Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB TIGA
Kami Main Kejar-kejaran dengan Kalajengking
Keesokan paginya ada banyak kehebohan saat sarapan.
Rupanya sekitar jam tiga pagi seekor drakon Aethiopia telah terlihat di perbatasan perkemahan. Aku begitu kelelahan sehingga aku tidur meskipun ada keributan. Batas-batas sihir telah menjaga agar monster itu tetap berada di luar, tapi ia berkeliaran di bukit, mencari titik lemah pada pertahanan kami, dan ia tampaknya tidak ingin buru-buru pergi sampai Lee Fletcher dari pondok Apollo memimpin sejumlah saudaranya untuk melakukan pengejaran. Setelah beberapa lusin anak panah bertengger di sela-sela baju zirah si drakon, ia paham dan mundur.
"Ia masih di luar sana," Lee memperingatkan kami saat pengumuman. "Dua puluh anak panah di kulitnya, dan kami cuma membuatnya marah. Makhluk itu panjangnya sembilan meter dan bermata hijau cerah. Matanya—" Dia gemetar.
"Kerjamu bagus, Lee," Chiron menepuk bahunya. "Semua harus siaga, tapi tetap tenang. Ini pernah terjadi sebelumnya." "Aye," kata Quintus dari kepala meja. "Dan ini akan terjadi lagi. Lebih dan lebih sering."
BAB TIGA
Kami Main Kejar-kejaran dengan Kalajengking
Keesokan paginya ada banyak kehebohan saat sarapan.
Rupanya sekitar jam tiga pagi seekor drakon Aethiopia telah terlihat di perbatasan perkemahan. Aku begitu kelelahan sehingga aku tidur meskipun ada keributan. Batas-batas sihir telah menjaga agar monster itu tetap berada di luar, tapi ia berkeliaran di bukit, mencari titik lemah pada pertahanan kami, dan ia tampaknya tidak ingin buru-buru pergi sampai Lee Fletcher dari pondok Apollo memimpin sejumlah saudaranya untuk melakukan pengejaran. Setelah beberapa lusin anak panah bertengger di sela-sela baju zirah si drakon, ia paham dan mundur.
"Ia masih di luar sana," Lee memperingatkan kami saat pengumuman. "Dua puluh anak panah di kulitnya, dan kami cuma membuatnya marah. Makhluk itu panjangnya sembilan meter dan bermata hijau cerah. Matanya—" Dia gemetar.
"Kerjamu bagus, Lee," Chiron menepuk bahunya. "Semua harus siaga, tapi tetap tenang. Ini pernah terjadi sebelumnya." "Aye," kata Quintus dari kepala meja. "Dan ini akan terjadi lagi. Lebih dan lebih sering."
Para pekemah bergumam di antara mereka sendiri.
Semua tahu tentang rumor itu: Luke dan pasukan monsternya merencanakan untuk menyerbu perkemahan. Sebagian besar dari kami menduga hal tersebut akan terjadi musim panas ini, tapi tidak ada yang tahu bagaimana atau kapan. Kenyataan bahwa tingkat kehadiran kami rendah tidaklah membantu. Kami hanya punya sekitar delapan puluh pekemah. Tiga tahun lalu, waktu aku baru mulai, ada lebih dari seratus. Beberapa telah meninggal. Beberapa bergabung dengan Luke. Beberapa semata lenyap begitu saja.
"Ini alasan bagus untuk permainan perang-perangan yang baru," Quintus melanjutkan, kilat di matanya. "Kita lihat saja bagaimana kalian mengatasinya malam ini."
"Ya..." kata Chiron. "Yah, pengumumannya cukup. Mari kita berkati hidangan ini dan makan." Dia mengangkat gelas pialanya. "Untuk para dewa!"
Kami semua mengangkat gelas kami dan mengulangi pemberkatan tersebut.
Tyson dan aku membawa piring kami ke tungku perunggu dan mencuil sebagian makanan kami untuk memasukkan ke dalam nyala api. Kuharap para dewa menyukai roti panggang kismis dan sereal Froot Loops.
"Poseidon," kataku. Lalu aku berbisik, "Bantulah aku soal Nico, dan Luke, dan masalah Grover ...."
Ada banyak sekali yang perlu dikhawatirkan sehingga aku bisa saja berdiri di situ sepanjang pagi, tapi aku kembali ke mejaku.
Setelah semua orang makan, Chiron dan Grover datang menghampiri untuk berkunjung. Mata Grover bengkak. Bajunya terbalik. Dia menyorongkan piringnya ke meja dan menjatuhkan diri ke sebelahku.
Tyson bergerak-gerak tak nyaman. "Aku mau pergi ... eh ... memoles kuda poni ikanku." Dia pergi terhyung-huyung, meninggalkan sarapannya yang separuh dimakan.
Semua tahu tentang rumor itu: Luke dan pasukan monsternya merencanakan untuk menyerbu perkemahan. Sebagian besar dari kami menduga hal tersebut akan terjadi musim panas ini, tapi tidak ada yang tahu bagaimana atau kapan. Kenyataan bahwa tingkat kehadiran kami rendah tidaklah membantu. Kami hanya punya sekitar delapan puluh pekemah. Tiga tahun lalu, waktu aku baru mulai, ada lebih dari seratus. Beberapa telah meninggal. Beberapa bergabung dengan Luke. Beberapa semata lenyap begitu saja.
"Ini alasan bagus untuk permainan perang-perangan yang baru," Quintus melanjutkan, kilat di matanya. "Kita lihat saja bagaimana kalian mengatasinya malam ini."
"Ya..." kata Chiron. "Yah, pengumumannya cukup. Mari kita berkati hidangan ini dan makan." Dia mengangkat gelas pialanya. "Untuk para dewa!"
Kami semua mengangkat gelas kami dan mengulangi pemberkatan tersebut.
Tyson dan aku membawa piring kami ke tungku perunggu dan mencuil sebagian makanan kami untuk memasukkan ke dalam nyala api. Kuharap para dewa menyukai roti panggang kismis dan sereal Froot Loops.
"Poseidon," kataku. Lalu aku berbisik, "Bantulah aku soal Nico, dan Luke, dan masalah Grover ...."
Ada banyak sekali yang perlu dikhawatirkan sehingga aku bisa saja berdiri di situ sepanjang pagi, tapi aku kembali ke mejaku.
Setelah semua orang makan, Chiron dan Grover datang menghampiri untuk berkunjung. Mata Grover bengkak. Bajunya terbalik. Dia menyorongkan piringnya ke meja dan menjatuhkan diri ke sebelahku.
Tyson bergerak-gerak tak nyaman. "Aku mau pergi ... eh ... memoles kuda poni ikanku." Dia pergi terhyung-huyung, meninggalkan sarapannya yang separuh dimakan.
Chiron mencoba tersenyum. Dia mungkin ingin terlihat meyakinkan, tapi dalam sosok centaurusnya dia berdiri menjulang di atasku, menimbulkan bayangan di sepanjang meja. "Nah, Percy, bagaimana tidurmu?"
"Eh, baik." Aku bertanya-tanya kenapa dia menanyakan itu. Apakah mungkin dia tahu sesuatu tentang pesan Iris aneh yang kuterima?
"Aku mengajak Grover ke sini," kata Chiron, "karena kupikir kalian berdua mungkin ingin, ah, mendisuksikan beberapa perkara. Sekarang permisi, ada pesan-Iris yang harus kukirim. Sampai ketemu nanti." Dia memberi Grover pandangan penuh arti, lalu berderap ke luar paviliun.
"Dia ngomongin apa sih?" tanyaku kepada Grover.
Grover mengunyah telurnya. Aku bisa tahu pikirannya sedang terusik, soalnya dia menggigiti gigi-gigi garpunya dan menelannya juga. "Dia ingin agar kau meyakinkanku," gumamnya.
Seseorang meluncur ke sampingku di bangku: Annabeth.
“Akan kuberi tahu soal apa ini,” katanya. “Labirin.”
Sulit berkonsentrasi tentang apa yang dia katakan, karena semua orang di paviliun makan mencuri pandang ke arah kami dan berbisik-bisik. Dan Annabeth tepat berada di sampingku. Maksudku, tepat di sampingku.
“Kau harusnya nggak di sini,” kataku.
“Kita perlu bicara,” dia berekeras.
“Tapi peraturan ....” Dia tahu seperti juga aku, bahwa pekemah tidak diizinkan pindah meja. Satir berbeda. Mereka bukana makhluk setengah dewa sungguhan. Tapi blasteran harus duduk bersama pondok mereka. Aku tidak yakin apa hukuman untuk pindah meja. Aku tidak pernah melihatnya terjadi. Kalau Pak D ada di sini, dia mungkin bakal mencekik Annabeth dengan sulur anggur ajaib atau apalah, tapi Pak D tidak di sini. Chiron sudah meninggalkan paviliun. Quintus melihat ke arah kami dan mengangkat alis, tapi dia tidak berkata apa-apa.
"Eh, baik." Aku bertanya-tanya kenapa dia menanyakan itu. Apakah mungkin dia tahu sesuatu tentang pesan Iris aneh yang kuterima?
"Aku mengajak Grover ke sini," kata Chiron, "karena kupikir kalian berdua mungkin ingin, ah, mendisuksikan beberapa perkara. Sekarang permisi, ada pesan-Iris yang harus kukirim. Sampai ketemu nanti." Dia memberi Grover pandangan penuh arti, lalu berderap ke luar paviliun.
"Dia ngomongin apa sih?" tanyaku kepada Grover.
Grover mengunyah telurnya. Aku bisa tahu pikirannya sedang terusik, soalnya dia menggigiti gigi-gigi garpunya dan menelannya juga. "Dia ingin agar kau meyakinkanku," gumamnya.
Seseorang meluncur ke sampingku di bangku: Annabeth.
“Akan kuberi tahu soal apa ini,” katanya. “Labirin.”
Sulit berkonsentrasi tentang apa yang dia katakan, karena semua orang di paviliun makan mencuri pandang ke arah kami dan berbisik-bisik. Dan Annabeth tepat berada di sampingku. Maksudku, tepat di sampingku.
“Kau harusnya nggak di sini,” kataku.
“Kita perlu bicara,” dia berekeras.
“Tapi peraturan ....” Dia tahu seperti juga aku, bahwa pekemah tidak diizinkan pindah meja. Satir berbeda. Mereka bukana makhluk setengah dewa sungguhan. Tapi blasteran harus duduk bersama pondok mereka. Aku tidak yakin apa hukuman untuk pindah meja. Aku tidak pernah melihatnya terjadi. Kalau Pak D ada di sini, dia mungkin bakal mencekik Annabeth dengan sulur anggur ajaib atau apalah, tapi Pak D tidak di sini. Chiron sudah meninggalkan paviliun. Quintus melihat ke arah kami dan mengangkat alis, tapi dia tidak berkata apa-apa.
“Dengar,” kata Annabeth, “Grover dalam masalah. Hanya ada satu cara yang bisa kami pikirkan untuk membantunya. Solusinya Labirin. Itulah yang selama ini Clarisse dan aku selidiki.”
Aku memindahkan bobotku, mencoba berpikir jernih. “Maksudmu labirin tempat mereka mengurung Minotaur, dulu di masa lalu?”
“Tepat,” kata Annabeth.
“Jadi ... labirin itu tidak lagi terletak di bawah istana raja di Kreta,” tebakku. “Labirin ada di bawah suatu gedung di Amerika.”
Benar kan? Hanya perlu beberapa tahun untuk memahami segalanya. Aku tahu tempat-tempat penting berpindah-pindah seiring dengan Peradaban Barat, seperti Gunung Olympus ke Empire State Building, dan pintu masuk Dunia Bawah yang terletak di Los Angeles. Aku merasa lumayan bangga akan diriku.
Annabeth memutar bola matanya. “Di bawah gedung? Yang benar saja deh, Percy. Labirin itu luas sekali. Labirin nggak bakal muat di bawah satu kota, apalagi satu gedung.”
Aku memikirkan mimpiku tentang Nico di Sungai Styx. “Jadi ... apa Labirin ini bagian dari Dunia Bawah?”
“Tidak.” Annabeth mengernyitkan dahi. “Yah, mungkin ada jalan dari Labirin untuk masuk ke Dunia Bawah. Aku nggak yakin. Tapi Dunia Bawah ada jauh, jauh di bawah. Labirin ada tepat di bawah permukaan dunia fana, seperti semacam kulit kedua. Labirin itu sudah bertumbuh selama bertahun- tahun, berlika-liku di bawah kota-kota Barat, menghubungkan segalanya menjadi satu di bawah tanah. Kau bisa mencapai tempat mana saja lewat Labirin.”
Aku memindahkan bobotku, mencoba berpikir jernih. “Maksudmu labirin tempat mereka mengurung Minotaur, dulu di masa lalu?”
“Tepat,” kata Annabeth.
“Jadi ... labirin itu tidak lagi terletak di bawah istana raja di Kreta,” tebakku. “Labirin ada di bawah suatu gedung di Amerika.”
Benar kan? Hanya perlu beberapa tahun untuk memahami segalanya. Aku tahu tempat-tempat penting berpindah-pindah seiring dengan Peradaban Barat, seperti Gunung Olympus ke Empire State Building, dan pintu masuk Dunia Bawah yang terletak di Los Angeles. Aku merasa lumayan bangga akan diriku.
Annabeth memutar bola matanya. “Di bawah gedung? Yang benar saja deh, Percy. Labirin itu luas sekali. Labirin nggak bakal muat di bawah satu kota, apalagi satu gedung.”
Aku memikirkan mimpiku tentang Nico di Sungai Styx. “Jadi ... apa Labirin ini bagian dari Dunia Bawah?”
“Tidak.” Annabeth mengernyitkan dahi. “Yah, mungkin ada jalan dari Labirin untuk masuk ke Dunia Bawah. Aku nggak yakin. Tapi Dunia Bawah ada jauh, jauh di bawah. Labirin ada tepat di bawah permukaan dunia fana, seperti semacam kulit kedua. Labirin itu sudah bertumbuh selama bertahun- tahun, berlika-liku di bawah kota-kota Barat, menghubungkan segalanya menjadi satu di bawah tanah. Kau bisa mencapai tempat mana saja lewat Labirin.”
“Kalau kau nggak tersesat,” gumam Grover. “Dan tewas secara mengenaskan.”
“Grover, pasti ada jalan,” kata Annabeth. Aku punya firasat mereka pernah melakukan percakapan ini sebelumnya. “Clarisse hidup.”
“Nyaris mati!” kata Grover. “Dan cowok yang satu lagi—“
“Dia jadi gila. Dia tidak mati.”
“Oh, bahagianya.” Bibir bawah Grover gemetar. “Itu membuatku merasa jauh lebih baik.”
“Walah,” kataku. “Tunggu. Apaan nih soal Clarisse dan si cowok gila?”
Annabeth melirik ke arah meja Ares. Clarisse mengamati kami seakan dia tahu apa yang sedang kami bicarakan, tapi kemudian dia menancapkan pandangan matanya ke meja sarapannya.
“Tahun lalu,” kata Annabeth, memelankan suaranya, “Clarisse pergi dalam misi yang ditugaskan Chiron.”
“Aku ingat,” kataku. “Itu rahasia.”
Annabeth mengangguk. Meskipun sikapnya serius, aku senang dia tidak marah lagi padaku. Dan bisa dibilang aku senang dia melanggar peraturan dengan cara duduk di sampingku.
“Itu rahasia,” Annabeth setuju, “soalnya dia menemukan Chris Rodriguez.” “Cowok dari pondok Hermes?” Aku mengingatnya dari dua tahun lalu. Kami pernah menguping Chris Rodriguez di atas kapal Luke, Putri Andromeda. Chris adalah seorang blasteran yang meninggalkan perkemahan dan bergabung dengan pasukan Titan.
“Grover, pasti ada jalan,” kata Annabeth. Aku punya firasat mereka pernah melakukan percakapan ini sebelumnya. “Clarisse hidup.”
“Nyaris mati!” kata Grover. “Dan cowok yang satu lagi—“
“Dia jadi gila. Dia tidak mati.”
“Oh, bahagianya.” Bibir bawah Grover gemetar. “Itu membuatku merasa jauh lebih baik.”
“Walah,” kataku. “Tunggu. Apaan nih soal Clarisse dan si cowok gila?”
Annabeth melirik ke arah meja Ares. Clarisse mengamati kami seakan dia tahu apa yang sedang kami bicarakan, tapi kemudian dia menancapkan pandangan matanya ke meja sarapannya.
“Tahun lalu,” kata Annabeth, memelankan suaranya, “Clarisse pergi dalam misi yang ditugaskan Chiron.”
“Aku ingat,” kataku. “Itu rahasia.”
Annabeth mengangguk. Meskipun sikapnya serius, aku senang dia tidak marah lagi padaku. Dan bisa dibilang aku senang dia melanggar peraturan dengan cara duduk di sampingku.
“Itu rahasia,” Annabeth setuju, “soalnya dia menemukan Chris Rodriguez.” “Cowok dari pondok Hermes?” Aku mengingatnya dari dua tahun lalu. Kami pernah menguping Chris Rodriguez di atas kapal Luke, Putri Andromeda. Chris adalah seorang blasteran yang meninggalkan perkemahan dan bergabung dengan pasukan Titan.
“Iya,” kata Annabeth. “Musim panas lalu dia muncul begitu saja di Phoenix, Arizona, dekat rumah ibu Clarisse.”
“Apa maksudmu dia muncul begitu saja?”
“Dia berkeliaran di gurun, pada suhu 39 derajat berpakaian zirah Yunani lengkap, mengoceh soal benang.”
“Benang,” kataku.
“Dia sudah gila sepenuhnya. Clarisse membawanya pulang ke rumah ibunya suapa manusia tidak memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Clarisse mencoba merawatnya supaya kembali sehat. Chiron datang dan mewawancarainya, tapi hasilnya tidak terlalu bagus. Satu-satunya yang berhasil mereka korek darinya: anak buah Luke telah menjelajahi Labirin.”
Aku gemetar, walau aku tidak yakin kenapa. Chris yang malang ... dia bukan cowok yang seburuk itu. Apa yang bisa membuatnya jadi gila? Aku memadang Grover, yang sedang mengunyah sisa garpunya.
“Oke,” tanyaku. “Kenapa mereka menjelajahi Labirin?”
“Kami tidak yakin,” kata Annabeth. “Itulah sebabnya Chiron melakukan ekspedisi pengamatan. Chiron merahasiankannya karena dia tidak mau ada yang panik. Dia melibatkanku karena ... yah, Labirin selama ini selalu merupakan salah satu topik favoritku. Arsitekturnya—“ Ekspresinya berubah menjadi sedikit penuh khayal. “Yang membangun labirin itu, Daedalus, seorang genius. Tapi yang utama adalah, Labirin punya jalan masuk di mana-mana. Kalau Luke bisa mencari tahu bagaimana menjelajahinya, dia bisa menggerakkan pasukannya dengan kecepatan luar biasa.” “Kecuali bahwa itu adalah labirin yang menyesatkan, betul, kan?”
“Apa maksudmu dia muncul begitu saja?”
“Dia berkeliaran di gurun, pada suhu 39 derajat berpakaian zirah Yunani lengkap, mengoceh soal benang.”
“Benang,” kataku.
“Dia sudah gila sepenuhnya. Clarisse membawanya pulang ke rumah ibunya suapa manusia tidak memasukkannya ke rumah sakit jiwa. Clarisse mencoba merawatnya supaya kembali sehat. Chiron datang dan mewawancarainya, tapi hasilnya tidak terlalu bagus. Satu-satunya yang berhasil mereka korek darinya: anak buah Luke telah menjelajahi Labirin.”
Aku gemetar, walau aku tidak yakin kenapa. Chris yang malang ... dia bukan cowok yang seburuk itu. Apa yang bisa membuatnya jadi gila? Aku memadang Grover, yang sedang mengunyah sisa garpunya.
“Oke,” tanyaku. “Kenapa mereka menjelajahi Labirin?”
“Kami tidak yakin,” kata Annabeth. “Itulah sebabnya Chiron melakukan ekspedisi pengamatan. Chiron merahasiankannya karena dia tidak mau ada yang panik. Dia melibatkanku karena ... yah, Labirin selama ini selalu merupakan salah satu topik favoritku. Arsitekturnya—“ Ekspresinya berubah menjadi sedikit penuh khayal. “Yang membangun labirin itu, Daedalus, seorang genius. Tapi yang utama adalah, Labirin punya jalan masuk di mana-mana. Kalau Luke bisa mencari tahu bagaimana menjelajahinya, dia bisa menggerakkan pasukannya dengan kecepatan luar biasa.” “Kecuali bahwa itu adalah labirin yang menyesatkan, betul, kan?”
“Penuh jebakan mengerikan,” Grover setuju. “Jala buntu. Ilusi. Monster-monster sakit jiwa pembunuh kambing.”
“Tapi tidak kalau kau punya benang Ariadne,” kata Annabeth. “Di masa lalu benang Ariadne membimbing Thesus untuk keluar dari labirin. Itu adalah semacam alat navigasi, ditemukan oleh Daedalus. Dan Chris Rodriguez mengoceh soal benang.”
“Jadi, Luke mencoba menemukan benang Aridne,” kataku. “Kenapa? Apa yang direncanakannya?”
Annabeth menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu. Kupikir mungkin dia ingin menterbu perkemahan lewat labirin, tapi itu tidak masuk akal. Pintu masuk terdekat yang Clarisse temukan ada di Manhattan, yang tak kan membantu Luke melewati perbatasan kita. Clarisse menjelajah sedikit ke dalam terowongan-terowongan, tapi ... itu sangat berbahaya. Dia mengalami beberapa situasi genting. Aku meneliti segalanya yang bisa kutemukan tentang Daedalus. Aku takut itu tidak banyak membantu. Aku tidak paham apa persisnya yang direncaakan Luke, tapi ini yang kutahu: Labirin mungkin adalah kunci masalah Grover.”
Aku berkedip. “Kau pikir Pan ada di bawah tanah?”
“Itu bakal menjelaskan kenapa selama ini dia mustahil ditemukan.”
Grover gemetar. “Satir benci pergi ke bawah tanah. Nggak ada pencari yang bakal mencoba pergi ke tempat itu. Nggak ada bunga. Nggak ada sinar mentari. Nggak ada warung kopi!”
“Tapi,” kata Annabeth, “Labirin bisa mengarahkanmu hampir ke mana saja. Labirin membaca pikiranmu. Labirin dirancang untuk menipumu, mengerjaimu, dan membunuhmu; tapi kalau kau bisa membuat Labirin bekerja untukmu—“ “Labirin bisa mengarahkanmu ke dewa alam liar,” kataku.
“Tapi tidak kalau kau punya benang Ariadne,” kata Annabeth. “Di masa lalu benang Ariadne membimbing Thesus untuk keluar dari labirin. Itu adalah semacam alat navigasi, ditemukan oleh Daedalus. Dan Chris Rodriguez mengoceh soal benang.”
“Jadi, Luke mencoba menemukan benang Aridne,” kataku. “Kenapa? Apa yang direncanakannya?”
Annabeth menggelengkan kepalanya. “Aku nggak tahu. Kupikir mungkin dia ingin menterbu perkemahan lewat labirin, tapi itu tidak masuk akal. Pintu masuk terdekat yang Clarisse temukan ada di Manhattan, yang tak kan membantu Luke melewati perbatasan kita. Clarisse menjelajah sedikit ke dalam terowongan-terowongan, tapi ... itu sangat berbahaya. Dia mengalami beberapa situasi genting. Aku meneliti segalanya yang bisa kutemukan tentang Daedalus. Aku takut itu tidak banyak membantu. Aku tidak paham apa persisnya yang direncaakan Luke, tapi ini yang kutahu: Labirin mungkin adalah kunci masalah Grover.”
Aku berkedip. “Kau pikir Pan ada di bawah tanah?”
“Itu bakal menjelaskan kenapa selama ini dia mustahil ditemukan.”
Grover gemetar. “Satir benci pergi ke bawah tanah. Nggak ada pencari yang bakal mencoba pergi ke tempat itu. Nggak ada bunga. Nggak ada sinar mentari. Nggak ada warung kopi!”
“Tapi,” kata Annabeth, “Labirin bisa mengarahkanmu hampir ke mana saja. Labirin membaca pikiranmu. Labirin dirancang untuk menipumu, mengerjaimu, dan membunuhmu; tapi kalau kau bisa membuat Labirin bekerja untukmu—“ “Labirin bisa mengarahkanmu ke dewa alam liar,” kataku.
“Aku tak bisa melakukannya.” Grover memeluk perutnya. “Memikirkannya saja membuatku ingin memuntahkan perabot perakku.”
“Grover, ini mungkin kesempatan terakhirmu,” kata Annabeth. “Dewan serius. Satu minggu atau kau belajar tarian tap!”
Di kepala meja, Quintus berdeham. Aku punya firasat dia tidak mau membuat kehebohan, tapi Annabeth benar-benar memaksaya, duduk di mejaku selama itu.
“Kita bicara lagi nanti.” Annabeth meremas lenganku sedikit terlalu keras. “Yakinkan dia, ya?”
Dia kembali ke meja Athena mengabaikan semua orang yang memandanginya.
Grover membenamkan kepalanya dalam tangannya. “Aku tak bisa melakukannya, Percy. Izin pencariku. Pan. Aku akan kehilangan segalanya. Aku bakal harus mulai bikin sandiwara boneka.”
“Jangan ngomong begitu! Kita akan memikirkan sesuatu.”
Dia menatapku dengan mata bersimbah air mata. “Percy, kau sahabat terbaikku. Kau pernah melihatku di bawah tanah. Di gua Cyclops. Apa kau betul-betul berpikir aku bisa ....”
Suaranya melemah. Aku ingat Lautan Monster, ketika dia terjebak di gua Cyclops. Dia memang tidak pernah suka tempat-tempat di bawah tanah, tapi sekarang Grover betul-betul membencinya. Cyclops juga membuatnya ngeri. Bahkan Tyson ... Grover mencoba menyembunyikannya, tapi Grover dan aku bisa membaca emosi satu sama lain atau semacamnya, berkat sambungan empati yang Grover buat antar kami. Aku tahu bagaimana perasaannya. Grover takut pada si jagoan besar itu. “Aku harus pergi,” kata Grover sedih. “Juniper menungguku. Masih bagus dia menganggap seorang pengecut menarik.”
“Grover, ini mungkin kesempatan terakhirmu,” kata Annabeth. “Dewan serius. Satu minggu atau kau belajar tarian tap!”
Di kepala meja, Quintus berdeham. Aku punya firasat dia tidak mau membuat kehebohan, tapi Annabeth benar-benar memaksaya, duduk di mejaku selama itu.
“Kita bicara lagi nanti.” Annabeth meremas lenganku sedikit terlalu keras. “Yakinkan dia, ya?”
Dia kembali ke meja Athena mengabaikan semua orang yang memandanginya.
Grover membenamkan kepalanya dalam tangannya. “Aku tak bisa melakukannya, Percy. Izin pencariku. Pan. Aku akan kehilangan segalanya. Aku bakal harus mulai bikin sandiwara boneka.”
“Jangan ngomong begitu! Kita akan memikirkan sesuatu.”
Dia menatapku dengan mata bersimbah air mata. “Percy, kau sahabat terbaikku. Kau pernah melihatku di bawah tanah. Di gua Cyclops. Apa kau betul-betul berpikir aku bisa ....”
Suaranya melemah. Aku ingat Lautan Monster, ketika dia terjebak di gua Cyclops. Dia memang tidak pernah suka tempat-tempat di bawah tanah, tapi sekarang Grover betul-betul membencinya. Cyclops juga membuatnya ngeri. Bahkan Tyson ... Grover mencoba menyembunyikannya, tapi Grover dan aku bisa membaca emosi satu sama lain atau semacamnya, berkat sambungan empati yang Grover buat antar kami. Aku tahu bagaimana perasaannya. Grover takut pada si jagoan besar itu. “Aku harus pergi,” kata Grover sedih. “Juniper menungguku. Masih bagus dia menganggap seorang pengecut menarik.”
Setelah dia pergi, aku memandang ke arah Quintus. Dia mengangguk dengan khidmat, seolah kami berbagi rahasia gelap. Lalu dia kembali mengiris-iris sosisnya dengan belati.
***
Siang harinya, aku pergi ke istal pegasus untuk mengunjungi temanku Blackjack.
Yo, Bos! Dia melompat kegirangan di biliknya, sayap hitamnya mengepak-ngepak di udara. Kau bawakan aku gula batu?
“Kau tahu itu tidak bagus untukmu, Blackjack.”
Iya, jadi kau bawa kan?
Aku tersenyum dan memberinya makan segenggam gula batu. Balckjack dan aku sudah lama saling kenal. Bisa dibilang aku menyelamatkannya dari kapal persiar monster Luke beberapa tahun lalu, dan sejak saat itu dia berkeras untuk membalas budiku.
Jadi, kita bakal dapat misi, nggak? Blackjack bertanya. Aku siap terbang nih, Bos!
Aku menepuk-nepuk hidungnya. “Entahlah, Bung. Semua orang terus bicara soal labirin bawah tanah.”
Blackjack meringkik gugup. Tidak. Tidak, buat kuda yang satu ini! kau pasti nggak cukup gila sampai- sampai mau masuk ke labirin, Bos. Benar ka? Pada akhirnya kau bakal masuk ke pabrik lem! “Kau mungkin benar, Blackjack. Kita lihat saja nanti.”
***
Siang harinya, aku pergi ke istal pegasus untuk mengunjungi temanku Blackjack.
Yo, Bos! Dia melompat kegirangan di biliknya, sayap hitamnya mengepak-ngepak di udara. Kau bawakan aku gula batu?
“Kau tahu itu tidak bagus untukmu, Blackjack.”
Iya, jadi kau bawa kan?
Aku tersenyum dan memberinya makan segenggam gula batu. Balckjack dan aku sudah lama saling kenal. Bisa dibilang aku menyelamatkannya dari kapal persiar monster Luke beberapa tahun lalu, dan sejak saat itu dia berkeras untuk membalas budiku.
Jadi, kita bakal dapat misi, nggak? Blackjack bertanya. Aku siap terbang nih, Bos!
Aku menepuk-nepuk hidungnya. “Entahlah, Bung. Semua orang terus bicara soal labirin bawah tanah.”
Blackjack meringkik gugup. Tidak. Tidak, buat kuda yang satu ini! kau pasti nggak cukup gila sampai- sampai mau masuk ke labirin, Bos. Benar ka? Pada akhirnya kau bakal masuk ke pabrik lem! “Kau mungkin benar, Blackjack. Kita lihat saja nanti.”
Blackjack mengunyah gula batunya. Dia menggoyang-goyangkan surainya seolah dia baru saja mengalami kejang gula. Wah! Baeang bagus! Yah, bos, sadarlah dan kalau kau ingin terbang ke mana saja, bersiyl saja. Si blackjack dan teman-temannya bakal menginjak-injak siapa saja untukmu!
Aku memberitahunya bahwa aku akan mengingat hal tersebut. Lalu sekelompok pekemah yang lebih muda masuk ke istal untuk memulai pelajaran berkuda mereka, dan kuputuskan sudah saatnya untuk pergi. Aku punya firasat buruk bahwa aku bakal lama tak bertemu Blackjack.
Malam itu setelah acara makan, Quintus menyuruh kami mengenakan pakaian tempur seolah-olah kami sedang bersiap-siap untuk tangkap bendera, tapi suasana hati para pekemah jauh lebih serius. Suatu waktu pada siang hari itu peti-peti di arena menghilang, dan aku punya firasat bahwa peti-peti telah dikosongkan dan apa pun yang ada di dalamnya telah dimasukkan ke hutan.
“Baiklah,” kata Quintus, berdiri di kepala meja. “Bekumpul.”
Dia berpakaian dari bahan kulit hitam dan perunggu. Di tengah cahaya obor, rambut kelabunya membuatnya terlihat bagaikan hantu. Nyonya O’Leary melompat-lompat kegirangan di sekitarnya, merambah sisa-sisa makan malam.
“Kalian akan terbagi-bahi menjadi tim yang terdiri dari dua orang,” Quintus mengumumkan. Ketika semua orang mulai bicara dan menciba mencengkeram teman mereka, dia berteriak: “Yang sudah kupilih!”
“YAAAAHHH!” Semua orang mengeluh.” “Tujuan kalian sederhana: temukan mahkota daun dafnah emas tanpa tewas. Mahkota dibungkus dalam paket sutra, terikat ke punggung salah satu monster. Ada enam monster. Masing-masing punya bungkusan sutra. Hanya satu yang berisi mahkota tersebut sebelum tim lain. Dan, tentu saja ... kalian harus membantai monster untuk mendapatkannya, dan tetap hidup.”
Aku memberitahunya bahwa aku akan mengingat hal tersebut. Lalu sekelompok pekemah yang lebih muda masuk ke istal untuk memulai pelajaran berkuda mereka, dan kuputuskan sudah saatnya untuk pergi. Aku punya firasat buruk bahwa aku bakal lama tak bertemu Blackjack.
Malam itu setelah acara makan, Quintus menyuruh kami mengenakan pakaian tempur seolah-olah kami sedang bersiap-siap untuk tangkap bendera, tapi suasana hati para pekemah jauh lebih serius. Suatu waktu pada siang hari itu peti-peti di arena menghilang, dan aku punya firasat bahwa peti-peti telah dikosongkan dan apa pun yang ada di dalamnya telah dimasukkan ke hutan.
“Baiklah,” kata Quintus, berdiri di kepala meja. “Bekumpul.”
Dia berpakaian dari bahan kulit hitam dan perunggu. Di tengah cahaya obor, rambut kelabunya membuatnya terlihat bagaikan hantu. Nyonya O’Leary melompat-lompat kegirangan di sekitarnya, merambah sisa-sisa makan malam.
“Kalian akan terbagi-bahi menjadi tim yang terdiri dari dua orang,” Quintus mengumumkan. Ketika semua orang mulai bicara dan menciba mencengkeram teman mereka, dia berteriak: “Yang sudah kupilih!”
“YAAAAHHH!” Semua orang mengeluh.” “Tujuan kalian sederhana: temukan mahkota daun dafnah emas tanpa tewas. Mahkota dibungkus dalam paket sutra, terikat ke punggung salah satu monster. Ada enam monster. Masing-masing punya bungkusan sutra. Hanya satu yang berisi mahkota tersebut sebelum tim lain. Dan, tentu saja ... kalian harus membantai monster untuk mendapatkannya, dan tetap hidup.”
Kerumunan mulai bergumam penuh semangat. Tugas tersebut kedengarannya cukup lugas. Hei, kami semua pernah membantai monster sebelumnya. Untuk itulah kami dilatih.
“Aku sekarang akan mengumumkan rekan kalian,” kata Quintus. “Tidak akan ada pertukaran. Tidak ada pergantian. Tidak ada keluhan.”
“Guuuuk!” Nyonya O’Leary membenamkan wajahnya dalam sepiring pizza.
Quintus mengeluarkan gulungan besar dan mulai membacakan nama-nama. Beckendorf akan bersama Silena Beauregard, yang membuat Beckendorf terlihat cukup senang. Stoll bersaudara, Travis dan Connor, akan bersama-sama. Tidak ada kejutan. Mereka melakukan segalanya bersama. Clarisse bersama Lee Fletcher dari pondok Apollo—kombinasi pertarungan kelompok dan jarak dekat mereka akan menjadi kombinasi yang sulit dikalahkan. Quintus terus berceloteh, mengucapkan nama-nama sampai dia berkata, “Percy Jackson dengan Annabeth Chase.”
“Bagus.” Aku nyengir pada Annabeth.
“Baju zirahmu miring” adalah satu-satunya komentarnya, dan dia membetulkan tali pengikatku.
“Grover Underwood,” kata Quintus, “dengan Tyson.”
Grover hampir saja melompat keluar dari bulu kambingnya. “Apa? T-tapi—“
“Nggak, nggak.” Tyson merengek. “Pasti salah. Bocah kambing—“ “Tidak ada keluhan!” perintah Quintus. “Baik-baiklah dengan rekan kalian. Kalian punya dua menit untuk bersiap-siap!”
“Aku sekarang akan mengumumkan rekan kalian,” kata Quintus. “Tidak akan ada pertukaran. Tidak ada pergantian. Tidak ada keluhan.”
“Guuuuk!” Nyonya O’Leary membenamkan wajahnya dalam sepiring pizza.
Quintus mengeluarkan gulungan besar dan mulai membacakan nama-nama. Beckendorf akan bersama Silena Beauregard, yang membuat Beckendorf terlihat cukup senang. Stoll bersaudara, Travis dan Connor, akan bersama-sama. Tidak ada kejutan. Mereka melakukan segalanya bersama. Clarisse bersama Lee Fletcher dari pondok Apollo—kombinasi pertarungan kelompok dan jarak dekat mereka akan menjadi kombinasi yang sulit dikalahkan. Quintus terus berceloteh, mengucapkan nama-nama sampai dia berkata, “Percy Jackson dengan Annabeth Chase.”
“Bagus.” Aku nyengir pada Annabeth.
“Baju zirahmu miring” adalah satu-satunya komentarnya, dan dia membetulkan tali pengikatku.
“Grover Underwood,” kata Quintus, “dengan Tyson.”
Grover hampir saja melompat keluar dari bulu kambingnya. “Apa? T-tapi—“
“Nggak, nggak.” Tyson merengek. “Pasti salah. Bocah kambing—“ “Tidak ada keluhan!” perintah Quintus. “Baik-baiklah dengan rekan kalian. Kalian punya dua menit untuk bersiap-siap!”
Baik Tyson maupun Grover memandangku dengan tatapan memohon. Aku mencoba memberi mereka anggukan untuk meyakinka, dan memberi isyarat bahwa mereka sebaiknya bergerak bersama. Tyson bersin. Grover mulai mengunyah-ngunyah tongkat kayunya dengan gugup.
“Mereka akan baik-baik saja,” kata Annabeth. “Ayo. Mari kita khawatirkan bagaimana caranya agar kita tetap hidup.”
Hari masih terang ketika kami masuk ke dalam hutan, tapi bayang-bayang dari pepohonan membuatnya terasa bagaikan tengah malam. Hawanya dingin juga, bahkan di musim panas. Annabeth dan aku menemukan jejak-jejak hampir seketika—bekas-bekas gesekan kaki yang dibuat oleh sesuatu yang berkaki banyak. Kami mulai mengikuti jejak tersebut.
Kami melompati kali dan mendengar bunyi beberapa ranting patah di dekat kami. Kami meringkuk di balik sebuah batu besar, tapi rupanya itu hanya Stoll bersaudara yang tersandung-sandung menembus hutan sambil menympah-nyumpah. Ayah mereka adalah dewa pencuri, tapi mereka mengendap-endap seperti kerbau.
Setelah Stoll bersaudara lewat, kami merambah lebih dalam ke hutan barat, tempat para monster yang lebih liat. Kami sedang berdiri di bibir tebing yang menghadap ke danau berawa-rawa ketika Annabeth menegang. “Di sinilah tempat kita berhenti mencari.”
Perlu sedetik bagiku untuk menyadari apa maksudnya. Musim dingin lalu, saat kami mencari Nico di Angelo, di sinilah kami berhenti berharap menemukannya. Grover, Annabeth, dan aku berdiri di batu ini sewaktu itu, dan aku meyakinkan mereka agar tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Chiron: bahwa Nico adalah putra Hades. Pada saat itu hal tersebut tampaknya merupakan hal yang benar dilakukan. Aku ingin melindungi identitasnya. Aku ingin menjadi orang yang menemukannya dan memperbaiki keadaan atas apa yang telah terjadi pada kakak perempuannya. Sekarang, enam bulan kemudian, aku hampir menemukannya pun tidak. Hal tersebut meninggalkan rasa pahit di mulutku.
“Mereka akan baik-baik saja,” kata Annabeth. “Ayo. Mari kita khawatirkan bagaimana caranya agar kita tetap hidup.”
Hari masih terang ketika kami masuk ke dalam hutan, tapi bayang-bayang dari pepohonan membuatnya terasa bagaikan tengah malam. Hawanya dingin juga, bahkan di musim panas. Annabeth dan aku menemukan jejak-jejak hampir seketika—bekas-bekas gesekan kaki yang dibuat oleh sesuatu yang berkaki banyak. Kami mulai mengikuti jejak tersebut.
Kami melompati kali dan mendengar bunyi beberapa ranting patah di dekat kami. Kami meringkuk di balik sebuah batu besar, tapi rupanya itu hanya Stoll bersaudara yang tersandung-sandung menembus hutan sambil menympah-nyumpah. Ayah mereka adalah dewa pencuri, tapi mereka mengendap-endap seperti kerbau.
Setelah Stoll bersaudara lewat, kami merambah lebih dalam ke hutan barat, tempat para monster yang lebih liat. Kami sedang berdiri di bibir tebing yang menghadap ke danau berawa-rawa ketika Annabeth menegang. “Di sinilah tempat kita berhenti mencari.”
Perlu sedetik bagiku untuk menyadari apa maksudnya. Musim dingin lalu, saat kami mencari Nico di Angelo, di sinilah kami berhenti berharap menemukannya. Grover, Annabeth, dan aku berdiri di batu ini sewaktu itu, dan aku meyakinkan mereka agar tidak memberitahukan yang sebenarnya pada Chiron: bahwa Nico adalah putra Hades. Pada saat itu hal tersebut tampaknya merupakan hal yang benar dilakukan. Aku ingin melindungi identitasnya. Aku ingin menjadi orang yang menemukannya dan memperbaiki keadaan atas apa yang telah terjadi pada kakak perempuannya. Sekarang, enam bulan kemudian, aku hampir menemukannya pun tidak. Hal tersebut meninggalkan rasa pahit di mulutku.
“Aku melihatnya semalam,” kataku.
Annabeth mengernyitkan alis. “Apa maksudmu?”
Aku bercerita padanya tentang pesan-Iris. Saat aku selesai, dia menatap bayang-bayang hutan. “Dia mencoba membangkitkan orang mati? Itu nggak bagus.”
“Si hantu memberinya saran yang jelek,” kataku. “Menyuruhnya balas dendam.”
“Yeah ... para arwah tidak pernah menjadi penasihat yang bagus. Mereka punya agenda mereka sendiri. Dendam lama. Da mereka benci orang-orag yang masih hidup.”
“Dia bakal datang mengejarku,” kataku. “Si arwah menyebut-nyebut labirin.”
Annabeth mengangguk. “Itu membuatku semakin yakin. Kita harus memecahkan rahasia Labirin.”
“Mungkin,” kataku tidak nyaman. “Tapi siapa yang mengirimkan pesan-Iris? Kalau Nico tidak tahu aku di sana—“
Sepotong ranting patah di hutan. Dedaunan kering berkerisikan. Sesuatu yang besar sedang bergerak di tengah-tengah pepohonan, tepat di balik bubungan.
“Itu bukan Stoll bersaudara,” bisik Annabeth. Bersama-sama kami mengeluarkan pedang kami.
Annabeth mengernyitkan alis. “Apa maksudmu?”
Aku bercerita padanya tentang pesan-Iris. Saat aku selesai, dia menatap bayang-bayang hutan. “Dia mencoba membangkitkan orang mati? Itu nggak bagus.”
“Si hantu memberinya saran yang jelek,” kataku. “Menyuruhnya balas dendam.”
“Yeah ... para arwah tidak pernah menjadi penasihat yang bagus. Mereka punya agenda mereka sendiri. Dendam lama. Da mereka benci orang-orag yang masih hidup.”
“Dia bakal datang mengejarku,” kataku. “Si arwah menyebut-nyebut labirin.”
Annabeth mengangguk. “Itu membuatku semakin yakin. Kita harus memecahkan rahasia Labirin.”
“Mungkin,” kataku tidak nyaman. “Tapi siapa yang mengirimkan pesan-Iris? Kalau Nico tidak tahu aku di sana—“
Sepotong ranting patah di hutan. Dedaunan kering berkerisikan. Sesuatu yang besar sedang bergerak di tengah-tengah pepohonan, tepat di balik bubungan.
“Itu bukan Stoll bersaudara,” bisik Annabeth. Bersama-sama kami mengeluarkan pedang kami.
Kami sampai ke Kepalan Zeus, tumpukan besar bongkahan batu di tengah-tengah hutan barat. Kepalan Zeus adalah monumen alami tempat para pekemah sering berkumpul pada ekspedisi berburu, tapi sekarang tidak ada siapa-siapa di sana.
“Di situ,” bisik Annabeth.
“Tidak, tunggu,” kataku. “Di belakang kita.”
Aneh. Bunyi desir kaku tampaknya terdengar dari beberapa arah yang berlainan. Kami mengitari bongkah-bongkah batu, pedang kami terhunus, ketika seseorang tepat di belakang kamu berujar, “Hai.”
Kami berkelebat berputar, dan si peri pohon Juniper memekik.
“Turunkan itu!” protesnya. “Dryad tidak suka bilah tajam, oke?”
“Juniper.” Annabeth menghembuskan napas. “Sedang apa kau di sini?”
“Aku tinggal di sini.”
Aku menurunkan pedangku. “Di bongkahan batu?”
Dia menunjuk ke tepian bukaan. “Di Semak Juniper. Ampun, deh.” Memang masuk akal, dan aku merasa tolol. Aku sering berada di dekat dryad selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah betul-betul mengobrol banyak dengan mereka. Aku tahu mereka tidak bisa jauh- jauh dari pohon mereka, yang merupakan sumber kehidupan mereka. Tapi selain itu aku tidak tahu banyak.
“Di situ,” bisik Annabeth.
“Tidak, tunggu,” kataku. “Di belakang kita.”
Aneh. Bunyi desir kaku tampaknya terdengar dari beberapa arah yang berlainan. Kami mengitari bongkah-bongkah batu, pedang kami terhunus, ketika seseorang tepat di belakang kamu berujar, “Hai.”
Kami berkelebat berputar, dan si peri pohon Juniper memekik.
“Turunkan itu!” protesnya. “Dryad tidak suka bilah tajam, oke?”
“Juniper.” Annabeth menghembuskan napas. “Sedang apa kau di sini?”
“Aku tinggal di sini.”
Aku menurunkan pedangku. “Di bongkahan batu?”
Dia menunjuk ke tepian bukaan. “Di Semak Juniper. Ampun, deh.” Memang masuk akal, dan aku merasa tolol. Aku sering berada di dekat dryad selama bertahun-tahun, tapi aku tidak pernah betul-betul mengobrol banyak dengan mereka. Aku tahu mereka tidak bisa jauh- jauh dari pohon mereka, yang merupakan sumber kehidupan mereka. Tapi selain itu aku tidak tahu banyak.
“Apa kalian sibuk?” tanya Juniper.
“Yah,” kataku, “kami sedang ada di tengah-tengah permainan ini nih, melawan sekumpulan monster, dan kami berusaha supaya nggak mati.”
“Kami nggak sibuk, kok,” kata Annabeth. “Ada masalah apa, Juniper?”
Juniper terisak. Dia mengusapkan lengan bajunya yang sehalus sutra ke bawah matanya. “Soal Grover. Dia tampaknya gelisah sekali. Sepanjang tahun dia mencari-cari Pan. Dan setiap kali dia kembali, kondisinya lebih buruk. Kupikir mungkin, pada mulanya, dia pacaran dengan peri pohon lain.”
“Bukan,” kata Annabeth saat Juniper mulai menangis. “Aku yakin buka begitu.”
“Dia pernah naksir semak blurberry dulu,” kaya Juniper menderita.
“Juniper,” kata Annabeth, “Grover bahkan nggak pernah melirik pohon lain. Dia Cuma stres soal izin pencarinya.”
“Dia nggak bisa pergi ke bawah tanah!” protes Juniper. “Kalian nggak boleh membiarkannya.”
Annabeth tampak tak nyaman. “Mungkin inilah satu-satunya cara untuk membantunya; kalau saja kita tahu di mana harus memulai.”
“Ah.” Juniper menyeka air mata hijau dari pipinya. “Soal itu ....” Kerisik lain di hutan, dan Juniper berteriak, “Sembunyi!”
“Yah,” kataku, “kami sedang ada di tengah-tengah permainan ini nih, melawan sekumpulan monster, dan kami berusaha supaya nggak mati.”
“Kami nggak sibuk, kok,” kata Annabeth. “Ada masalah apa, Juniper?”
Juniper terisak. Dia mengusapkan lengan bajunya yang sehalus sutra ke bawah matanya. “Soal Grover. Dia tampaknya gelisah sekali. Sepanjang tahun dia mencari-cari Pan. Dan setiap kali dia kembali, kondisinya lebih buruk. Kupikir mungkin, pada mulanya, dia pacaran dengan peri pohon lain.”
“Bukan,” kata Annabeth saat Juniper mulai menangis. “Aku yakin buka begitu.”
“Dia pernah naksir semak blurberry dulu,” kaya Juniper menderita.
“Juniper,” kata Annabeth, “Grover bahkan nggak pernah melirik pohon lain. Dia Cuma stres soal izin pencarinya.”
“Dia nggak bisa pergi ke bawah tanah!” protes Juniper. “Kalian nggak boleh membiarkannya.”
Annabeth tampak tak nyaman. “Mungkin inilah satu-satunya cara untuk membantunya; kalau saja kita tahu di mana harus memulai.”
“Ah.” Juniper menyeka air mata hijau dari pipinya. “Soal itu ....” Kerisik lain di hutan, dan Juniper berteriak, “Sembunyi!”
Sebelum aku bisa bertanya kenapa, dia lenyap, puf, menjadi kabut hijau.
Annabeth dan aku berbalik. Dari hutan keluarlah serangga cokelat kekuningan mengilap, panjangnya tiga meter, dan capit bergerigi, ekor tameng, dan sengat sepanjang pedangku. Seekor kalajengking. Di punggungnya terikat bungkusan sutra merah.
“Salah satu dari kiya ke belakangnya,” kata Annabeth saat makhluk itu berkelotakan ke arah kami. “Potong ekornya sementara yang lain mengalihkan perhatiannya di depan.”
“Biar aku yang mengadangnya,” kataku. “Kau punya topi halimunan.”
Dia mengangguk. Kami bertarung bersama berkali-kali sehingga kami mengetahui gerakan satu sama lain. Kami bisa melakukan ini, mudah saja. Tapi semuanya buyar seketika ketika dua kalajengking lain muncul dari hutan.
“Tiga?” kata Annabeth. “Ini nggak mungkin! Hutan seluas ini, tapi setengah dari semua monster mendatangi kita?”
Aku menelan ludah. Satu, kami bisa mengatasinya. Dua, dengan sedikit keberuntungan. Tiga? Meragukan.
Kalajengking-kalajengking itu merangsek ke arah kami, melecutkan ekor mereka yang berduri seakan mereka datang cuma untuk membunuh kami. Annabeth dan aku merapatkan punggung kami ke bongkah batu terdekat.
“Panjat?” kataku. “Nggak ada waktu,” katanya.
Annabeth dan aku berbalik. Dari hutan keluarlah serangga cokelat kekuningan mengilap, panjangnya tiga meter, dan capit bergerigi, ekor tameng, dan sengat sepanjang pedangku. Seekor kalajengking. Di punggungnya terikat bungkusan sutra merah.
“Salah satu dari kiya ke belakangnya,” kata Annabeth saat makhluk itu berkelotakan ke arah kami. “Potong ekornya sementara yang lain mengalihkan perhatiannya di depan.”
“Biar aku yang mengadangnya,” kataku. “Kau punya topi halimunan.”
Dia mengangguk. Kami bertarung bersama berkali-kali sehingga kami mengetahui gerakan satu sama lain. Kami bisa melakukan ini, mudah saja. Tapi semuanya buyar seketika ketika dua kalajengking lain muncul dari hutan.
“Tiga?” kata Annabeth. “Ini nggak mungkin! Hutan seluas ini, tapi setengah dari semua monster mendatangi kita?”
Aku menelan ludah. Satu, kami bisa mengatasinya. Dua, dengan sedikit keberuntungan. Tiga? Meragukan.
Kalajengking-kalajengking itu merangsek ke arah kami, melecutkan ekor mereka yang berduri seakan mereka datang cuma untuk membunuh kami. Annabeth dan aku merapatkan punggung kami ke bongkah batu terdekat.
“Panjat?” kataku. “Nggak ada waktu,” katanya.
Dia benar. Kalajengking-kalajengking itu sudah mengelilingi kami. Mereka begitu dekat sehingga aku bisa melihat mulut mengerikan mereka yang berbusa, menantikan makanan enak berupa manusia setengah dewa.
“Awas!” Annabeth menangkis sengat dengan bagian datar bilah pedangnya. Aku penusuk dengan Reptide, tapi si kalajengking mundur ke luar jangkauanku. Kami memanjat bersisian di sepanjang bongkahan batu, tapi ketiga kalakengking mengikuti kami. Aku mengayunkan pedang ke kalajengking yang lain, tapi memulai serangan terlalu berbahaya. Kalau aku mengincar badannya, ekornya akan menusuk ke bawah. Kalau aku mengincar ekor, capit makhluk itu datang dari kedua sisi dan mencoba mencengkeramku. Yang bisa kami lakukan hanyalah mempertahankandiri, tapi kami takkan bisa terlalu lama bertahan seperti itu.
Aku menapak selangkah langkah lagi ke samping, dan tiba-tiba tidak ada apa-apa di belakangku selain sebuah retakandi antara dua batu terbesar, sesuatu yang mungkin sudah jutaan kali kulewati, tapi ....
“Ke sini,” kataku.
Annabeth melakukan gerakan meniris ke arah si kalajengking kemudiam menatapku seolah aku sudah gila. “Ke sana? Terlalu sempit.”
“Akan kulindungi kau. Ayo!”
Dia berlindung kebelakangku dan mulai menyelip ke antara dua batu besar itu. Lalu dia memekik dan mencengkeram tali pengikat baju zirahku, dan tiba-tiba aku terjatuh ke lubang yang tak ada di sana sesaat sebelumnya. Aku bisa melihat kalajengking-kalajengking di atasku, langit malam yang ungu dan pepohonan, dan kemudian lubang tersebut tertutup laksana lensa kamera, dan kami berada dalam kegelapan total. Napas kami bergema ke bebatuan. Di sana basah dan dingin. Aku duduk di atas lantai yang tidak rata yang tampaknya terbuat dari bata.
“Awas!” Annabeth menangkis sengat dengan bagian datar bilah pedangnya. Aku penusuk dengan Reptide, tapi si kalajengking mundur ke luar jangkauanku. Kami memanjat bersisian di sepanjang bongkahan batu, tapi ketiga kalakengking mengikuti kami. Aku mengayunkan pedang ke kalajengking yang lain, tapi memulai serangan terlalu berbahaya. Kalau aku mengincar badannya, ekornya akan menusuk ke bawah. Kalau aku mengincar ekor, capit makhluk itu datang dari kedua sisi dan mencoba mencengkeramku. Yang bisa kami lakukan hanyalah mempertahankandiri, tapi kami takkan bisa terlalu lama bertahan seperti itu.
Aku menapak selangkah langkah lagi ke samping, dan tiba-tiba tidak ada apa-apa di belakangku selain sebuah retakandi antara dua batu terbesar, sesuatu yang mungkin sudah jutaan kali kulewati, tapi ....
“Ke sini,” kataku.
Annabeth melakukan gerakan meniris ke arah si kalajengking kemudiam menatapku seolah aku sudah gila. “Ke sana? Terlalu sempit.”
“Akan kulindungi kau. Ayo!”
Dia berlindung kebelakangku dan mulai menyelip ke antara dua batu besar itu. Lalu dia memekik dan mencengkeram tali pengikat baju zirahku, dan tiba-tiba aku terjatuh ke lubang yang tak ada di sana sesaat sebelumnya. Aku bisa melihat kalajengking-kalajengking di atasku, langit malam yang ungu dan pepohonan, dan kemudian lubang tersebut tertutup laksana lensa kamera, dan kami berada dalam kegelapan total. Napas kami bergema ke bebatuan. Di sana basah dan dingin. Aku duduk di atas lantai yang tidak rata yang tampaknya terbuat dari bata.
Aku mengangkat Reptide. Pendar samar bilah pedang cukup untuk menerangi wajah Annabeth yang ketakutan dan dinding batu berlumut di samping kami.
“D-di mana kita?” kata Annabeth.
“Pokoknya aman dari kalajengking.” Aku mencoba terdengar tenang, tapi aku ketakutan. Retakan di antara dua bongkah batu tidak mungkin terhubung ke sebuah gua. Aku pasti bakal tahu kalau ada gua di sini; aku yakin akan itu. Rasanya seakan tanah terbuka dan menelan kami. Yang bisa kupikirkan hanyalah retakan di paviliun ruang makan, tempat kerangka-kerangka itu ditelan musim panas lalu. Aku bertanya- tanya apakah hal yang sama telah terjadi pada kami.
Aku mengangkat pedangku lagi untuk penerangan.
“Ini ruangan yang panjang,” gumamku.
Annabeth mencengkeram lenganku. “Ini bukan ruangan. Ini koridor.”
Dia benar. Kegelapan terasa ... lebih kosong di hadapa kami. Ada embusan angin hangat, seperti di terowongan kereta api bawah tanah, hanya saja terasa lebih kuno, entah bagaimana lebih berbahaya.
Aku mulai maju, tapi Annabeth menghentikaku. “Jangan melangkah lagi.” Dia memperingatkan. “Kita harus menemukan jalan keluarnya.”
Dia terdengar betul-betul ketakutan sekarang.
“Nggak apa-apa,” janjiku. “Tepat di—“ Aku mendingak dan menyadari aku tidak bisa melihat dari mana kami jatuh. Langit-langit berupa batu padat. Koridor tampaknya terentang tak berujung di kedua arah.
“D-di mana kita?” kata Annabeth.
“Pokoknya aman dari kalajengking.” Aku mencoba terdengar tenang, tapi aku ketakutan. Retakan di antara dua bongkah batu tidak mungkin terhubung ke sebuah gua. Aku pasti bakal tahu kalau ada gua di sini; aku yakin akan itu. Rasanya seakan tanah terbuka dan menelan kami. Yang bisa kupikirkan hanyalah retakan di paviliun ruang makan, tempat kerangka-kerangka itu ditelan musim panas lalu. Aku bertanya- tanya apakah hal yang sama telah terjadi pada kami.
Aku mengangkat pedangku lagi untuk penerangan.
“Ini ruangan yang panjang,” gumamku.
Annabeth mencengkeram lenganku. “Ini bukan ruangan. Ini koridor.”
Dia benar. Kegelapan terasa ... lebih kosong di hadapa kami. Ada embusan angin hangat, seperti di terowongan kereta api bawah tanah, hanya saja terasa lebih kuno, entah bagaimana lebih berbahaya.
Aku mulai maju, tapi Annabeth menghentikaku. “Jangan melangkah lagi.” Dia memperingatkan. “Kita harus menemukan jalan keluarnya.”
Dia terdengar betul-betul ketakutan sekarang.
“Nggak apa-apa,” janjiku. “Tepat di—“ Aku mendingak dan menyadari aku tidak bisa melihat dari mana kami jatuh. Langit-langit berupa batu padat. Koridor tampaknya terentang tak berujung di kedua arah.
Tangan Annabeth menggelincir ke genggaman tanganku. Pada keadaan yang berbeda aku mungkin akan merasa malu, tapi di sini dalam kegelapan aku senang mengetahui di mana dia berada. Hanya inilah satu hal yang bisa kuyakini.
“Dua langkah mundur,” sarannya.
Kami melangkah ke belakang bersama-sama seolah kami berada di ladang ranjau.
“Oke,” katanya “Bantu aku memeriksa dinding.”
“Buat apa?”
“Tanda Daedalus,” katanya, seolah itu harusnya masuk akal.
“Uh, oke. Kayak gimana—“
“Dapat!” katanya lega. Dia meletakkan tangannya di dinding dan menekan retakan kecil, yang mulai berkilau biru. Simbol Yunani muncul: D, Delta Yunani Kuno.
Atap bergeser terbuka dan kamu melihat langit malam, bintang-bintang gemerlapan. Suasananya jauh lebih gelap daripada yang seharusnya. Tangga logam muncul di samping dinding, mengarah ke atas, dan aku bisa mendengar orang-orag menerikkan nama kami.
“Percy! Annabeth!” Suara Tyson berteriak paling keras, tapi yang lain juga berseru-seru. Aku memandang Annabeth dengan gugup. Lalu kami mulai memanjat.
“Dua langkah mundur,” sarannya.
Kami melangkah ke belakang bersama-sama seolah kami berada di ladang ranjau.
“Oke,” katanya “Bantu aku memeriksa dinding.”
“Buat apa?”
“Tanda Daedalus,” katanya, seolah itu harusnya masuk akal.
“Uh, oke. Kayak gimana—“
“Dapat!” katanya lega. Dia meletakkan tangannya di dinding dan menekan retakan kecil, yang mulai berkilau biru. Simbol Yunani muncul: D, Delta Yunani Kuno.
Atap bergeser terbuka dan kamu melihat langit malam, bintang-bintang gemerlapan. Suasananya jauh lebih gelap daripada yang seharusnya. Tangga logam muncul di samping dinding, mengarah ke atas, dan aku bisa mendengar orang-orag menerikkan nama kami.
“Percy! Annabeth!” Suara Tyson berteriak paling keras, tapi yang lain juga berseru-seru. Aku memandang Annabeth dengan gugup. Lalu kami mulai memanjat.
Kami berjalan mengelilingi batuan dan berpapasan dengan Clarisse dan sekumpulan pekemah lain yang membawa obor.
“Kalian ke mana saja?” tuntut Clarisse. “Kami sudah mencari-cari sampai pegal.”
“Tapi kami baru pergi beberapa menit,” kataku.
Chiron berderap maju, diikuti oleh Tyson dan Grover.
“Percy!” kata Tyson. “Kau baik-baik saja?”
“Kami baik-baik saja,” kataku. “Kami jatuh ke lubang.”
Yang lain memandangku dengan skeptis, lalu memandang Annabeth.
“Jujur!” kataku. “Ada tiga kalajengking yang megejar kami, jadi kami lari dan sembunyi di batu-batu. Tapi kami baru pergi semenit.”
“Kalian sudah menghilang selama hampir sejam,” kata Chiron. “Permainan sudah berakhir.”
“Iya,” gumam Grover. “Kami pasti bakal menang, tapi ada Cyclops yang menduduki aku.” “Itu kecelakaan!” protes Tyson, dan kemudian dia bersin.
“Kalian ke mana saja?” tuntut Clarisse. “Kami sudah mencari-cari sampai pegal.”
“Tapi kami baru pergi beberapa menit,” kataku.
Chiron berderap maju, diikuti oleh Tyson dan Grover.
“Percy!” kata Tyson. “Kau baik-baik saja?”
“Kami baik-baik saja,” kataku. “Kami jatuh ke lubang.”
Yang lain memandangku dengan skeptis, lalu memandang Annabeth.
“Jujur!” kataku. “Ada tiga kalajengking yang megejar kami, jadi kami lari dan sembunyi di batu-batu. Tapi kami baru pergi semenit.”
“Kalian sudah menghilang selama hampir sejam,” kata Chiron. “Permainan sudah berakhir.”
“Iya,” gumam Grover. “Kami pasti bakal menang, tapi ada Cyclops yang menduduki aku.” “Itu kecelakaan!” protes Tyson, dan kemudian dia bersin.
Clarisse mengenakan daun dafnah emas, tapi bahkan dia tidak menyombon soal mengenainya, yang bukanlah wataknya. “Lubang?” katanya curiga.
Annabeth menghela napas dalam. Dia memandang ke para pekemah lain. “Pak Chiron ... mungkin kita sebaiknya membicarakan ini di Rumah Besar.”
Clarisse terkesiap. “Kau menemukannya, ya?”
Annabeth menggigit bibirnya. “Aku—Iya. Iya, kami menemukannya.”
Sekumpulan pekemah mulai mengajukan pertanyaan, terlihat sama bingungnya seperti aku, tapi Chiron mengangkat tangannya untuk menyuruh semuanya diam. “Malam ini bukan waktu yang tepat, dan di sini bukan tempat yang tepat.” Dia menatap bongkahan batu seolah dia baru saja menyadari betapa berbahayanya batu-batu itu. “Kalian semua, kembali ke pondok kalian. Tidurlah. Permainan berjalan dengan baik, tapi jam malam sudah lewat!”
Ada banyak gumaman dan gerutuan, tapi para pekemah menjauh, mengobrol satu sama lain da n memberiku tatapan curiga.
“Ini menjelaskan banyak hal,” kata Clarisse. “Ini menjelaskan apa yang dicari Luke.”
“Tunggu sebentar,” kataku. “Apa maksudmu? Apa yang kami temukan?”
Annabeth berpaling kepadaku, matanya gelap karena khawatir. “Pintu masuk ke Labirin. Rute penyerbuan tepat ke jantung perkemahan.[]
Annabeth menghela napas dalam. Dia memandang ke para pekemah lain. “Pak Chiron ... mungkin kita sebaiknya membicarakan ini di Rumah Besar.”
Clarisse terkesiap. “Kau menemukannya, ya?”
Annabeth menggigit bibirnya. “Aku—Iya. Iya, kami menemukannya.”
Sekumpulan pekemah mulai mengajukan pertanyaan, terlihat sama bingungnya seperti aku, tapi Chiron mengangkat tangannya untuk menyuruh semuanya diam. “Malam ini bukan waktu yang tepat, dan di sini bukan tempat yang tepat.” Dia menatap bongkahan batu seolah dia baru saja menyadari betapa berbahayanya batu-batu itu. “Kalian semua, kembali ke pondok kalian. Tidurlah. Permainan berjalan dengan baik, tapi jam malam sudah lewat!”
Ada banyak gumaman dan gerutuan, tapi para pekemah menjauh, mengobrol satu sama lain da n memberiku tatapan curiga.
“Ini menjelaskan banyak hal,” kata Clarisse. “Ini menjelaskan apa yang dicari Luke.”
“Tunggu sebentar,” kataku. “Apa maksudmu? Apa yang kami temukan?”
Annabeth berpaling kepadaku, matanya gelap karena khawatir. “Pintu masuk ke Labirin. Rute penyerbuan tepat ke jantung perkemahan.[]
Comments
Post a Comment