Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 14

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB EMPAT BELAS
Saudaraku Berduel Mati-matian Melawanku
Pintu logam itu setengah tersembunyi di balik keranjang cucian yang dipenuhi handuk kotor hotel. Aku tidak melihat apa pun yang aneh soal itu, tapi Rachel menunjukkan kepadaku ke mana harus melihat, dan aku mengenali simbol biru pudar yang tertoreh di logam.
“Pintu ini sudah lama nggak digunakan,” kata Annabeth.
“Aku pernah mencoba membukanya,” kata Rachel, “cuma karena penasaran. Pintu ini tertutup rapat, sudah karatan.”
“Bukan.” Annabeth melangkah maju. “Pintu itu cuma perlu sentuhan seorang blasteran.”
Memang benar, segera setelah Annabeth meletakkan tangannya di tanda itu, pintu itu mulai berkilau biru. Segel pintu logam terpatahkan dan pintu itu pun mulai berderit terbuka, menampakkan tangga gelap yang mengarah ke bawah.
“Wow.” Rachel terlihat tenang, tapi aku tidak tahu apakah dia berpura-pura atau tidak. Dia sudah berganti pakaian dengan T-shirt Museum Seni Modern usang dan jins bercorat-coret spidolnya yang biasa, sikat rambut plastiknya menyembul keluar dari sakunya. Rambut merahnya diikat ke belakang, tapi masih ada bercak-bercak emas di sana, dan bekas-bekas glitter emas di wajahnya. “Jadi ... silakan?”
“Kau pemandunya,” kata Annabeth, pura-pura sopan. “Bimbinglah kami.”
Tangga mengarah ke bawah ke terowongan bata besar. Keadaannya begitu gelap sehingga aku tidak bisa melihat enam puluh sentimeter di hadapan kami, tapi Annabeth dan aku sudah menstok ulang senter. Segera setelah kami menyalakan senter, Rachel memekik.
Seonggok kerangka sedang menyerigai kepada kami. Ia bukan manusia. Satu hal, ukuranya besar—paling tidak tingginya tiga meter. Satu hal, ukurannya besar—paling tidak tingginya tiga meter. Ia terikat, pergelangan tangan dan kakinya teratai sehingga ia membentuk X raksasa merintangi terowongan. Tapi yang betul-betul membuat bulu romaku merinding adalah satu rongga mata kosong di tengah-tengah tengkoraknya.
“Cyclops,” kata Annabeth. “Sudah sangat tua. Ia bukan ... seseorang yang kita kenal.”
Ia bukan Tyson, maksudnya. Tapi itu tidak membuatku lebih baik. Aku masih merasa bahwa kerangka itu diletakkan di sini sebagai peringatan. Apa pun yang bisa membunuh cyclops dewasa, aku tidak mau menemuinya.
Rachel menelan ludah. “Kau punya teman cyclops?”
“Tyson,” kataku. “Saudara tiriku.”
“Saudara tirimu?”
“Mudah-mudahan kita bakal menemukan dia di bawah sini,” kataku. “Dan Grover. Dia satir.”
“Oh.” Suara Rachel kecil. “Yah, kalau begitu lebih baik kita terus bergerak.”
Dia melangkah ke bawah lengan kiri si kerangka dan terus berjalan. Annabeth dan aku bertukar pandang. Annabeth mengangkat bahu. Kami mengikuti Rachel memasuki labirin kian dalam.
Setelah lima belas meter kami sampai di persimpangan. Di depan, terowongan bata berlanjut. Di kanan, dinding terbuat dari bilah marmer kuno. Di kiri, terowongan terbuat dari tanah dan akar pohon.
Aku menunjuk ke kiri. “Itu kelihatannya seperti terowongan yang diambil Tyson dan Grover.”
Annabeth mengerutkan kening. “Iya, tapi arsiterktur di kanan—batu-batu tua—itu lebih mengarah ke bagian kuno labirin, ke arah bengkel kerja Daedalus.”
“Kita harus lurus,” kata Rachel.
Baik Annabeth maupun aku menatapnya.
“Itu pilihan yang paling nggak mungkin,” kata Annabeth.
“Kalian nggak lihat?” tanya Rachel. “Lihat di lantai.”
Aku tidak melihat apa pun kecuali bata kusam dan lumpur.
“Ada sesuatu yang cerah di sana.” Rachel berkeras. “Sangat samar. Tapi maju adalah pilihan yang tepat. Di kiri lebih jauh menyusuri terowongan, akar-akar pohon itu bergerak-gerak seperti antena. Aku nggak suka itu. Di kiri, ada jebakan kira-kira enam meter dari ujung sini. Lubang-lubang di dinding, mungkin untuk pasak-pasak. Kupikir kita sebaiknya nggak mengambil risiko itu.”
Aku tidak melihat apa pun seperti yang dia paparkan, tapi aku mengangguk. “Oke. Maju.”
“Kau percaya padanya?” tanya Annabeth.
“Iya,” kataku. “Memangnya kau nggak?”
Annabeth terlihat seakan dia ingin berdebat, tapi dia melambai kepada Rachel agar terus. Bersama-sama kami berjalan menyusuri koridor bata. Koridor tersebut berkelok-kelok dan berbelok-belok, tapi tidak ada terowongan samping lainnya. Kami tampaknya mengarah ke bawah, menuju ruang bawah tanah yang lebih dalam.
“Nggak ada jebakan?” tanyaku waswas.
“Nggak ada apa-apa.” Rachel mengernyitkan dahi, alisnya merapat. “Apa harusnya memang segampang ini?”
“Entahlah,” kataku. “Sebelumnya nggak pernah begini.”
“Jadi, Rachel,” kata Annabeth, “dari mana asalmu tepatnya?”
Dia mengucapkannya seperti, Dari planet mana asalmu? Tapi Rachel tidak terlihat tersinggung.
“Brooklyn,” katanya.
“Apa orang tuamu nggak khawatir kalau kau keluar sampai larut?”
Rachel mengembuskan napas. “Sepertinya nggak. Aku bisa pergi seminggu dan mereka nggak bakal sadar.”
“Kok bisa?” Kali ini Annabeth tidak terdengar sesarkatis sebelumnya. Bermasalah dengan orangtua adalah sesuatu yang dipahaminya.
Sebelum Rachel bisa menjawab, ada bunyi berderit di hadapan kami, seperti pintu yang terbuka.
“Apa itu?” tanya Annabeth.
“Aku nggak tahu,” kata Rachel. “Engsel logam.”
“Oh, membantu sekali, tuh. Maksudku, apa itu?”
Lalu aku mendengar langkah kaki berat mengguncangkan koridor—datang ke arah kami.
“Lari?” tanyaku.
“Lari,” Rachel setuju.
Kami berbalik dan melarikan diri ke arah kami datang, tapi kami tidak sampai sejauh enam meter sebelum kami bertabrakan dengan sejumlah tema lama. Dua dracaena—wanita ular berbaju zirah Yunani—mendorongkan lembing mereka ke dada kami. Di antara mereka berdirilah Kelli, sang pemandu sorak empousa.
“Wah, wah,” kata Kelli.
Aku membuka tutup Reptide, dan Annabeth mengeluarkan pisaunya; tapi bahkan sebelum pedangku keluar dari bentuk bolpennya, Kelli menerjang Rachel. Tangannya berubah menjadi cakar dan dia memilin Rachel, memegangi leher Rachel erat-erat dengan cakarnya.
“Membawa teman fana kalian jalan-jalan?” Kelli bertanya padaku. “Mereka makhluk yang rapuh. Begitu mudah dihancurkan!”
Di belakang kami, langakah-langkah kaki semakin dekat. Sosok besar muncul dari keremangan—raksasa Laistrygonian setinggi dua setengah meter bermata merah dan bertaring.
Si raksasa menjilat bibirnya saat dia melihat kami. “Boleh kumakan mereka?”
“Tidak,” kata Kelli. “Majikanmu akan menginginkan mereka. Mereka akan menyediakan hiburan yang luar biasa.” Dia tersenyum padaku. “Sekarang jalan, Blasteran. Atau kalian semua mati di sini, dimulai dari si gadis fana.”
Situasi lebih mirip dengan mimpi terburukku. Dan percayalah padaku, aku sudah banyak bermimpi buruk. Kami berbaris menyusuri terowongan sambil diapit dua dracarna, dengan Kelli dan si raksasa di belakang, sekadar berjaga-jaga seandainya kami mencoba melarikan diri. Tampaknya tidak ada yang khawatir kalau-kalau kami lari ke depan. Itulah arah yang mereka inginkan agar kami tuju.
Di depan aku bisa melihat pintu perunggu. Ukurannya kira-kira setinggi tiga meter, dihiasi sepasang pedang yang melintang. Dari belakang pintu ada gemuruh yang teredam, seperti dari kerumunan orang.
“Oh, ya,” kata si wanita ular di kiriku. “Kalian akan sssssangat digemari oleh tuan rumah kami.”
Aku tak pernah berkesempatan melihat dracaena dari dekat sebelumnya, dan aku tak terlalu antusas mendapatkan kesempatan itu. Dia sebetulnya bermuka cantik, hanya saja lidahnya bercabang dan matanya kuning dengan celah hitam sebagai pupil. Dia mengenakan baju zirah perunggu yang berakhir di pinggagnya. Di bawah itu, tempat kakinya seharusnya terletak, ada dua ekor ular raksasa, bertotol-totol perunggu dan hijau. Dia bergerak dengan perpaduan antara melata dan berjalan, seakan-akan dia sedang naik papan ski hidup.
“Siapa tuan rumahmu?” tanyaku.
Dia mendesis, yang mungkin saja merupakan tawa. “Oh, kau lihat sssssaja nanti. Kalian passsssti akrab. Biar bagaimanapun juga, dia sssssaudaramu.”
“Apaku?” Seketika aku memikirkan Tyson, tapi itu mustahil. Apa yang dia bicarakan?
Si raksasa mendorong kami minggir dan membuka pintu. Dia mengangkat Annabeth denga cara menjinjing pakaiannya dan berkata, “Kau diam di sini.”
“Hei!” protes Annabeth, tapi ukuran makhluk itu dua kali lipat darinya dan dia sudah menyita pisau Annabeth dan pedangku.
Kelli tertawa. Cakarnya masih mencengkeram leher Rachel. “Ayo, Percy. Hiburlah kami. Kami akan menunggu di sini bersama teman-temanmu untuk memastikan kau bersikap baik.”
Aku memandang Rachel. “Maafkan aku. Akan kukeluarkan kau dari masalah ini.”
Dia mengangguk sejauh yang dia bisa dilakukannya dengan cengkeraman monster di lehernya. “Yeah, baguslah.”
Para dracaena mendorongku ke arah ambang pintu dengan ujung lembing, dan aku berjalan keluar menuju lantai sebuah arena.
Kurasa itu bukan arena terbesar yang pernah kumasuki, tapi tempat itu cukup lapang mengingat letaknya di bawah tanah. Lantai tanah berbentuk bundar, cukup leher sehingga kau bisa mengendarai mobil mengelilingi tepiannya kalau kau berusaha keras. Di tengah-tengah arena, pertarungan sedang berlangsung antara raksasa dan centaurus. Si centaurus kelihatannta panik. Dia mencongklang mengelilingi lawannya, menggunakan pedang dan perisai, sementara si raksasa mengayunkan lembing seukuran tiang telepon dan kerumunan bersorak-sorai.
Jajaran tempat duduk tingkat pertama terletak tiga setengah meter di atas lantai arena. Bangku-bangku batu sederhana membungkus sekeliling arena, dan semua kursi penuh. Ada raksasa, dracaena, makhluk setengah dewa, telekhine, dan makhluk-makhluk yang lebih aneh lagi: monster bersayap kelelawar dan makhluk-makhluk yang tampaknya separuh manusia dan separuh lagi sebut saja—burung, reptil, serangga, mamalia.
Tapi hal paling menyeramka adalah tengkorak-tengkorak. Arena tersebut dipenuhi tengkorak-tengkorak mengelilingi pinggiran pagar. Tumpukan tengkorak setinggi hampir satu meter menghiasi undakan di antara bangku-bangku. Tengkorak menyeringai dan pasak di belakang tribun dan bergelantungan di rantai dari langit-langit bagaikan wadah lilin mengerikan. Beberapa terlihat sangat tua—tidak ada apa-apa selain tulang yang putih terkelantang. Yang lain terlihat lebih segar. Aku tak akan menjabarkannya. Percayalah padaku, kau tak ingin aku melakukannya.
Di tengah-tengah semua ini, tersandang gagah di dinding di sisi penonton, ada sesuatu yang tidak mausk akal bagiku—spanduk hijau besar bergambar trisula Poseidon di tengah-tengah. Apa-apaan itu di tempat mengerikan seperti ini?
Di atas spanduk, duduk di kursi kehormatan, ada seorang musuh lama.
“Luke,” kataku.
Aku tak yakin dia bisa mendengarku melampaui keributan massa, tapi dia tersenyum dingin. Dia mengenakan celana loreng, T-shirt putih, dan tameng dada perunggu, sama seperti yang kulihat dalam mimpiku. Tapi dia tidak menyandang pedangnya, yang menurutku aneh. Di sebelahnya duduklah raksasa terbesar yang pernah kulihat, jauh lebih besar daripada raksasa di lantai arena yang sedang bertarung melawan centaurus. Raksasa di samping Luke pasti paling tidak memiliki tinggi empat setengah meter dan begitu lebar sampai-sampai dia memakan tempat sebanyak tiga kursi. Dia hanya memakai cawat, seperti pegulat sumo. Kulitnya merah gelap dan ditato dengan desain berupa ombak biru. Kutebak dia pasti pengawal baru Luke atau apalah.
Ada teriakan dari lantai arena, dan aku melompat mundur saat si centaurus jatuh menghantam tanah di sebelahku.
Dia bertemu pandang denganku, memohon. “Tolong!”
Aku meraih pedangku, tapi pedang itu sudah diambil dariku dan belum muncul kembali di sakuku.
Si centaurus berjuang untuk bangkit saat si raksasa mendekat, lembingnya siap.
Tangan bercakar mencengkeram bahuku. “Kalau kau menghargai nyawa teman-temanmu,” dracaena penjagaku berkata, “kau takkan ikut campur. Ini bukan pertarunganmu. Tunggu giliranmu.”
Si centaurus tidak bisa bangun. Salah satu kakinya patah. Raksasa itu meletakkan kakinya yang besar di dada sang pria kuda dan mengangkat tombak. Dia mendongak ke arah Luke. Kerumunan bersorak, MATI! MATI!”
Luke tidak melakukan apa pun, tapi cowok sumo bertato yang duduk di sebelahnya bangkit. Dia tersenyum pada si centaurus, yang mengiba, “Kumohon! Jangan!”
Lalu si cowok sumo mengulurkan tangannya dan memberi isyarat jempol ke bawah.
Aku memejamkan mataku saat si raksasa gladiator menghunjamkan lembingnya. Ketika aku melihat lagi, si raksasa gladiator menghujamkan lembingnya. Ketika aku melihat lagi, si centaurus sudah lenyap, hancur menjadi abu. Yang tersisa cuma satu kaki, yang diambil si raksasa sebagai trofi dan ditunjukkannya kepada massa. Mereka menggemuruhkan persetujuan mereka. Sebuah gerbang terbuka di ujung lain stadion di sisi raksasa berderap ke luar dalam kejayaan.
Di tribun, si cowok sumo mengangkat tangannya supaya massa diam.
“Hiburan bagus!” teriaknya. “Tapi sama seperti yang pernah kusaksikan sebelumnya. Apa lagi yang kau punya, Luke, Putra Hermes?”
Rahang Luke mengatup erat. Aku tahu dia tak suka dipanggil putra Hermes. Dia benci ayahnya. Tapi dia bangkit dengan tenang. Matanya berkilat. Malah, suasana hatinya tampaknya lumayan baik.
“Tuan Antaeus,” kata Luke, cukup lantang sehingga didengar khalayak. “Anda tuan rumah yang luar biasa! Kami akan dengan senang hati menghinur Anda, untuk membayar kebaikan hati Anda yang mengizinkan kami melewati wilayah Anda.”
“Kebaikan hati yang belim dibalas,” geram Antaeus. “Aku mau hiburan.”
Luke membungkuk. “Saya yakin saya punya sesuatu yang lebih bagus daripada centaurus untuk bertarung di arena sekarang. Saya punya saudara Anda.” Dia menunjukku. “Percy Jackson, putra Poseidon.”
Kerumunan mulai mencemoohku dan melemparkan batu, sebagian besar berhasil kuhindari, tapi satu mengenai pipiku dan menghasilkan sayatan berukuran lumayan.
Mata Antaeus berbinar. “Putra Poseidon? Kalau begitu dia harus bertarung dengan baik! Atau mati dengan baik!”
“Jika kematiannya memuaskan Anda,” kata Luke, “akankah Anda membiarkan pasukan kami melintasi wilayah Anda?”
“Mungkin,” kata Antaeus.
Luke kelihatannya tidak terlalu senang soal “mungkin”. Dia memelototiku, seakan memperingatkaku bahwa aku sebaiknya mati dengan cara yang betul-betul spektakuler atau aku akan berada dalam masalah besar.
“Luke!” teriak Annabeth. “Hentikan ini. Biarkan kami pergi!”
Luke tampaknya menyadari kehadiran Annabeth untuk pertama kalinya. Dia kelihatan tercengang .
“Cukup waktu untuk para wanita setelahnya,” Antaeus menginterupsi. “Pertama-tama, Percy Jackson, senjata apa yang kau pilih?”
Para dacaena mendorongku ke tengah-tengah arena.
Aku mendongak, menatap Antaeus. “Bagaimana mungkin kau ini putra Poseidon?”
Antaeus tertawa, dan massa mulai tertawa juga.
“Aku putra kesayangannya!” kata Antaeus menggelegar. “Lihatlah, kuilku bagi sang Pengguncang Bumi, dibangun dari tengkorak semua makhluk yang kubunuh dengan namanya! Tengkorakmu akan bergabung dengan mereka!”
Aku menatap semua tengkorak itu denga ngeri—ratusan tengkorak—dan spanduk Poseidon. Bagaimana mungkin ini kuil untuk ayahku? Ayahku pria baik. Dia bahkan tak pernah minta kartu Hari Ayah, apalagi tengkorak seseorang.
“Percy!” teriak Annabeth padaku. “Ibunya Gaea! Gae—“
Laistrygonian penawannya membungkam mulut Annabeth dengan tangan. Ibunya Gaea. Dewi bumi. Annabeth mencoba membaritahuku bahwa ini penting, tapi aku tak tahu kenapa. Mungkin Cuma karena cowok itu punya dua orangtua dewa. Itu bakalan membuatnya semakin sulit dibunuh.
“Kau gila, Antaeus,” kataku. “Kalau kau pikir ini penghormatan yang bagus, kau nggak tahu apa-apa soal Poseidon.”
Masa meneriakkan hinaan kepadaku, tapi Antaeus mengangkat tangannya supaya mereka diam.
“Senjata.” Dia berkeras. “Dan kemudian akan kita lihat bagaimana kau mati. Apa kau mau kapak? Tameng? Jaring? Pelempar api?”
“Pedangku saja,” kataku.
Tawa pecah dari para monster, tapi seketika Reptide muncul di tanganku, dan beberapa suara di kerumunan beruah menjadi gugup. Mata pedang perunggu berkilau, memancarka cahaya redup.
“Ronde satu!” Antaeus mengumumkan. Gerbang terbuka, dan seekor dracaena melata masuk. Dia memegang trisula di satu tangan dan jaring berpemberat di tangan lain—bergaya klasik ala gladiator. Aku sudah berlatih melawan senjata-senjata itu di perkemahan selama bertahun-tahun.
Dia coba-coba meninjuku. Aku melangkah mundur. Dia melemparkan jaringnya, berharap untuk menjerat pegangan pedangku, tapi aku menghindar dengan mudah, memotong tombaknya jadi dua, dan menusukkan Reptide ke sela-sela baju zirahnya. Sambil melolong kesakitan, dia hilang terbuyarkan, dan sorakan khalayak terhenti.
“Tidak!” teriak Antaeus. “Terlalu cepat! Kau harus menunggu untuk membunuh. Cuma aku yang memberi perintah itu!”
Aku melirik Annabeth dan Rachel. Aku harus menemukan cara untuk membebaskan mereka, mungkin mengalihkan perhatian para penjaga mereka.
“Kerja bagus, Percy.” Luke tersenyum. “Kau semakin ahli berpedang. Kuberi kau pujian itu.”
“Ronde dua!” teriak Antaeus. “Dan lebih lambat kali ini! lebih banyak hiburan! Tunggu perintahku sebelum membunuh siapa pun, KALAU TIDAK, AWAS!”
Gerbang terbuka lagi, dan kali ini seorang prajurit muda keluar. Dia sedikit lebih tua daripada aku, kira-kira enam belas tahun. Dia memiliki rambut hitam mengilap, dan mata kirinya ditutupi penutup mata. Dia kurus kering sampai-sampai baju zirah Yunaninya tergantung longgar di badannya. Dia menusukkan pedangnya ke tanah, menyesuaikan tali pengikat baju zirahnya, dan mengenakan helm berjambulnya.
“Siapa kau?” tanyaku.
“Ethan Nakamura,” katanya. “Aku harus membunuhmu.”
“Kenapa kau lakukan ini?”
“Hei!” Seekor monster mencemooh dari tribun. “Berhenti mengobrol dan bertarunglah!” Yang lain menyambut seruan itu.
“Aku harus membuktikan diriku.” Ethan memberitahuku. “Satu-satunya cara bergabung.”
Dan dengan itu dia pun menyerbu. Pedang kami bertemu di tengah udara dan kerumuman menggemuruh. Rasanya tidak benar. Aku tak mau bertarung untuk menghibur sekumpulan monster, tapi Ethan Nakamura tak memberiku pilihan lain.
Dia menekan ke depan. Dia bagus. Dia tak pernah tinggal di Perkemahan Blasteran, sejauh yang kutahu tapi dia terlatih. Dia menangkis seranganku dan hampir menghantamku dengan perisainya, tapi aku melompat mundur. Dia menyabet. Aku berguling ke satu sisi. Kami betukar tikaman dan tangkisan, merasakan gaya yang lain. Aku mencoba mempertahankan agar Ethan tetap di titik buta, tapi itu tidak banyak membantu. Dia rupanya sudah lama hanya bertarung dengan satu mata, soalnya dia ahli menjaga sisi kirinya.
“Darah!” teriak para monster.
Lawanku melirik ke tribun. Itulah kelemahannya, kusadar. Dia harus mengesankan mereka. Aku tidak.
Dia meneriakkan seruan perang marah dan menyerangku, tapi aku menangkis bilah pedangnya dan mundur, membiarkannya datang mengejarku.
“Huuu!” kata Antaeus. “Berdiri dan bertarunglah!”
Ethan menekanku, tapi aku tidak punya masalah mempertahankan diri, bahkan tanpa perisai. Dia berpakaian untu bertahan—baju zirah berat dan perisai—dan itu membuat serangan ofensif melelahkan. Aku target yang lebih enteng, tapi aku juga lebih ringan dan lebih cepat. Masa jadi gila, meneriakkan keluhan dan melemparkan batu. Kami sudah bertarung selama hampir lima menit dan tidak ada darah.
Akhirnya Ethan membuat kesalahan. Dia mencoba menyodok perutku, dan aku mengunci gagang pedangnya dengan gagang pedangku dan memuntirnya. Pedangnya jatuh ke tanah. Sebelum dia bisa memulihkan diri, aku menghantamkan pangkal pedangku ke helmnya dan mendorongnya ke bawah. Baju zirahya yang berat lebih membantuku daripada membantunya. Dia jatuh terjengkang, linglung dan kelelahan. Aku meletakkan ujung pedangku ke dadanya.
“Selesaikan,” erang Ethan.
Aku mendongak, memandang Antaeus. Wajah merahnya kaku karena tidak senang, tapi dia mengangkat tangannya dan membuat isyarat jempol ke bawah.
“Lupakan.” Aku menyarungkan pedangku.
“Jangan bodoh,” erang Ethan. “Mereka cuma bakal membunuh kita berdua.”
Aku mengulurka tanganku untuknya. Dengan enggan, dia meraihnya. Aku membantunya bangun.
“Tidak ada yang boleh melecehkan permainan ini!” teriak Antaeus. “Kepala kalian berdua akan dipersembahkan kepada Poseidon.”
Aku memandang Ethan. “Waktu kau lihat kesempatanmu, larilah.” Lalu aku menoleh kembali ke Antaeus “Kenapa tidak kau lawan saja aku sendiri/ kalau kau dapat restu dari Ayah, turun sini dan buktikan!”
Para monster kasak-kusuk di tribun. Antaeus melihat ke sekeliling, dan rupanya menyadari dia tidak punya pilihan. Dia tidak bisa berkata tidak tanpa terlihat seperti pengecut.
“Akulah pegulat terbaik di dunia, Bocah.” Dia memperingatkan. “Aku sudah bergulat sejak pankration pertama!”
“Pankration?” tanyaku.
“Maksudnya pertarungan sampai mati,” kata Ethan. “Tidak ada peraturan. Tidak ada larangan. Dulunya olahraga Olimpiade.”
“Makasih buat tipsnya,” kataku.
“Nggak masalah.”
Rachel menontonku dengan mata terbelalak. Annabeth menggelengkan kepalanya dengan prihatin, yangan di Laistrygonian masih membungkam mulutnya.
Aku menunjukkan pedangku ke arah Antaesus. “Pemenang mengambil semuanya! Aku menang, kami semua bebas pergi. Kau menang, kami mati. Sumpah demi Sungai Styx.”
Antaeus tertawa. “Ini tidak akan butuh waktu lama. Aku bersumpah sesuai syaratmu!”
Dia melompat melewati pagar, memasuki arena.
“Semoga beruntung,” kata Ethan padaku. “Kau bakal memerlukannya.” Kemudian dia mundur cepat-cepat.
Antaeus mengertakkan buku-buku jarinya. Dia menyeringai, dan kulihat bahwa bahkan gigi-giginya diberi ukiran berpola ombak, yang pastinya membuat gosok gigi setelah makan sangat menyakitkan.
“Senjata?” tanyanya.
“Akan kugunakan pedangku. Kau?”
Dia mengangkat tangannya dan menggoyangkan jemarinya. “Aku tidak perlu yang lain! Tuan Luke, kau akan mewasiti yang satu ini.”
Luke tersenyum padaku. “Dengan senang hati.”
Antaeus menyerbu. Aku berguling di bawah kakinya dan menikam bagian belakang pahanya.
“Ahhhhh!” teriaknya. Tapi di tempat darah seharusnya keluar, ada semburan pasir, seakan-akan aku memecahkan sisi jam pasir. Pasir tertumpah ke lantai tanah, dan tanah terkumpul di sekitar kakinya, hampir seperti gips. Ketika tanah jatuh berhamburan, lukanya hilang.
Dia menyerbu lagi. Untungnya aku berpengalaman melawan raksasa. Aku menghindar ke samping kali ini dan menikam ke bawah lengannya. Bilah Reptide terbenam sampai ke gagang di tulang iganya. Itu kabar baiknya. Kabar buruknya adalah pedangku terenggut dari tanganku waktu si raksasa berbalik, dan aku terlempar ke seberang arena, tak bersenjata.
Antaeus berteriak kesakitan. Aku menantikannya hancur. Tidak pernah ada monster yang bertahan setelah menerima serangan langsung dari pedangku seperti itu. Mata pedang perunggu langit seharusnya menghancurkan intisarinya. Tapi antaesus meraba gagang, mengeluarkan pedang, dan melemparkannya ke belakangnya. Lebih banyak pasir tertuang dari lukanya, tapi lagi-lagi bumi bangkit untuk menyelimutinya. Tanah menutupi tubuhnya sampai ke bahu. Segera setelah tanah berhamburan, Antaeus baik-baik saja.
“Sekarang kau lihat kenapa aku tidak bisa kalah, Blasteran!” Antaeus menyombong. “Ayo sini dan biar kuremukkan kau. Akan kulakukan dengan cepat!”
Antaeus berdiri di antara aku dan pedangku. Dengan putus asa, aku melirik ke kedua sisi, dan aku menangkap padangan mata Annabeth.
Bumi, pikirku. Apa yang tadi Annabeth coba beri tahukan kepadaku? Ibu Antaeus adalah Gaea sang ibu bumi, dewi terkuno di antara semuanya. Ayah Antaeus mungkin saja Poseidon, tapi Gaea membuatnya tetap hidup. Aku tak bisa melukainya selama dia menyentuh tanah.
Aku mencoba mengitarinya, tapi Antaeus mengantisipasi gerakaku. Dia menghalangi jalanku, terkekeh-kekeh. Dia cuma bermain-main denganku sekarang. Dia sudah membuatku tersudut.
Aku mendongak melihat rantai-rantai yang bergelantungan dari langit-langit, mengayun-ayunkan terngkorak musuh-musuhnya di pengait. Tiba-tiba aku mendapat ide.
Aku melakukan gerak tipu ke sisi lain. Antaeus merintangiku. Massa mencemooh dan meneriaki Antaeus supaya mengabisiku, tapi dia sedang terlalu bersenang-senang.
“Bocah payah,” katanya. “Tidak pantas menjadi putra sang dewa laut.”
Aku merasakan bolpenku kembali ke sakuku, tapi Antaeus tidak akan tahu soal itu. Dia bakal berpikir Reptide-ku masih ada di tanah belakangnya. Dia bakal berpikir tujuanku adalah memperoleh pedangku. Bukan keunggulan yang terlalu besar, tapi cuma itu yang kupunya.
Aku langsung menyerang ke depan, menunduk begitu rendah supaya dia bakal berpikir aku akan berguling di antara kakinya lagi. Sementara dia membungkuk, siap menangkapku layaknya bola yang menyusur tanah, aku melompat sekuat tenagaku—menendang lengan bawahnya, menaiki bahunya seperti tangga, meletakkan sepatuku di kepalanya. Dia melakukan refleks alaminya, menegakkan badan dengan berang dan berteriak “HEI!”. Aku mendorong diriku, menggunakan tenaganya untuk melontarkanku ke arah langit-langit. Aku manangkap bagian puncak seuntai rantai, dan tengkorak serta pengait bergemerincing di bawahku. Aku membungkuskan kakiku di sekeliling rantai, seperti yang kulakukan saat panjat tali dalam pelajaran olahraga. Kuhunus Reptide dan kugergaji rantai di sebelahku.
“Turun sini, Pengecut!” teriak Antaeus. Dia mencoba meraihku, tapi aku di luar jangkauannya. Bergelantungan demi mempertahankan hidup, dan berteriak, “Ayo naik dan tangkap aku! Ataukah kau terlalu lambat dan gembrot?”
Dia meraung dan berusaha meraihku lagi. Dia mengkap seuntai rantai dan mencoba menarik dirinya ke atas. Sementara dia sedang berjuang, aku menurunkan rantai hasil gergajianku, pengait lebih dulu. Perlu dua kali percobaan, tapi aku akhirnya mengenai cawat Antaeus.
“WAAA!” teriaknya. Cepat-cepat kuselipkan rantai yang bebas ke sambungan rantaiku sendiri, menariknya sampai tegang, dan mengencangkannya sebisaku. Antaeus mencoba kembali ke tanah, tapi pantatnya tertahan oleh cawatnya. Dia harus berpegangan ke rantai-rantai lain dengan kedua tangan supaya tidak terjungkirbalikkan. Aku berdoa semoga cawat dan rantai mampy bertahan beberapa menit lagi. Sementara Antaeus menyumpah-nyumpah dan terayun-ayun, aku bergerak dari rantai ke rantai, berayun dan memotong seolah-olah aku ini seekor monyet gila. Kuhubungkan pengait-pengait dan sambungan logam. Aku tak tahu bagaimana aku melakukannya. Ibuku selalu bilang aku punya bakat mengikat barang-barang sampai kusut. Plus aku juga putus asa ingin menyelamatkan teman-temanku. Pokoknya, dalam hitungan menit si raksasa tergelantung di atas tanah, terjerat tanpa daya di tengah-tengah rantai dan pengait.
Aku jatuh ke lantai, terengah-engah dan berkeringat. Tanganku perih bekas memanjat.
“Turunkan aku!” tuntut Antaeus.
“Bebaskan dia!” perintah Luke. “Dia tuan rumah kami!”
Aku membuka tutup Reptide. “Akan kubebaska dia.”
Dan kutusuk perut si raksasa. Dia meraung, dan tanah tertumpah ke luar, tapi dia terlalu jauh untuk menyentuh bumi, dan tanah tidak bangkit untuk menolongnya. Antaeus menghilang begitu saja, sedikit demi sedikit, sampai tidak ada yang tersisa selain rantai-rantai kosong yang berayun-ayun, selembar cawat superbesar pada pengait, dan sekumpulan tengkorak menteringai yang menari-nari di atasku seakan mereka akhirnya bisa tersenyum soal sesuatu.
“Jackson!” teriak Luke. “Aku semestinya membunuhmu dari dulu!”
“Kau sudah mencoba,” aku mengingatkannya. “Biarkan kami pergi, Luke. Kami punya perjanjian yang sudah diikatkan dengan sumpah Antaeus. Aku pemenangnya.”
Yang dilakukannnya persis seperti yang kuduga. Dia bilang, “Antaeus sudah mati. Sumpahnya mati bersamanya. Tapi karena aku merasa murah hati hari ini, akan kubunuh kau dengan cepat.”
Dia menunjuk ke arah Annabeth. “Jangan bunuh gadis itu.” Suaranya gemetar sedikit. “Aku akan bicara kepadanya sebelum—sebelum kemenangan besar kita.”
Semua monster hadirin mengeluarkan pedang atau memanjangkan cakarnya. Kami terjebak. Betul-betul kalah jumlah.
Lalu kurasakan sesuatu dalam sakuku—sensasi membekukan, semakin dingin dan semakin dingin. Peluit anjing. Jemariku bergerak menyelimutinya. Selama berhari-hari aku menghindar, tidak mau menggunaka hadiah Quintus. Yakin bahwa itu pasti jebakan. Tapi sekarang ... aku tak punya pilihan. Aku mengambilnya dari sakuku dan meniup. Peluit itu tidak menghasilkan suara yang terdengar saat ia pecah menjadi kepingan-kepingan es, meleleh di tanganku.
Luke tertawa. “Memangnya apa yang seharusnya bisa dilakukan benda itu?”
Dari belakangku terdengarlah pekikkan kaget. Si raksasa Laistrygonian yang menjaga Annabeth terbang melewatiku dan terhantam ke dinding.
“GUK!”
Kelli si empousa menjerit saat anjing mastiff hitam seberat dua ratus lima puluh kilogram memungutnya seperti mainan kunyah dan melemparkanya ke udara, tepat ke pangkuan Luke. Nyonya O’Leary menggeram, dan dua penjaga dracaena mundur menjauh. Selama sesaat para monster hadirin betul-betul dibuat kaget.
“Ayo pergi!” teriakku kepada teman-temanku. “Balik, Nyonya O’Leary!”
“Keluar lewat sana!” seru Rachel. “Itu jalan yang benar.”
Ethan Nakamura mengambil kesempatannya. Bersama-sama kami berpacu menyebrangi arena dan keluar lewat pintu di ujung jauh, Nyonya O’Leary tepat di belakang kami. Saat kami lari, bisa kudengar suara-suara kacau seisi pasukan yang berusaha melompat keluar dari tribun dan mengikuti kami.[]

Comments