Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB SEMBILAN
Aku Menyekop Pup
Aku kehilangan harapan waktu kulihat gigi para kuda.
Saat aku makin dekat ke pagar, kututupka bajuku ke hidungku untuk menghalangi bau. Seekor kuda jantan mengarungi lumpur kotoran dan meringkik marah kepadaku. Dia memamerkan gigi-giginya, yang tajam seperti gigi beruang.
Aku mencoba bicara padanya dalam pikiranku. Aku bisa melakukan itu dengan sebagian besar kuda.
Hai, kataku padanya. Aku akan membersihkan istalmu. Hebat, kan?
Ya! Kata si kuda. Masuklah! Kumakan kau! Blasteran lezat!
Tapi aku putra Poseidon, protesku. Dia menciptakan kuda.
Biasanya ini memberiku perlakuan VIP di dunia kuda, tapi tidak kali ini.
Ya! Si kuda menyetujui dengan antusias. Poseidon boleh masuk juga! Kami akan makan kalian berdua! Makanan laut!
Makanan laut! Kuda-kuda lain menimpali saat mereka melintas mengarungi padang. Lalat-lalat berdengung di mana-mana, dan hawa panas siang tidak membuat baunya berkurang. Aku punya gambaran bahwa aku bisa melakukan tantangan ini, karena aku ingat bagaimana Hercules melakukannya. Dia menyalurkan sungai ke istal dan membersihkannya dengan cara itu. Kupikir aku mungkin bisa mengendalikan air. Tapi kalau aku tidak bisa mendekati para kuda tanpa dimakan, itu bakal jadi masalah. Dan dari istal, sungai terletak dibawah bukit, lebih jauh daripada yang kusadari, lebih dari setengah kilometer. Pekara pup terlihat jauh lebih besar dari dekat. Aku memungut sekop berkarat dan coba-coba menyekop tahi dari deret pagar. Hebat. Tinggal empat miliar sekopan lagi.
Matahari sudah mulai terbenam. Aku paling banyak hanya punya beberapa jam. Aku memutuskan bahwa sungai adalah satu-satunya harapanku. Paling tidak lebih mudah berpikir di tepi sungai daripada di sini. Aku berangkat menuruni bukit.
Ketika aku sampai di sungai, aku menemuka seorang gadis sedang menungguku. Dia mengenakan jins dan T-shirt hijau dan rambut cokelat panjangnya dikepang dengan rumput sungai. Ada ekspresi tegas di wajahnya. Kedua lengannya disilangkan.
“Nggak boleh,” katanya.
Aku menatapnya. “Apa kau naiad?”
Dia memutar bola matanya. “Ya iya lah.”
“Tapi kau bicara dalam bahasa Inggris. Dan kau ada di luar air.”
“Memangnya kau pikir kami tidak bisa bersikap seperti manusia kalau kami mau?”
Aku tidak pernah memikirkannya. Aku merasa tolol, karena aku sudah pernah melihat banyak naiad di perkemahan, dan mereka tidak pernah melakukan lebir daripada cekikikan dan melambai-lambai kepadaku dari dasar danau kano.
“Begini,” kataku. “Aku cuma datang untuk minta—“
“Aku tahu siapa kau,” katanya. “Dan aku tahu apa yang kau mau. Dan jawabannya tidak! Aku tidak bakal membiarkan sungaiku digunakan lagi untuk membersihkan istal kotor itu.”
“Tapi—“
“Oh, sudahlah, Bocah Laut. Tipe-tipe dewa laut kayak kau ini selalu berpikir kau jauuuuh lebih penting daripada sungai kecil, ya kan? Yah, biar kuberi tahu kau, naiad ini tidak mau dipaksa-paksa hanya karena ayahmu Poseidon. Ini teritori air tawar, Mister. Cowok terakhir yang minta tolong padaku—oh, omong-omong, dia jauh lebih cakep daripada kau—dia meyakinkaku, dan itu adalah kesalahan terburuk yang pernah kubuat! Apa kau punya gambaran apa yang disebabkan semua kotoran kuda itu terhadap ekosistemku? Apa aku kelihatan seperti tanaman pengolah limbah bagimu? Ikan-ikanku bakal mati. Aku nggak pernah bisa mengenyahkan lumpur kotor itu dari tanamanku. Aku akan sakit bertahun-tahun. Jadi, NGGAK DEH, MAKASIH!”
Caranya berbicara mengingatkanku pada teman fanaku, Rachel Elizabeth Dare—rasanya seolah-olah dia meninjuku dengan kata-kata. Aku tidak bisa menyalahkan si naiad. Sekarang setelah aku memikirkanya, aku bakalan marah seandainya seseorang membuang empat juta kilo tinja ke rumahku. Tapi tetap saja...
“Teman-temanku dalam bahaya,” aku memberitahunya.
“Yah, sayang sekali! Tapi itu bukan urusanku. Dan kau tidak bakal merusak sungaiku.”
Dia kelihatannya siap berkelahi. Tangannya mengepal, tapi kupikir aku mendengar sedikit getaran dalam suaranya. Tiba-tiba kusadari bahwa meskipun dia bersikap marah-marah, dia takut padaku. Dia mungkin berpikir aku akan bertarung melawannya demi kendari akan sungai dan dia cemas dia bakal kalah.
Pemikiran itu membuatku sedih. Aku merasa seperti tukang gertak, putra Poseidon menggunakan kekuasaannya untuk menindas.
Aku terduduk di tunggul pohon. “Oke, kau menang.”
Si naiad terlihay kaget. “Sungguh?”
“Aku nggak akan melawanmu. Ini kan sungaimu.”
Dia melemaskan bahunya. “Oh. Oh, baguslah. Maksudku—bagus buatmu.”
“Tapi teman-temanku dan aku bakalan dijual ke para Titan kalau aku nggak membersihkan istal itu sebelum matahari terbenam. Dan aku nggak tahu bagaimana caranya.”
Air berdeguk dengan riang. Seekor ular meluncur di air dan menyembunyikan kepalanya ke bawah air. Akhirnya si naiad mendesah.
“Aku akan memberitahumu sebuah rahasia, putra dewa laut. Ambil sedikit tanah.”
“Apa?”
“Kaudengar aku.”
Aku berjongkok dan mengambil segenggam tanah Texas. Tanah itu kering dan hitam dan dibercaki gumpalan-gumpalan kecil batu putih... Bukan, itu sesuatu selain batu.
“Itu kerang,” kata Naiad. “Cangkang kerang yang terawetkan. Berjuta-juta tahun lalu, bahkan sebelum masa para dewa, saat hanya Gaea dan Ouranos yang berkuasa, tanah ini ada di bawah air. Ini bagian dari laut.”
Tiba-tiba aku memahami maksudnya. Ada potongan-potongan kecil cangkang kerang kuno di tanganku, cangkang moluska. Bahkan di batu kapur pun ada bayangan cangkang kerang yang terbenam di dalamnya.
“Oke,” kataku. “Apa bagusnya itu buatku?”
“Kau tidak terlalu berbeda dariku, Blasteran. Bahkan saat aku ada di luar air, air ada dalam diriku. Air adalah sumber kehidupanku.” Dia melangkah mundur, meletakkan kakinya di dalam air, dan tersenyum. “Kuharap kau menemukan cara untuk menyelamatkan teman-temanmu.”
Dan dengan itu dia pun berubah menjadi cairan dan meleleh ke dalam sungai.
***
Matahari tengah menyentuh perbukitan ketika aku kembali ke istal. Seseorang pasti baru saja datang dan memberi makan kuda-kuda, soalnya mereka sedang merobek-robek bangkai besar hewan. Aku tidak tahu hewan apa, dan aku betul-betul tak ingin tahu. Kalau istal itu masih bisa lebih menjijikkan, lima puluh kuda yang mengoyak-ngoyak daging mentah membuatnya begitu.
Makanan laut! pikir seekor saat dia melihatku. Masuklah! Kami masih lapar.
Apa yang harus kulakukan? Aku tidak bisa menggunakan sungai. Dan fakta bahwa tempat ini terletak di bawah air sejuta tahun lalu tidaklah membantuku sekarang. Aku memandangi cangkang kerang yang mengapur di telapal tangaku, kemudian menoleh ke gunung besar kotoran.
Frustasi, kulemparkan kerang itu ke dalam pup. Aku hendak berbalik memunggungi kuda-kuda saat kudengar sebuah bunyi.
PFFFFFT! Seperti balon bocor.
Aku melihat ke bawah ke tempatku melempar kerang tadi. Semprotan kecil air menyembur dan keluar dari lumpur kotoran.
“Nggak mungkin,” gumamku.
Ragu-ragu, aku melangkah maju ke arah pagar. “Membesarlah,” aku menyuruh si semprotan air.
WUUUUUUSH!
Air menyembur setinggi hampir satu meter ke udara dan terus berdeguk. Memang mustahil, tapi di situlah ia. Beberapa kuda datang mendekat untuk memeriksanya. Seekor meletakkan mulutnya ke mata air dan menghindar.
Ih! Katanya. Asin!
Mata air itu adalah air asin di tengah-tengah peternakan Texas. Aku mengambil segenggam tanah lagi dan mengeluarkan fosil-fosil kerang. Aku betul-betul tidak tahu apa yang kulakukan, tapi aku berlari-lari mengelilingi istal, melemparkan kerang ke tumpukan tahi. Di mana pun cangkang menghantam, mata air asin merekah.
Stop! Para kuda berseru. Daging enak! Mandi nggak!
Lalu kusadari bahwa air tidak keluar dari istal atau mengalir menuruni bukit seperti lazimnya air. Air semata berdeguk di sekitar masing-masing mata air dan terbenam ke dalam tanah, membawa tahi bersamanya. Tahi kuda terlarut dalam air asin, meninggalkan kotoran basah lama yang biasa.
“Lebih besar lagi!” teriakku.
Aku merasakan sensasi seolah perutku ditarik-tarik, dan semprotan air meledak menjadi tempat cuci mobil terbesar di dunia. Air asin menyembur setinggi enam meter ke udara. Kuda-kuda jadi gila, berlari bolak-balik saat geyser menyemprot mereka dari segala arah. Gunung pup mulai meleleh seperti es.
Sensasi ditarik-tarik menjadi kian intens, bahkan menyakitkan, tapi ada sesuatu yang menyenangkan soal ini, melihat semua air asin itu. Aku membuat ini. Aku telah membawa laut ke sisi bukit ini.
Stop, Tuan! seekor kuda berseru. Stop, kumohon!
Air tersembur ke mana-mana sekarang. Kuda-kuda basah kuyup, dan beberapa ekor panik dan terpeleset di lumpur. Tahi sudah sepenuhnya lenyap, berton-ton tahi larut begitu saja ke dalam tanah, dan air sekarang mulai menggenang, menetes-netes ke luar istal, menghasilkan ratusan kali kecil mengalir turun ke arah sungai.
“Stop,” perintahku kepada air.
Tidak ada yang terjadi. Rasa sakit di perutku buncah. Kalau aku tidak segera menutup geyser-geyser itu, air asin akan mengalir ke sungai dan meracuni ikan serta tumbuhan.
“Stop!” Aku mengonsentrasikan seluruh upaya guna menutup kekuatan lautan.
Tiba-tiba geyser-geyser tertutup. Aku jatuh berlutut kelelahan. Di depanku ada istal yang bersih, padang lumpur basah asin, dan lima puluh kuda yang sudah digosok habis-habisan sehingga kulit mereka mengilap. Bahkan koyakan daging di antara gigi mereka pun sudah dicuci.
Kami takkan memakanmu! ratap para kuda. Kami mohon, Tuan! Jangan ada mandi air asin lagi!
“Dengan satu syarat,” kataku. “Kalian hanya boleh melahap makanan yang pengurus kalian berikan mulai saat ini. Bukan orang. Atau aku bakal kembali dengan lebih banyak cangkang kerang!”
Para kuda meringkik dan memberiku janji bahwa mereka akan menjadi kuda pemakan daging yang baik mulai sekarang, tapi aku tidak berlama-lama mengobrol. Matahari sudah turun. Aku berbalik dan lari dengan kecepatan penuh menuju rumah peternakan.
Aku mencium daging panggang sebelum aku sampai di rumah, dan itu membuatku marah sekali, soalnya aku suka sekali daging panggang.
Beranda telah disiapkan untuk pesta. Kertas krep dan balom mendekorasi pagar beranda. Geryon sedang membalik daging burger di atas pemanggang raksasa yang terbuat dari drum minyak. Eurytion sedang bersantai di belakang meja piknik, mengorek-ngorek kukunya dengan sebilah pisau. Si anjing berkepala dua mengendus-endus daging iga dan burger yang sedang dimatangkan di panggangan. Dan kemudian kulihat teman-temanku: Tyson, Grover, Annabeth, dan Nico, semuanya terenyak di pojokan, terikan seperti hewan rodeo, dengan perge;angan kaki dan pergelangan tangan saling terikat dan mulut mereka tersumpal.
“Lepaskan mereka!” teriakku, masih kehabisan napas karena berlari-lari menaiki undakan. “Aku sudah membersihkan istal!”
Geryon menoleh. Dia mengenakan celemek di setiap dada, dengan satu kata pada masing-masing celemek sehingga bersama-sama kata-kata tersebut dibaca: CIUM—SANG—KOKI. “Sudah? Bagaimana kau melakukannya?”
Aku agak tak sabar, tapi kuberi tahu dia.
Dia mengangguk apresiatif. “Inovatif sekali. Lebih baik kalau kauracuni saja naiad menyebalkan itu, tapi nggak masalah.”
“Lepaskan teman-temanku,” kataku. “Kita kan sudah sepakat.”
“Ah, aku sudah memikirkannya. Masalahnya, kalau aku membiarkan mereka, aku nggak dapat bayaran.”
“Kau sudah janji!”
Geryon membuat bunyi cck-cck. “Tapi apa kau membuatku bersumpah demi Sungai Styx? Tidak, kau tidak melakukannya. Jadi, kesepakatan kita tidak mengikat. Saat kau menjalankan bisnis, Nak, kau harus selalu mendapatkan sumpah yang mengikat.”
Aku mengeluarkan pedangku. Orthus menggeram. Satu kepala mencondongkan badan ke samping telinga Grover dan memamerkan taringnya.
“Eurytion,” kata Geryon, “bocah ini mulai mengusikku. Bunuh dia.”
Eurytion mengamatiku. Aku tidak senang akan peluangku melawannya dan pentungan besar itu.
“Bunuh dia sendiri,” kata Eurytion.
Geryon mengangkat alisnya. “Apa?”
“Kau dengar aku,” gerutu Eurytion. “Kau terus-terusan mengutusku untuk melakukan pekerjaan kotormu. Kau mengajak berkelahi tanpa alasan bagus, dan aku bosan mati demi kau. Kau ingin bertarung dengan anak ini, lakukan sendiri.”
Itulah hal yang paling nggak-Ares-banget yang pernah kudengar diucapkan oleh seorang putra Ares.
Geryon melemparkan spatulanya. “Kau berani-berani melawanku? Aku harus memecatmu sekarang juga!”
Si anjing segera saja berhenti menggeram kepada Grover dan datang duduk di dekat kaki sang gembala sapi.
“Baik!” gerutu Geryon. “Akan kuurus kau nanti, setelah bocah ini mati!”
Dia mengambil dua pisau ukir dan melemparkannya kepadaku. Aku menangkis salah satu dengan pedangku. Yang lain menusukkan dirinya ke meja piknik sesenti dari tangan Eurytion.
Aku melacarkan serangan. Geryon menangkis serangan pertamaku dengan tang merah membara dan mengincar wajahku menggunakan garpu panggangan. Aku berhasil meraih tubuhnya yang tak terlindungi ketika dia melakukan tikaman berikutnya dan menusuknya tepat di dada tengah.
“Ahhh!” Dia jatuh berlutut. Aku menantikannya hancur, seperti yang biasanya terjadi pada monster. Tapi dia malah nyengir dan mulai berdiri. Luka di celemek kokinya mulai sembuh.
“Percobaan yang bagus, Nak,” katanya. “Hanya saja, aku punya tiga jantung. Sistem penunjang yang sempurna.”
Dia membalikkan panggangan, dan arang tumpah ke mana-mana. Satu mendarat di samping wajah Annabeth, dan dia mengeluarkan teriaka teredam. Tyson menggeliat-geliat dari ikatannya, tapi bahkan kekuatannya tidak cukup untuk melepaskannya. Aku harus mengakhiri pertarungan ini sebelum teman-temanku terluka.
Aku meninju dada kiri Geryon, tapi dia hanya tertawa. Aku menusuk perut kanannya. Tidak bagus. Aku bisa saja cuma menusuk boneka beruang, melihat reaksi yang ditunjukkannya.
Tiga jantung. Sistem penunjang yang sempurna. Menusuk satu jantung tiap kali tidak ada gunanya ....
Aku berlari masuk ke rumah.
“Pengecut!” teriaknya. “Kembalilah dan mati dengan benar!”
Dinding ruang keluarga dihiasi oleh sekumpulan trofi berburu yang mengerikan—rusa dan kepala naga isi, wadah senapan, panjang pedang, dan busur beserta sarung anak panah.
Geryon melemparkan garpu besarnya, dan garpu itu berdebum tepat di sebelah kepalaku. Dia mencopot dua pedang dari pajangan di dinding. “Kepalamu bakalan dipajang di sana, Jackson! Di samping beruang grizzly!”
Aku punya ide gila. Aku menjatuhkan Reptide dan merenggut busur dari dinding.
Aku adalah pemanah terpayah di dunia. Aku tidak bisa mengenai target di perkemahan, apalagi titik tengahnya. Tapi aku tidak punya pilihan. Aku tidak bisa memenangi pertarungan ini dengan pedang. Aku berdoa kepada Artemis dan Apollo, para pemanah kembar, berharap mereka mengasihaniku sekali saja. Kumohon, Dewa-dewi. Satu tembakan saja. Kumohon.
Aku menakik sebuah anak panah.
Geryon tertawa. “Dasar bodoh! Satu anak panah tidak lebih baik daripada satu pedang.”
Dia mengangkat pedangnya dan menerjang. Aku membungkuk ke samping. Sebelum dia bisa berbalik, aku menembakkan anak panahku ke sisi dada kanannya. Aku mendengar PSST, PSST, PSST, saat anak panah menembus masing-masing dadanya dengan mulus dan melayang keluar dari sisi kiri badannya, menancapkan diri di kening trofi beruang grizzly.
Geryon menjatuhkan pedangnya. Dia menoleh dan menatapku. “Kau nggak bisa memanah. Mereka memberitahuku kau nggak bisa ....”
Wajahnya berubah pucat pasi. Dia jatuh berlutut dan mulai remuk menjadi pasir, sampai yang tersisa hanyalah celemek koki dan sepasang bot koboi yang terlalu besar.
Aku melepaskan ikatan teman-temanku. Eurytion tidak mencoba menghentikanku. Lalu kunyalakan panggangan dan kulemparkan makanan ke api sebagai sesaji bakar bagi Artemis dan Apollo.
“Makasih,” kataku. “Aku berutang pada kalian.”
Langit menggemuruh di kejauhan, jadi kupikir aroma burgernya oke.
“Hidup Percy!” kata Tyson.
“Bisakah kita ikat gembala sapi ini sekarang?” tanya Nico.
“Iya!” kata Grover. “Dan anjing itu yang hampir membunuhku!”
Aku memandang Eurytion, yang masih duduk santai di balik meja piknik. Orthus meletakkan kedua kepalanya ke atas kaki sang gembala sapi.
“Berapa lama sampai Geryon terbentuk kembali?” tanyaku.
Eurytion mengangkat bahu. “Ratusan tahun? Dia bukan salah satu pewujud-kembali yang cepat, terpujilah dewa-dewi. Kau sudah membantuku.”
“Kau bilang kau pernah mati untuknya sebelumnya,” aku ingat. “Bagaimana?”
“Aku sudah bekerja untuk si brengsek itu selama ribuan tahun. Mulai sebagai blasteran biasa, tapi aku memilih keabadian waktu ayahku menawarkannya. Kesalahan terburuk yang pernah kubuat. Sekarang aku terjebak di peternakan ini. Aku tidak bisa pergi. Aku tidak bisa berhenti. Aku cuma mengurus sapi-sapi dan bertarung untuk Geryon. Kami terikat, semacam itulah.”
“Mungkin kau bisa merubah keadaan,” kataku.
Eurytion menyipitkan matanya. “Bagaimana?”
“Baik-baiklah pada para hewan. Rawat mereka. Berhenti menjual mereka untuk dimakan. Dan berhenti membuat kesepakatan dengan para Titan.”
Eurytion memikirkan hal itu. “Itu sepertinya oke.”
“Buat hewan-hewan berada di pihakmu, dan mereka akan membantumu. Setelah Geryon kembali, mungkin dia yang bakal bekerja untukmu kali ini.”
Eurytion nyengir. “Nah, yang itu aku bisa tahan.”
“Kau nggak bakal mencegah kami pergi?”
“Nggak, kok.”
Annabeth menggosok-gosok pergelangan tangannya yang memar. Dia masih memandangi Eurytion dengan curiga. “Bosmu bilang seseorang membayar agar kami bisa lewat dengan selamat. Siapa?”
Sang gembala sapi mengangkat bahu. “Mungkin dia cuma mengatakan itu untuk membodohi kalian.”
“Bagaimana dengan para Titan?” tanyaku. “Apa kau sudah mengirim pesan-Iris tentang Nico kepada mereka?”
“Belum. Geryon menunggu sampai setelah makan malam. Mereka tidak tahu apa-apa soal dia.”
Nico memelototiku. Aku tidak yakin apa yang harus kulakukan soal dia. Aku ragu dia bakal setuju untuk ikut bersama kami. Di sisi lain, aku tidak bisa membiarkannya berkeliaran sendirian begitu saja.
“Kau boleh tinggal di sini sampai kami menyelesaikan misi kami,” aku memberitahunya. “Pasti aman.”
“Aman?” kata Nico. “Apa pedulimu kalau aku aman? Kau membuat kakakku terbunuh!”
“Nico,” kata Annabeth, “itu bukan salah Percy. Dan Geryon tidak bohong soal Kronos yang ingin menangkapmu. Kalau dia tahu siapa kau, dia bakal melakukan apa pun untuk mendapatkanmu di pihaknya.”
“Aku nggak di pihak siapa-siapa. Dan aku nggak takut.”
“Kau mestinya takut,” kata Annabeth. “Kakakmu pasti ingin—“
“Kalau kau peduli pada kakakku, kau akan membantuku menghidupkannya kembali!”
“Satu jiwa untuk satu jiwa?” kataku.
“Ya!”
“Tapi kalau kau bukan menginginkan jiwaku—“
“Aku tidak akan menjelaskan apa-apa padamu!” Dia berkedip-kedip untuk mengenyahkan air mata. “Dan aku akan membangkitkannya kembali.”
“Bianca pasti tidak mau dibangkitkan kembali,” kataku. “Tidak seperti itu.”
“Kau tidak kenal dia!” teriaknya. “Bagaimana kau tahu apa yang dia inginkan?”
Aku menatap nyala api di lubang panggangan. Aku berpikir tentang baris pada ramalan Annabeth. Di tangan sang raja hantu kebangkitan atau kegagalanmu ditentukan. Itu pasti Minos, dan aku harus meyakinkan Nico agar tidak mendengarkannya. “Ayo tanya Bianca.”
Langit seakan bertambah gelap tiba-tiba.
“Aku sudah mencoba,” kata Nico nelangsa. “Dia tidak mau menjawab.”
“Coba lagi. Aku punya firasat dia akan menjawab dengan adanya aku di sini.”
“Kenapa?”
“Karena dia mengirimiku pesan-Iris,” kataku, tiba-tiba yakin akan hal itu. “Dia mencoba memperingatkanku tentang rencanamu supaya aku bisa melindungimu.”
Nico menggelengkan kepalanya. “Itu mustahil.”
“Hanya ada satu cara untuk mencari tahu. Kau bilang kau nggak takut.” Aku menoleh kepada Eurytion. “Kami bakal memerlukan lubang, seperti kuburan. Dan makanan dan minuman.”
“Percy,” Annabeth memperingatkan. “Kupikir ini bukan ide—“
“Baiklah,” kata Nico. “Akan kucoba.”
Eurytion menggaruk-garuk jenggotnya. “Ada lubang yang digali di belakang untuk septic tank. Kita bisa gunakan itu. Bocah Cyclops, ambil peti esku dari dapur. Moga-moga orang mati suka root beer.”[]
Comments
Post a Comment