Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 11

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB SEBELAS
Aku Membakar Diri
Kupikir kami kehilangan si laba-laba sampai Tyson mendengar bunyi mendesing sayup-sayup. Kami berbelok beberapa kali, mundur ke jalan semula beberapa kali, dan akhirnya menemukan si laba-laba sedang menabrakkan kepala kecilnya ke pintu logam.
Pintu itu terlihat seperti salah satu pintu kapal selam gaya kuno—lonjong, dengan paku-paku logam mengelilingi tepianya dan roda sebagai kenop pintu. Tempat portal seharusnya berada, terdapat pelat kuningan besar, hijau di makan usia, dengan huruf Yunani Êta tertulis di tengahnya.
Kami semua saling pandang.
“Siap ketemu Hephaestus?” kata Grover gugup.
“Nggak,” akuku.
“Ya!” kata Tyson riang, dan memutar roda.
Segera setelah pintu terbuka, si laba-laba bergegas masuk dengan Tyson di belakangnya. Kami bertiga mengikuti, tidak seantusias mereka.
Ruangan tersebut besar sekali. Kelihatannya seperti bengkel mekanik, dengan beberapa kerekan hidrolik. Ada mobil di atas beberapa kerekan, tapi ada benda-benda aneh di atas yang lain: hippalektryon perunggu yang kepala kudanya copot dan sejumlah kabel tergantung keluar dari ekor ayam jagonya, singa logam yang tampaknya disambungkan dengan alat isi ulang baterai, dan kereta perang Yunani yang sepenuhnya terbuat dari api.
Proyek-proyek yang lebih kecil berserakan di lusinan meja kerja. Perkakas tergantung di sepanjang dinding. Ada sketsa masing-masing di papan tempel di dinding, tapi tidak ada yang tampaknya berada di tempat yang tepat. Palu ada di tempat obeng. Stapler ada di tempat gergaji seharusnya terletak.
Di bawah kerekan hidrolik terdekat, yang memuat Toyota Corolla ’98, sepasang kaki terjulur—badan bawah seorang pria besar bercelana kelabu kotor dan sepatu yang bakan lebih besar daripada sepatu Tyson. Satu kaki dikelilingi penyangga logam.
Si laba-laba merayap tepat ke bawah mobil, dan bunyi dentangan berhenti.
“Wah, wah.” Sebuah suara dalam menggelegar dari bawah Corolla. “Ada apa nih?”
Sang mekaik mendorong diri di atas troli dan duduk tegak. Aku pernah melihat Hephaestus sekali sebelumnya, singkat saja di Olympus, jadi kupikir aku sudah siap, tapi penampilannya membuatku menelan ludah.
Menurut tebakanku dia pasti sudah bersih-bersih waktu aku melihatnya di Olympus, atau menggunakan sihir untuk membuat sosoknya tidak terlalu menjijikkan. Di sini di bengkel kerjanya sediri, dia rupanya tak peduli bagaimana penampilannya. Dia mengenakan pakaian kerja yang bernoda minyak dan kotoran. Hephaestus, tersulam di atas saku dadanya. Kakinya berkeriut dan berkelontangan dalam penyangga logamnya saat dia berdiri, dan bahu kirinya lebih rendah daripada bahu kanannya, jadi dia tampak miring meskipun saat berdiri tegak. Bentuk kepalanya tidak wajar dan menggembung. Ekspresi cemberut terpasang permanen di wajahnya. Jenggot hitamnya berasap dan berdesis. Sesekali api liar kecil akan merekah di cambangnya kemudian padam. Tangannya seukuran sarung tangan catcher bisbol, tapi dia mengangani si laba-laba dengan keahlian menakjubkan. Dia membongkar laba-laba itu dalam dua detik, kemudian merakitnya lagi.
“Nah,” gumamnya kepada dirinya sendiri. “Jauh lebih baik.”
Si laba-laba bersalto gembira di telapak tangannya, menembakkan benang logam ke langit-langit, dan berayun pergi.
Hephaestus memelototi kami dari atas. “Aku tidak membuat kalian, kan?”
“Eh,” kata Annabeth, “tidak, Pak.”
“Bagus,” gerutu sang dewa. “Pekerjaan yang jelek.”
Dia menelaah Annabeth dan aku. “Blasteran,” katanya bersungut-sungut. “Bisa saja automaton, tentu saja, tapi mungkin bukan.”
“Kita sudah pernah bertemu, Pak.” Aku memberitahunya.
“Masa sih?” Sang dewa bertanya tak acuh. Aku punya firasat dia sama sekali tidak peduli. Dia Cuma mencoba memikirkan bagaimana rahangku berekra, apakah ada engsel atau tuasnya atau apa. “Yah, kalau begitu, seandainya aku tidak menghajarmu sampai jadi bubur waktu pertama kali kita bertemu, kurasa aku tidak perlu melakukannya sekarang.”
Dia memandang Grover dan mengernyitkan dahi. “Satir.” Lalu dia memandang Tyson, dan matanya berbinar. “Wah, Cyclops. Bagus, bagus. Apa yang kau lakukan, bepergian dengan rombongan ini?”
“Eh,” kata Tyson, menatap sang dewa dengan kagum.
“Ya, memang benar,” Hephaestus setuju. “Jadi, pasti ada alasan bagus sampai-sampai kalian menggangguku. Suspensi Corolla ini bukan perkara kecil, kalian tahu.”
“Pak,” kata Annabeth ragu-ragu, “kami sedang mencari Daedalus. Kami pikir—“
“Daedalus?” raung sang dewa. “Kalian menginginkan bajingan tua itu? Kalian berani-beraninya mencarinya!”
Jenggotnya menyala menjadi kobaran api dan mata hitamnya berpijar.
“Eh, ya, Pak, tolong,” kata Annabeth.
“Huh. Buang-buang waktuku saja.” Dia mengerutkan kening kepada sesuatu di meja kerjanya dan dan terpincang-pinjang ke sana. Dia memungut gumpalan pegas dan piringan logam dam mengutak-atiknya. Dalam beberapa detik dia sudah memegang rajawali perunggu-perak. Rajawali itu merentangkan sayap logamnya, mengedip –ngedipkan mata obsidiannya, dan terbang mengitari ruangan.
Tyson tertawa dan bertepuk tangan. Si burung mendarat di bahu Tyson dan menotol-notol kupingnya dengan sayang.
Hephaestus menatap Tyson. Ekspresi cemberut sang dewa tidak berubah, tapi kupikir ada kerlip lebih ramah di matanya. “Aku punya perasaan kau punya sesuatu untuk diberitahukan kepadaku, Cyclops.”
Senyum Tyson memudar. “Y-ya, Tuan. Kami bertemu Sang Tangan Seratus.”
Hephaestus mengangguk, terlihat tidak terkejut. “Briares?”
“Ya. Dia—dia takut. Dia nggak mau membantu kami.”
“Dan itu mengganggumu.”
“Ya!” Suara Tyson gemetar. “Briares harusnya kuat! Dia lebih tua dan lebih kuat daripada cyclops. Tapi dia kabur.”
Hephaestus menggeram. “Ada saatnya aku mengagumi Para Tangan Seratus. Dulu di masa perang yang pertama. Tapi orang-orang, monster, bahkan para dewa berubah, Cyclops Muda. Kau tidak bosa memercayai mereka. Lihatlah ibuku tersayang—Hera. Kau bertemu dia, kan? Dia akan tersenyum di depanmu dan bicara soal betapa pentingnya keluarga, kan? Padahal dia mengusirku dari Gunung Olympus waktu melihat wajah jelekku.”
“Tapi saya pikir Zeus yang melakukan itu pada Bapak,” kataku.
Hephaestus berdeham dan meludah ke tempolong perunggu. Dia menjentikkan jarinya, dan si robot rajawali terbang kembali ke meja kerja.
“Ibu suka menceritakan versi yang itu,” gerutunya. “Membuatnya tampak lebih menyenangkan, kan? Menyalahkan semua pada ayahku. Sebenarnya, ibuku suka keluarga, tapi dia suka jenis keluarga tertentu. Keluarga yang sempurna. Dia melihatku sekali dan ... yah, aku tidak cocok dengan gambaran itu, kan?”
Dia menarik selembar bulu dari punggung si rajawali, dan automaton itu pun tercerai berai.
“Dengarkan aku, Cyclops Muda,” kata Hephaestus, “kau tidak bisa memercayai orang lain. Yang bisa kau percayai hanyalah karya tanganmu sendiri.”
Tampaknya seperti cara hidup yang sepi. Plus, aku sebenarnya tak benar-benar memercayai karya Hephaestus. Suatu kali di Denver, laba-laba mekanisnya hampir membunuh Annabeth dan aku. Dan tahun lalu, patung Talos rusaklah yang mengambil nyawa Bianca—satu lagi proyek kecil Hephaestus.
Dia memusatkan perhatian padaku dan menyipitkan matanya, seolah dia sedang membaca pikiranku. “Oh, yang satu ini tidak suka aku,” batinnya. “Santai saja, aku terbiasa dengan yang seperti itu. Apa yang akan kau minta dariku, Blasteran Kecil?”
“Kami sudah memberi tahu Bapak,” kataku. “Kami harus menemukan Daedalus. Ada anak muda bernama Luke yang bekerja untuk Kronos. Dia mencoba menemukan cara untuk menjelajahi Labirin supaya dia bisa menyerbu perkemahan kami. Kalau kami nggak menemukan Daedalus lebih dulu—“
“Dan aku sudah memberitahumu, Bocah. Mencari Daedalus buang-buang waktu. Dia takkan membantumu.”
“Kenapa tidak?”
Hephaestus mengangkat bahu. “Beberapa dari kami dilemparkan dari sisi gunung. Beberapa dari kami ... cara kami belajar untuk tidak memercayai orang lain bahkan jauh lebih menyakitkan. Mintai aku emas. Atau pedang yang berkobar. Atau kuda tunggang ajaib. Ini bisa kukabulka untuk kalian dengan mudah. Tapi cara untuk menemui Daedalus? Itu permohonan yang mahal.”
“Kalau begitu Bapak tahu di mana dia berada,” desak Annabeth.
“Mencari terus tidaklah bijak, Nak.”
“Ibu saya bilang mencari pada dasarnya adalah sifat alami dari kebijaksanaan.”
Hephaestus menyipitkan matanya. “Memangnya siapa ibumu?”
“Athena.”
“Pantas.” Dia mendesah. “Dewi yang baik—Athena. Sayang dia bersumpah takkan pernah menikah. Baiklah, Blasteran. Aku bisa memberitahumu apa yang ingin kau ketahui. Tapi ada harganya. Aku ingin kau melakukan sesuatu.”
“Sebutkan,” kata Annabeth.
Hephaestus tertawa, sungguhan—bunyi menggelegar seperti puputan yang membesar nyala api. “Dasar pahlawan,” katanya, “selalu membuat janji dengan terburu-buru. Betapa menyegarkan!”
Dia menekan sebuah tombol di bangku kerjanya, dan kerai logam terbuka di dinding. Entah itu jendela besar atau TV layar lebar, aku tak tahu yang mana. Kami melihat gunung kelabu yang dikelilingi hutan. Itu pasti gunung berapi, soalnya asap mengepul dari kawahnya.
“Salah satu penempaanku,” kata Hephaestus. “Aku punya banya, tapi itu dulu favoritku.”
“Itu Gunung St. Helens,” kata Grover. “Hutan-hutan luar biasa di sekitar sana.”
“Kau pernah ke sana?” tanyaku.
“Mencari ... kau tahu, Pan.”
“Tunggu,” kata Annabeth sambil memandang Hephaestus. “Bapak bilang tempat itu dulu favorit Bapak. Apa yang terjadi?”
Hephaestus menggaruk-garuk jenggotnya yang berasap. “Yah, di situlah Typhon di monster terperangkap. Dulunya di bawah Gunung Etna, tapi waktu kami pindah ke Amerika, kekuatannya dikekang di bawah Gunung St. Helens. Sumber api yang luar biasa, tapi agak berbahaya. Selalu ada peluang kalau-kalau dia melarika diri. Banyak letusan akhir-akhir ini, berasap sepanjang waktu. Dia gelisah karena pemberontakan Titan.”
“Apa yang Bapak ingin supaya kami lakukan?” kataku. “Bertarung melawan dia?”
Hephaestus mendengus. “Itu bunug diri. Para dewa sendiri kabur dari Typhon saat dia bebas. Tidak, berdoalah supaya kalian tidak perlu melihatnya, apalagi bertarung melawannya. Tapi akhir-akhir ini aku merasakan penyusup di gunungku. Seseorang atau sesuatu sedang menggunakan penempaanku. Waktu aku pergi ke sana, tempat itu kosong, tapi aku tahu tempat itu digunakan. Mereka merasakan kedatanganku, dan mereka menghilang. Aku mengirimkan para automatonku untuk menyelidiki, tapi mereka tidak kembali. Sesuatu yang ... kuno ada di sana. Jahat. Aku ingin tahu siapa yang berani-beraninya melanggar wilayahku, dan apakah mereka bermaksud membebaskan Typhon.”
“Bapak ingin kami mencari tahu siapa itu,” kataku.
“Aye,” kata Hephaestus. “Pergilah ke sana. Mereka mungkin tidak merasakan kedatangan kalian. Kalian bukan dewa.”
“Baguslah kalau Bapak sadar,” gumamku.
“Pergi dan cari tahu yang kalian bisa,” kata Hephaestus. “Lapor balik padaku, dan akan kuberi tahu kalian apa yang perlu kalian ketahui tentang Daedalus.”
“Baiklah,” kata Annabeth. “Bagaimana kami sampai ke sana?”
Hephaestus bertepuk tangan. Si laba-laba berayun turun dari kasau. Annabeth berjengit saat si laba-laba mendarat di kakinya.
“Ciptaanku akan menunjukkan jalannya kepada kalian,” kata Hpehaestus. “Lewat Labirin tidak terlalu jauh. Dan cobalah tetap hidup, ya? Manusia jauh lebih rapuh daripada automaton.”
Kami baik-baik saja sampai kami menabrak akar pohon. Si laba-laba terus melaju dan kami mencoba mengikuti kecepatannya, tapi kemudian kami melihat terowongan di samping yang digali dari tanah, dan terbungkus akar-akar tebal. Grover langsung berhenti berjalan.
“Apa itu?” tanyaku.
Dia tidak bergerak. Dia menatap terowongan gelap itu sambil ternganga. Rambut keritingnya berdesir di embus angin.
“Ayo!” kata Annabeth. “Kita harus terus bergerak.”
“Ini jalannya,” gumam Grover terperagah. “Di sini.”
“Jalan apa?” tanyaku. “Maksudmu ... menuju Pan?”
Grover memandang Tyson. “Apa kau nggak menciumnya?”
“Tanah,” kata Tyson. “Dan tumbuhan.”
“Ya! Ini jalannya. Aku yakin itu!”
Di depan, si laba-laba turun makin jauh ke koridor batu. Beberapa detik lagi dan kami bakal kehilangannya.
“Kita akan kembali,” janji Annabeth. “Dalam perjalanan kita kembali ke Hephaestus.”
“Terowongan ini pasti sudah hilang saat itu,” kata Grover. “Aku harus mengikutinya. Pintu seperti ini nggak terbuka terus!”
“Tapi kita nggak bisa,” kata Annabeth. “Penempaan!”
Grover menatap Annabeth sedih. “Aku harus, Annabeth. Tidakkah kau mengerti?”
Annabeth terlihat putus asa, sepertinya dia tidak mengerti sama sekali. Si laba-laba hampir hilang dari pandangan. Tapi aku memikirkan obrolanku dengan Grover semalam, dan aku tahu apa yang harus kami lakukan.
“Kita berpencar,” kataku.
“Nggak!” kata Annabeth. “Itu terlalu berbahaya. Bagaimana kita akan menemukan satu sama lain lagi? Dan Grover nggak bisa pergi sendirian.”
Tyson meletakkan tangannya di bahu Grover. “Aku—aku akan pergi dengannya.”
Aku tidak bisa memercayai apa yang kudengar. “Tyson, apa kau yakin?”
Si jagoan besar mengangguk. “Bocah kambing perlu bantuan. Akan kami temukan si dewa itu. Aku nggak seperti Hephaestus. Aku percaya sama teman-teman.”
Grover menarik napas dalam-dalam. “Percy, kita akan menemukan satu sama lain lagi. Kita masih punya sambungan empati. Aku cuma ... harus melakukannya.”
Aku tidak menyalahkannya. Ini tujuan hidupnya. Kalau dia tidak menemukan Pan dalam perjalanan ini, dewan tidak akan memberinya kesempatan lagi.
“Kuharap kau benar,” kataku.
“Aku tahu aku benar.” Aku tidak pernah mendengarnya begitu yakin tentang apa pun, kecuali mungkin soal enchilada keju yang lebih enak daripada enchilada ayam.
“Hati-hati,” kataku padanya. Lalu aku memandang Tyson. Dia menelan ludah untuk menahan tangis dan memberiku pelukan yang hampir saja meremas mataku sehingga keluar dari lubangnya. Lalu dia dan Grover menghilang menembus terowongan akar pohon dan lenyap di kegelapan.
“Ini nggak bagus,” kata Annabeth. “Berpencar betul-betul ide jelek.”
“Kita akan bertemu mereka lagi,” kataku, mencoba terdengar yakin. “Sekarang, ayolah. Si laba-laba sudah jauh!”
Tidak lama sebelum terowongan mulai jadi panas.
Dinding-dinding batu berpijar. Udara terasa seperti apabila kami berjalan menembus oven. Terowongan melandai dan aku bisa mendengar gemuruh keras, seperti sungai dari logam. Si laba-laba berjalan cepat, dengan Annabeth tepat di belakangnya.
“Hei, tunggu.” Aku memanggilnya.
Dia menoleh ke belakangku. “Apa?”
“Sesuatu yang Hephaestus bilang tadi ... soal Athena.”
“Dia bersumpah takkan pernah menikah,” kata Annabeth. “Sepeti Artemis dan Hestia. Dia salah satu dewi perawan.”
Aku berkedip. Aku tidak pernah mendengar itu soal Athena sebelumnya. “Tapi kalau begitu—“
“Bagaimana bisa dia punya anak blasteran?”
Aku mengangguk. Aku mungkin saja merona, tapi mudah-mudahan hawanya panas sekali supaya Annabeth tak menyadarinya.
“Percy, kau tahu bagaimana Athena dilahirkan?”
“Dia mencuat keluar dari kepala Zeus dengan pakaian perang lengkap atau apalah.”
“Tepat. Dia tidak dilahirkan dengan cara normal. Dia secara harfiah dilahirkan dari pikiran. Anak-anaknya dilahirkan dengan cara yang sama. Ketika Athena jatuh cinta pada seorang pria fana, cinta itu murni intelektual, seperti waktu dia mencintai Odysseus dalam cerita-cerita lama. Anak-anaknya dilahirkan dari pertemuan dua pikiran. Dia bakal memberitahumu bahwa itulah jenis cinta yang termurni.”
“Jadi, ayahmu dan Athena ... jadi kau bukan ....”
“Aku ini anak pikiran,” kata Annabeth. “Secara harfiah. Anak-anak Athena mencuat keluar dari pikiran ilahiah ibu kami dan kecerdasan fana ayah kami. Kami semestinya merupakan hadiah, berkah dari Athena bagi pria yang disukainya.”
“Tapi—“
“Percy, si laba-laba sudah jauh. Apa kau betul-betul ingin supaya aku menjelaskan bagaimana detail persisnya aku dilahirkan?”
“Eh ... nggak. Nggak apa-apa kok.”
Dia menyeringai. “Kupikir juga begitu.” Dan dia berlari mendahuluiku. Aku mengikuti, tapi aku tidak yakin apakah aku bakal memandang Annabeth dengan cara yang sama lagi. Kuputuskan bahwa beberapa hal sebaiknya tetap menjadi misteri.
Gemuruh kian keras. Setelah kira-kira tujuh ratus meter lagi, kami tiba di gua seukuran stadion Super Bowl. Pengiring kami si laba-laba berhenti dan melingkar menjadi bola. Kami sudah sampai di penempaa Hephaestus.
Tidak ada lantai, cuma lava yang menggelegak ratusan kaki di bawah. Kami berdiri di bubungan batu yang mengelilingi gua. Jaringan jembatan logam terentang melintasinya. Di tengah-tengah ada podium besar dengan segala macam mesin, kuali, alat tempa, dan paron terbesar yang pernah kulihat—balok besi seukuran rumah. Makhluk-makhluk bergerak ke sana-kemari di sepenjuru podium—dan beberapa sosok gelap aneh, tapi mereka terlalu jauh sehingga detailnya tidak jelas.
“Kita enggak akan pernah bisa menyelinap dekat mereka,” kataku.
Annabeth memungut si laba-laba logam dan menyelipkannya ke dalam sakunya. “Aku bisa. Tunggu di sini.”
“Tunggu dulu!” kataku, tapi sebelum aku bisa mendebatnya, dia memasang topi Yankee-nya dan berubah menjadi tak kasat mata.
Aku tidak berani memanggilnya, tapi aku tidak menyukai gagasan soal dirinya yang mendekati penempaan sendirian. Kalau makhluk-makhluk di sana bisa merasakan datangnya dewa, apakah Annabeth bakal aman?”
Aku menoleh kebelakang ke terowongan Labirin. Belum-belum aku sudah kangen Grover dan Tyson. Akhirnya kuputuskan aku tak bisa diam saja. Aku merayap di sepanjang tepian luar danau lava, berharap supaya aku bisa mendapatkan sudut pandang yang lebih baik untuk melihat apa yang terjadi di tengah-tengah.
Panasnya mengerikan. Peternakan Geryon bagaikan negri ajaib di musim dingin dibandingkan dengan ini. Segera saja aku sudah bersimbah keringat. Mataku perih kena asap. Aku bergerak terus, mencoba tetap jauh-jauh dari tepi, sampai kutemukan bahwa jalanku terhalang oleh gerobak logam, seperti yang digunakan di tambang bawah tanah. Kuangkat terpalnya dan kutemukan bahwa gerobak itu separuh penuh, diisi oleh rongsokan logam. Aku hendak menyelipkan diriku mengitarinya ketika kudengar suara-suara dari depan, mungkin dari terowongan samping.
“Bawa masuk?” tanya seseorang.
“Iya,” kata yang lain. “Filmnya hampir selesai.”
Aku panik. Aku tak punya waktu untuk mundur. Tidak ada tempat sembunyi kecuali di ... gerobak. Aku bergegas-gegas masuk dan menarik terpal menutupiku, berharap semoga tidak ada yang melihatku. Aku melingkarkan jemariku di sekeliling Reptide, kalau-kalau aku harus bertarung.
Gerobak tiba-tiba bergerak maju.
“Oi.” Suara serak berkata. “Benda ini beratnya seton.”
“itu perunggu langit,” yang lain berkata. “Apa yang kau harapkan?”
Aku didorong terus. Kami berbelok di pojokan dan dari bunyi roda yang bergema di dinding, menurut tebakanku kami baru turun melewati terowongan dan masuk ke ruangan yang lebih kecil. Mudah-mudahan aku tak akan ditumpahka ke kuali yang melebur. Kalau mereka mulai menuangkanku, aku bakal harus memperjuangkan jalan keluarku cepat-cepat. Aku mendengar banyak suara obrolan dan percakapan yang tidak terdengar manusiawi—seperti suara di antara gonggongan anjing laut dan geraman anjing. Ada bunyi-bunyi lain juga—seperti proyektor film model lama dan rekaman suara berupa narasi.
“Pasang saja di belakang.” Suara baru memerintahkan dari seberang ruangan. “Sekarang, Anak-anak Muda, silahkan perhatikan filmnya. Akan ada waktu untuk bertanya setelahnya.”
Suara-suara memelan, dan aku bisa mendengar film itu.
Saat monster laut muda tumbuh dewasa, kaa si narator, perubahan terjadi pada tubuh monster. Kau mungkin sadar taringmu makin panjang dan kau mungkin tiba-tiba memiliki hasrat untuk melahap manusia. Perubahan ini sepenuhnya normal dan terjadi pada semua monster muda.
Cemooh penuh semangat memenuhi ruangan. Sang guru—menurut tebakanku itu pasti sang guru—menyuruh anak-anak muda supaya diam, dan film berlanjut. Aku tidak memahami sebagian besar filmnya, dan aku tidak berani melihat. Film itu terus bicara tentang masa petumbuhan dan masalah jerawat karena bekerja di penempaan, dan perawatan kebersihan sirip yang tepat, dan akhirnya film pun berakhir.
“Nah, Anak-anak Muda,” ujar sang instruktur, “apa nama ilmiah spesies kita?”
“Monster laut!” gonggong salah satu dari mereka.
“Bukan. Yang lain?”
“Telekhine!” Moster lain menggeram.
“Bagus sekali,” kata sang instruktur. “Dan kenapa kita di sini?”
“Balas dendam!” teriak beberapa monster.
“Ya, ya, tapi kenapa?”
“Zeus jahat!” salah satu berkata. “Dia mengasingkan kita ke Tartarus cuma karena kita menggunakan sihir!”
“Tepat,” kata sang instruktur. “Setelah kita membuat begitu banyak senjata terbaik para dewa. Trisula Poseidon, misalnya. Dan tentu saja—kita membuat senjata para Titan yang terhebat! Namun demikian, Zeus mengasingkan kita dan mengandalkan para cyclops kikuk itu. Itulah sebabnya kenapa kita mengambil alih penempaan Hephaestus di pencuri. Dan sebentar lagi kita akan menguasai tungku bawah laut, rumah nenek moyang kita!”
Aku mencengkeram bolpen-pedangku. Makhluk-makhluk pencemooh ini menciptakan trisula Poseidon? Apa yang mereka bicarakan? Aku tidak pernah mendengar tentang telekhine.
“Dan oleh karena itu, Anak-anak Muda,” sang instruktur melanjutkan, “siapa yang kita layani?”
“Kronos!” teriak mereka.
“Dan saat kalian tumbuh menjadi telekhine besar, akankah kalian membuat senjata untuk pasukannya?”
“Ya!”
“Bagus sekali. Nah, kami membawakan kalian rongsokan untuk berlatih. Mari kita lihat seberapa kreatifnya kalian.”
Ada bunyi ribut gerakan dan suara-suara bersemagat yang datang ke arah gerobak. Aku siap-siap membukan tutup Reptide-ku. Terpal dilemparkan ke belakang. Aku melompat, pedang perungguku mencuat menjadi hidup di tanganku, dan kudapati diriku berhadap-hadapan dengan sekumpulan ... anjing.
Yah, wajah mereka memang mirip anjing, dengan moncong hitam, mata cokelat, dan telinga lancip. Badam mereka licin dan hitam seperti mamalia laut, dengan tubuh bagian bawah montok yang separuh berupa sirip, separuh kaki, dan tangan ala mausia bercakar tajam. Kalau kau menggabungkan seorang anak, seekor anjing Doberman, dan seekor singa laut, akan kau dapatkan sesuatu yang mirip seperi apa yang kulihat.
“Blasteran!” geram seekor.
“Makan dia!” teriak yang lain.
Tapi hanya itulah yang mereka lakukan sebelum aku mengayun Reptide lebar-lebar dan membuyarkan monster sebaris depan penuh.
“Mundur!” teriakku pada sisanya, mencoba terdengar kejam. Di belakang mereka berdirilah instruktur mereka—telekhine setinggi 1,8 meter bertaring Doberman yang menyerigai kepadaku. Aku memelototinya segalak mungkin.
“Pelajaran baru, Murid-murid.” Aku mengumumkan. “Sebagian besar monster akan terbuyarkan ketika disayat menggunakan pedang perunggu langit. Perubahan ini sepenuhnya normal, dan akan terjadi pada kalian sekarang juga kalau kalian nggak MUNDUR!”
Yang membuatku kaget, peringatanku berhasil. Para monster mundur, tapi jumlah mereka paling tidak ada dua puluh. Faktor menyeramkaku tidak akan bertahan lama.
Aku melompat dari gerobak, berteriak, “KELAS DIBUBUARKAN!” dan lari ke jalan keluar.
Para monster menyerbu mengejarku, menggonggong dan menggeram. Kuharap mereka tidak bisa berlari terlalu cepat dengan kaki dan sirip kecil montok mereka itu, tapi mereka tertatih-tatih lumayan cepat. Terpujulah dewa karena ada pintu di terowongan yang mengarah ke gua utama. Aku membatingnya tertutup dan memutar roda kenop untuk menguncinya, tapi aku ragu itu akan menahan mereka lama-lama.
Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Annabeth ada di suatu tempat di luar sana, tak kasat mata. Kesempatan kami untuk misi pengintaian diam-diam baru saja hancur. Aku lari ke arah podium di tengah-tengah danau lava.
“Annabeth!” teriakku.
“Ssst!” Tangan tak kasat mata membungkam mulutku dan bergulat menarikku ke belakang sebuah kuali perunggu besar. “Kau mau membuat kita terbunuh?”
Aku menemukan kepalanya dan mencopot topi Yankees-nya. Dia berdenyar menjadi nyata di hadapanku, cemberut, wajahnya coreng moreng terkena abu dan kotoran berminyak. “Percy, apa masalahmu?”
“Kita bakal kedatangan teman!” Aku menjelaskan cepat-cepat tentang kelas orientasi monster. Matanya membelalak.
“Jadi, mereka itu rupanya,” katanya. “Telekhine. Aku harusnya tahu. Dan mereka membuat... Yah, lihat saja.”
Kami mengintip ke atas kuali. Di tengah-tengah kuali berdirilah empat monster laut, tapi mereka sudah dewasa, tingginya paling tidak 2,4 meter. Kulit hitam mereka berkilat diterangi cahaya api saat mereka bekerja, percikan api beterbangan saat mereka bergantian memukuli potongan panjang logam panas membara.
“Bilah ini hampir jadi,” kata yang satu. “Perlu didinginkan lagi dalam darah untuk menyatukan logamnya.”
“Aye.” Yang kedua berkata. “Hasilnya pasti lebih tajam daripada sebelumnya.”
“Apa itu?” bisikku.
Annabeth menggelengkan kepalanya. “Mereka terus bicara soal menyatukan logam. Aku ingin tahu—“
“Mereka bicara soal senjata para Titan yang terhebat,” kataku. “Dan mereka ... mereka bilag mereka membuat trisula ayahku.”
“Telekhine mengkhianati para dewa,” kata Annabeth. “Mereka mempraktikkan sihir hitam. Aku nggak tahu apa tepatnya, tapi Zeus mengusir mereka ke Tartarus.”
“Bersama Kronos.”
Dia mengangguk. “Kita harus keluar—“
Segera setelah dia mengatakan itu pintu ruang kelas meledak dan para telekhine muda menghambur ke luar. Mereka saling tabrak, mencoba menentuka akan menyerang ke arah mana.
“Pakai lagi topimu,” kataku. “Keluar!”
“Apa?” pekik Annabeth. “Nggak! Aku nggak akan meninggalkanmu.”
“Aku punya rencana. Akan kualihkan perhatian mereka. Kau bisa pakai si laba-laba logam—mungkin ia akan membimbingmu kembali ke Hephaestus. Kau harus beri tahu dia apa yang terjadi.”
“Tapi kau akan dibunuh!”
“Aku akan baik-baik saja. Lagi pulan, kita nggak punya pilihan.”
Annabeth memelototiku seakan dia bakal meninjuku. Dan kemudian dia melakukan sesuatu yang bahkan lebih mengejutkanku. Dia menciumku.
“Hati-hati, Otak Ganggang.” Dia memakai topinya dan menghilang.
Aku mungkin saja bakal duduk di sana seharian sambil memandangi lava dan mencoba mengingat-ingat siapa namaku, tapi para monster laut menyentakkanku kembali ke kenyataan.
“Di sana!” teriak seekor telekhine. Sekelas telekhine menyerbu melintasi jembatan ke arahku. Aku berlari ke tengah-tengah podium, membuat keempat monster laut yang lebih tua kaget sekali sampai-sampai mereka menjatuhkan bilah pedang yang panas membara itu. Panjangnya kira-kira 1,8 meter dan membentuk melengkung seperti bulan sabit. Aku sudah melihat banyak hal mengerikan, tapi benda entah-apa yang belum selesai ini menakutiku lebih lagi.
Para monster yang lebih tua mengatasi keterkejutan mereka dengan cepat. Ada empat lereng untuk turun dari podium, dan sebelum aku bisa melesat ke arah mana pun, masing-masing dari mereka sudah menutupi jalan keluar.
Yang tertinggi mencibir. “Ada apa nih? Putra Poseidon?”
“Ya.” Yang lain menggeram. “Aku bisa mencium laut dalam darahnya.”
Aku mengangkat Reptide. Jantungku berdebar-debar.
“Serang salah satu dari kami, Blasteran,” monster ketiga berkata, “dan yang lain akan mengoyakmu sampai tercabik-cabik. Ayahmu mengkhianati kami. Dia mengambil hadiah kami dan tak mengatakan apa pun saat kami diasingkan ke lubang. Kami akan melihat dia disayat sampai teriris-iris. Dia dan seluruh bangsa Olympia.”
Kuharap aku punya rencana. Kuharap aku tidak berbohong pada Annabeth tadi. Aku ingin dia keluar dengan selamat, dan kuharap dia cukup waras untuk melakukanya. Tapi sekarang aku tersadar bahwa ini mungkin akan menjadi tempatku mati. Tidak ada ramalan buatku. Aku akan dikalahkan di jantung gunung berapi oleh sekawanan makhluk singa laut bermuka anjing. Para telekhine muda sekarang sudah ada di podium juga, menyeringai dan menunggu untuk melihat bagaimana empat tetua mereka akan menanganiku.
Aku merasakan sesuatu membakar sisi kakiku. Peluit es dalam sakuku bertambah dingin. Kalau aku perlu bantuan, sekaranglah saatnya. Tapi aku ragu-ragu. Aku tak percaya pada Quintus.
Sebelum aku bisa memutuskan, telekhine tertinggi berkata, “Ayo kita lihat sekuat apa dia. Ayo kita lihat berapa lama sampai dia terbakar!”
Dia menyendok segenggam lava dari tungku terdekat dengan tangannya. Lava membuat tangannya membara, tapi hal ini tampak tidak mengusiknya sama sekali. Telekhine-telekhine lebih tua yang lain melakukan hal yang sama. Yang pertama melemparkan segumpal batu meleleh kepadaku dan membuat celanaku terbakar. Dua gumpalan lagi memerciki dadaku. Kujatuhkan pedangku karena kengerian yang amat sangat dan menepuk-nepuk pakaianku. Api menelanku. Anehnya, mula-mula rasanya hangat, tapi seketika langsung bertambah panas.
“Pembawaan ayahmu melindungimu,” salah satu berkata. “Membuatmu sulit terbakar. Tapi tidak mustahil, Anak Muda. Tidak mustahil.”
Mereka melemparkan lebih banyak lava lagi kepadaku, dan kuingat diriku menjerit-jerit. Seluruh tubuhku terbakar. Nyerinya lebih parah daripada apa pun yang pernah kurasakan. Aku dimakan api. Aku tergolek ke lantai logam dan mendengar anak-anak monster laut melolong gembira.
Lalu kuingat suara naiad sungai di peternakan: Air ada dalam diriku.
Aku perlu laut. Aku merasakan tarikan di perutku, tapi aku tidak punya apa-apa di sekitar untuk membantuku. Tak ada keran atau sungai. Bahkan cangkang kerang yang diawetkan pun tak ada kali ini. Dan lagi pula, kali terakhir aku melepaskan kekuatanku di istal, ada momen menakutkan waktu kekuatan itu hampir lepas dari kendaliku.
Aku tidak punya pilihan. Aku memanggil lautan. Aku meraih bagian dalam diriku dan mengingat ombak dan arus, kekuatan laut yang tak berujung. Dan aku membiarkannya terbebas dalam satu teriakan mengerikan.
Setelahnya, aku tidak pernah bisa menggambarkan apa yang terjadi. Ledakan, ombak pasang, dan puting beliung kekuatan secara serempak menangkapku dan menghempaskanku ke bawah, ke dalam lava. Api dan air bertabrakan, menghasilkan uap superpanas, dan aku terlontar ke atas dari jantung gunung berapi dalam ledakan besar, cuma sepotong benda yang terapung-apung yang dilemparkan oleh jutaan kilogram tekanan. Hal terakhir yang kuingat sebelum kehilangan kesadaran adalah terbang, terbang begitu tinggi sehingga Zeus takkan pernah memaafkanku, dan kemudian mulai jatuh, asap dan api dan air menyembur dariku. Aku adalah komet yang meluncur ke arah bumi.[]

Comments