tapi kalian terlambat beberapa jam.”
Merinding, kusadari kenapa suasana hati Luke bagus sekali di arena. Dia sudah mendapatkan benang dari Daedalus. Satu-satunya rintangannya adalah sang pemilik arena, dan aku sudah mengurus soal itu untuknya dengan cara membunuh Antaeus.
“Kronos menjanjikanku kebebasan,” kata Quintus. “Setelah Hades digulingkan, dia akan memberiku kuasa atas Dunia Bawah. Aku akan mengambil putraku Icarus kembali. Aku akan memperbaiki segalanya dengan Perdix muda yang malang. Akan kulihat jiwa Minos diasingkan ke Tartarus, tempat ia takkan bisa mengusikku lagi. Dan aku takkan perlu lagi lari dari kematian.”
“Itu ide brilianmu?” teriak Annabeth. “Kau akan membiarkan Luke menghancurkan perkemahan kami, membunuh ratusan blasteran, dan kemudian menyerang Olympus? Kau akan menghancurkan seluruh dunia supaya kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan?”
“Tujuanmu takkan tercapai, Sayangku. Aku melihatnya segera setelah aku bekerja di perkemahan. Tidak mungkin kalian menghalangi kekuatan Kronos.”
“Itu tidak benar!” seru Annabeth.
“Aku melakukan apa yang harus kulakukan, Sayangku. Tawaran itu terlalu manis untuk ditolak. Maafka aku.”
Annabeth mendorong sebuah penyangga lukisan. Gambar-gambar arsitektur berhamburan ke lantai. “Aku dulu menghormatimu. Kau pahlawanku! Kau—kau membangun benda-benda mengagumkan. Kau memecahkan masalah. Sekarang ... aku tidak tahu siapa kau. Anak-anak Athena seharusnya bijaksana, bukan cuma pintar. Mungkin kau memang cuma mesin. Kau seharusnya mati dua ribu tahun lalu.”
Bukannya marah, Daedalus malam menundukka kepalaya. “Kau sebaiknya pergi, peringatkan perkemahanmu. Sekarang setelah Luke mendapatkan benang—“
“Ada yang datang!” Rachel memperingatkan.
Pintu bengkel kerja menjeblak terbuka, dan Nico di dirong ke dalam, tangannya terantai. Lalu Kelli dan dua Laistrygonian berderap masuk di belakangnya, diikuti oleh hantu Minos. Dia terlihat hampir padat sekarang—raja pucat berjenggot dengan mata dingin serta sulur-sulur Kabut yang melingkat terburai dari jubahnya.
Dia melekatkan pandangannya pada Daedalus. “Rupanya kau di situ, Kawan lamaku.”
Rahang Daedalus merapat. Dia memandang Kelli. “Apa maksudnya ini?”
“Luke kirim salam,” kata Kelli. “Dia pikir kau mungkin ingin bertemu bos lamamu Minos.”
“Ini bukan bagian dari kesepakatan kita,” kata Daedalus.
“Memang bukan,” kata Kelli. “Tapi kami sudah mendapat apa yang kami inginkan darimu, dan kami punya kesepakatan lain yang harus kami hormati. Minos memerlukan sesuatu yang lain dari kami, sebagai ganti untuk menyerahkan blasteran mudah yang baik ini.” Dia menelusurkan jarinya ke bawah dagu Nico. “Dia bakal cukup bermanfaat. Dan yang diminta Minos sebagai imbalan adalah kepalamu, Pak Tua.”
Daedalus memucat. “Penghianatan.”
“Biasakan dirimu,” kata Kelli.
“Nico,” kataku. “Apa kau baik-baik saja?”
Dia mengangguk murung. “Aku—maafkan aku, Percy. Minos bilang padaku kalian dalam bahaya. Dia meyakinkanku supaya kembali ke dalam labirin.”
“Kau mencoba menolong kami?”
“Aku ditipu,” katanya. “Dia menipu kita semua.”
Aku memelototi Kelli. “Di mana Luke? Kenapa dia tak di sini?”
Si monster wanita tersenyum seakan kami sedang berbagi lelucon pribadi. “Luke sedang ... sibuk. Dia mempersiapkan serbuan. Tapi jangan khawatir. Kami punya lebih banyak teman lagi dalam perjalanan. Dan sementara itu, kupikir aku akan menyantap kudapa sedap!” Tanganya berubah menjadi cakar. Rambutnya tersulut menjadi nyala api dan kakinya berubah ke wujud aslinya—satu kaki keledai, satu perunggu.
“Percy,” bisik Rachel, “sayapnya. Apa kau pikir—“
“Ambil,” kataku. “Akan kucoba mengulur waktu untukmu.”
Dan dengan itu, keadaan jadi kacau seolah seluruh penghuni Hades dibebaskan dari Dunia Bawah. Annabeth dan aku menyerang Kelli. Para raksasa langsung menyerbu Daedalus, tapi Nyonya O’Leary melompat untuk melindunginya. Nico terdorong ke tanah dan bergulat dengan rantainya sementara arwah Minos melolong, “Bunuh si penemu! Bunuh dia!”
Rachel merenggut sayap-sayap dari dinding. Tidak ada yang memperhatikannya. Kelli menyebet ke arah Annabeth. Aku mencoba meraihnya, tapi si monster cepat dan mematikan. Dia membalikkan meja-meja, menghantam penemuan-penemuan hingga hancur berantakan, dan tidak membiarkan kami mendekat. Dari sudut mataku, kulihat Nyonya O’Leary membenamkan taringnya ke tangan salah satu raksasa. Dia melolong kesakitan dan mengayun-ayunkan Nyonya O’Leary ke sana-ke mari, mencoba mengguncangkannya supaya terlepas. Daedalus meraih pedangnya, tapi raksasa kedua menghacurkan bangku kerja dengan tinjunya, dan pedang itu pun terlempar. Kendi tanah liat berisi api Yunani pecah di lantai dan mulai terbakar, nyala api hijau menyebar dengan cepat.
“Kepadaku!” seru Minos. “Arwah orang-orang mati!” Dia mengangkat tangan hantunya dan udara mulai berdengung.
“Tidak!” teriak Nico. Dia berdiri di atas kedua kakinya sekarang. Dia entah bagaimaa berhasil melepaskan belenggunya.
“Kau tak mengendalikanku, Anak Bodoh,” cemooh Minos. “Selama ini, akulah yang mengendalikanmu! Satu jiwa untuk satu jiwa, ya. Tapi bukan kakakmu yang akan kembali dari kematian. Akulah yang akan bangkit, segera setelah kuhabisi si penemu!”
Arwah-arwah mulai bermunculan di sekeliling Minos—sosok-sosok berdenyar pelan-pelan berlipat ganda, memadat menjadi tentara-tentara Kreta.
“Aku putra Hades,” Nico berkeras. “Pergilah!”
Minos tertawa. “Kau tidak punya kekuasaan atas diriku. Akulah raja para arwah! Sang raja hantu!”
“Tidak.” Nico menghunus pedangnya. “Akulah sang raja hantu.”
Dia menusukkan bilah hitam pedangnya ke lantai, dan pedang itu meleleh lewat batu laksana mentega.
“Takkan pernah!” sosok Minos beriak-riak. “Aku tak kan—“
Tanah bergemuruh. Jendela-jendela retak dan pecah berkeping-keping, membiarkan semburan udara segar masuk. Retakan terbuka di lantai batu bengkel kerja, dan Minos serta semua arwah terisap ke dalam ruang hampa disertai lolongan mengerikan.
Kabar buruknya: pertarungan masih berlangsung di sekitar kami, dan aku membiarkan perhatianku teralih. Kelli menerjangku begitu cepat sampai-sampai aku tidak punya waktu untuk mempertahankan diriku. Pedangku terlempar dan kepalaku terbentur keras-keras di meja kerja saat aku terjatuh. Penglihatanku jadi kabur. Aku tidak bisa mengangkat lenganku.
Kelli tertawa. “Rasamu pasti lezat!”
Dia memamerkan taring-taringnya lalu tiba-tiba tubuhnya menjadi kaku. Mata merahnya membelalak. Dia terkesiap, “Tidak ... sekolah ... arwah ....”
Dan Annabeth mencabut pisau dari punggung si empousa. Dengan jeritan mengerikan, Kelli lenyap menjadi uap kuning.
Annabeth membantuku bangun. Aku masih berkunang-kunang, tapi kami tidak boleh menyia-nyiakan waktu. Nyonya O’Leary dan Daedalus masih sibuk bertarung melawan para raksasa, dan aku bisa mendengar teriakan di terowongan. Lebih banyak monster berdatangan menuju bengkel kerja.
“Kita harus menolong Daedalus!” kataku.
“Tidak ada waktu,” kata Rachel. “Terlalu banyak yang datang!”
Dia sudah memasang sayap ke badannya dan sedang mengepaskan sayap ke Nico, yang terlihat pucat dan berkeringat karena pertarungannya dengan Minos. Sayap terpasang seketika ke punggung dan lengannya.
“Sekarang kau!” katanya padaku.
Dalam hitungan detik, Nico, Annabeth, Rachel, dan aku sudah memasang sayap yang mengilap bagai tembaga ke badan kami. Aku sudah bisa merasakan diriku terangkat oleh angin yang datang lewat jendela. Api Yunani membakar meja-meja dan perabot, menyebar ke tangga lingkar.
“Daedalus!” teriakku. “Ayo!”
Dia tersayat di ratusan tempat—tapi dia mengucurkan minyak keemasan alih-alih darah. Dia sudah menemukan pedangnya dan sedang menggunakan bagian-bagian meja yang hancur sebagai perisai melawa para raksasa. “Aku tidak akan meninggalkan Nyonya O’Leary!” katanya. “Pergilah!”
Tidak ada waktu untuk berdebat. Bahkan kalau kami tinggal, aku tidak yakin kami bisa membantu.
“Kita nggak tahu cara terbang!” protes Nico.
“Waktu yang bagus sekali untuk mencari tahu,” kataku. Dan bersama-sama, kami berempat melompat ke luar jendela menuju langit terbuka.[]

Comments