Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB TIGA BELAS
Kami Memperkerjakan Pemandu Baru
Berjam-jam kemudian, rakitku terdampar di Perkemahan Blasteran. Bagaimana aku sampai di sana, aku tak punya gambaran. Di satu titik air danau berubah begitu saja menjadi air asin. Garis pantai Long Island yang familier muncul di depan, dan sepasang hiu putih besar yang ramah muncul dan mengarahkanku ke pantai.
Saat aku mendarat, perkemahan tampak sepi. Saat itu masih sore, tapi arena panahan kosong. Dinding panjat menuangkan lava dan meggemuruh sendirian. Paviliun: tak ada siapa-siapa. Pondok: semuanya kosong. Kemudian kulihat asap membumbung dari amfiteater. Masih terlalu awal untuk api unggun, dan kupikir mereka tidak mungkin sedang memanggang marshmallow. Aku lari ke arah datangnya asap.
Sebelum aku sampai di sana aku mendengar Chiron membuat pengumuman. Waktu kusadari apa yang dia katakan, aku berhenti berjalan.
“—asumsikan dia sudah mati,” kata Chiron. “Setelah lama hening, sangat tidak mungkin doa kita akan dijawab. Aku sudah minta yang terbaik di antara temannya yang selamat untuk melaksanakan penghormatan terakhir.”
Aku muncul lewat belakang amfiteater. Tidak ada yang melihatku. Mereka semua memandang ke depan, menyaksikan saat Annabeth mengambil kain penguburan dari sutra hijau panjang, bersulamkan trisula, dan menyulutnya hingga terbakar. Mereka sedang membakar kain kafanku.
Annabeth berbalik untuk menghadapi para hadirin. Dia kelihatan parah. Matanya bengkak karna menangis, tapi dia berhasil mengatakan, “Dia mungkin teman paling berani yang pernah kumiliki. Dia ....” Kemudian dia melihatku. Wajahnya berubah menjadi merah padam. “Dia ada di sana!”
Kepala-kepala berpaling. Orang-orang terkesiap.
“Percy!” Beckendorf nyengir. Sejumlah anak lain mengeruminiku dan menepuk-nepuk punggungku. Kudengar beberapa sumpah serapah dari pondok Ares, tapi Clarisse cuma menutar bola matanya, seakan tak bisa percaya aku bisa-bisanya punya nyali untuk selamat. Chiron berderap menghampiriku dan semua orang menepi untuk memberinya jalan.
“Yah.” Dia mendesah, jelas-jelas lega. “Aku tidak percaya aku pernah sesenag ini melihat seorang pekemah kembali. Tapi kau harus memberitahuku—“
“KE MANA SAJA KAU?” Annabeth menginterupsi, menyikut para pekemah lain supaya minggir. Kupikir dia bakal meninjuku, tapi dia justru memelukku erat sekali sampai-sampai dia hampir meretakkan tulang igaku. Para pekemah lain terdiam. Annabeth tampaknya sadar dia menjadi tontonan dan mendorongku menjauh. “Aku—kami pikir kau mati, Otak Ganggang!”
“Sori,” kataku. “Aku kesasar.”
“KESASAR?” teriaknya. “Dua minggu, Percy? Ngapain aja—“
“Annabeth,” Chiron menginterupsi. “Mungkin kita sebaiknya mendiskusikan ini di tempat yang lebih pribadi, ya? Yang lain, kembali ke kegiatan normal kalian!”
Tanpa menunggu kami untuk protes, dia mengangkat Annabeth dan aku dengan mudah seolah-olah kami ini anak kucing, meletakkan kami berdua di punggungnya, dan mencongklang menjuju Rumah Besar.
***
Aku tidak memberi tahu mereka cerita selengkapnya. Aku semata tak bisa memaksa diri untuk membicarakan Calypso. Aku menjelaskan bagaimana aku menyebabkan letusan di Gunung St. Helens dan dilemparkan keluar dari gunung berapi. Kuberi tahu mereka aku terdampar di sebuah pulau. Kemudian Hephaestus menemukanku dan memberitahuku aku boleh pergi. Sebuah rakit ajaib membawaku kembali ke perkemahan.
Semua itu benar, tapi saat aku mengatakannya telapak tanganku berkeringat.
“Kau sudah hilang dua minggu.” Suara Annabeth lebih mantap sekarang, tapi dia masih kelihatan agak terguncang. “Waktu aku mendengar letusan, kupikir—“
“Aku tahu,” kataku. “Maafkan aku. Tapi sekarang aku tahu bagaimana caranya menjelajahi Labirin. Aku bicara dengan Hephaestus.”
“Dia memberitahumu jawabannya?”
“Yah, dia kurang lebih memberitahuku bahwa aku sudah tahu. Dan aku memang sudah tahu. Aku paham sekarang.”
Aku memberi tahu mereka gagasanku.
Mulut Annabeth ternganga. “Percy, itu gila!”
Chiron menyandarkan diri ke kursi rodanya dan mengelus-elus jenggotnya. “Walau begitu, sudah ada preseden. Theseus mendapatkan bantuan dari Ariadne. Harriet Tubman, putri Hermes, memanfaatkan banyak manusia fana di Rel Kereta Api Bawah Tanahnya hanya karena alasan ini.”
“Tapi ini misiku,” kata Annabeth. “Aku harus memimpinnya.”
Chiron terlihat tidak nyaman. “Sayangku, ini memang misimu. Tapi kau perlu bantuan.”
“Dan ini semestinya membantu? Yang benar saja! Ini salah. Ini pengecut. Ini—“
“Sulit mengakui kita perlu bantuan manusia fana,” kataku. “Tapi itu memang benar.”
Annabeth memelototiku. “Kau orang paling menyebalkan yang pernah kutemui!” Dan dia keluar ruangan dengan marah.
Aku menatap ambang pintu. Aku merasa ingin memukul seseorang. “Teman paling berani yang pernah dia kenal apaan.”
“Dia nantinya akan tenang,” janji Chiron. “Dia cemburu, Nak.”
“Konyol sekali. Dia toh bukan ... kami kan bukan ....”
Chiron tergelak. “Bukan masalah. Annabeth sangat posesif terhadap teman-temannya, kalau-kalau kau belum menyadarinya. Dia cukup mengkhawatirkanmu. Dan sekarang setelah kau kembali, kupikir dia curiga tentang tempatmt terdampar.”
Aku bertemu pandang dengannya, dan aku tahu Chiron sudah menebak soal Calypso. Sulit menyembunyikan apa pun dari laki-laki yang sudah melatih para pahlawan selama tiga ribu tahun. Dia kurang lebih bisa melihat semuanya.
“Kita takkan merenungkan pilihanmu,” kata Chiron. “Kau kembali. Itu yang penting.”
“Katakan itu pada Annabeth.”
Chiron tersenyum. “Besok pagi aku aka minta Argus mengantar kalian berdua ke Manhattan. Kalia boleh berhenti di rumah ibumu, Percy. Dia ... cemas, dan itu memang wajar.”
Jantungku melecus. Sepanjang waktu di pulau Calypso, aku bahkan tidak pernah memikirkan bagaimana perasaan ibuku. Dia pasti berpikir aku sudah mati. Dia pasti sedih sekali. Apa yang salah denganku sampai-sampai aku bahkan tidak mempertimbangkan itu?
“Pak Chiron,” kataku, “bagaimana dengan Grover dan Tyson? Apa Bapak pikir—“
“Aku tidak tahu, Nak.” Chiron menatap perapian yang kosong. “Juniper cukup sedih. Semua rantingnya jadi kuning. Dewan Tetua Berkuku Belah sudah mencabut izin pencari Grover secara in absentia. Seandainya dia kembali hidup-hidup, mereka akan memaksanya untuk menjalani pengasingan memalukan.” Dia mendesah. “Walau begitu, Grover dan Tyson sangat cerdik. Kita masih bisa berharap.”
“Aku semestinya tidak membiarkan mereka pergi.”
“Grover punya takdirnya sendiri, dan Tyson berani karena mengikutinya. Kau tahu seandainya Grover dalam bahaya maut, tidakkah kau pikir begitu?”
“Kurasa begitu. Sambungan empati. Tapi—“
“Ada yang harus kuberitahukan padamu, Percy,” katanya. “Sebenarnya ini dua hal yang tak menyenangkan.”
“Hebat.”
“Chris Rodriguez, tamu kita ....”
Aku ingat apa yang kulihat di ruang bawah tanah, Clarisse mencoba bicara padanya sementara dia mengoceh soal Labirin. “Apa dia mati?”
“Belum,” kata Chiron muram. “Tapi kondisinya jauh lebih parah. Dia di ruang kesehatan sekarang, terlalu lemah untuk bergerak. Aku harus memerintahkan Clarisse supaya kembali ke jadwalnya yang biasa, sebab dia terus-menerus berada di samping tempat tidur Chris. Dia tidak merespons apa pun. Dia tidak mau makan atau minum. Tak satu pun obatku membantu. Dia semata sudah kehilangan tekad untuk hidup.”
Aku gemetar. Terlepas dari semua pertikaian yang kualami dengan Clarisse, aku ikut tidak enak hati untuknya. Dia mencoba begitu keras untuk menolong Chris. Dan sekarang setelah aku pernah berada dalam Labirin, aku bisa mengerti kenapa mudah sekali bagi hantu Minos untuk membuat Chris gila. Kalau aku berkeliaran di bawah sana sendirian, tanpa teman-temanku untuk menolong, aku pasti tak akan bisa keluar.
“Dengan berat hati kukatakan,” Chiron melanjutkan, “bahwa kabar lainnya masih tidak menyenangkan. Quintus menghilang.”
“Menghilang? Bagaimana?”
“Tiga malam lalu dia menyelinap masuk ke Labirin, Juniper menyaksikannya pergi. Tampaknya kau memang benar tentang dia.”
“Dia mata-mata Luke.” Aku memberi tahu Chiron soal Perkemahan Tripel G—bagaimana Quintus membeli kalajengkingnya di sana dan Geryon selama ini menyuplai kebutuhan pasukan Kronos. “Itu tidak mungkin kebetulan.”
Chiron mendesah berat. “Begitu banyak penghianatan. Aku berharap Quintus akan terbukti merupakan seorang teman. Tampaknya penilaianku buruk.”
“Bagaimaa dengan Nyonya O’Leary?” tanyaku.
“Sang anjing neraka masih di arena. Ia tidak mau membiarkan siapa pun mendekat. Aku tidak sampai hati memaksanya masuk kandang ... atau menghancurkannya.”
“Quintus tidak mungkin meninggalkannya begitu saja.”
“Seperti yang kukatakan, Percy, kita tampaknya salah soal dia. Nah, sekarang kau sebaiknya mempersiapkan diri untuk besok pagi. Kau dan Annabeth masih punya banyak tugas untuk dilakukan.”
Aku meninggalkannya di kursi rodanya, dengan sedih menatap perapian kosong. Aku bertanya-tanya sudah berapa kali dia duduk di sana, menantikan para pahlawan yang tidak pernah kembali.
Sebelum makan malam aku mampir di arena pedang. Memang benar, Nyonya O’Leary sedang bergelung membentuk gundukan raksasa berbulu hitam di tengah-tengah stadion, setengah hati mengunyah kepala boneka prajurit.
Waktu dia melihatku, dia menggonggong dan belari menghampiriku. Kupikir aku bakal gepeng. Aku cuma punya waktu untuk berkata, “Woa!” sebelum dia menerjangku dan mulai menjilati mukaku. Nah, biasanya sebagai anak Poseidon, aku cuma basah kalau aku mau, tapi kekuatanku rupanya tak sampai ke liur anjing, soalnya aku lumayan basah kuyup bermandikan ludah.
“Tenang, Non!” teriakku. “Nggak bisa napas. Lepaskan aku!”
Akhirnya aku berhasil membuatnya melepaskanku. Aku menggaruk kupingnya dan memberinya biskuit anjing ekstraraksasa.
“Di mana majikanmu?” tanyaku padanya. “Bagaimana bisa dia meninggalkanmu begitu saja, ya?”
Dia merengek, sepertinya dia ingin tahu soal itu juga. Aku siap untuk memercayai bahwa Quintus seorang musuh, tapi aku masih tidak mengerti kenapa dia meninggalkan Nyonya O’Leary. Kalau ada satu hal yang kuyakini, hal itu adalah bahwa dia betul-betul peduli pada anjing raksasanya.
Aku sedang memikirkan itu dan mengelap mukaku untuk menyingkirkan liur anjing ketika suara seorang gadis berkata, “Kau beruntung dia nggak menggigit kepalamu sampai copot.”
Clarisse berdiri di ujung lain arena dengan pedang dan perisainya. “Aku datang ke sini untuk latihan kemarin,” gerutunya. “Anjing itu mencoba mengunyahku.”
“Dia anjing pintar,” kataku.
“Lucu.”
Clarisse berjalan ke arah kami. Nyonya O’Leary menggeram, tapi aku menepuk kepalanya dan menenangkannya.
“Anjing neraka bodoh,” kata Clarisse. “Nggak bakalan menghalangiku berlatih.”
“Aku dengar soal Chris,” kataku. “Aku ikut sedih.”
Clarisse mondar-madir mengelilingi arena. Ketika dia menghampiri boneka terdekat, dia menyerang dengan ganas, memenggal kepalanya dengan sekali tebas dan mengarahka pedangnya menembus perut si boneka. Dia menarik pedangnya ke luar dan terus berjalan.
“Yah, bagaimana lagi. Kadang-kadang keadaan memang memburuk.” Suaranya gemetar. “Para pahlawan terluka. Mereka ... mereka mati, dan monster-monster terus saja kembali.”
Dia mengambil lembing dan melemparkannya ke seberang arena. Lembing itu menusuk sebuah boneka tepat di antara lubang mata pada helmnya.
Dia menyebut Chris seorang pahlawan, seakan dia tak pernah pergi ke pihak para Titan. Hal itu mengingatkanku pada cara Annabeth terkadang membicarakan Luke. Kuputuskan untuk tidak mengemukakan soal itu.
“Chris pemberani,” kataku. “Moga-moga dia baikan.”
Dia memelototiku seolah aku ini targetnya yang berikutnya. Nyonya O’Leary menggeram.
“Dengar ya,” kata Clarisse padaku.
“Apa?”
“Kalau kau menemukan Daedalus, jangan percayai dia. Jangan minta dia membantu. Bunuh saja dia.”
“Clarisse—“
“Soalnya siapa pun yang bisa membuat sesuatu seperti Labirin adalah orang yang jahat, Percy. Betul-betul jahat.”
Selama sesaat dia mengingatkanku pada Eurytion sang gembala sapi, kakak tirinya yang jauh lebih tua. Ada ekspresi keras yang sama seperti Eurytion di matanya, seolah dia sudah diperalat selama dua ribu tahun terakhir dan sudah capek akan hal itu. Dia menyarungkan pedangnya. “Waktu latihan sudah selesai. Mulai sekarang, semuanya sungguhan.”
Malam itu aku tidur di tempat tidur susunku sendiri, dan untuk pertama kalinya sejak pulau Calypso, mimpi menemukanku.
Aku berada dalam ruangan di istana raja—sebuah ruangan putih besar dengan pilar-pilar marmer dan singgasana kayu. Di atasnya duduklah seorang pria montok dengan rambut merah keriting dan mahkota daun dafnah. Di sisinya berdirilah tiga gadis yang tampaknya adalah anak-anak perempuannya. Mereka semua punya rambut merah sama sepertinya dan mengenakan jubah biru.
Pintu berderit terbuka dan seorang pembawa pesan mengumumkan, “Minos, Raja Kreta!”
Aku menegang, tapi pria di singgasana hanya tersenyum pada anak-anak perempuannya. “Aku tidak sabar melihat raut mukanya.”
Minos, sang ningrat bajingan, masuk menyapu ruangan. Dia begitu tinggi dan serius sehingga dia membuat raja yang satu lagi terlihat konyol. Jenggot lancip Minos sudah berubah warna menjadi kelabu. Dia terlihat lebih kurus daripada kali terakhir aku memimpikannya, dan sandalnya terciprat lumpur, tapi cahaya kejam yang sama berbinar-binar di matanya.
Dia membungkuk dengan kaku kepada pria di singgasana. “Raja Cocalus. Kudengar kau sudah memecahkan teka-teki kecilku?”
Cocalus tersenyum. “Sama sekali tidak kecil, Minos. Terutama saat kau mengiklankan ke seluruh dunia bahwa kau bersedia membayar seribu batang emas untuk orang yang dapat memecahkannya. Apa tawaran itu asli?”
Minos bertepuk tangan. Dua pengawal gempal berjalan masuk, susah payah mengangkut peti kayu besar. Mereka meletakkan peti itu di dekat kaki Cocalus dan membukanya. Tumpukan batang emas berkilau. Nilainya pasti bertrilyun-trilyun dolar.
Cocalus bersiul kagum. “Kau pasti membuat kerajaanmu bangkrut demi hadiah sebanyak ini, Kawanku.”
“Itu bukan urusanmu.”
Cocalus mengangkat bahu. “Teka-teki itu cukup sederhana, sebetulnya. Salah satu pengikutku memecahkannya.”
“Ayah,” salah seorang gadis memperingatkan. Dia kelihatannya yang tertua—sedikit lebih tinggi daripada saudari-saudarinya.
Cocalus mengabaikannya. Dia mengambil cangkang kerang spiral dari dalam lipatan jubahnya. Benang perak telah dilewatkan ke situ sehingga kerang itu tergantung seperti manik-manik di kalung.
Minos melangkah maju dan mengambil cangkang kerang itu. “Salah satu pengikutmu, katamu? Bagaimana dia melewatkan benang ini tanpa memecahkan kerang?”
“Dia menggunakan semut, kalau kau percaya. Ikatkan benang sutra ke makhluk kecil itu dan bujuk dia melewati kerang dengan cara mengoleskan madu di ujung yang satu lagi.”
“Pria cerdik,” kata Minos.
“Oh, memang. Tutor anak-anak perempuanku. Mereka cukup menyukainya.”
Ekspresi di mata Minos berubah menjadi dingin. “Aku akan berhati-hati soal itu.”
Aku ingin memperingatkan Cocalus: Jangan percayai laki-laki ini! Lemparkan dia ke penjara bawah tanah dengan singa-singa pemakan manusia atau apalah! Tapi sang raja berambut merah cuma tergelak. “Jangan khawatir, Minos. Anak-anak perempuanku bijaksana, melampaui usia mereka. Nah, mengenai emasku—“
“Ya,” kata Minos. “Tapi begini, emas ini untuk pria yang memecahkan teka-teki. Dan hanya ada satu pria semacam itu. Kau menampung Daedalus.”
Cocalus bergeser tak nyaman di singgasananya. “Bagaimana bisa kautahu namanya?”
“Dia pencuri,” kata Minos. “Dia pernah bekerja di istanaku, Cocalus. Dia memengaruhi putriku sendiri sehingga melawanku. Dia membantu seorang maling mempermalukanku di istanaku sendiri. Dan kemudian dia melarikan diri dari keadilan. Aku sudah mengejarnya selama sepuluh tahun.”
“Aku tidak tahu apa-apa tentang ini. Tapi aku sudah menawari pria itu perlindunganku. Dia sangat berguna—“
“Aku menawarimu pilihan,” kata Minos. “Serahkan buronan itu kepadaku, dan emas ini jadi milikmu. Atau ambil risiko menjadikanku musuhmu. Kau tidak menginginkan Kreta sebagai musuhmu.”
Cocalus memucat. Kupikir bodoh, dirinya kelihatan begitu ketakutan di tengah ruang singgasanannya sendiri. Dia seharusnya memanggil pasukannya atau apalah. Minos Cuma punya dua pengawal. Tapi Cocalus duduk saja di sana sambil berkeringat di singgasananya.
“Ayah,” anak perempuannya yang tertua berkata, “Ayah tidak bisa—“
“Diam, Aelia.” Cocalus memuntir jenggotnya. Dilihatnya lagi emas yang berkilauan. “Ini menyakitiku, Minos. Para dewa tak menyukai pria yang melanggar sumpahnya untuk bersikap ramah tamah.”
“Para dewa juga tidak menyukai mereka yang menampung kriminal.”
Cocalus mengangguk. “Baiklah. Kau akan mendapatkan pria itu sebagai milikmu dalam keadaan terantai.”
“Ayah!” Aelia lagi-lagi berkata. Lalu dia menahan diri, dan mengubah nada suaranya menjadi lebih manis. “Paling—paling tidak biarkan kami menjamu tamu kita terlebih dahulu. Setelah perjalanan panjangnya, beliau semestinya diberi mandi air panas, pakaian baru, dan santapan yang layak. Saya akan merasa terhormat untuk menyiapkan mandi beliau sendiri.”
Dia tersenyum manis pada Minos, dan sang raja tua menggeram. “Kurasa mandi tidak ada salahnya.” Dia memandang Cocalus. “Akan kujumpai kau saat makan malam, Tuan. Bersama si tawanan.”
“Ke arah sini, Baginda,” kata Aelia. Dia dan saudara-saudara perempuannya membimbing Minos ke luar ruangan.
Aku mengikuti mereka ke kamar mandi yang dihiasi ubin mozaik. Uap memenuhi udara. Keran yang mengucurkan air menuangkan air panas ke dalam bak. Aelia dan saudari-saudarinya memenuhi bak dengan kelopak mawar dan sesuatu yang pastinya adalah busa madi Mr. Bubble ala Yunani Kuno, soalnya tidak lama kemudian air diselubingi oleh busa aneka warna. Para gadis menoleh ke samping saat Minos menjatuhkan jubahnya dan menyelinap masuk ke dalam bak.
“Ahh.” Dia tersenyum. “Air mandi yang luar biasa. Terima kasih, Sayangku. Perjalananku memang panjang sekali.”
“Anda sudah sepuluh tahun mengejar mangsa Anda, Tuan?” tanya Aelia, mengedikkan bulu matanya. “Anda pasti bertekad kuat.”
“Aku tidak pernah melupakan utang.” Minos menyeringai. “Ayah kalian bijaksana, menyetujui tuntutanku.”
“Oh, memang, Tuan!” kata Aelia. Kupikir pujiannya terlalu kentara, tapi si laki-laki tua menelannya bulat-bulat begitu saja. Saudari-saudari Aelia meneteskan minyak wangi ke kepala sang raja.
“Anda tahu, Tuan,” kata Aelia, “Daedalus pikir Anda akan datang. Dia pikir teka-teki itu mungkin merupakan perangkap, tapi dia tidak bisa menahan diri untuk tidak memecahkannya.”
Minos menyerngitkan dahi. “Daedalus bicara tentangku padamu?”
“Ya, Tuan.”
“Dia pria yang tidak baik, Putri. Anak perempuanku sendiri jatuh ke dalam tipu dayanya. Jangan dengarkan dia.”
“Dia genius,” kata Aelia. “Dan dia percaya seorang wanita sama pintarnya seperti seorang pria. Dialah yang pertama kali mengajari kami layaknya kami punya pikiran sendiri. Mungkin anak perempuan Anda merasakan hal yang sama.”
Minos mencoba duduk tegak, tapi saudara-saudara perempuan Aelia mendorongnya kembali ke air. Aelia mendekat ke belakang Minos. Dia memegangi tiga bulatan kecil di telapaknya. Pada mulanya kupikir ketiganya adalah butiran sabun mandi, tapi dia melemparkannya ke air dan butiran-butiran itu mulai menjulurkan benang-benang perunggu yang mulai membungkus tubuh sang raja, mengikat pergelagan kakinya, mengekang tangannya ke samping tubuhnya, melingkari lehernya. Meskipun aku benci Minos, pemandangan itu cukup mengerikan untuk ditonton. Dia meronta-ronta dan menjerit, tapi gadis-gadis itu jauh lebih kuat. Segera saja dia menjadi tak berdaya, tergolek di bak dengan dagunya tepat di atas permukaan air. Untaian perunggu masih membungkusnya seperti kepompong, makin erat di permukaan tubuhnya.
“Apa mau kalian?” tuntut Minos. “Kenapa kalian melakukan ini?”
Aelia tersenyum. “Daedalus baik pada kami, Baginda. Dan saya tidak suka Anda mengancam ayah kami.”
“Bilang pada Daedalus,” geram Minos. “Bilang padanya aku akan memburunya bahkan setelah kematian! Jika ada keadilan di Dunia Bawah, jiwaku akan menghantuinya selamanya!”
“Kata-kata yang berani, Baginda,” kata Aelia. “Saya harap Anda beruntung menemukan keadilan Anda di Dunia Bawah.”
Dan dengan itu, benang-benang perunggu membungkus wajah Minos, menjadikannya mumi perunggu.
Pintu rumah mandi terbuka. Daedalus melangkah masuk, membawa tas bepergiannya.
Dia sudah memangkas rambutnya pendek-pendek. Jenggotnya putih sepenuhnya. Dia terlihat rapuh dan sedih, tapi dia mengulurkan tangan ke bawah dan menyentuh kening si mumi. Benang-benang terurai dan tenggelam ke dasar bak. Tak ada apa-apa di dalamnya. Tampaknya seolah Raja Minos larut begitu saja.
“Kematian yang tak menyakitkan.” Daedalus bergumam. “Lebih daripada yang layak diterimaya. Terima kasih, Putri-putri.”
Aelia memeluknya. “Anda tidak bisa tinggal di sini, Guru. Saat ayah kami tahu—“
“Ya,” kata Daedalus. “Aku takut aku sudah membawa masalah bagi kalian.”
“Oh, jangan cemaskan kami. Ayah akan senang mengambil emas pak tua itu. Dan Kreta sangat jauh dari sini. Tapi dia akan menyalahkan Anda atas kematian Minos. Anda harus kabur ke tempat yang aman.”
“Tempat yang aman,” ulang sang pria tua. “Selama bertahun-tahun aku kabur dari kerajaan ke kerajaan, mencari tempat yang aman. Aku takut Minos mengatakan yang sesungguhnya. Kematian takkan mencegahnya memburuku. Tidak ada tempat di bawah matahari yang akan menampungku, setelah kabar tentang kejahatan ini tersebar.”
“Kalau begitu ke mana Anda akan pergi?” kata Aelia.
“Tempat yang menurut sumpahku takkan kumasuki lagi,” kata Daedalus. “Penjaraku mungkin merupakan satu-satunya tempatku berlindung.”
“Saya tidak mengerti,” kata Aelia.
“Lebih baik kau tidak mengerti.”
“Tapi bagaimana dengan Dunia Bawah?” Salah satu saudara perempuannya bertanya. “Penghakiman yang mengerika akan menanti Anda! Semua manusia harus mati.”
“Mungkin,” kata Daedalus. Lalu dia mengeluarkan gulungan dari tas bepergiannya—gulungan yang sama yang pernah kulihat dalam mimpiku, yang memuat catatan keponakannya. “Atau mungkin tidak.”
Dia menepuk bahu Aelia, lalu memberkati dia dan saudara-saudara perempuannya. Dia menunduk sekali lagi, memandang benang-benang logam yang berkilat di dasar bak. “Cari aku kalau kau berani, raja hantu.”
Dia menoleh ke arah dinding mozaik dan menyentuh sebuah ubin. Tanda yang mengilap muncul—D Yunani—dan dinding bergeser membuka, Para putri terkesiap.
“Anda tidak pernah memberi tahu kami tentang jalan rahasia!” kata Aelia. “Anda pasti sibuk selama ini.”
“Labirin yang sibuk selama ini,” Daedalus mengoreksi. “Jangan coba ikuti aku, Sayangku, kalau kalian menghargai kewarasan kalian.”
Mimpiku berpindah. Aku berada di bawah tanah dalam sebuah ruangan batu. Luke dan seorang prajurit blasteran lain sedang mempelajari sebuah peta diterangi senter.
Luke menyumpah. “Harusnya ini belokan terakhir.” Dia meremas-remas peta dan melemparkannya ke samping.
“Pak!” protes rekannya.
“Peta tidak berguna di sini,” kata Luke. “Jangan khawatir. Aku aka menemukannya.”
“Pak, benarkah semakin besar kelompok—“
“Kau lebih mungkin tersesat? Ya, itu benar. Memangnya kenapa kau pikir kita mengirim penjelajah tunggal? Tapi jangan khawatir. Segera setelah kita dapatkan benang itu, kita bisa membimbing baris depan lewat.”
“Tapi bagaimana cara kita mendapatkan benang itu?”
Luke berdiri, melemaskan jari-jarinya. “Oh, Quintus akan datang. Yang harus kita lakukan hanyalah mencapai arena, dan letaknya di persimpangan. Mustahil pergi ke mana pun tanpa melaluinya. Itulah sebabnya kita harus berdamai dengan tuannya. Kita cuma harus tetap hidup sampai—“
“Pak!” suara baru datang dari koridor. Laki-laki lain yang berpakaian zirah Yunani lari ke depan, membawa obor. “Dracaena menemukan seorang blasteran!”
Luke cemberut. “Sendirian? Berkeliaran di labirin?”
“Ya, Pak! Anda lebih baik cepat-cepat datang ke sana. Mereka ada di ruangan berikutnya. Mereka sudah menyudutkannya.”
“Siapa dia?”
“Tidak ada yang pernah melihatnya sebelumnya, Pak.”
Luke mengangguk. “Karunia dari Kronos. Kita mungkin bisa memanfaatlkan blasteran ini. Ayo!”
Mereka lari menyusuri koridor, dan aku tersentak bangun, menatap ke kegelapan. Seorang blasteran, berkeliaran di labirin sendirian. Sudah lama sebelum aku berkesempatan tidur lagi.
Keesokan paginya aku memastikan supaya biskuit anjing Nyonya O’Leary cukup. Aku minta Beckendorf untuk mengawasi anjing itu, sesuatu yang tampaknya membuatnya tidak terlalu gembira. Lalu aku memanjat Bukit Blasteran dan menemui Annabeth dan Argus di jalan.
Annabeth dan aku tidak banyak mengobrol di dalam van. Argus tidak pernah bicara, mungkin karena dia punya mata di seluruh tubuhnya, termasuk—begitu yang kudengar—di ujung lidahnya, dan dia tidak suka menunjukkannya.
Annabeth terlihat mual, seakan tidurnya bahkan lebih tidak nyenyak daripada aku.
“Mimpi buruk?” tanyaku akhirnya.
Dia menggelengkan kepalanya. “Pesan-Iris dari Eurytion.”
“Eurytion! Apa ada masalah dengan Nico?”
“Dia meninggalkan peternakan kemarin malam, kembali menuju ke labirin.”
“Apa? Apa Eurytion nggak mencoba menghentikannya?”
“Nico sudah pergi sebelum dia bangun. Orthus melacak baunya sampai sejauh si sapi penjaga. Eurytion bilang dia mendengar Nico berbicara sendiri beberapa malam sebelumnya. Hanya saja sekarang dia pikir Nico bicara dengan si hantu lagi, Minos.”
“Dia dalam bahaya,” kataku.
“Pastinya. Minos salah satu pengadil orang mati, tapi dia punya bawaan kejam. Aku nggak tahu apa yang dia mau dari Nico, tapi—“
“Bukan itu maksudku,” kataku. “Aku bermimpi semalam ....” Aku memberitahunya tentang Luke, bagaimana dia menyebut Quintus, dan bagaimana anak buahnya menemukan seorang blasteran sendirian dalam labirin.
Rahang Annabeth mengatup. “Itu gawat, gawat sekali.”
“Jadi, apa yang kita lakukan?”
Dia mengangkat alis. “Yah, untung kau punya rencana untuk memandu kita, kan?”
Saat itu hari Sabtu, dan lalu lintas memasuki kota padat. Kami sampai di rumah ibuku sekitar tengah hari. saat dia membuka pintu, dia memberiku pelukan yang hanya sedikit lebih ringan dibandingkan dengan ketika si anjing neraka melompat menerjangku.
“Aku bilang pada mereka kau baik-baik saja,” kata ibuku, tapi dia terdengar seakan bobot seluruh langit baru saja diangkat dari pundaknya—dan percaya padaku deh, aku pernah mengalami sendiri bagaimana rasanya itu.
Dia menyuruh kami duduk di balik meja dapur dan berkeras memberi kami makanan berupa kue chocolatechip spesialnya yang berwarna biru sementara kami menceritakan tentang misi kepadanya. Seperti biasa, aku mencoba menggampangkan bagian-bagian yang menyeramkan (yang berarti hampir semuanya), tapi entah bagaimaa itu Cuma membuatnya terdengar lebih berbahaya.
Waktu aku sampai ke bagian Geryon dan istal, ibuku pura-pura bakal mencekikku. “Aku tidak bisa menyuruhnya membersihka kamarnya, tapi dia mau membersihkan istal monster dari berton-ton kotora kuda?”
Annabeth tertawa. Itulah pertama kalinya kudengar dia tertawa setelah waktu yang lama, dan aku senang mendengarnya.
“Jadi,” kata ibuku waktu aku selesai bercerita, “kay memorak-poradakan Pulau Alcatraz, membuat Gunung St. Helens meletus, dan mengusir setengah juta orang, tapi paling tidak kau selamat.” Begitulah ibuku, selalu melihat sisi postifnya.
“Yep.” Aku setuju. “Itu kurang lebih mencakup semuanya.”
“Kuharap Paul ada di sini,” katanya, setengah pada dirinya sendiri. “Dia ingin bicara padamu.”
“Oh, benar. Sekolah.”
Begitu banyak hal sudah terjadi sejak saat itu sampai-sampai aku lupa soal orientasi SMA di Goode—fakta bahwa aku meninggalkan aula band dalam keadaan terbakar, dan pacar ibuku terakhir kali melihatku melompat keluar jendela seperti buronan.
“Apa yang Ibu katakan padanya?”
Ibuku menggelengkan kepala. “Apa yang bisa Ibu katakan? Dia tahu sesuatu berbeda tentang dirimu, Percy. Dia laki-laki pintar. Dia percaya kau bukan orang jahat. Dia tidak tahu apa yang terjadi, tapi sekolah menekannya. Biar bagaimanapun, dia memintamu dimasukkan ke sana. Dia perlu meyakinkan mereka bahwa kebakaran bukan salahmu. Dan karena kau kabur, kelihatannya jadi buruk.”
Annabeth mengamatiku. Dia terlihat lumayan simpatik. Aku tahu dia pernah berada dalam situasi yang mirip. Tidak pernah mudah bagi blasteran, berada di dunia manusia fana.
“Aku akan bicara padanya.” Aku berjanji. “Setelah kami menyelesaikan misi. Aku bahkan akan memberitahunya soal sebenarnya kalau Ibu mau.”
Ibuku meletakkan tangan di bahuku. “Kau mau melakukan itu?”
“Yah, mau. Maksudku, dia bakal mengira kita gila.”
“Dia sudah berpikir begitu, kok.”
“Kalau begitu nggak ada ruginya, kan.”
“Terima kasih, Percy. Akan ibu beri tahu dia kau akan pulang ....” Ibu mengerutkan kening. “Kapan? Apa yang terjadi sekarang?”
Annabeth mematahkan kuenya jadi dua. “Percy punya rencana ini nih.”
Dengan enggan aku memberi tahu ibuku.
Dia mengangguk pelan. “Kedengarannya sangat berbahaya. Tapi mungkin saja berhasil.”
“Ibu punya kemampuan yang sama, kan?” tanyaku. “Ibu bisa melihat menembus Kabut.”
Ibuku mendesah. “Sekarang tidak terlalu. Waktu ibu masih muda, melakukannya lebih mudah. Tapi, ya, Ibu selama ini selalu bisa melihat lebih daripada yang bagus untuk Ibu. Itulah salah satu hal yang menarik perhatian ayahmu, waktu kita pertama bertemu. Pokoknya hati-hatilah. Berjanjilah padaku kau akan selamat.”
“Akan kami coba, Bu Jackson,” kata Annabeth. “Tapi, menjaga anak laki-laki Ibu supaya tetap aman adalah pekerjaan besar.” Dia bersedekap dan memandang ke luar jendela dapur. Aku memain-mainkan serbetku dan mencoba untuk tidak mengatakan apa-apa.
Ibuku mengernyitkan dahi. “Ada apa dengan kalian berdua? Apa kalian bertengkar?”
Tak satu pun dari kami berkata apa-apa.
“Begitu,” kata Ibuku, dan aku bertanya-tanya apa dia bisa melihat menembus lebih daripada sekadar Kabut. Kedengarannya dia mengerti apa yang terjadi antara Annabeth dan aku, tapi aku tahu pasti bahwa aku tak mengerti. “Yah, ingatlah,” katanya, “Grover dan Tyson mengandalkan kalian berdua.”
“Aku tahu.” Annabeth dan aku berkata berbarengan, yang justru lebih membuatku malu.
Ibuku tersenyum. “Percy, lebih baik kau gunakan telepon di lorong. Semoga berhasil.”
Aku lega bisa keluar dari dapur meskipun aku gugup soal apa yang akan kulakukan. Aku pergi ke telepon dan melakukan panggilan. Nomor itu sudah lama terhapus dari tangaku, tapi itu tidak jadi soal. Tanpa bermaksud melakukannya, aku sudah menghafalnya.
Kami mengatur pertemuan di Times Square. Kami menemukan Rachel Elizabeth Dare di depan Marriott Marquis, dan dia sepenuhnya bercat emas.
Maksudku wajahnya, rambutnya, pakaiannya—semuanya. Dia terlihat seakan habis disentuh Raja Midas. Dia berdiri seperti patung bersama lima anak lain yang semuanya bercat metalik—tembaga, perunggu, perak. Mereka membeku dalam pose-pose yang berbeda sementara para wisatawan bergegas-gegas melintas atau berhenti untuk menatap. Beberapa pejalan kaki melemparkan uang ke terpal di trotoar.
Plang di kaki Rachel berbunyi, SENI URBAN UNTUK ANAK-ANAK, MENERIMA DONASI.
Annabeth dan aku berdiri di sana selama kira-kira lima menit, menatap Rachel, tapi kalau dia melihat kami dia tak menunjukkannya. Dia tidak bergerak atau bahkan berkedip, setidaknya tidak sepengelihatanku. Sebagai penderita GPPH, aku tak mungkin melakukan itu. Berdiri diam selama itu pasti bakal membuatku gila. Aneh juga melihat Rachel berwarna emas. Dia terlihat seperti patung seseorang yang terkenal, aktris atau apalah. Hanya matanya yang berwarna hijau normal.
“Mungkin kita harus mendorongnya.” Annabeth menyarankan.
Kupikir itu agak kejam, tapi Rachel tidak merespons perkataan itu. Beberapa menit kemudian, seorang anak berwarna perak berjalan dari pelataran taksi hotel, tempatnta beristirahat sebelumnya. Dia berpose seolah dia sedang menguliahi khalayak, tepat di sebelah Rachel. Rachel baru berhenti mematung dan melangkah dari terpal.
“Hei, Percy.” Dia nyengir. “Pemilihan waktu yang bagus! Ayo kita ngopi.”
Kami berjalan ke sebuah tempat bernama Java Moose di West 43rd. Rachel memesan Espresso Extreme, jenis minuman yang sepertinya bakal disukai Grover. Annabeth dan aku memesan smoothie buah dan kami duduk di sebuah meja tepat di bawah seekor moose—semacam rusa—yang disumpal. Tidak seorang pun melirik Rachel yang berpakaian serba emas dua kali.
“Jadi,” katanya, “kau Annabell, benar?”
“Annabeth,” koreksi Annabeth. “Apa kau selali berpakaian emas?”
“Biasanya nggak,” kata Rachel. “Kami mengumpulkan uang untuk kelompok kami. Kami melakukan proyek seni sukarela untuk anak-anak SD karena mereka menghilangkan pelajaran kesenian dari sekolah, kau tahu? Kami melakukan ini sekali sebulan, mendapat sekitar lima ratus dolar di akhir pekan yang baik. Tapi kutebak kau nggak mau membicarakan itu. Kau blasteran juga?”
“Ssst!” kata Annabeth, melihat ke sekeliling. “Jangan umumkan itu ke seluruh dunia, bagaimana?”
“Oke.” Rachel berdiri dan berkata keras-keras. “Hei, semuanya! Dua orang ini bukan manusia! Mereka blasteran dewa Yunani!”
Tidak ada seorang pun yang menoleh. Rachel mengangkat bahu dan duduk lagi. “Mereka sepertinya nggak peduli.”
“Itu nggak lucu,” kata Annabeth. “Ini bukan lelucon, Cewek Fana.”
“Tahan, kalian berdua,” kataku. “Tenang, dong.”
“Aku tenang,” Rachel berkeras. “Setiap kali aku ada di sekitarmu, monster menyerang kita. Buat apa gugup soal itu?”
“Dengar,” kataku. “Aku minta maaf soal ruang band. Kuharap mereka nggak mengeluarkanmu atau apalah.”
“Nggak. Mereka mengajukan banyak pertanyaan tentangmu padaku. Aku pura-pura bodoh saja.”
“Susah nggak?” tanya Annabeth.
“Oke, stop!” Aku menginterupsi. “Rachel, kami punya masalah. Dan kami perlu bantuanmu.”
Rachel menyipiykan matanya kepada Annabeth. “Kalian perlu bantuanku?”
Annabeth mengaduk smoothie-nya dengan sedotan. “Iya,” katanya murung. “Mungkin.”
Kuceritakan soal Labirin kepada Rachel, dan bagaimana kami harus menemukan Daedalus. Kuberi tahu dia apa yang terjadi kali terakhir kami masuk ke sana.
“Jadi, kalian ingin aku memandu kalian,” katanya. “Melewati tempat yang nggak pernah kudatangi.”
“Kau bisa melihat menembus Kabut,” kataku. “Sama seperti Ariadne. Aku bertaruh kau bisa melihat jalan yang tepat. Labirin nggak akan menipumu dengan mudah.”
“Dan kalau kau salah?”
“Kalau begitu kami bakal tersesat. Bagaimanapun juga, keadaannya bakal berbahaya. Sangat, sangat berbahaya.”
“Aku bisa mati.”
“Iya.”
“Kupikir kau bilang monster nggak peduli pada manusia fana. Pedangmu itu—“
“Iya,” kataku. “Perunggu langit nggak melukai manusia fana. Sebagian besar monster bakal mengacuhkanmu. Tapi Luke ... dia nggak akan peduli. Dia akan memperalat manusia manusia fana, blasteran, monster, apa saja. Dan dia bakal membunuh siapa pun yang menghalanginya.”
“Cowok keren,” kata Rachel.
“Dia di bawah pengaruh Titan,” kata Annabeth defensif. “Dia ditipu.”
Rachel melihat kami bolak-balik. “Oke,” katanya. “Aku ikut.”
Aku berkedip. Aku tidak mengira bakal semudah itu. “Apa kau yakin?”
“Hei, musim panasku memang bakal membosankan. Inilah tawaran terbaik yang kuterima sejauh ini. jadi, apa lagi yang kucari?”
“Kita harus menemukan pintu masuk ke Labirin,” kata Annabeth. “Ada pintu masuk di Perkemahan Blasteran, tapi kau nggak boleh ke sana. Tempat itu nggak boleh dimasuki manusia fana.”
Dia mengatakan manusia fana seakan itu adalah semacam kondisi memprihatinkan, tapi Rachel semata mengangguk. “Oke. Pintu masuk ke Labirin itu seperti apa?”
“Bisa apa saja,” kata Annabeth. “Bagian dari dinding. Batu besar. Ambang pintu. Jalan masuk ke saluran pembuangan. Tapi pasti ada tanda Daedalus di sana. D Yunani, berkilau biru.”
“Kayak gini?” Rachel menggambar simbol Delta di air di atas meja kami.
“Iya, betul,” kata Annabeth. “Kau paham bahasa Yunani?”
“Nggak,” kata Rachel. Dia mengeluarkan sikat rambut plastik biru besar dari sakunya dan mulai menyikat warna emas sehingga terlepas dari rambutnya. “Biar aku ganti pakaian. Kalian sebaiknya ikut aku ke Marriott.”
“Kenapa?” tanya Annabeth.
“Soalnya ada pintu masuk seperti itu di ruang bawah tanah hotel, tempat kami menyimpan kostum kami. Di sana ada tanda Daedalus.”[]
Comments
Post a Comment