Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB DUA BELAS
Aku Berlibur Permanen
Aku terbangun sambil merasa bahwa tubuhku masih terbakar. Kulitku perih. Kerongkonganku terasa sekering pasir.
Aku melihat langit biru dan pepohonan di atasku. Aku mendengar air mancur berdeguk, dan mencium juniper dan cedar dan berbagai tumbuhan beraroma manis lain. Aku mendengar ombak juga, dengan lembut berdebur di pantai yang berbatu. Aku bertanya-tanya apa aku sudah mati, tapi aku tahu lebih baik. Aku sudah pernah pergi ke Negeri Orang Mati, dan di sana tak ada langit biru.
Aku mencoba duduk tegak. Ototku rasaya meleleh.
“Tetaplah diam,” kata suara seorang gadis. “Kau terlalu lemah untuk bangun.”
Dia menghamparkan kain dingin di keningku. Sendok perunggu melayan di atasku dan cairan diteteskan ke dalam mulutku. Minuman itu menyamankan kerongkonganku dan meninggalkan rasa hangat cokelat setelahnya. Nektar para dewa. Lalu wajah si gadis muncul di atasku.
Dia punya mata berbentuk buah badam dan kepangan rambut sewarna karamel di atas salah satu bahu. Umurnya ... lima belas? Enam belas? Sulit ditebak. Dia punya wajah yang tampaknya tidak lekang dimakan usia. Dia mulai menyanyi, dan rasa nyeriku menghilang. Dia sedang melakukan sihir. Aku bisa merasakan musiknya terbenam ke dalam kulitku, mentembuhkan dan memperbaiki luka bakarku.
“Siapa?” kuakku.
“Ssst, Pemberani,” katanya. “Beristirahatlah dan pulihkan dirimu. Takkan ada bencana yang menimpamu di sini. Aku Calypso.”
Kali berikutnya aku terbangun aku berada di dalam gua, tapi menurut standar gua, aku sudah pernah masuk ke gua yang lebih parah. Yang ini langit-langitnya berkilau berkat formasi kristal beraneka warna—putih dan ungu dan hijau, seakan aku berada dalam salah satu potongan batu vulkanik yang kaulihat di toko suvenir. Aku berbaring di ranjang yang nyaman dengan bantal isi bulu serta selimut katun putih. Ada mesin tenun besar dan harpa yang tersandar di salah satu dinding. Di dinding lain tersandarlah rak-rak yang ditumpuki toples-toples awetan buah yang tertata rapi. Tanaman obat yang dikeringkan tergantung dari langit-langit: rosemary, thyme, dan lain-lain. Ibuku pasti bisa menyebutkan nama semuanya.
Ada perapian yang dibangun dalam salah satu dinding gua, dan kuali yang berbuih di atas api. Baunya lezat, mirip semur daging.
Aku duduk tegak, mencoba mengabaikan rasa sakit yang berdenyut-denyut di kepalaku. Aku melihat tanganku, yakin bahwa akan ada bekas luka mengerikan, tapi lenganku tampak baik-baik saja. Sedikit lebih merah jambu daripada biasanya, tapi tidak parah. Aku mengenakan T-shirt katun putih dan celana serut katun putih yang bukan milikku. Kakiku telanjang. Panik sesaat, aku bertanya-tanya apa yang terjadi pada Reptide, tapi aku meraba-raba sakuku di sanalah bolpenku, tepat di tempatnya selalu muncul kembali.
Bukan cuma itu, tapi peluit anjing es Stygia kembali ke sakuku juga. Entah bagaimana peluit itu telah mengikutiku. Dan itu tak terlalu membuatku nyaman.
Dengan susah payah, aku berdiri. Lantai batu dingin membekukan di bawah kakiku. Aku menoleh dan mendapati diriku sedang menatap cermin perunggu mengilap.
“Demi Poseidon,” gumamku. Beratku, yang tak bisa turun-turun, kelihatannya sudah berkurang sepuluh kilogram. Rambutku seperti sarang tikus. Tepi rambutku hangus seperti jenggot Hephaestus. Kalau aku melihat wajah itu pada seseorang yang berjalan menyusuri persimpangan jalan untuk minta-minta uang, aku pasti akan mengunci pintu mobil.
Aku berpaling dari cermin. Pintu masuk gua ada di kiriku. Aku menuju ke cahaya matahari siang hari.
Gua terbuka ke padang rumput hijau. Di kiri ada kebun pohon cedar dan di kanan ada taman bunga besar. Empat air terjun berdeguk di padang rumput, masing-masing meluncurkan air dari pipa batu berbentuk satir. Tepat di depan, rumput melandai ke pantai berbatu. Ombak di danau menyapu bebatuan. Aku bisa yahu kalau itu danau karena ... yah, pokoknya bisa. Air tawar. Bukan air garam. Matahari berkilau di permukaan air, dan langit biru jernih. Tampaknya seperti surga, yang seketika membuatku gugup. Setelah berurusan dengan mitologi-mitologia selama beberapa tahun, kau akan belajar bahwa surga biasanya adalah tempat kau terbunuh.
Gadis dengan rambut karamel yang terkepang yang menyebut dirinya Calypso, berdiri di pantai, berbicara kepada seseorang. Aku tidak bisa melihatnya dengan jelas di tengah gemerlap cahaya matahari di air, tapi mereka tampaknya sedang bertengkar. Aku menciba mengingat-ingat apa yang kutahu soal Calypso dari mitos kuno. Aku pernah mendengar nama itu sebelumnya, tapi ... aku tak bisa mengingatnya. Apa dia monster? Apa dia memerangkap para pahlawan dan membunuh mereka? Tapi kalau dia jahat, kenapa aku masih hidup?
Aku berjalan pelan ke arahnya karena kakiku masih kaku. Saat rumput berubah menjadi kerikil, aku menunduk untuk menjaga keseimbanganku, dan ketika aku mendongak lagi, gadis itu sendirian. Dia mengenakan gaun Yunani tanpa lengan dengan garis leher melingkar yang dihiasi emas di tepiannya. Dia mengusap matanya seakan dia baru saja menangis.
“Yah,” katanya, mencoba tersenyum, “si tukang tidur akhirnya bangun.”
“Kau bicara pada siapa?” Suaraku terdengar seperti kodok yang baru saja menghabiskan waktu dalam microwave.
“Oh ... cuma pembawa pesan,” katanya. “Bagaimana perasaanmu?”
“Sudah berapa lama aku pingsan?”
“Waktu.” Calypso menggumam. “Waktu selalu sulit di sini. Aku benar-benar tidak tahu, Percy.”
“Kau tahu namaku?”
“Kau mengigau dalam tidurmu.”
Aku merona. “Iya. Aku ... pernah diberitahu soal itu sebelumnya.”
“Ya. Siapa Annabeth?”
“Oh, anu. Teman. Kami bersama-sama waktu—tunggu, bagaimana aku sampai di sini? Di mana aku?”
Calypso mengulurkan tangan dan menelusurkan jemarinya di rambutku yang kusut. Aku melangkah mundur dengan gugup.
“Maafkan aku,” katanya. “Hanya saja aku jadi terbiasa merawatmu. Soal bagaimana kau sampai di sini, kau jatuh dari langit. Kau mendarat di air, tepat di sana.” Dia menujuk ke seberang pantai. “Aku tidak tahu bagaimana sampai kau bisa bertahan hidup. Air tampaknya meredam jatuhmu. Soal di mana kau berada, kau di Ogygia.”
Dia mengucapkanya seperti owh-ji-ji-yah.
“Apa itu dekat Gunung St. Helens?” tanyaku, soalnya geografiku lumayan payah.
Calypso tertawa. Tawanya kecil dan teratah, seakan-akan dia menganggapku betul-betul kocak tapi tidak mau mempermalukanku. Dia imut waktu tertawa.
“Tempat ini tidak dekat mana-mana, Pemberani,” katanya. “Ogygia adalah pulau silumanku. Pulau ini muncul sendiri, di mana saja dan tidak ada di mana-mana. Kau bisa memulihkan diri di sini dengan aman. Tidak usah takut.”
“Tapi teman-temanku—“
“Annabeth,” katanya. “Dan Grover dan Tyson?”
“Ya!” kataku. “Aku harus kembali ke mereka. Mereka dalam bahaya.”
Dia menyentuh wajahku, dan aku tidak mundur kali ini. “Istirahat dulu. Kau tidak berguna bagi teman-temanmu sampai kau sembuh.”
Segera setelah dia mengatakan itu, aku menyadari betapa lelahnya aku. “Kau bukan ... kau bukan penyihir jahat, kan?”
Dia tersenyum malu-malu. “Kenapa kau berpikir begitu?”
“Yah, aku pernah ketemu Circe, dan dia punya pulau yang lumayan bagus juga. Hanya saja dia senang mengubah laki-laki jadi marmot.”
Calypso memberiku tawa itu lagi. “Aku janji aku tidak akan mengubahmu jadi marmot.”
“Atau menjadi yang lain?”
“Aku bukan penyihir jahat,” kata Calypso. “Dan aku bukan musuhmu, Pemberani. Sekarang istirahatlah. Matamu sudah terpejam.”
Dia benar. Lututku roboh, dan wajahku pasti bakal mendarat lebih dulu di kerikil kalau Calypso tidak menangkapku. Rambutnya berbau seperti kayu manis. Dia sangat kuat, atau mungkin aku betul-betul lemas dan kurus. Dia menopangku kembali ke bangku berbantalan di dekat air mancur dan membantuku berbaring.
“Istirahatlah,” perintahnya. Dan aku pun jatuh tertidur diiringi bunyi air terjun dan bau kayu manis serta juniper.
Kali berikutnya aku terbangun sudah malam hari, tapi aku tak yakin apa itu malam di hari yang sama atau bermalam sesudahnya. Aku ada di tempat tidur dalam gua, tapi aku bangkit dan membungkuskan jubah ke tubuhku dan berjalan ke luar. Bintang-bintang gemerlapan—ribuan bintang, seperti yang cuma bisa kau lihat di pedesaan. Aku bisa menamai semua rasi bintang yang diajarkan Annabeth padaku: Capricorn, Pegasus, Sagitarius. Dan di sana, dekat cakrawala selatan, ada rasi bintang baru: sang Pemburu, penghormatan bagi teman kami yang meninggal musim dingin lalu.
“Percy, apa yang kau lihat?”
Aku membawa mataku kembali ke bumi. Seberapa pun menakjubkannya bintang-bintang, Calypso dua kali lipat lebih memukau. Maksudku, aku pernah melihat sang dewi cinta sendiri, Aphrodite, dan aku tak akan mengucapkan ini keras-keras karena dia pasti akan menghancurkanku jadi abu, tapi menurut pendapatku, Calypso jauh lebih cantik karena dia tampak begitu wajar, karena sepertinya dia tak berusaha jadi cantik dan bahkan tak peduli soal itu. Sepertinya dia dari dulu sudah cantik. Dengan rambut dikepang dan gaun putihnya, dia seakan berbinar diterpa sinar bulan. Dia sedang memegang tumbuhan kecil dengan tangannya. Bunga-bunganya berwarna perak dan rapuh.
“Aku cuma melihat ....” Aku mendapati diriku menatap wajahnya. “Eh ... aku lupa.”
Dia tertawa lembut. “Yah, selahi kau bangun, kau bisa membantuku menanam ini.”
Dia menyerahkan tumbuhan itu kepadaku, yang ditempeli segumpal tanah dan berakar di dasarnya. Bunga-bunga itu berkilau saat aku memegangnya. Calypso memungut sekop berkebunnya dan mengarahkaku ke tepi taman, tempat dia mulai menggali.
“Ini moonlace,” Calypso menjelaskan. “Ia cuma bisa ditanam di malam hari.”
Aku menyaksikan cahaya keperakan berkelap-kelip di sekitar kelopaknya. “Apa yang dilakukannya?”
“Lakukan?” Calypso bergumam. “Tumbuhan ini sebenarnya tidak melakukan apa-apa, kurasa. Ia hidup, ia memberi cahaya, ia menyediakan keindahan. Apa ia harus melakukan yang lain?”
“Kurasa tidak,” kataku.
Dia mengambil tumbuhan itu, dan tangan kami bertemu. Jemarinya hangat. Dia menanam moonlace itu dan melangkah mundur, mengamati pekerjaannya.”Aku suka sekali tamanku.”
“Tamanku keren.” Aku setuju. Maksudku, sebenarnya aku bukan tipe pekebun, tapi Calypso punya tempat berteduh di taman yang diselimuti enam sulur mawar yang berbeda warna, kisi-kisi yang dipenuhi kamperfuli, deretan tanaman anggur dengan buah berwarna merah dan ungu yang mencuat darinya, yang bakalan membuat Dionysus duduk tegak dan memohon-mohon diberi.
“Di rumah,” kataku, “ibuku selalu menginginkan taman.”
“Kenapa dia tidak membuat taman?”
“Yah, kami tinggal di Manhattan. Di apartemen.”
“Manhattan? Apartemen?”
Aku menatapnya. “Kau tidak mengerti apa yang kubicarakan, ya?”
“Aku khawatir tidak. Aku tidak pernah meninggalkan Ogygia ... lama sekali.”
“Well, Manhattan itu kota besar, tanpa banyak ruang untuk berkebun.”
Calypso mengerutkan kening. “Itu menyedihkan. Hermes berkunjung dari waktu ke waktu. Dia memberitahuku dunia luar sudah banyak berubah. Aku tidak sadar dunia sudah berubah sebanyak itu sampai-sampai kau tak bisa punya taman.”
“Kenapa kau tidak pernah meninggalkan pulaumu?”
Dia terlihat patah semangat. “Ini hukumanku.”
“Kenapa? Apa yang kau lakukan?”
“Aku? Tidak ada. Tapi aku khawatir ayahku melakukan kesalahan besar. Namanya Atlas.”
Nama itu membuat bulu kudukku berdiri. Aku bertemu Atlas sang Titan musim dingin lalu, dan saat itu tidaklah menggembirakan. Dia praktis mencoba membunuh semua orang yang kusayangi.
“Tetap saja,” kataku ragu-ragu, “tidak adil menghukummu atas apa yang ayahmu lakukan. Aku kenal putri Atlas yang lain. Namanya Zöe. Dia salah satu orang yang paling berani yang pernah kutemui.”
Calypso menelaahku lama-lama. Matanya sedih.
“Ada apa?” tanyaku.
“Apa—apa kau sudah sembuh, Pahlawanku? Apa kau pikir kau akan segera siap untuk pergi?”
“Apa?” tanyaku. “Aku tidak tahu.” Aku menggerakkan kakiku. Rasanya masih kaku. Aku sudah pusing karena berdiri lama sekali. “Kau ingin aku pergi?”
“Aku ....” Suaranya terputus. “Sampai bertemu besok pagi. Tidur yang nyenyak.”
Dia lari ke arah pantai. Aku terlalu bingung untuk melakukan apa pun kecuali menontonnya sampai dia menghilang dalam kegelapan.”
Aku tidak tahu persis sudah berapa lama waktu berlalu. Seperti Calypso bilang, sulit menghitung waktu di pulau itu. Aku tahu aku seharusnya pergi. Sebaik-baiknya, teman-temanku akan mengkhawatirkanku. Separah-parahnya, mereka bisa saja dalam bahaya serius. Aku bahkan mencoba menggunakan sambungan empatiku dengan Grover beberapa kali, tapi aku tidak bisa membuat kontak. Aku benci tidak bisa tahu apakah mereka baik-baik saja atau tidak.
Di sisi lain, aku betul-betul lemah. Aku tidak bisa berdiri lebih dari beberapa jam. Apa pun yang kulakukan di Gunung St. Helens sudah menguras energiku lebih dari apa pun yang pernah kualami.
Aku tidak merasa seperti tawanan atau apa. Aku ingat Hotel dan Kasino Lotus di Las Vegas, tempatku terbujuk ke dalam dunia permainan yang menakjubkan sampai aku hampir melupakan segalanya yang kusayangi. Tapi Pulau Ogygia tidak seperti itu sama sekali. Aku memikirkan Annabeth, Grover, dan Tyson terus-menerus. Aku ingat dengan persis kenapa aku harus pergi. Aku cuma ... tak bisa. Dan kemudian ada Calypso.
Dia tidak pernah banyak bicara soal dirinya, tapi itu malah membuatku ingin tahu lebih banyak. Aku akan duduk di padang rumput, menyesap nektar, dan aku mencoba berkonsentras pada bunga-bunga atau awan atau bayang-bayang di danau, tapi aku sebenarnya menatap Calypso saat dia bekerja, cara dia menyibakkan rambut ke bahunya, dan helai kecil yang jatuh ke wajahnya kapan pun dia berlutut untuk menggali di taman. Kadang-kadang dia akan mengulurkan tangannya dan burung-burung akan terbang keluar dari hutan untuk bertengger di lengannya—perkici, kakaktua, merpati. Dia akan mengucapkan selamat pagi kepada mereka, menanyakan bagaimana kabar di sarang, dan mereka akan bercicip sebentar, lalu terbang menjauh dengan riang. Mata Calypso berbinar. Dia akan memandangku dan kami akan saling tersenyum, tapi hampir seketika dia akan menampakkan ekspresi sedih itu lagi dan berpaling. Aku tidak mengerti apa yang mengganggunya.
Suatu malam kami sedang menyantap makan malam bersama-sama di pantai. Para pelayan tak kasat mata telah menyiapkan meja dengan daging rebus dan sari apel, yang mungkin kedengarannya tidak terlalu menarik, tapi itu karena kamu belum mencicipinya. Aku bahkan tak menyadari keberadaan para pelayan tak kasat mata waktu aku pertama kali sampai di pulau, tapi setelah beberapa lama aku menyadari tempat tidur yanag merapikan diri sendiri, makanan yang memasak diri sendiri, pakaian yang dicuci dan dilipat oleh tangan-tangan tak terlihat.
Pokoknya, Calypso dan aku sedang duduk saat makan malam, dan dia kelihatan cantik di tengah cahaya lilin. Aku sedang bercerita padanya tentang New York dan Perkemahan Blasteran, dan kemudian aku mulai bercerita padanya tentang Grover yang suatu ketika makan apel saat kami menggunakannya untuk main bola. Dia tertawa, menunjukkan senyumnya yang mengagumkan, dan mata kami bertemu. Lalu dia menundukkan pandangannya.
“Lagi-lagi itu,” kataku.
“Apa?”
“Kau terus menjauh, seakan kau mencoba untuk tidak bersenang-senang.”
Dia melekatkan pandangan mataya ke gelas sari apelnya. “Seperti yang kukatakan kepadamu, Percy, aku dihukum. Dikutuk, kau bisa bilang begitu.”
“Bagaimana? Beri tahu aku. Aku ingin menolong.”
“Jangan katakan itu. Tolong jangan katakan itu.”
“Beri tahu aku apa hukumanmu.”
Dia menutupi makanannya yang baru dihabiskan separuh dengan serbet, dan seketika seorang pelayan tak kasat mata menyingkirkan mangkok itu. “Percy, pulau ini, Ogygia adalah rumahku, tempat kelahiraku. Tapi ia juga penjaraku. Aku dalam ... tahanan rumah, kurasa begitulah kau menyebutnya. Aku takkan pernah bisa mengunjungi Manhattan-mu. Ataupun tempat lain. Aku sendirian di sini.”
“Karena ayahmu Atlas.”
Dia mengangguk. “Para dewa tidak memercayai musuh mereka. Dan wajar saja. Aku semestinya tidak mengeluh. Beberapa penjara tidak sebagus penjaraku.”
“Tapi itu tidak adil,” kataku. “Cuma karena kalian berkerabat bukan berarti kau mendukungnya. Putri lain yang kukenal, Zöe Nightshade—dia bertarung melawan Atlas. Dia tidak dipenjara.”
“Tapi, Percy,” kata Calypso lembut, “aku memang mendukungnya pada perang pertama. Dia ayahku.”
“Apa? Tapi para Titan, kan, jahat!”
“Benarkah? Mereka semua? Sepanjang waktu?” dia mengerucutkan bibirnya. “Katakan padaku, Percy. Aku tidak ingin berdebat denganmu. Tapi apa kau mendukung para dewa karena mereka baik, atau karena mereka keluargamu?”
Aku tidak menjawab. Dia ada benarnya. Musim dingin lalu, setelah Annabeth dan aku menyelamatkan Olympus, para dewa berdebat soal apakah mereka sebaiknya membunuhku atau tidak. Itu tak bisa dibilang baik. Tapi tetap saja, aku merasa ingin mendukung mereka karena Poseidon ayahku.
“Mungkin aku salah saat perang,” kata Calypso. “Dan kalau mau adil, para dewa telah memperlakukanku dengan baik. Mereka mengunjungiku sesekali. Mereka membawakanku kabar tentang dunia luar. Tapi mereka bisa pergi. Dan aku tidak bisa.”
“Kat tak punya teman?” tanyaku. “Maksudku ... apakah tidak ada orang yang mau tinggal di sini bersamamu? Ini tempat yang bagus.”
Air mata menetes menuruni pipinya. “Aku ... aku berjanji pada diriku aku takkan membicarakan ini. Tapi—“
Dia diinterupsi oleh bunyi menggemuruh di suatu tempat di danau. Kilau muncul di cakrawala. Kilau itu kian terang dan kian terang, sampai aku bisa melihat semburan api bergerak menyeberangi permukaan air, menghampiri kami.
Aku berdiri dan meraih pedangku. “Apa itu?”
Calypso mendesah. “Pengunjung.”
Saat semburan api mencapai pantai, Calypso berdiri dan membungkuk kepadanya dengan resmi. Nyala api menghilang, dan di depan kami berdirilah pria tinggi dengan overall abu-abu dan penyangga kaki dari logam, jenggot dan rambutnya menguarkan asap.
“Tuan Hephaestus,” kata Calypso. “Ini kehormatan yang langka.”
Sang dewa api menggeram. “Calypso. Cantik seperti biasa. Boleh kami permisi, Sayangku? Aku perlu bicara dengan Percy Jackson muda kita.”
Hephaestus duduk dengan kikuk di balik meja makan dan memesan Pepsi. Pelayan tak kasat mata membawakannya minuman itu, memukanya terlalu mendadak, dan menyemprotkan soda ke sekujur pakaian kerja sang dewa. Hephaestus meraung dan memuntahkan sejumlah sumpah serapah dan menampar kaleng menjauh.
“Pelayan goblok,” gumamnya. “Automaton-automaton yang baguslah yang dia butuhkan. Mereka tidak pernah bertingkah!”
“Pak Hephaestus,” kataku, “apa yang terjadi? Apa Annabeth—“
“Dia baik-baik saja,” katanya. “Gadis banyak akal, yang satu itu. Menemukan jalannya kembali, meberitahuku seluruh kisahnya. Doa cemas sekali, kau tahu.”
“Bapak belum memberitahunya saya baik-baik saja?”
“Buka bagianku untuk mengatakan itu,” kata Hephaestus. “Semua orang pikir kau sudah mati. Aku harus yakin kau kembali sebelum aku memberi tahu semua orang di mana kau berada.”
“Apa maksud Bapak?” kataku. “Tentu saja saya akan kembali!”
Hephaestus mengamatiku dengan skeptis. Dia merogoh sesuatu dari sakunya—piringan logam seukuran iPod. Dia memencet sebyat tombol dan benda itu membesar menjadi miniatur TV perunggu. Di layar ada rekaman berita tentang Gunung St. Helens, kepulan besar api dan abu melayang ke angkasa.
“Masih tidak yakin mengenai letusan susulan,” pembawa berita berkata. “Pihak berwenang telah memerintahkan evakuasi hampir setengah juta orang sebagai tindakan pencegahan. Sementara itu, abu berjatuhan sampai Danau Tahoe dan Vancouver, dan seluruh area Gunung St. Helens ditutup untuk lalu lintas dalam radius 160 kilometer. Meskipun tidak ada kematian yang dilaporkan, luka ringan dan penyakit termasuk—“
Hephaestus mematikannya. “Kau menyebabkan letusan yang lumayan.”
Aku menatap layar perunggu yang kosong. Setengah juta orang dievakuasi? Luka. Penyakit. Apa yang sudah kulakukan?
“Para telekhine bercerai berai.” Sang dewa memberitahuku. “Beberapa terbuyarkan. Beberapa kabur, tak diragukan lagi. Kupikir mereka takkan menggunakan penempaanku dalam waktu dekat ini. Di sisi lain, aku juga tidak. Ledakan menyebabkan Typhon gelisah dalam tidurnya. Kita harus tunggu dan lihat—“
“Saya tidak melepaskannya, tak mungkin, kan? Maksud saya, saya tidak sekuat itu!”
Sang dewa menggerutu. “Tidak sekuat itu, eh? Bisa saja membodohiku. Kau putra sang Pengguncang Bumi, Nak. Kau tak mengetahui kekuatanmu sendiri.”
Itulah hal terakhir yang kuingin dia katakan. Aku tidak bisa mengendalikan diriku di gunung waktu itu. Aku melepaskan begitu banyak energi sampai-sampai aku hampir saja membuyarkan diriku sendiri, menguras kehidupan dari diriku. Sekarang kudapati bahwa aku hampir saja menghancurkan Amerika Bagian Barat Laut dan nyaris membangunkan monster paling mengerikan yang pernah ditawan oleh para dewa. Mungkin aku terlalu berbahaya. Mungkin lebih aman bagi teman-temanku seandainya mereka berpikir aku sudah mati.
“Bagaimana dengan Grover dan Tyson?” tanyaku.
Hephaestus menggelengkan kepalanya. “Tidak ada kabar, aku khawatir. Kurasa Labirin mengurung mereka.”
“Jadi, apa yang harus saya lakukan?”
Hephaestus mengernyit. “Jangan pernah minta saran dari orang tua cacat, Nak. Tapi akan kuberi tahu kau ini. Kau pernah bertemu istriku?”
“Aphrodite.”
“Itu dia. Dia tukang tipu, Nak. Hati-hatilah pada cinta. Cinta bakal memusingkan otakmu dan membuatmu berpikir bahwa atas itu bawah dan bahwa benar itu salah.”
Aku memikirkan pertemuanku dengan Aphrodite, di kursi belakang Cadillac putih di gurun musil lalu. Dia memberitahuku bahwa dia tertarik padaku, dan dia membuatku sengsara dalam urusan asmara, Cuma karena dia menyukaiku.
“Apa ini bagian dari rencananya?” tanyaku. “Apa dia mendaratkan saya di sini?”
“Mungkin. Sulit menebak tindakannya. Tapi seandainya kau memutuskan untuk meninggalkan tempat ini—dan aku tidak mengatakan mana yang benar atau salah—maka aku menjanjikanmu jawaban atas misimu. Aku menjanjikanmu jalan ke Daedalus. Yah, sekarang begini caraya. Cara menjelajahi labirin tidak ada hubungannya dengan benang Ariadne. Sama sekali. Memang, benang juga bisa berhasil. Itulah yang akan diincar pasukan Titan. Tapi cara terbaik untuk melalui labirin ... Theseus mendapatkan bantuan dari sang putri. Dan sang putri adalah manusia fana biasa. Tak ada setetes pun darah dewa dalam dirinya. Tapi dia cerdas, dan dia bisa melihat, Nak. Dia bisa melihat dengan amat jelas. Jadi, yang kukatakan—kupikir kau tahu bagaimana caranya menjelajahi labirin.”
Akhirnya aku tersadar. Kenapa aku tak melihatnya sebelumnya? Hera benar. Jawabannya ada di sana selama ini.
“Iya,” kataku. “Iya, saya tahu.”
“Kalau begitu kau harus memutuskan apakah kau akan pergi atau tidak.”
“Saya ....” Aku ingin berkata ya. Tentu saja aku akan berkata ya. Tapi kata-kata itu tersangkut di tenggorokan ku. Aku mendapati diriku memandang ke danau, dan tiba-tiba membayangkan akan pergi tampaknya sangat berat.
“Jangan putuskan dulu.” Hephaestus menyarankan. “Tunggu sampai fajar. Fajar waktu yang bagus untuk memutuskan.”
“Akankah Daedalus membantu kami?” tanyaku. “Maksud saya, kalau dia memberi Luke cara untuk menjelajahi Labirin, kami akan tamat. Saya melihat mimpi tentang ... Daedalus membunuh keponakannya. Dia jadi getir dan marah dan—“
“Tidak mudah menjadi penemu brilian,” geram Hephaestus. “Selalu sendirian. Selalu salah dipahami. Mudah jadi getir, membuat kekeliruan yang buruk. Bekerja dengan orang lebih sulit daripada bekerja dengan mesin. Dan ketika kau menghancurkan orang, dia tak bisa diperbaiki.”
Hephaestus mengelap tetes terakhir Pepsi dari pakaian kerjanya. “Daedalus memulai dengan cukup baik. Dia menolong Putri Ariadne dan Theseus karena dia kasiha pada mereka. Dia mencoba melakukan tindakan baik. Dan segala hal dalam hidupnya hancur karena itu. Apa itu adil?” Sang dewa mengangkat bahu. “Aku tidak tahu apakah Daedalus akan membantumu, Nak, tapi jangan menghaimi seseorang sampai kau berdiri di penempaannya dan bekerja dengan palunya, oke?”
“Saya—akan saya coba.”
Hephaestus bangun. “Selamat tinggak, Nak. Kerjamu bagus, menghancurkan para telekhine. Aku akan selalu mengingatmu untuk itu.”
Kedengarannya final sekali, ucapan selamat tinggal itu. Lalu dia meletus menjadi semburan api, dan api tersebut bergerak di permukaan air, kembali menuju ke dunia di luar.
Aku berjalan menyusuri pantai selama beberapa jam. Saat aku akhirnya kembali ke padang rumput, sudah sangat larut, mungkin jam empat atau lima pagi, tapi Calypso masih di tamannya, mengurus bunga diterangi cahaya bintang.Moonlace-nya berkilau perak, dan tumbuhan-tumbuhan lain merespons sihirnya, berkilau merah dan kuning serta biru.
“Dia memerintahkanmu untuk kembali,” tebak Calypso.
“Yah, bukan memerintahkan. Dia memberiku pilihan.”
Matanya bertemu padang dengan mataku. “Aku berjanji aku takkan menawarkan.”
“Menawarkan apa?”
“Agar kau tinggal.”
“Tinggal,” kataku. “Seperti ... selamanya?”
“Kau akan kekal di pulau ini,” katanya pelan. “Kau takkan pernah menua atau mati. Kau bisa menyerahkan pertempuran untuk orang-orang lain, Percy Jackson. Kau bisa melarikan diri dari ramalanmu.”
Aku menatapnya terperajat. “Begitu saja?”
Dia mengangguk. “Begitu saja.”
“Tapi ... teman-temanku.”
Calypso bangkit dan menggenggam tanganku. Sentuhannya menyetrum tubuhku. “Kau bertanya tentag kutukanku, Percy. Aku tak ingin memberitahumu. Sebenarnya para dewa mengirimiku pendamping dari waktu ke waktu. Kira-kira setiap seribu tahun, mereka membiarkan seorang pahlawan terdampar ke pantaiku, seseorang yang memerlukan pertolonganku. Aku merawatnya dan berteman dengannya, tapi yang mereka kirim tak pernah acak. Para Moirae yang mengendalikan Takdir memastikan bahwa jenis pahlawan yang mereka kirimkan ....”
Suaranya gemetar, dan dia harus berhenti.
Aku meremas tangannya lebih erat. “Apa? Apa yang kulakukan sampai-sampai membuatmu sedih?”
“Mereka mengirimiku orang yang takkan pernah bisa tinggal,” bisiknya. “Yang takkan pernah bisa menerima tawaranku untuk menjadi pendamping lebih dari sebentar saja. Mereka mengirimiku pahlawan yang mau tidak mau ... jenis orang yang mau tidak mau pasti akan kucintai.”
Malam terasa hening, hanya ada deguk air mancur dan ombak yang berdebur di pantai. Perlu waktu lama bagiku untuk menyadari apa yang dikatakannya.
“Aku?” tanyaku.
“Kalau kau bisa melihat wajahmu.” Dia menahan senyum meskipun matanya masih basah karena air mata. “Tentu saja, kau.”
“Itu sebabnya kau menarik diri selama ini?”
“Aku mencoba begitu keras. Tapi aku tidak bisa. Para Moirae memang kejam. Mereka mengirimkanmu padaku, Pemberani, tahu bahwa kau akan membuatku patah hati.”
“Tapi ... aku cuma ... maksudku, aku kan cuma aku.”
“Itu sudah cukup,” Calypso berjanji. “Aku memberi tahu diriku bahwa aku bahkan takkan membicarakan ini. Aku akan membiarkanmu pergi bahkan tanpa menawarimu tinggal di sini. Tapi aku tidak bisa. Kirasa para Moirae mengetahui itu juga. Kau tidak bisa tinggal bersamaku, Percy. Aku takut itulah satu-satunya cara kau bisa membantuku.”
Aku menatap cakrawala. Semburat merah fajar yang pertama mencerahkan langit. Aku bisa tinggal di sini selamanya, menghilang dari bumi. Aku bisa hidup bersama Calypso, dengan para pelayan tak kasat mata yang mengurus setiap kebutuhanku. Kami bisa menumbuhkan bunga-bunga di taman dan bicara pada burung-burung penyanyi dan berjalan di pantai di bawah langit biru yang sempurna. Tidak ada perang. Tidak ada ramalan. Tidak perlu berpihak lagi.
“Aku tak bisa,” aku memberitahunya.
Dia menunduk sedih.
“Aku tidak akan pernah melakukan apa pun untuk menyakitimu,” kataku, “tapi teman-temanku perlu aku. Aku tahu bagaimaa menolong mereka sekarang. Aku harus kembali.”
Dia memetik bunga dari tamannya—sekuntum moonlace perak. Kilaunya memudar seiring dengan datangnya matahari terbit. Fajar waktu yang bagus untuk memutuskan, kata Hephaestus. Calypso menyelipka bunga itu ke saku T-shirt-ku.
Dia berjinjit dan mencium keningku, seperti untuk memberkati. “Kalau begitu datanglah ke pantaiku, Pahlawanku. Dan kami akan mengantarmu kembali.”
Rakit itu berupa batang-batang kayu seluas tiga meter persegi yang disatukan dengan tali beserta sebatang galah untuk tiang layar dan layar dari kain linen sederhana. Rakit itu kelihatannya takkan sanggup mengarungi laut, atau mengarungi danau.
“Ini akan membawamu ke mana pun yang kau inginkan,” janji Calypso. “Rakit ini lumayan aman.”
Aku meraih tangannya, tapi dia melepaskannya dari genggamanku.
“Mungkin aku bisa mengunjungimu,” kataku.
Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak ada laki-laki yang pernah menemukan Ogygia dua kali, Percy. Saat kau pergi, aku takkan pernah melihatmu lagi.”
“Tapi—“
“Pergilah, kumohon.” Suaranya terbata-bata. “Para Moirae kejam, Percy. Ingat saja aku.” Lalu seulas kecil senyumnya kembali. “Buatlah taman di Manhattan untukku, kau mau, kan?”
“Aku janji.” Aku melangkah ke rakit. Seketika rakit itu mulai berlayar menjauhi pantai.
Saat aku melayari danau, aku menyadari bahwa para Moirae memang betul-betul kejam. Mereka mengirimi Calypso seseorang yang mau tidak mau pasti dicintainya. Tapi kerjanya dua arah. Selama sisa hidupku aku akan selalu memikirkannya. Dia akan selalu menjadi pertanyaan bagaimana seandainya-ku yang terbesar.
Dalam hitungan menit Pulau Ogygia hilang dan kabut. Aku berlayar sendirian di air ke arah matahari terbit.
Lalu kuberi tahu rakit harus melakukan apa. Kusebutkan satu-satunya tempat yang bisa kupikirkan karena aku memerlukan penghiburan dan teman-teman.
“Perkemahan Blasteran,” kataku. “Antarkan aku pulang.”[]
Comments
Post a Comment