Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 8

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB DELAPAN
Kami Mengunjungi Pemilik Peternakan Monster
Kami akhirnya berhenti di sebuah ruangan penuh air terjun. Lantainya berupa lubang besar, dikelilingi oleh jalan setapak dari batu. Di sekeliling kami, pada keempat dinding, air tertuang dari pipa-pipa besar. Air tertumpah ke lubang, dan bahkan saat aku menyinarinya, aku tidak bisa melihat dasarnya.
Briares berjongkok sambil merapat ke dinding. Dia menyendok air menggunakan selusin tangan dan mencuci mukanya. “Lubang ini tersambung tepat ke Tartarus,” gumamnya. “Aku sebaiknya melompat masuk dan menyelamatkan kalian dari masalah.”
“Jangan bilang begitu,” Annabeth memberitahunya. “Kau boleh kembali ke perkemahan dengan kami. Kau bisa membantu kami mempersiapkan diri. Kau tahu lebih banyak tentang pertarungan melawan Titan daripada siapa pun.”
“Aku tak punya apa-apa untuk ditawarkan,” kata Briares. “Aku sudah kehilangan segalanya.”
“Bagaimana dengan saudara-saudaramu?” tanya Tyson. “Yang dua lagi pasti masih berdiri setinggi gunung! Kami bisa membawamu ke mereka.”
Ekspresi Briares berubah menjadi sesuatu yang bahkan lebih menyedihkan: wajah dukanya. “Mereka sudah tiada. Mereka memudar.”
Air terjun bergemuruh. Tyson menatar lubang dan berkedip-kedip, mengusir air mata di matanya.
“Apa tepatnya maksudmu, mereka memudar?” tanyaku. “Kupikir monster kekal, seperti dewa.”
“Percy,” kata Grover lemah, “bahkan kekekalan pun punya batas. Kadang ... kadang-kadang monster terlupakan dan mereka kehilangan tekad untuk tetap kekal.”
Memandang wajah Grover, aku bertanya-tanya apakah dia sedang memikirkan Pan. Aku ingat sesuatu yang pernah Medusa katakan pada kami: bagaimana saudari-saudarinya, dua gorgon lain, telah tiada dan meninggalkannya sendirian. Lalu tahun kemarin Apollo mengatakan sesuatu tentang dewa kuno Helios yang lenyap dan meninggalinya tugas-tugas sebagai dewa matahari. Aku tidak pernah terlalu memikirkannya, tapi sekarang, melihat Briares, aku menyadari betapa mengenaskannya berusia setua itu—entah berapa ribu tahun—dan betul-betul sendirian.
“Aku harus pergi,” kata Briares.
“Pasukan Kronos akan menyerbu perkemahan,” kata Tyson. “Kami perlu bantuan.”
Briares menundukkan kepalanya. “Aku tak bisa, Cyclops.”
“Kau kuat.”
“Tidak lagi.” Briares berdiri.
“Hei.” Aku mencengkeram salah satu lengannya dan menariknya ke tepi, di mana ruangan air akan menyembunyikan kata-kata kami. “Briares, kami memerlukanmu. Kalau-kalau kau belum sadar, Tyson percaya padamu. Dia membahayakan hidupnya demi kau.”
Aku menceritakan segalanya padanya—rencana penyerbuan Luke, pintu masuk Labirin di perkemahan, bengkel kerja Daedalus, peti emas Kronos.
Briares cuma menggelengkan kepalanya. “Aku tak bisa, blasteran. Aku tidak punya sebuah jari pistol untuk memenangi permainan ini.” Untuk membuktikan maksudnya, dia membuat seratus jari pistol.
“Mungkin itu sebabnya kenapa monster memudar,” kataku. “Mungkin buka soal apa yang dipercayai manusia fana. Mungkin itu karena kalian sendiri yang menyerah.”
Mata cokelat pekatnya memandangku. Wajahnya berubah membentuk ekspresi yang kukenali—malu. Lalu dia berbalik dan terhuyung-huyung menyusuri koridor sampai dia hilang dalam kegelapan.
Tyson terisak.
“Tidak apa-apa.” Grover menepuk bahunya ragu-ragu, yang pasti menguras seluruh keberaniannya. Tyson bersin. “Apa-apa, Bocah Kambing. Dia pahlawanku.”
Aku ingin membuatnya merasa lebih baik, tapi aku tidak yakin harus berkata apa.
Akhirnya, Annabeth berdiri dan menyandang tas punggungnya. “Ayo, Teman-teman. Lubang ini membuatku gugup. Ayo kita cari tempat lain yang lebih bagus untuk berkemah malam ini.”
Kami beristirahat di koridor yang terbuat dari balok-balok marmer besar. Kelihatannya tempat itu bisa saja merupakan bagian dari makam Yunani, dengan dudukan obor perunggu dikencangkan ke dinding. Koridor itu pasti merupakan bagian labirin yang lebih tua, dan Annabeth memutuskan bahwa ini pertanda bagus.
“Kita pasti sudah dekat dengan bengkel kerja Daedalus,” katanya. “Beristirahatlah, Teman-teman. Kita akan melanjutkan besok pagi.”
“Bagaimana kita tahu kalau sudah pagi?” tanya Grover.
“Istirahat sajalah,” Annabeth berkeras.
Grover tidak perlu diberi tahu dua kali. Dia menarik setumpuk jerami dari tasnya, memakan sebagian, menjadikan sisanya sebagai bantal, dia mendengkur seketika. Tyson perlu waktu lebih lama untuk tertidur. Dia mengutak-atik potongan logam dari perangkat rakitannya sebentar, tapi apa pun yang sedang dia tidak puas soal itu. Dia terus-menerus membongkar potongan-potongan tersebut.
“Maafkan aku karena menghilangkan perisai,” kataku padanya. “Padahal kau bekerja keras untuk memperbaikinya.”
Tyson mendongak. Matanya merah karena menangis. “Jangan cemas, Kak. Kau menyelamatkanku. Kau tak perlu melakukanya kalau saja Briares mau membantu.”
“Dia cuma takut,” kataku. “Aku yakin dia bakal mengatasinya.”
“Dia nggak kuat,” kata Tyson. “Dia nggak penting lagi.”
Dia mengeluarkan desahan besar sedih, lalu memejamkan matanya. Potongan-potongan logam berjatuhan dari tangannya, masih belum terakit, dan Tyson mulai mendengkur.
Aku sendiri mencoba tidur, tapi aku tak bisa. Gara-gara dikejar-kejar wanita naga raksasa dengan pedang berbisa aku sulit rileks. Aku mengambil matras gulungku dan menyeretnya ke tempat Annabeth sedang duduk berjaga-jaga.
Aku duduk di sebelahnya.
“Kau seharusnya tidur,” katanya.
“Nggak bisa tidur. Kau nggak apa-apa?”
“Tentu saja. Hari pertama memimpin misi. Rasanya luar biasa.”
“Kita bakal sampai ke sana,” kataku. “Akan kita temukan bengkel kerja itu sebelum Luke.”
Dia menyibakkan rambut dari wajahnya. Ada tanah yang mencoreng dagunya, dan kubayangkan seperti apa rupanya waktu dia kecil, berkeliaran ke sepenjuru negeri bersama Thalia dan Luke. Ketika dia menyelamatkan mereka dari kediaman cyclops jahat waktu umurnya baru tujuh tahun. Bahkan saat dia kelihatan takut, seperti sekarang, aku tahu dia punya nyali besar.
“Seandainya saja misi ini logis,” keluhnya. “Maksudku, kita berpergian, tapi kita tidak punya gambaran kita bakal sampai di mana. Bagaimana kita bisa berjalan dari New York ke California dalam sehari?”
“Ruang tidaklah sama di labirin.”
“Aku tahu, aku tahu. Hanya saja ....” Dia memandangku ragu-ragu. “Percy, aku membodohi diriku. Susah payah merencanakan dan membaca, aku tidak tahu sama sekali ke mana kita pergi.”
“Kerjamu hebat. Lagi pula, kita, kan, memang nggak pernah tahu apa yang kita lakukan. Akhirnya toh selalu berhasil. Ingat pulau Circe?”
Dia mendengus. “Kau jadi marmot yang imut.”
“Dan Waterland, bagaimana kau membuat kita terlempar dari kendaraan itu?”
“Aku membuat kita terlempar? Itu, kan, sepenuhnya salahmu!”
“Tuh kan? Semuanya pasti baik-baik saja.”
Dia tersenyum, aku senang melihatnya, tapi senyum itu memudar dengan cepat.
“Percy, apa maksud Hera waktu dia bilang kau tahu cara menjelajahi labirin?”
“Aku nggak tahu,” akuku. “Sejujurnya.”
“Kau akan memberitahuku kalau kau tahu?”
“Tentu. Mungkin ....”
“Mungkin apa?”
“Mungkin kalau kau memberitahuku baris terakhir ramalan, itu akan membantu.”
Annabeth bergidik. “Tidak di sini. Tidak dalam kegelapan.”
“Bagaimana soal pilihan yang disebut-sebut Janus? Hera bilang—“
“Stop,” bentak Annabeth. Lalu dia menghela napas sambil gemetar. “Maafkan aku, Percy. Aku cuma stres. Tapi aku nggak ... aku harus memikirkannya.”
Kami duduk dalam keheningan, mendengarkan keriut dan eragan aneh di labirin, gema batu-batu yang bergemertak saling gesek saat terowongan berubah, tumbuh, dan meluas. Kegelapan membuatku memikirkan visi yang kulihat akan Nico di Angelo, dan tiba-tiba aku menyadari sesuatu.
“Nico di bawah sini juga, di suatu tempat,” kataku. “Begitulah cara dia menghilang dari perkemahan. Dia menemukan Labirin. Lalu dia menemukan jalan yang mengarah lebih jauh ke bawah—ke Dunia Bawah. Tapi sekarang dia kembali ke Labirin. Dia mengincarku.”
Annabeth lama terdiam. “Percy, kuharap kau salah. Tapi kalau kau benar ....” Dia menatap berkas cahaya senter yang memancarkan lingkaran redup di dinding batu. Aku punya firasat dia sedang memikirkan ramalannya. Aku tidak pernah melihatnya lebih lelah daripada sekarang.
“Bagaimaa kalau aku yang ambil giliran jaga pertama?” kataku. “Akan kubangunkan kau seandainya ada sesuatu yang terjadi.”
Annabeth kelihatannya ingin protes, tapi dia mengangguk saja, mengenyakkan diri ke matras gulung, dan memejamkan matanya.
Saat giliranku tidur, aku bermimpi aku kembali berada di penjara Labirin sang pria tua.
Penjara itu lebih mirip bengkel kerja sekarang. Alat-alat ukur berserakan di atas meja-meja. Anak laki-laki yang kulihat dalam mimpi sebelumnya sedang mengipas api, hanya saja dia lebih tinggi sekarang, hampir seumurku. Sebuah tanur aneh terhubung dengan cerobong asap alat tempa, mengurung asap dan panas dan menyalurkannya lewat pipa ke dalam lantai, di sebelah tutup lubang besar dari perunggu.
Saat itu siang hari. langit di atas berwarna biru, tapi dinding-dinding labirin menebarkan bayangan-bayangan melintang di bengkel kerja. Setelah berada di dalam terowongan demikian lama, menurutku aneh ada bagian Labirin yang bisa terbuka ke langit. Entah bagaimana itu membuat labirin tampak bagaikan tempat yang bahkan lebih kejam lagi.
Sang pria tua terlihat seperti orang sakit. Dia sangat kurus, tangannya bengkak dan merah karena bekerja. Rambut putih menutupi matanya, dan tuniknya tercoreng kotoran berminyak. Dia membungkuk di atas sebuah meja, mengerjakan semacam anyaman logam panjang—seperti sepotong baju zirah rantai. Dia mengambil segulung rapuh perunggu dan memasangnya di tempatnya.
“Selesai,” katanya mengumumkan. “Sudah selesai.”
Dia mengangkat hasil karyanya. Indah sekali, hatiku rasanya mau meloncat—sayap logam terbuat dari ribuan bulu perunggu uang saling kait. Jumlahnya ada dua set. Yang satu masih terhampar di meja. Daedalus merentangkan rangkanya, dan sayap itu mulur menjadi enam meter. Sebaian dari diriku sayap itu takkan pernah bisa terbang. Sayap itu tertalu berat dan tidak mungkin terangkat dari tanah. Tapi sebagai sebuah hasil kreasi, sayap itu luar biasa. Bulu-bulu logam menangkap cahaya dan memantulkan tiga puluh nuansa keemasan yang berbeda.
Si anak laki0laki meninggalkan kipas dan berlari menghampiri untuk melihat. Dia menyeringai, terlepas dari kenyataan bahwa dia kotor dan berkeringat. “Ayah, kau genius!”
Sang pria tua tersenyum. “Beri tahu aku sesuatu yang tak kuketahui, Icarus. Sekarang cepatlah. Paling tidak bakal perlu sejam untuk menempelkannya. Ayo.”
“Ayah dulu,” kata Icarus.
Sang pria tua memperotes, tapi Icarus memaksa. “Ayah yang membuatnya. Ayah seharusnya mendapat kehormatan untuk mengenakannya lebih dulu.”
Si anak laki-laki memasang kekang kulit yang tersambung dari bahu ke pergelangan tangannya. Lalu dia mulai mengencangkan sayap, menggunakan alat tembak logam yang kelihatannya seperti pistol lem panas raksasa.
“Komponen lilin ini seharusnya tahan beberapa jam,” kata Daedalus gugup saat putranya bekerja. “Tapi kita harus membiarkannya mengeras terlebih dahulu. Dan kita harus bisa terbang tidak terlalu tinggi atau terlalu rendah. Laut akan membasahi lilin—“
“Dan panas matahari akan melonggarkannya,” si anak laki-laki menyelesaikannya. “Ya, Ayah. Kita sudah mengulang-ulangnya jutaan kali!”
“Tidak pernah salah untuk selalu berhati-hati.”
“Aku percaya sepenuhnya pada temuanmu, Ayah. Tidak ada orang yang sepintar Ayah.”
Mata sang pria tua berbinar. Jelas bahwa dia menyayangi putranya melebih apa pun di dunia. “Sekarang kupasang sayapmu, dan beri sayapku kesempatan untuk mengeras. Ayo!”
Proses itu berjalan lambat. Tangan sang pria tua susah payah memasang kekang. Dia kesulitan mempertahankan sayap pada tempatnya sementara dia menyegelnya. Sayap logamnya sendiri tampaknya membebaninya, merintanginya sementara dia mencoba untuk bekerja.
“Telalu lamban,” gumam sang pria tua. “Aku terlalu lamban.”
“Pelan-pelas saja, Ayah,” kata si anak laki-laki. “Para pengawal tidak akan datang sampai—“
BUM!
Pintu-pintu bengkel kerja bergetar. Daedalus telah memalangi pintu dari dalam dengan penyangga kayu, tapi pintu tersebut masih saja berguncang pada engselnya.
“Cepat!” kata Icarus.
BUM! BUM!
Sesuatu yang berat menghantam pintu. Penyangga bertahan, tapi retakan muncul di pintu kiri.
Daedalus bekerja gila-gilaan. Tetesan lilin panas tertumpah ke bahu Icarus. Anak laki-laki itu mengernyit tapi tidak menjerit. Saat sayap kirinya tersegel ke kekang, Daedalus mulai mengerjakan yang kanan.
“Kita perlu lebih banyak waktu,” Daedalus berkomat-kamit. “Mereka terlalu awal! Kita perlu waktu supaya lilinnya bertahan.”
“Tidak apa-apa,” kata Icarus saat ayahnya menyelesaikan sayap kanan. “Bantu aku dengan lubang—“
KRAK! Pintu tercungkil dan kepala sebuah penggedor perunggu muncul menembus patahan. Kapak-kapak membersihkan puing-puing, dan dua pengawal bersenjata memasuki ruangan, diikuti oleh sang raja bermahkota emas dan berjenggot lancip.
“Wah, wah,” kata sang raja dengan senyum kejam. “Mau pergi ke suatu tempat?”
Daedalus dan putranya membeku, sayap logam mereka berkilat di belakang mereka.
“Kami akan pergi, Minos,” kata sang pria tua.
Raja Minos tergelak. “Aku penasaran ingin melihat seberapa jauh kalian mengerjakan proyek kecil ini sebelum aku menghancurkan harapan kalian. Harus kukatakan aku terkesan.”
Sang raja mengagumi sayap mereka. “Kalian terlihat seperti ayam logam,” dia memutuskan. “Mungkin kita sebaiknya mencabuti bulu-bulu kalian dan membuat sup.”
Para pengawal tertawa bodoh.
“Ayam logam,” salah satunya mengulangi. “Sup.”
“Tutup mulut,” kata sang raja. Lalu dia berpaling kembali kepada Daedalus. “Kau biarkan anak perempuanku kabur, Pak Tua. Kau membuat istriku gila. Kau membunuh monsterku dan menjadikanku bahan tertawaan di seluruh Mediterania. Kau takkan pernah bisa melarikan diri dariku!”
Icarus merenggut pistol lilin dan menyemprotkannya kepada sang raja, yang melangkah mudur karena kaget. Para pengawal bergegas maju, tapi masing-masing mendapatkan semburan lilin panas diwajahnya.
“Lubang udara!” Icarus berteriak kepada ayahnya.
“Tangkap mereka!” Raja Minos meraung murka.
Bersama-sama, sang pria tua dan putranya mengumpil tutup lubang hingga terbuka, dan semburan udara panas tersembur keluar dari tanah. Sang raja menyaksikan, terperangah, saat sang penemu dan putranya terlempar ke langit denga sayap perunggu mereka, dibawa oleh aliran udara ke atas.
“Tembak mereka!” teriak sang raja, tapi para pengawalnya tidak membawa busur. Salah satu melemparkan pedangnya putus asa, tapi Daedalus dan Icarus sudah berada di luar jangkauan. Mereka terbang berputar di atas labirin dan istana sang raja, lalu melesat melintasi kota Knossos dan keluar darinya, melewati pesisir Kreta yang berbatu-batu.
Icarus tertawa. “Bebas, Ayah! Ayah berhasil!”
Si anak laki-laki merentangkan sayapnya ke batas maksimum dan melayang mengikuti angin.
“Tunggu!” Daedalus berseru. “Hati-hati!”
Tapi Icarus sudah berada di atas lautan terbuka, menuju ke utara dan mensyukuri nasib baik mereka. Dia membubung dan menakuti seekor elang sehingga menyamping dari jalur terbangnya, lalu meluncur turun ke laut seakan dia dilahirkan untuk terbang, menghentikan gerakan terjun bebas pada saat terakhir. Sandalnya menyentuh ombak.
“Hentikan itu!” Daedalus berseru. Tapi angin membawa pergi suaranya. Putranya mabuk akan kebebasannya sendiri.
Sang pria tua berusaha menyusul, melayang kikuk di belakang putranya.
Mereka berkilo-kilometer jauhnya dari Kreta, di atas laut yang dalam, saat Icarus menoleh ke belakang dan melihat ekspresi khawatir ayahnya.
Icarus tersenyum. “Jangan khawatir, Ayah! Ayah seorang genius! Aku memercayai kerja—“
Bulu logam pertama berguncang, terlepas dari sayapnya dan melayang pergi. Lalu satu lagi. Icarus bergoyang-goyang di udara. Tiba-tiba dia merontokkan bulu perunggu, yang berpusing lepas darinya bagaikan sekawanan burung yang ketakutan.
“Icarus!” teriak ayahnya. “Melayang! Rentangkan sayapmu. Berusahalah sediam mungkin sebisamu.”
Tapi Icarus mengepakkan lenganya, putus asa ingin berusaha memperoleh kendali kembali.
Sayap kiri lepas lebih dulu—robek dari kekang.
“Ayah!” jerit Icarus. Dan kemudian dia jatuh, sayap-sayap terlepas sampai dia hanyalah seorang anak laki-laki yang mengenakan kekang pendaki dan tunik putih, lengannya terentang dalam upaya sia-sia untuk melayang.
Aku terkesiap bangun, merasa seolah aku sedang jatuh. Koridor gelap gulita. Di tengah erangan konstan Labirin, kupikir aku bisa mendengar teriakan Daedalus yang penuh derita saat memanggil nama putranya, sementara Icarus, satu-satunya kebahagiaannya, terjun bebas ke laut, hampir seratus meter di bawah.
Tidak ada pagi di dalam labirin, tapi setelah semua bangun dan menikmati sarapan luar biasa berupa granola batangan dan jus kotak, kami melanjutkan perjalanan. Aku tidak menyinggung-nyinggung mimpiku. Sesuatu soal mimpi itu betul-betul membuatku takut , dan kupikir yang lain tidak perlu mengetahuinya.
Terowongan batu tua berubah menjadi tanah dengan kasau dari kayu cedar, seperti tambang emas atau apalah. Annabeth mulai gelisah.
“Ini tidak benar,” katanya. “Seharusnya masih terowongan batu.”
Kami sampai di sebuah gua di mana stalaktit-stalaktit tergantung rendah dari langit-langit. Di tengah lantai tanah ada lubang segi empat, seperti kuburan.
Grover gemetar. “Bau di sini kayak Dunia Bawah.”
Lalu kulihat sesuatu yang berkilat-kilat di tepi lubang—pembungkus dari kertas aluminium. Aku menyinarkan senterku ke dalam lubang dan melihat burger keju yang baru dimakan separuh mengapung di lumpur cokelat berkarbonasi.
“Nico,” kataku. “Dia memanggil orang mati lagi.”
Tyson merengek. “Tadi ada hantu di sini. Aku nggak suka hantu.”
“Kita harus menemukannya.” Aku tak tahu kenapa tapi berdiri di tepi kubangan memberiku perasaan bahwa kami harus bergegas. Nico sudah dekat. Aku bisa merasakannya. Aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran di bawah sini, sendirian, hanya ditemani orang mati. Aku mulai berlari.
“Percy!” seru Annabeth.
Aku masuk sambil merunduk ke sebuah terowogan dan melihat cahaya di depan. Pada saat Annabeth, Tyson, dan Grover menyusulku, aku sedang menatap cahaya siang yang memancar lewat jeruji di atas kepalaku. Kami berada di bawah terali baja yang terbuat dari pipa logam. Aku bisa melihat pepohonan dan langit biru.
“Di mana kita?” aku bertanya-tanya.
Lalu bayangan jatuh melintang di atas jeruju dan seekor sapi menunduk menatapku. Ia terlihat layaknya sapi normal, hanya saja warnanya aneh—merah cerah, layaknya seperti ceri. Aku tidak tahu ada sapi yang berwarna seperti itu.
Si sapi melenguh, melekakkan satu kaki ragu-ragu ke atas terali, lalu mundur menjauh.
“Dia sapi penjaga,” kata Grover.
“Apa?” tanyaku.
“Mereka menempatkan sapi penjaga di gerbang perternakan supaya sapi-sapi nggak bisa keluar. Mereka tidak bisa kabur dari sapi penjaga.”
“Bagaimana kau bisa tahu itu?”
Grover mendengus kesal. “Percaya padaku, kalau kau punya kaki binatang hewan memamah biak, kau pasti tahu soal sapi penjaga. Mereka menyebalkan!”
Aku menoleh kepada Annabeth. “Bukankah Hera mengatakan sesuatu soal peternakan? Kita harus memeriksanya. Nico mungkin ada di atas sana.”
Dia ragu-ragu. “Baiklah. Tapi bagaimana kita keluar?”
Tyson memecahkan masalah itu dengan cara memukul si sapi dengan kedua tangan. Ia mental dan terbang menghilang dari pandangan. Kami mendengar KLANG! Dan suara  MOO! kaget. Tyson merona.
“Maaf, Sapi!” serunya.
Lalu dia mendorong kami keluar dari terowongan.
Kami memang ada di peternakan. Bukit yang naik-turun membentang sampai ke cakrawala, ditaburi pohon-pohon ek dan kaktus dan batu-batu besar. Pagar kawat berduri terentang dari gerbang di kedua sisi. Sapi-sapi berwarna merah ceri berkeliaran, memamah gumpalan rumput.
“Sapi merah,” kata Annabeth. “Sapi matahari.”
“Apa?” tanyaku.
“Mereka dikeramatkan untuk Apollo.”
“Sapi suci?”
“Tepat sekali. Tapi apa yang mereka lakukan—“
“Tunggu,” kata Grover. “Dengar.”
Pada mulanya segalanya seolah-olah tenang ... tapi kemudian aku mendengarnya: gonggongan anjing di kejauhan. Bunyi itu semakin keras. Lalu semak-semak bergemerisik, dan dua anjing menyerbu lewat. Hanya saja yang lewat bukan dua anjung melainkan satu anjing dengan dua kepala. Ia terlihat sepertu jenis greyhound, panjang dan kelimis dan cokelat mulus, tapi lehernya bercabang menjadi dua kepala, keduanya menyalak dan menggeram dan pada dasarnya tidak terlalu senang melihat kami.
“Anjing Janus jahat!” seru Tyson.
“Guk!” Grover berkata padanya, dan mengangkat tangan untuk memberi salam.
Si anjing berkepala dua memamerkan gigi-giginya. Kurasa dia tidak terkesan meskipun Grover berbicara dalam bahasa hewan. Lalu majikannya menapak ke luar hutan, dan kusadari anjing itu adalah masalah kami yang paling sepele.
Dia seorang laki-laki besar dengan rambut yang sepenuhnya putih, topi koboi jerami, dan jenggot putih yang dikepang—mirip tokoh komik Father Time—Bapak Waktu, seandainya Bapak Waktu jadi orang desa dan betul-betul kekar laksana tukang pukul. Dia memakai jin, T-shirt JANGAN MACAM-MACAM SAMA TEXAS, dan jaket denim yang lengannya robek sehingga otot-ototnya tampak jelas. Di bisep kanannya ada tato pedang yang bersilanga. Dia memegang pentungan kayu yang kira-kira seukuran misil nuklir, dengan paku-paku sepanjang lima belas sentimeter mencuat di ujungnya.
“Sini, Orthus,” katanya kepada si anjing.
Si anjing menggeram kepada kami sekali lagi, hanya untuk menunjukkan perasaannya sejelas mungkin, lalu berputar untuk kembali ke kaki majikannya. Pria itu memandangi kami dari atas ke bawah, tetap menyiagakan pentungannya.
“Apa-apaan, nih?” tanyanya. “Maling ternak”
“Cuma pengembara,” kata Annabeth. “Kami sedang dalam misi.”
Mata pria itu berkedut. “Blasteran, ya?”
Aku mulai mengatakan, “Bagaimana kau tahu—“
Annabeth meletakkan tangannya di lenganku. “Aku Annabeth, putri Athena. Ini Percy, putra Poseidon. Grover sang satir. Tyson sang—“
“Cyclops,” tutup sang pria. “Ya, bisa kulihat itu.” Dia memelototiku. “Dan aku tahu blasteran karena aku juga blasteran, Nak. Aku Eurytion, gembala sapi di peternakan ini. Putra Ares. Kau datang lewat Labirin seperti yang satu lagi, kutebak.”
“Yang satu lagi?” tanyaku. “Maksudmu Nico di Angelo?”
“Kami kedatangan banyak pengunjung dari Labirin,” kata Eurytion suram. “Tidak banyak yang pergi.”
“Wow,” kataku. “Aku merasa diterima.”
Sang gembala sapi melirik ke belakangnya seakan seseorang sedang mengawasi. Lalu dia memelankan suaranya. “Aku Cuma akan mengatakan ini sekali, Blasteran. Kembali ke labirin sekarang. Sebelum terlambat.”
“Kami tidak akan pergi,” Annabeth berkeras. “Tidak sampai kami menemui blasteran yang satu lagi itu. Kumohon.”
Eurytion bersungut-sungut. “Kalau begitu kau tidak memberiku pilihan lain, Non. Aku harus membawa kalian menemui bos.”
Aku tidak merasa seakan kami ini tawanan atau apa. Eurytion berjalan di samping kami dengan pentungan tersandar di bahunya. Orthus si anjing berkepala dua menggeram-geram dan mengendus kaki Grover dan melejit ke semak-semak sesekali untuk mengejar hewan, tapi Eurytion bisa dibilang cukup mengendalikannya.
Kami menyusuri jalan setapak tanah yang tampaknya berlanjut selamanya. Suhunya pasti mendekati empat puluh derajat Celcius yang bisa bikin syok sehabis mengunjungi San Fransisco. Panas berdenyar di permukaan tanah. Serangga-serangga berdengung di pepohonan. Sebelum kami pergi terlalu jauh, aku sudah mandi keringat. Lalat-lalat mengerubungi kami. Sesekali kami melihat kandang berisi sapi-sapi merah atau hewan-hewan yang bahkan lebih aneh lagi. Satu kali kami melewati lapangan berpagar yang pagarnya berlapis asbes. Di dalam, sekawanan kuda yang menyemburkan napas api berpitas ke sana-kemari. Jerami di kotak makanan mereka terbakar. Tanah berasap di sekitar kaku mereka, tapi para kuda tampaknya cukup jinak. Seekor kuda jantan besar menatapku dan meringkik, semburan api merah berkobar dari lubang hidungnya. Aku jadi penasaran apakah itu membuat sinusnya sakit.
“Untuk apa sih mereka?” tanyaku.
Eurytion cemberut. “Kami menernakkan hewan untuk banyak pelanggan. Apollo, Diomedes, dan ... lain-lain.”
“Dan lain-lain siapa?”
“Tidak ada pertanyaan lagi.”
Akhirnya kami sampai di luar hutan. Bertengger di atas bukit di atas kami, terdapat rumah peternakan besar—terbuat dari batu putih serta kayu dan berjendela besar.
“Bentuknya mirip karka Frank Lloyd Wright!” kata Annabeth.
Kuduga dia sedang bicara soal arsitektur. Bagiku rumah itu kelihatannya seperti tempat beberapa blasteran bisa dapat masalah besar. Kami mendaki bukit.
“Jangan langgar peraturan,” Eurytion memperingatkan saat kami berjalan menaiki undakan ke beranda depan. “Tidak boleh berkelahi. Tidak boleh menghunus senjata. Dan jangan berkomentar soal penampilan bos.”
“Kenapa?” tanyaku. “Tampangnya seperti apa?”
Sebelum Eurytion bisa menjawab, suara baru berkata, “Selamat datang di Perkemahan Tripel G.”
Pria di beranda punya kepala normal, yang tentunya melegakan. Wajahnya keriput dan cokelat karena bertahun-tahun yang dihabiskannya diterpa sinar matahari. Dia punya rambut hitam licin dan kumis hitam tipis seperti yang dipunyai penjahat di film-film lama. Dia tersenyum pada kami, tapi senyumannya tidak ramah; lebih cocok dibilang girang, seolah-olah ingin berkata, Ya ampun, ada orang lagi buat disiksa!
Tapi, aku tidak merenungi hal itu lama-lama karena kemudian aku melihat badanya ... atau badan-badannya. Dia punya tiga badan. Nah, kau bakal berpikir aku sudah terbiasa dengan anatomi aneh setelah Janus dan Briares, tapi laki-laki ini adalah tiga orang komplet. Lehernya terhubung ke dada bagian tengah seperti lazimnya, tapi dia punya dua dada lagi, satu di masing-masing sisi, terhubung dengan bahu, dengan jarak beberapa inci di antaranya. Lengan kirinya menjulur keluar dari dada tengahnya, dan begitu pula di kanan, jadi dia punya dua lengan, tapi ketiaknya empat, kalau itu masuk akal. Semua dadanya terhubung menjadi satu torso besar, dengan kaki yang biasa namun sangat tebal berdaging, dan dia memakai celana Levis paling longgar yang pernah kulihat. Masing-masing dadanya mengenakan baju ala koboi yang berbeda warna—hijau, kuning, merah, seperti lampu lalu lintas. Aku bertanya-tanya bagaimaa dia memakaikan baju untuk dada tengah, soalnya di situ tak ada lengan.
Eurytion sang gembala sapi menyikutku. “Bilang halo sama Pak Geryon.”
“Hai,” kataku. “Dada—eh, peternakan yang bagus! Peternakan Anda bagus, deh.”
Sebelum si pria berbadan tiga bisa merespons, Nico di Angelo keluar dari pintu kaca ke beranda. “Geryon, aku tak akan menunggu—“
Dia membeku saat dia melihat kami. Lalu dia menghunus pedangnya. Bilahnya persis seperti yang kulihat dalam mimpiku: pendek, tajam, dan segelap malam.
Geryon menggeram saat melihatnya. “Jauhkan itu, Mister di Angelo. Aku tak mau tamu-tamuku saling bunuh.”
“Tapi itu—“
“Percy Jackson,” timpal Geryon. “Annabeth Chase. Dan sepasang teman monster mereka. Ya, aku tahu.”
“Teman monster?” kata Grover sebal.
“Laki-laki itu pakai tiga baju,” kata Tyson, seakan dia baru menyadari hal ini.
“Mereka membiarkan kakakku mati!” Suara Nico bergetar dengan amarah. “Mereka di sini untuk membunuhku!”
“Nico, kami bukan di sini untuk membunuhmu.” Aku mengangkat tanganku. “Apa yang terjadi pada Bianca—“
“Jangan sebut namanya! Kalian bahkan tidak pantas membicarakannya!”
“Tunggu sebentar.” Annabeth menunjuk Geryon. “Bagaimana Anda tahu nama kami?”
Si pria berbadan tiga mengedip. “Aku rajin mencari informasi, Say’. Banyak orang muncul dari waktu ke waktu di peternaka. Semua orang perlu sesuatu dari si tua Geryon. Sekarang, Mister di Angelo, singkirkan pedang jelek itu sebelum aku minta Eurytion mengambilnya darimu.”
Eurytion mendesah, tapi dia mengangkat pentungan pakunya. Di kakinya, Orthus menggeram.
Nico ragu-ragu. Dia kelihata lebih kurus dan lebih pucat daripada di pesan-Iris. Aku bertanya-tanya apa dia pernah makan minggu lalu. Pakaian hitamnya berdebu karena bepergian dalam Labirin, dan matanya yang gelap penuh kebencian. Dia terlalu muda untuk terlihat begitu marah. Aku masih mengingatnya sebagai anak kecil ceria yang bermain dengan kartu Mythomagic.
Dengan enggan, disarungkannya pedangnya. “Kalau kau mendekatiku, Percy, akan kupanggil bantuan. Kau nggak akan mau ketemu para pembantuku. Percayalah.”
“Aku percaya padamu,” kataku.
Geryon menepuk bahu Nico. “Nah, semuanya sudah berbaikan. Sekarang mari, Anak-anak. Aku ingin memberi kalian tur keliling peternakan.”
Geryon punya semacam troli—seperti kereta-keretaan yang membawa kita keliling kebun binatang. Troli itu dicat hitam dan putih sesuai polah kulit sapi. Ada kepala sapi bertanduk yang terpasang di kap gerbong sopir, dan klaksonnya berbunyi seperti kelintingan sapi. Kuduga mungkin inilah caranya menyiksa orang. Dia mempermalukan mereka sampai mati dengan cara mengajak mereka berkendara naik mobil sapi.
Nico duduk paling belakang, mungkin supaya dia bisa mengawasi kami. Eurytion merayap ke sebelahnya dengan pentungan berpakunya dan menarik topi koboinya menutupi mata seolah dia akan tidur siang. Orthus melompat ke kursi depan di samping Geryon dan mulai menggonggong gembira dalam harmoni dua bagian.
Annabeth, Tyson, Grover, dan aku naik di dua gerbong tengah.
“Kami punya usaha besar!” Geryon menyombong saat mobil-moo perlahan-lahan maju. “Kuda dan sapi terutama, tapi segala macam varietas eksotis juga ada.”
Kami sampai di sebuah bukit, dan Annabeth terkesiap. “Hippalektryon? Kupikir mereka sudah punah!”
Di dasar bukit ada ladang rumput berpagar dengan selusin hewan teraneh yang pernah kulihat. Masing-masing punya badan depan layaknya kuda dan badan belakang seperti ayam jantan. Kaki belakang mereka berupa cakar kuning besar. Mereka punya ekor berbulu ayam dan sayap merah. Saat aku menonton, dua dari mereka terlibat perkelahian gara-gara setumpuk biji. Mereka mengambil ancang-ancang dengan kaki belakang mereka dan meringkik serta mengepakkan sayap, saling tantang, sampai hewan yang lebih kecil berjalan menjauh, kaki belakangnya yang mirip burung melompat-lompat kecil di setiap lengkahnya.
“Kuda poni ayam jago,” kata Tyson. Terpukau. “Apa mereka bertelur?”
“Sekali setahun!” Geryon nyengir di kaca spion. “Pemintaan yang sangat besar untuk omelet!”
“Itu mengerikan!” kata Annabeth. “Mereka pastinya spesies yang terancam punah!”
Geryon melambaikan tangannya. “Emas ya emas, Sayang. Dan kau bahkan belum pernah mencicipi omeletnya, kan.”
“Itu tidak benar,” gerutu Grover,  tapi Geryon terus saja berceloteh membawakan tur.
“Nah, di sini,” katanya, “kami punya kuda yang bernapas api, yang mungkin sudah kaulihat dalam perjalanan masuk. Mereka dibiakkan untuk perang tentu saja.”
“Perang apa?” tanyaku.
Geryon nyengir licik. “Oh, perang apa pun yang terjadi. Dan di sana, tentu saja, adalah sapi merah kami yang berharga.”
Benar saja, ratusan sapi berwarna merah ceri sedang memamah di sisi bukit.
“Banyak sekali,” kata Grover.
“Ya, memang. Apollo terlalu sibuk untuk merawat mereka,” Geryon menjelaska, “jadi dia menyewaku. Subkontrak. Kami membiakkan mereka dengan giat karena permintaan tinggi sekali.”
“Untuk apa?” tanyaku.
Geryon mengangkat alis. “Daging, tentu saja! Tentara perlu makan.”
“Kau membunuh sapi keramat sang dewa matahari untuk dibuat daging burger?” kata Grover. “Itu bertentangan dengan hukum kuno!”
“Oh, jangan heboh begitu, Satir. Mereka cuma hewan.”
“Cuma hewan!”
“Ya, dan kalau Apollo peduli, aku yakin dia akan memberi tahu kami.”
“Kalau dia tahu,” gumamku.
Nico mencondongkan tubuh ke depan. “Aku tak peduli soal ini, Geryon. Kita punya bisnis untuk didiskuskan, dan ini bukan bisnis!”
“Semua ada waktunya, Mister di Angelo. Lihatlah disana; beberapa hewan liarku yang eksotis.”
Padang selanjutnya dikelilingi oleh kawat berduri. Seluruh area tersebut dipenuhi kalajengking raksasa yang merayap-rayap.
“Peternakan Tripel G,” kataku, tiba-tiba teringat. “Tanda Anda ada di peti-peti di perkemahan. Quintus mendapat kalajengkingnya dari Anda.”
“Quintus ....” Geryon membatin. “Rambut abu-abu pendek, berotot, ahli pedang?”
“Iya.”
“Nggak pernah dengar,” kata Geryon. “Nah, di sini ada istalku yang berharga! Kalian harus melihat mereka!”
Aku tidak perlu melihat mereka, soalnya segera kami berada dalam jarak tiga ratus meteran aku mulai membaui mereka. Di dekat tepian sungai hijau ada lahan sebesar lapangan futbol untuk kuda yang dipagari. Istal-istal berderet di salah satu sisinya. Kira-kira seratus kuda sedang berputar-putar kesana-kemari di tengah-tengah kotoran berlumpur—dan waktu kubilang kotoran berlumpur, maksudku tahu kuda. Itulah hal paling menjijikkan yang pernah kulihat, seakan topan tahi baru saja lewat dan membuang semeter tumpuka tahi dalam semalam. Kuda-kuda itu benar-benar kotor dan menjijikkan karena perjalanan mereka mengarungi kotoran itu, dan istal juga sama buruknya. Baunya parah luar biasa sampai-sampai kau tak akan percaya—pokoknya lebih parah daripada perahu sampah di Sungai East.
Bahkan Nico pun ingin muntah. “Apa itu?”
“Istalku!” kata Geryon. “Yah, sebenarnya punya Aegeas, tapi kami mengurusnya dengan sedikit bayaran bulanan. Indah bukan?”
“Menjijikkan sekali!” kata Annabeth.
“Banyak tahi,” tinjau Tyson.
“Bagaimana kau bisa merawat hewan seperti itu?” pekik Grover.
“Kalian semua bikin aku sebal,” kata Geryon. “Ini kuda pemakan daging, tahu! Mereka suka kondisi ini.”
“Plus, kau terlalu pelit untuk membiayai pembershan istal,” gumam  Eurytion di balik topinya.
“Diam!” bentak Geryon. “Baiklah, mungkin membersihkan istal memang agak menantang. Mungkin istal itu bikin aku ingin muntah waktu angin berembus ke arah yang salah. Tapi lalu kenapa? Pelanggaku masih membayarku dengan baik.”
“Pelanggan apa?” tuntutku.
“Oh, kau bakal kager berapa banyak orang yang mau membayar untuk kuda pemakan daging. Mereka cocok sekali untuk mengenyahkan sampah. Cara luar biasa untuk menakut-nakuti musuhmu. Hebat di pesta-pesta ulang tahun! Kami menyewakan mereka sepanjang waktu.”
“Kau monster,” Annabeth memutuskan.
Geryon menghentikan mobil sapi dan menoleh untuk memandang Annabeth. “Kok tahu? Apa karena badanku ada tiga?”
“Kau harus membiarkan hewan-hewan ini pergi,” kata Grover. “Ini tidak benar!”
“Dan para pelanggan yang terus kau bicarakan,” kata Annabeth, “Kau bekerja untuk Kronos, kan? Kau menyuplai pasukannya dengan kuda, makanan, apa pun yang mereka perlukan.”
Geryon mengangkat bahu, yang kelihatannya sangat aneh karena dia punya tiga pasang bahu. Tampaknya seakan-akan dia melakukan sendiri semua gerakan gelombang ala penonton stadion. “Aku bekerja untuk siapa pun yang punya emas, Nona Muda. Aku pebisnis. Dan aku menjual apa pun yang bisa kutawarkan kepada mereka.”
Dia memanjat ke luar mobil sapi dan berlenggang santai ke arah istal seakan untuk menikmati udara segar. Pemandangannya seharusnya indah, dengan sungai dan pepohonan dan bukit dan sebagainya, kalau bukan karena rawa kotoran kuda.
Nico keluar dari belakang mobil dan menyerbu ke arah Geryon. Eurytion sang gembala sapi tidak semengantuk seperti kelihatannya. Dia mengangkat pentungan dan berjalan mengejar Nico.
“Aku datang ke sini untuk berbisnis, Geryon,” kata Nico. “Dan kau belum menjawabku.”
“Mmm.” Geryon mengamati sebatang kaktus. Lengan kirinya dijulurkan dan menggaruk dada tengahnya. “Ya, kau bakal dapat kesepakatan, kok.”
“Hantuku memberitahuku kau bisa membantu. Dia bilang kau bisa membimbing kami ke jiwa yang kami perlukan.”
“Tunggu sebentar,” kataku. “Kupikir akulah jiwa yang kau inginkan.”
Nico menatapku seolah aku gila. “Kau? Kenapa juga aku menginginkamu? Jiwa Bianca berharga beribu-ribu kali lipat jiwamu! Nah, kau bisa bantu aku atau tidak, Geryon?”
“Oh, kurasa aku bisa,” kata di peternak. “Teman hantumu, ngomong-ngomong, kemana dia?”
Nico terlihat tidak nyaman. “Dia tidak bisa mewujud di tengah cahaya siang hari. sulit untuknya. Tapi dia ada di sekitar sini.”
Geryon tersenyum. “Aku yakin. Minos suka menghilang saat keadaan jadi ... sulit.”
“Minos?” Aku teringat pria yang kulihat dalam mimpiku, dengan mahkota emas, jenggot lancip, dan mata keji. “Maksudmu si raja jahat? Jadi itu hantu yang memberimu saran?”
“Bukan urusanmu, Percy!” Nico berpaling kembali ke Geryon. “Dan apa maksudmu soal keadaan yang jadi sulit?”
Si pria berbadan tiga mendesah. “Yah, begini, Nico—boleh kupanggil kau Nico?”
“Nggak.”
“Begini, Nico. Luke Castellan menawarkan uang yang banyak untuk blasteran. Terutama blasteran yang punya kekuatan. Dan aku yakin kalau dia mengetahui rahasia kecilmu, siapa dirimu sebenarnya, pasti dia bakal membayar sangat sangat banyak.”
Nico menghunus pedangnya, tapi Eurytion menjatuhkannya dari tangannya. Sebelum aku bisa berdiri, Orthus menimpa dadaku dan menggeram, wajahnya hanya sesenti jauhnya dari wajahku.
“Aku akan tetap di mobil kalau aku jadi kalian semua,” Geryon memperingatkan. “Atau Orthus akan merobek-robek tenggorokan Mister Jackson. Nah, Eurytion, kalau kau berkenan, amankan Nico.”
Sang gembala sapi meludah ke rumput. “Apa aku harus melakukannya?”
“Ya, dasar bodoh!”
Eurytion terlihat bosan, tapi dia membungkuska satu lengannya yang besar ke sekeliling tubuh Nico dan mengangkatnya seperti seorang pegulat.
“Ambil pedangnya juga,” kata Geryon dengan jijik. “Tidak ada yang lebih kubenci daripada besi Stygian.”
Eurytion memungut pedang Nico, berhati-hati agar tidak menyentuh bilahnya.
“Nah,” kata Geryon ceria, “kita sudah selesai tur. Mari kita kembali ke pondok, menyantap makan siang, dan mengirim pesan-Iris untuk teman-teman kita di pasukan Titan.”
“Bedebah!” seru Annabeth.
Geryon tersenyum kepadanya. “Jangan khawatir, Sayangku. Setelah aku mengantarkan Mister di Angelo, kau dan rombonganmu boleh pergi. Aku tidak ikut campur dalam misi. Lagi pula, aku sudah dibayar cukup untuk membiarkan kalian lewat dengan selamat yang, aku khawatir, tidak termasuk Mister di Angelo.”
“Di bayar siapa?” tanya Annabeth. “Apa maksudmu?”
“Tidak usah ambil pusing, Say’. Kita pergi yuk?”
“Tunggu!” kataku, dan Orthus menggeram. Aku tetap diam sepenuhnya, jadi dia tak akan merobek-robek tenggorokanku. “Geryon, kau bilang kau seorang pebisnis. Mari kita buat kesepakatan.”
Geryon menyipitkan matanya. “Kesepakatan macam apa? Apa kau punya emas?”
“Aku punya sesuatu yang lebih bagus. Barter.”
“Tapi Mister Jackson, kau tak punya apa-apa.”
“Kau bisa menyuruhnya membersikan kandang,” saran Eurytion polos.
“Akan kulakukan!” kataku. “Kalau aku gagal, kau dapat kami semua. Tukar kami semua dengan emas Luke.”
“Dengan asumsi kuda-kuda tak memakanmu,” tinjau Geryon.
“Bagaimanapun juga, kau dapat teman-temanku,” kataku. “Tapi kalau aku berhasil, kau harus membiarkan kami semua pergi, termasuk Nico.”
“Tidak!” teriak Nico. “Jangan bantu aku, Percy. Aku tak butuh batuanmu!”
Geryon tergelak. “Percy Jackson, istal itu sudah seribu tahun tidak dibersihkan ... meskipun memang benar aku bisa menjual lebih banyak ruang istal kalau semua tahi itu disingkirkan.”
“Jadi, apa ruginya bagimu?”
Si peternak ragu-ragu. “Baiklah, aka kuterima tawaranmu, tapi kau harus menyelesaikannya saat matahari terbenam. Kalau kau gagal, teman-temanmu dijual, dan aku jadi kaya.”
“Sepakat.”
Dia mengangguk. “Akan kubawa teman-temanmu bersamaku, kembali ke pondok. Kami akan menunggumu di sana.”
Eurytion memandangku dengan ekspresi aneh. Mungkin simpati. Dia bersiul, dan si anjing melompat turun dariku dan naik ke pangkuan Annabeth. Dia memekik. Aku tahu Tyson dan Grover takkan mencoba melakukan apa pun selama Annabeth menjadi sandera.
Aku keluar dari gerbong dan bertatapan dengan Annabeth.
“Kuharap kau tahu apa yang kau lakukan,” katanya pelan.
“Kuharap juga begitu.”
Geryon naik ke belakang setir. Eurytion membopong Nico ke kursi belakang.
“Matahari terbenam,” Geryon mengingatkanku. “Tidak lebih.”
Dia menertawaiku sekali lagi, membunyikan klakson kelintingan sapinya, dan mobil sapi pun menggemuruh pergi menyusuri jalan setapak.[]

Comments