Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB ENAM BELAS
Aku Membuka Peti Mati
Melompat ke luar jendela setinggi 150 meter dari permukaan tanah biasanya bukanlah bayanganku soal bersenang-senang. Terutama saat aku mengenakan sayap perunggu dan mengepak-ngepak lenganku seperti bebek.
Aku terjun bebas ke arah bukit dan batu-batu merah di bawah. Aku cukup yakin aku bakal menjadi setitik noda di Taman Para Dewa, saat Annabeth berteriak dari suatu tempat di atasku, “Rentangkan lenganmu! Lalu luruskan lenganmu!”
Bagian kecil dari otakku yang tak dicekam rasa panik mendengarnya, dan lenganku merespons. Segera setelah aku merentangkan lenganku, sayap yang kukenakan menjadi kaku, menangkap angin, dan kecepatan jatuhku melamban. Aku melayang ke bawah, tapi dengan sudut terkendali, seperti layang-layang yang sedang meluncur ke bawah.
Aku coba-coba mengepakkan lenganku sekali. Aku menukik ke angkasa, angin bersiul-siul di telingaku.
“Yeah!” teriakku. Perasaan ini tak dapat dipercaya. Setelah berhasil menguasainya, aku merasa seolah sayap itu adalah bagian dari tubuhku. Aku bisa melayang dan menukik dan terjun ke mana pun yang kuinginkan.
Aku berbalik dan melihat teman-temanku—Rachel, Annabeth, dan Nico—berputar-putar di atasku, memincingkan mata menghalau sinar matahari. Di belakang mereka, asap membubung dari jendela bengkel kerja Daedalus.
“Mendarat!” teriak Annabeth. “Sayap ini tidak akan bertahan selamanya.”
“Berapa lama?” seru Rachel.
“Aku tak mau mencari tahu!” kata Annabeth.
Kami menukik ke bawah menuju Taman Para Dewa. Aku melakukan putaran sempurna di sekeliling salah satu batu yang menjulang dan menakuti beberapa orang pendaki. Lalu kami berempat melayang menyeberangi lembah, di atas jalanan, dan mendarat di teras sebuah pusat pengunjung. Saat itu sudah sore dan tempat itu kelihatannya lumayan kosong, tapi kami mencopot sayap kami secepat yang kami bisa. Melihat sayap-sayap itu, bisa kulihat bahwa Annabeth benar. Segel perekat yang melekatkan sayap ke punggung kami sudah meleleh, dan kami telah merontokkan bulu-bulu perunggunya. Sayang sekali, tapi kami tidak bisa memperbaikinya, dan tidak bisa meninggalkannya untuk para manusia fana, jadi kami menjejalkan sayap-sayap itu ke tempat sampah di luar kafetaria.
Aku menggunakan kamera binokular wisatawan untuk melihat bukit tempat bengkel kerja Daedalus berada, tapi bengkel itu sudah lenyap. Tidak ada asap lagi. Tidak ada jendela yang pecah. Yang tampak hanyalah sisi sebuah bukit.
“Bengkel kerja sudah pindah,” tebak Annabeth. “Entah ke mana.”
“Jadi, apa yang kita lakukan sekarang?” tanyaku. “Bagaimana kita kembali ke dalam labirin?”
Annabeth menatap ujung Puncak Pikes di kejauhan. “Mingkin kita nggak bisa. Kalau Daedalus tewas ... dia bilang daya hidupnya terikat dengan Labirin. Semuanya mungkin hancur. Mungkin itu bakal menghentikan penyerbuan Luke.”
Aku memikirkan Grover dan Tyson, masih ada di suatu tempat di bawah sana. Dan Daedalus ... meskipun dia pernah melakukan hal-hal buruk dan membahayakan semua orang yang kusayangi, cara mati seperti itu tampaknya cukup mengerikan.
“Tidak,” kata Nico. “Dia belum mati.”
“Bagaimana kau bisa yakin?” tanyaku.
“Aku tahu saat orang mati. Aku mendapat firasat seperti ada dengungan di telingaku.”
“Bagaimana dengan Tyson dan Grover, kalau begitu?”
Nico menggelengkan kepalanya. “Itu lebih susah. Mereka bukan manusia atau blasteran. Mereka tidak punya jiwa fana.”
“Kita harus ke kota,” Annabeth memutuskan. “Kesempatan kita untuk menemukan pintu masuk ke Labirin bakal lebih bagus. Kita harus sampai kembali ke perkemahan sebelum Luke dan pasukannya.”
“Kita bisa saja naik pesawat,” kata Rachel.
Aku merinding. “Aku tidak mau terbang.”
“Tapi kau baru saja terbang.”
“Itu terbang rendah,” kataku, “dan bahkan itu pun berisiko. Terbang betul-betul tinggi—itu wilayah Zeus. Aku tak bisa melakukannya. Lagi pula, kita bahkan tidak punya waktu untuk terbang. Labirinlah cara tercepat untuk kembali.”
Aku tidak mau mengatakannya, tapi aku juga berharap mungkin, mungkin saja, kami akal menemukan Grover dan Tyson dalam perjalanan.
“Jadi, kita perlu mobil untuk membawa kita ke kota,” kata Annabeth.
Rachel melihat ke bawah ke arah lapangan parkir. Dia meringis, seolah dia akan melakukan sesuatu yang disesalinya. “Biar kuurus.”
“Bagaimana?” tanya Annabeth.
“Pokoknya percaya saja deh.”
Annabeth terlihat tidak senang, tapi dia mengangguk. “Oke, aku akan membeli prisma di toko cendramata, mencoba membuat pelangi, dan mengirimkan pesan-Iris ke perkemahan.”
“Aku ikut denganmu,” kata Nico. “Aku lapar.”
“Aku akan tinggal dengan Rachel, kalau begitu,” kataku. “Kita ketemu di tempat parkir.”
Rachel mengerutkan kening seakan dia tidak mengeinginkanku bersamanya. Itu membuatku agak tak enak hati, tapi aku toh tetap mengikutinya turun ke lapangan parkir.
Dia menuju ke sebuah mobil hitam besar yang terparkir di tepi lapangan. Mobil itu adalah Lexus bersopir, seperti jenis mobil yang senantiasa kulihay berkendara di sepenjuru Manhattan. Sang pengemudi ada di depan sedang membaca koran. Dia mengenakan setelah gelap dan dasi.
“Kau mau apa?” tanyaku pada Rachel.
“Tunggu saja di sini,” katanya sengsara. “Kumohon.”
Rachel langsung berserap ke arah sang pengemudi dan bicara kepadanya. Pria itu mengerutkan dahi. Rachel mengatakan hal lain. Pria itu jadi pucat dan buru-buru melipat majalahnya. Dia mengangguk dan meraba-raba untuk mencari ponselnya. Setelah menelepon sebentar, dia membuka pintu belakang mobil, mempersilakan Rachel masuk. Rachel menunjuk ke arahku, dan sang pengemudi mengangguk-anggukkan kepalanya lagi, seperti Ya, Nyonya. Apa pun yang Anda inginkan.
Aku tak tahu kenapa laki-laki itu bersikap gugup sekali.
Rachel kembali untuk menjemputku tepat ketika Nico dan Annabeth muncul dari toko cendramata.
“Aku bicara pada Chiron,” kata Annabeth. “Mereka melakukan yang terbaik dan bersiap-siap untuk pertempuran, tapi dia tetap ingin kita kembali. Mereka bakal memerlukan semua pahlawan yang bisa mereka kumpulkan. Apa kita dapat tumpangan?”
“Si sopir siap saat kita siap,” kata Rachel.
Sang sopir sekarang bicara kepada laki-laki lain yang mengenakan celana khaki dan baju polo, mungkin kliennya yang menyewa mobil itu. Sang klien sedang mengomel, tapi bisa kudengar sang pengemudi berkata, “Saya minta maaf, Pak. Darurat. Saya sudha memesan mobil lain untuk Bapak.”
“Ayo,” kata Rachel. Dia membimbing kami ke mobil dan naik bahkan tanpa melirik si laki-laki kesal yang menyewanya. Semenit kemudian kami sudah mengarungi jalan. Kursi-kursinya terbuat dari kulit. Ada banyak ruang untuk meluruskan kaki. Di kurs belakang ada TV layar datar terpasang di sandaran kepalanya da ada kulkas mini yang dipenuhi air botolan, soda, dan makanan ringan. Kami mulai mengemil.
“Ke mana, Nona Dare?” tanya sang pengemudi.
“Aku belum yakin, Robert,” katanya. “Kami cuma perlu berkendara melewati kota dan, eh, melihat-lihat.”
“Terserah Anda, Nona.”
Aku memandang Rachel. “Kau kenal laki-laki ini?”
“Nggak.”
“Tapi dia melepaskan segalanya untuk membantumu. Kenapa?”
“Pasang saja matamu,” katanya. “Bantu aku lihat-lihat.”
Yang tentunya bukanlah jawaba pertanyaanku.
Kami berkendara melintasi Colorado Springs selama sekitar setengah jam dan tidak melihat apa pun yang Rachel anggap mungkin saja merupakan jalan masuk Labirin. Aku sadar sekali bahwa bahu Rachel menekan bahuku. Aku terus bertanya-tanya siapa dia sebenarnya, dan bagaimana dia bisa menghampiri seorang sopir yang tidak dikenalnya dan seketika mendapatkan tumpangan.
Setelah kira-kira sejam kami memutuskan untuk menuju utara ke arah Denver, berpikir bahwa mungkin kota yang lebih besar mungkin memiliki pintu masuk Labirin, tapi kami semua jadi gelisah. Kami kehabisan waktu.
Lalu, tepat saat kami meninggalkan Colorado Springs, Rachel terduduk tegak. “Keluar dari jalan raya!”
Sang pengemudi melirik ke belakang. “Maaf, Nona?”
“Kupikir aku melihat sesuatu. Keluar dari sini.”
Sang pengemudi berbelok memotong lalu lintas dan keluar dari jalan raya.
“Apa yang kau lihat?” tanyaku, soalnya kami bisa dibilang sudah ada di luar kota sekarang. Tidak ada apa-apa kecuali bukit, lahan berumput, dan beberapa bangunan peternakan yang tersebar. Rachel menyuruh sang pengemudi berputar menyusuri jalan tanah yang tidak menjanjikan ini. kami berkendara melintasi sebuah plang, terlalu cepat sehingga aku tidak bisa membacanya, tapi Rachel bilang, “Museum Pertambangan dan Industri Barat.”
Untuk sebuah museum, sepertinya kurang banyak yang bisa dilihat—sebuah rumah kecil seperti stasiun kereta api gaya kuno, beberapa mesin bor dan pompa dan mesin penggali bertenaga uap tua dipamerkan di luar.
“Di sana.” Rachel menunjuk sebuah lubang di sisi bukit dekat sana—terowongan yang dipapan dan dirantai: “Jalan masuk tambang tua.”
“Pintu ke Labirin?” tanya Annabeth. “Bagaimana kau bisa yakin?”
“Yah, lihat saja!” kata Rachel. “Maksudku ... aku bisa melihatnya, oke?”
Dia berterima kashi kepada sang sopir dan kami semua keluar. Dia tidak minta uang atau apa pun. “Apa Anda yakin Anda akan baik-baik saja, Nona Dare? Saya akan denga senang hati menelepon—“
“Nggak!” kata Rachel. “Nggak perlu. Betul. Makasih, Robert. Tapi kami baik-baik saja.”
Museum itu tampaknya tertutup, tapi tak ada yang memedulikan kami mendaki bukit ke lubang masuk tambang. Waktu kami sampai di pintu masuk, kulihat tanda Daedalus terukir di gembok, meskipun aku sama sekali tak tahu bagaimana Rachel melihat sesuatu sekecil itu dari tempat sejauh jalan raya. Aku menyentuh gembok dan rantai-rantai berjatuhan. Kami menendangi beberapa papan dan berjalan masuk. Entah ini baik atau buruk, tapi kami kembali berada dalam Labirin.
Terowongan tanah berubah menjadi batu. Terowongan berkelak-kelok dan bercabang dan pada dasarnya mencoba membingungkan kami, tapi Rachel tidak kesulitan memandu kami. Kami memberitahunya bahwa kami harus kembali ke New York, dan dia nyaris tidak berhenti sama sekali ketika terowongan menawarkan pilihan.
Yang membuatku terkejut, Rachel dan Annabeth memulai percakapan saat kami berjalan. Annabeth bertanya lebih banyak tentang latar belakangnya, tapi Rachel terus mengelak, jadi mereka mengobrol soal arsitektur. Rupanya Rachel tahu sesuatu soal arsitektur karena dia mempelajari seni. Mereka membicarakan berbagai tampilan muka gedung-gedung di sepenjuru New York—“Apa kau sudah lihat yang ini,” bla, bla, bla, jadi aku pindah ke belakang dan berjala di samping Nico dalam keheningan yang tak nyaman.
“Makasih sudah mencari kami.” Aku akhirnya berkata padanya.
Mata Nico menyipit. Dia tampaknya tak semarah sebelumnya—cuma curiga, waspada. “Aku berutang budi padamu soal kejadian di peternakan, Percy. Lagi pula ... aku ingin menemui Daedalus demi diriku sendiri. Minos ada benarnya. Daedalus seharusnya mati. Tidak ada yang seharusnya bisa menghindari kematian selama itu. Itu nggak wajar.”
“Itulah yang kau kejar selama ini,” kataku. “Menukar jiwa Daedalus dengan jiwa kakakmu.”
Nico berjalan sejauh sekitar lima pulih meter lagi sebelum menjawab. “Rasanya tidak gampang. Hanya ditemani orang mati. Tahu bahwa aku tidak akan diterima oleh orang-orang hidup. Cuma orang mati yang menghormatiku, dan mereka melakukan itu cuma karena takut.”
“Kau bisa diterima,” kataku. “Kau bisa punya teman di perkemahan.”
Dia menatapku. “Apa kau betul-betul memercayainya, Percy?”
Aku tidak menjawab. Sebenarnya, aku tak tahu. Nico dari dulu memang sedikit berbeda, tapi sejak kematian Bianca, dia jadi hampir ... menyeramkan. Dia punya mata yang mirip mata ayahnya—menyala-nyala dengan intens dan liar yang membuatmu curiha kalau-kalau dia genius ataukah orang gila. Dan caranya menyingkirkan Minos, danmenyebut dirinya sendiri sang raja hantu—lumayan mengesankan, tapi juga membuatku tak nyaman.
Sebelum aku bisa memikirkan apa yang akan kukatakan kepadanya, aku menabrak Rachel, yang berhenti di depanku. Kami sampai di persimpanga. Terowongan terus berlanjut ke depan, tapi terowongan samping bercabang ke kanan membentuk hurug T—lubang bundar yang diukir dari batu vulkanik hitam.
“Apa itu?” tanyaku.
Rachel memandangi terwongan gelap itu. Di tengah pendar samar lampu senter, wajahnya terlihat mirip salah satu hantu Nico.
“Apa ke situ arahnya?” tanya Annabeth.
“Bukan,” kata Rachel gugup. “Bukan sama sekali.”
“Kalau begitu kenapa kita berhenti?” tanyaku.
“Dengarkan,” kata Nico.
Aku mendengar angin berembus dari terowongan, seolah pintu keluar sudah dekat. Dan aku mencium sesuatu yang samar-samar terasa familier—sesuatu yang mengembalikan kenangan buruk.
“Pohon eucalypstus,” kataku. “Seperti di California.”
Musim dingin lalu, waktu kami menghadapi Luke dan Atlas sang Titan di puncak Gunung Tamalpais, udaranya berbau seperti itu.
“Ada sesuatu yang jahat di terowongan itu,” kata Rachel. “Sesuatu yang sangata kuat.”
“Dan bau kematian,” Nico menambahkan, yang membuatku lebih baik.
Annabeth dan aku bertukar pandang.
“Pintu masuk Luke,” tebak Annabeth. “Jalan masuk ke Gunung Othrys—istana para Titan.”
“Aku harus memeriksanya,” kataku.
“Percy, jangan.”
“Luke bisa saja ada di sana,” kataku. “Atau ... atau Kronos. Aku harus mencari tahu apa yang terjadi.”
Annabeth ragu-ragu. “Kalau begitu kita semua akan pergi.”
“Jangan,” kataku. “Terlalu berbahaya. Kalau mereka sampai menangkap Nico, atau Rachel, Kronos bisa manfaatkan mereka. Kau tinggal di sini dan jaga mereka.”
Yang tidak kukatakan: aku juga mencemaskan Annabeth. Aku tidak memercayai apa yang bakal dilakukannya seandainya dia melihat Luke lagi. Luke sudah terlalu sering menipu dan memanipulasi Annabeth sebelumnya.
“Percy, jangan,” kata Rachel. “Jangan pergi ke sana sendirian.”
“Aku akan cepat,” janjiku. “Aku tidak akan melakukan sesuatu yang bodoh.”
Annabeth mengambil topi Yankees-nya dari sakunya. “Paling tidak bawa ini. dan hati-hatilah.”
“Makasih.” Aku ingat kali terakhir Annabeth dan aku berpisah jalan, waktu dia memberiku ciuman untuk mendoakan keberuntunganku di Gunung St. Helens. Kali ini, yang kudapat cuma topi.
Aku memasangnya. “Aku menghilang.” Dan aku menyelinap dalam keadaan tak kasat mata ke terowongan batu gelap itu.
Bahkan sebelum aku sampai ke pintu keluar, aku mendengar suara-suara: bunyi geraman dan gonggongan pandai besi monster laut, para telekhine.
“Paling tidak kita menyelamatkan mata pedang.” Salah satu berkata. “Tuan masih akan menghadiahi kita.”
“Ya! Ya!” Yang kedua memekik. “Hadiah yang tak terkira!”
Suara lain, yang ini lebih manusiawi, berkata: “Eh, iya, bagus tuh. Nah, kalau kalian sudah selesai denganku—“
“Tidak, Blasteran!” seekor telekhine berkata. “Kau harus membantu kami melakukan penyerahan. Ini kehormata besar!”
“Wah, makasih.” Si blasteran berkata, dan kusadari itu adalah Ethan Nakamura, cowok yang kabur setelah aku menyelamatkan nyawa menyedihkannya di arena.
Aku merayap menuju ujung terowongan. Aku harus mengingatkan diriku bahwa aku tak kasat mata. Mereka seharusnya tak bisa melihatku.
Semburan udara dinding menabrakkan saat aku keluar. Aku sedang berdiri di puncak Gunung Tam. Samudra Pasifik terhampar di bawah, kelabu di bawah langit mendung. Kira-kira enam meter ke arah dasar bukit, dua telekhine sedang meletakkan sesuatu di atas batu besar—sesuatu yang panjang dan tipis dan terbungkus kain hitam. Ethan membantu mereka membukanya.
“Hati-hati, Bodoh,” cela si telekhine. “Satu sentuhan, dan mata pedang akan melepaskan jiwamu dari tubuhmu.”
Ethan menelan ludah dengan gugup. “Mungkin lebih baik kubiarkan kaluan yang membukanya, kalau begitu.”
Aku melirik ke puncak gunung, tempat benteng marmer hitam menjulang, persis seperti yang kulihat dalam mimpiku. Benteng itu mengingatkanku pada mausoleum yang terlalu besar, dengan dinding-dinding setinggi lima belas meter. Aku tak punya gambaran bagaimana bisa para manusia fana melewatkan fakta bahwa bangunan itu ada di sini. Tapi tentu saja, segalanya yang terletak di bawah puncak tampak kabur bagiku, seolah ada selubung tebal di antara diriku dan paruh bawah gunung. Ada shir yang berlangsung di sini—Kabut yang sangat kuat. Di atasku, langit berpilin-pilin menjadi bubungan asap besar. Aku tak bisa melihat Atlas, tapi aku bisa mendengarnya mengerang di kejauhan, masih tersiksa di bawah bobot langit, tepat di balik benteng.
“Di sana!” kata si teleknine. Dengan khidmat, diangkatnya sebuah senjata, dan darahku pun membeku menjadi es.
Senjata itu berupa sabit—bilah sepanjang kira-kira 1,2 meter yang melengkung seperti bulan sabit, dengan gagang kayu yang terbungkus kulit. Bilah tersebut mengilapkan dua cahaya yang berbeda—baja dan perunggu. Itu adalah senjata Kronos, senjata yang digunakannua untuk memotong ayahnya, Ouranos, sebelum para dewa mengambil senjata itu darinya dan mencincang Kronos, mengasingkannya ke Tartarus. Sekarang senjata itu telah ditempa kembali.
“Kita harus menyucikannya dalam darah,” kata si telekhine. “Kemudian kau, Blasteran, akan membantu menterahkannya ketika sang raja terbangun.”
Aku berlari ke arah benteng, denyut jantungku berdentum-dentum di telingaku. Aku tidak mau dekat-dekat mouseleum hitam mengerikan itu, tapi aku tahu apa yang harus kulakukan. Aku harus menghentikan kebangkitan Kronos. Ini mungkin satu-satunya kesempatanku.
Aku melesat melewati sebuah ruang tunggu gelap dan masuk ke aula utama. Lantai berkilat bagaikan piano mahoni—hitam kelam, namun juga bercahaya. Patung-patung marmer hitam berbaris di sepanjang dinding. Aku tidak mengenali wajah-wajahnya, namun aku tahu aku sedang mamandang citra-citra para Titan yang berkuasa sebelum para dewa. Di pengunjung ruangan, di antara dua tungku perunggu, ada podium. Dan di atas podium, sarkofagus emas.
Ruangan itu hening, hanya ada bunyi api yang merentih. Luke tidak ada di sini. Tidak ada penjaga. Tidak ada apa-apa.
Ini terlalu gampang, tapi kudekati podium itu.
Sarkofagus tersebut persis seperti yang kuingat—pajang kira-kira tiga meter, terlalu besar untuk seorang manusia. Peti itu diukiri adega-adegan rumit tentang kematian dan kehancuran, gambar-gambar para dewa yang tergilas di bawah kereta perang, kuil-kuil dan bangunan-bangunan terkemuka di dunia di hancurkan dan dibakar. Secara keseluruhan peti itu memacarkan aura dingin tak terkira, seakan aku sedang berjalan masuk ke dalam freezer. Napasku mulai beruap.
Aku mengeluarkan Reptide dan merasa sedikit nyaman berkat beban pedang yang akrab di tanganku.
Kapan pun aku mendekati Kronos sebelumnya, suara jahatnya bicara dalam benakku. Kenapa dia diam sekarang? Dia sudah dicacah-cacah menjadi ribuan potong, dipotong dengan sabitnya sendiri. Apa yang bakal kutemukan kalau aku membuka tutup peti mati itu? Bagaimana bisa mereka membuat tubuh baru untuknya?
Aku tidak punya jawaban. Aku cuma tahu bahwa seandainya dia akan bangkit, aku harus menjatuhkannya sebelum dia mendapatkan sabitnya. Aku harus memikirkan cara untuk menghentikannya.
Aku berdiri dekat peti mati itu, badanku menjulang di atasnya. Hiasan di tutup peti mati bahkan lebih rumit daripada di sisi-sisinya—dengan adegan-adegan pembantaian dan kekuasaan. Di tengah ada tulisan yang tertoreh dalam bahasa yang bahkan lebih tua daripada bahasa Yunani, yang merupakan bahasa sihir. Aku sebenarnya tidak bisa membacanya, tapi aku tahu apa bunyinya: KRONOS, SANG PENGUASA WAKTU.
Tanganku menyentuh tutup peti mati. Ujung jariku membiru. Bunga es terkumpul di pedangku.
Lalu kudengar bunyi-bunyi di belakangku—suara-suara mendekat. Sekarang atau tidak sama sekali. Aku mendorong tutup peti mati emas itu ke belakang dan benda itu pun jatuh ke lantai dengan bunyi BRUUUUK! keras.
Aku mengangkat pedangku, siap menyerang. Tapi waktu aku melihat ke dalam peti, aku tidak memahami apa yang kulihat. Kaki fana, mengenakan celana abu-abu. T-shirt putih, tangan terlipat di atas perut. Secuil dadanya hilang—lubang hitam bersih kira-kira seukuran luka tembak, tepat di tempat jantungnya seharusnya berada. Matanya terpejam. Kulitnya pucat. Rambut pirang ... dan parut di sepanjang sisi kiri wajahnya.
Tubuh di dalam peti mati adalah tubuh Luke.
Aku seharusnya menikamnya tepat saat itu. Aku seharusnya menusukkan ujung runcing Reptide ke bawah dengan seluruh kekuatanku.
Tapi aku terlalu tercengang. Aku tidak mengerti. Meskipun aku benci Luke, meskipun dia sudah mengkhianatiku, aku semata tak mengerti kenapa dia ada di dalam peti mati, dan kenapa dia keliahatan betul-betul amat sangat mati.
Lalu suara para telekhine terdengar tepat di belakangku.
“Apa yang terjadi!” Salah satu monster menjerit ketika dia melihat tutup peti. Aku buru-buru menjauh dari podium, lupa bahwa aku tak kasat mata, dan bersembunyi di belakang pilar saat mereka mendekat.
“Hati-hati!” Monster lain memperingatkan. “Mungkin beliau bergerak. Kita harusmenyerahkan hadiah itu sekarang. Secepatnya!”
Kedua telekhine menyeret diri ke depan dan berlutut, mengangkat sabit yang diletakkan di atas kain pembungkusnya. “Tuanku,” kata salah satu. “Simbol kekuatan Tuan telah dibuat kembali.”
Sunyi. Tidak ada yang terjadi di dalam peti mati.
“Dasar bodoh,” gumam telekhine yang lain. “Beliau memerlukan si blasteran terlebih dahulu.”
Ethan melangkah mundur. “Tunggu, apa maksudmu, dia memerlukan aku?”
“Jangan jadi pengecut!” desis telekhine pertama. “Beliau tidak memerlukan kematianmu. Cuma sumpah setiamu. Berjanji kau akan melayaninya. Memutuskan hubungan dengan para dewa. Itu saja.”
“Tidak!” teriakku. Itu tindakan bodoh, tapi aku menyerbu masuk ke ruangan dan melepaskan topi. “Ethan, jangan!”
“Penyusup!” Para telekhine memamerkan taring anjing laut mereka. “Tuan akan segera mengurusmu. Cepat, Bocah!”
“Ethan.” Aku memohon. “Jangan dengarkan mereka. Bantu aku menghancurkannya.”
Ethan menoleh ke arahku, penutup matanya berbaur dengan bayang-bayang di wajahnya. Ekspresinya menunjukkan sesuatu yang mirip seperti rasa kasihan. “Aku memberitahumu supaya tidak membiarkanku hidup, Percy. ‘Mata dibalas mata.’ Kau pernah dengar pepatah itu? Aku mempelajarinya dengan cara yang sulit—waktu kutemukan orangtua dewaku. Aku anak Nemesis, Dewi Pembalasa. Dan untuk inilah aku diciptakan.”
Dia menoleh ke arah podium. “Aku melepaskan hubungan dengan para dewa! Apa yang pernah mereka lakukan untukku? Akan kulihat mereka dihancurkan. Aku akan melayani Kronos.”
Bangunan bergemuruh. Secercah cahaya biru naik dari lantai di kaki Ethan Nakamura. Cahaya itu melayang ke arah peti mati dan mulai berdenyar, seperti awan energi murni. Lalu cahaya itu naik ke dalam sarkofagus.
Luke terduduk tegak. Matanya terbuka, dan warna matanya tidak lagi biru. Warna matanya keemasan, sewarna dengan peti mati. Lubang di dadanya lenyap. Dia sudah sempurna. Dia melompat keluar dari peti mati dengan mudah, dan di tempat kakinya menyentuh lantai, marmer membeku layak peti es.
Dia memandang Ethan dan para telekhine dengan mata mengerikan itu, seolah dia adalah seorang bayi yang baru dilahirkan, tidak yakin pada apa yang dilihatnya. Lalu da memandangku, dan sebuah senyum pertanda bahwa dia mengenaliku melintasi mulutnya.
“Tubuh ini telah sisiapkan dengan baik.” Suaranya seperti silet yang ditelusurkan ke kulitku. Itu suara Luke, tapi bukan suara Luke. Di balik suaranya ada suara lain, bunyi yang lebih mengerikan—bunyi kuno dan dingin yang terdengar bagaikan logam yang menggores batu. “Tidakkah kau pikir begitu, Percy Jackson?”
Aku tidak bisa bergerak. Aku tidak bisa menjawab.
Kronos menelengkan kepalanya ke belakang dan tertawa. Parut mukanya bergelombang.
“Luke takut padamu,” kata suara sang Titan. “Kecemburuan dan kebencian merupakan alat yang kuat. Itu membuatnya tetap utuh. Untuk itu aku berterima kasih padamu.”
Ethan terjatuh karena ngeri. Dia menutupi wajahnya dengan tangannya. Para telekhine gemetar, mengulurkan sabit.
Akhirnya aku menemukan nyaliku. Aku menyerbu makhluk yang asalnya adalah Luke itu, menghujamkan mata pedangku tepat ke dadanya, tapi kulitnya memantulkan serangan itu seolah dia terbuat dari baja murni. Dia memandangku dengan geli. Kemudian dia mengibaskan tangannya dan aku terlempar ke seberang ruangan.
Aku menghantam sebuah pilar. Aku berusaha berdiri, berkedip-kedip untuk mengusir bintang-bintang di mataku, tapi Kronos sudah menggenggam gagang sabitnya.
“Ah ... jauh lebih baik,” katanya. “Backbiter, begitu Luke menyebutnya. Nama yang cocok. Sekarang setelah pedang ini ditempa ulang sepenuhnya, ia akan benar-benar balas menggigit.”
“Apa yang kau lakukan pada Luke?” erangku.
Kronos mengangkat sabitnya. “Dia melayaniku dengan seluruh eksistensinya, seperti yang kuminta. Bedanya, dia takut padamu, Percy Jackson. Aku tidak.”
Saat itulah aku lari. Aku bahkan tidak memikirkannya. Tidak ada perdebatan dalam pikiranku soal itu—ya ampun, haruskah aku menantang dan mencoba bertarung lagi? Tidak. Aku lari saja.
Tapi kakiku terasa berat seperti timah. Waktu melambat di sekitarku, seakan dunia berubah menjadi agar-agar. Aku pernah mendapatkan perasaan ini sebelumnya, dan aku tahu itu adalah kekuatan Kronos. Keberadaan begitu kuat sehingga ia bisa membengkokkan waktu.
“Lari, Pahlawan Kecil,” tawanya. “Lari!”
Aku melirik ke belakang dan melihatnya mendekat dengan santai, mengayunkan sabitnya seakan dia menikmati rasanya, memang sabit itu di tangannya lagi. Tidak ada senjata di dunia yang bisa menghentikannya. Berapa pun jumlah perunggu langit tidak akan bisa menghentikannya.
Jaraknya tinggal tiga meter dariku waktu kudengar, “PERCY!”
Suara Rachel.
Sesuatu terbang melewatiku, dan sebuah sikat rambut plastik biru menabrak mata Kronos.
“Aw!” teriaknya. Selama sesaat yang terdengar cuma suara Luke, penuh rasa kaget dan nyeri. Kakiku terbebaskan dan aku lari tepat ke arah Rachel, Nico dan Annabeth, yang sedang berdiri di aula masuk, mata mereka membelalak karena risau.
“Luke?” panggil Annabeth. “Apa—“
Aku mencengkeram bajunya dan menyeretnya mengikutiku. Aku lari secepat lariku yang paling cepat, langsung ke luar banteng. Kami hampir kembali ke pintu masuk Labirin ketika kudengar raungan paling lantang di seluruh dunia—suara Kronos, kembali terkendali, “KEJAR MEREKA!”
“Tidak!” teriak Nico. Dia merapatkan kedua tangannya, dan batu bergerigi bagaikan pilar yang berukuran sebesar truk beroda delapan beas menyembur dari tanah tepat di depan banteng. Getara yang disebabkannya begitu kuat sampai-sampai pilar-pilar di depan bangunan berjatuhan. Aku mendengar teriakan teredan dari para telekhine di dalam. Debu membumbung di mana-mana.
Kami melemparkan diri ke dalam Labirin dan terus berlari, lolongan sang raja Titan mengguncangkan seluruh dunia di belakang kami.[]
Comments
Post a Comment