Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB DUA
Dunia Bawah Iseng Menelepon Diriku
Tidak ada yang bisa menandingi berakhirnya pagi yang sempurna seperti perjalanan panjang naik taksi bersama cewek yang marah.
Aku mencoba bicara kepada Annabeth, tapi dia bersikap seolah aku baru saja meninju neneknya. Yang berhasil kukorek darinya hanyalah bahwa dia mengalami musim semi penuh monster di San Fransisco; dia sudah kembali ke perkemahan dua kali sejak Natal tapi tidak mau memberitahuku sebabnya (yang bikin aku kesal, soalnya berada di New York); dan dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Nico di Angelo (ceritanya panjang).
“Ada kabar tentang Luke?” tanyaku.
Dia menggeleng. Aku tahu ini adalah subjek yang peka baginya. Annabeth selama ini selalu mengagumi Luke, mantan kepala konselor untuk pondok Hermes yang telah mengkhianati kami dan bergabung dengan Raja Titan yang jahat, Kronos. Dia tidak bakal mengakuinya, tapi aku tahu dia masih menyukai Luke. Ketika kami bertempur melawan Luke di Gunung Tamalpais musim dingin lalu, Luke entah bagaimana selamat setelah jatuh dari tebing setinggi lima belas meter. Sekarang, sejauh yang kutahu, dia masih berlayar naik kapal pesiarnya yang penuh monster sementara Raja Kronos-nya yang terpotong-potong terbentuk kembali, sedikit demi sedikit, dalam sarkofagus emas, mengulur-ulur waktunya sampai dia punya cukup kekuatan untuk menantang dewa-dewi Olympia. Dalam bahasa separuh-dewa, kami menyebutnya “masalah”.
Dunia Bawah Iseng Menelepon Diriku
Tidak ada yang bisa menandingi berakhirnya pagi yang sempurna seperti perjalanan panjang naik taksi bersama cewek yang marah.
Aku mencoba bicara kepada Annabeth, tapi dia bersikap seolah aku baru saja meninju neneknya. Yang berhasil kukorek darinya hanyalah bahwa dia mengalami musim semi penuh monster di San Fransisco; dia sudah kembali ke perkemahan dua kali sejak Natal tapi tidak mau memberitahuku sebabnya (yang bikin aku kesal, soalnya berada di New York); dan dia tidak tahu apa-apa tentang keberadaan Nico di Angelo (ceritanya panjang).
“Ada kabar tentang Luke?” tanyaku.
Dia menggeleng. Aku tahu ini adalah subjek yang peka baginya. Annabeth selama ini selalu mengagumi Luke, mantan kepala konselor untuk pondok Hermes yang telah mengkhianati kami dan bergabung dengan Raja Titan yang jahat, Kronos. Dia tidak bakal mengakuinya, tapi aku tahu dia masih menyukai Luke. Ketika kami bertempur melawan Luke di Gunung Tamalpais musim dingin lalu, Luke entah bagaimana selamat setelah jatuh dari tebing setinggi lima belas meter. Sekarang, sejauh yang kutahu, dia masih berlayar naik kapal pesiarnya yang penuh monster sementara Raja Kronos-nya yang terpotong-potong terbentuk kembali, sedikit demi sedikit, dalam sarkofagus emas, mengulur-ulur waktunya sampai dia punya cukup kekuatan untuk menantang dewa-dewi Olympia. Dalam bahasa separuh-dewa, kami menyebutnya “masalah”.
“Gunung Tam masih dipenuhi monster,” kata Annabeth. “Aku tidak berani dekat-dekat tapi kupikir Luke tidak ada di atas sana. Kupikir aku akan tahu kalau dia di sana.”
Itu tidak membuatku merasa lebih baik. “Bagaimana dengan Grover?”
“Dia di perkemahan,” kata Annabeth. “Kita akan bertemu dia hari ini.”
Annabeth memuntir-muntir kalung manik-maniknya, yang biasa dilakukannya saat dia cemas.
“Kau lihat saja nanti,” katanya. Tapi dia tidak menjelaskan.
Saat kami menuju Brooklyn, aku menggunakan telepon Annabeth untuk menelepon ibuku. Blasteran mencoba tidak menggunakan ponsel bilamana kami bisa menghindarinya, sebab menyiarkan suara kami bagaikan mengirim suar bagi para monster: Aku di sini! Silakan makan aku sekarang! Tapi kurasa telepon ini penting. Aku meninggalkan pesan di mesin penerima telepon rumah kami, mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi di Goode. Upayaku mungkin tidak terlalu berhasil. Kuberi tahu ibuku bahwa aku baik- baik saja, dia tidak usah cemas, tapi aku akan tinggal di perkemahan sampai kekacauan mereda. Aku memintanya memberi tahu Paul Blofis bahwa aku minta maaf.
Kami berkendara dalam keheningan setelah itu. Kota bagaikan meleleh sampai kami keluar dari jalan tol dan meluncur lewat kawasan pinggiran di utara Long Island, melintasi kebun-kebun buah dan tempat pengolahan anggur serta kios-kios hasil bumi segar.
Aku menatap nomor telepon yang telah Rachel Elizabeth Dare torehkan di tanganku. Aku tahu ini gila, tapi aku tergoda untuk meneleponnya. Mungkin dia bisa membantuku memahami apa yang tadi dibicarakan oleh si empousa—perkemahan yang terbakar, teman-temanku ditawan. Dan kenapa Kelli meledak menjadi kobaran api?
Itu tidak membuatku merasa lebih baik. “Bagaimana dengan Grover?”
“Dia di perkemahan,” kata Annabeth. “Kita akan bertemu dia hari ini.”
Annabeth memuntir-muntir kalung manik-maniknya, yang biasa dilakukannya saat dia cemas.
“Kau lihat saja nanti,” katanya. Tapi dia tidak menjelaskan.
Saat kami menuju Brooklyn, aku menggunakan telepon Annabeth untuk menelepon ibuku. Blasteran mencoba tidak menggunakan ponsel bilamana kami bisa menghindarinya, sebab menyiarkan suara kami bagaikan mengirim suar bagi para monster: Aku di sini! Silakan makan aku sekarang! Tapi kurasa telepon ini penting. Aku meninggalkan pesan di mesin penerima telepon rumah kami, mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi di Goode. Upayaku mungkin tidak terlalu berhasil. Kuberi tahu ibuku bahwa aku baik- baik saja, dia tidak usah cemas, tapi aku akan tinggal di perkemahan sampai kekacauan mereda. Aku memintanya memberi tahu Paul Blofis bahwa aku minta maaf.
Kami berkendara dalam keheningan setelah itu. Kota bagaikan meleleh sampai kami keluar dari jalan tol dan meluncur lewat kawasan pinggiran di utara Long Island, melintasi kebun-kebun buah dan tempat pengolahan anggur serta kios-kios hasil bumi segar.
Aku menatap nomor telepon yang telah Rachel Elizabeth Dare torehkan di tanganku. Aku tahu ini gila, tapi aku tergoda untuk meneleponnya. Mungkin dia bisa membantuku memahami apa yang tadi dibicarakan oleh si empousa—perkemahan yang terbakar, teman-temanku ditawan. Dan kenapa Kelli meledak menjadi kobaran api?
Aku tahu monster tidak pernah sungguh-sungguh mati. Pada akhirnya—mungkin berminggu-minggu, berbulan-bulan, atau bertahun-tahun dan sekarang—Kelli akan terbentuk kembali dari keburukan primordial yang menggelegak di Dunia Bawah. Tapi tetap saja, monster biasanya tidak membiarkan diri mereka dihancurkan semudah itu. Kalau dia memang benar-benar hancur.
Taksi keluar di Router 25A. Kami menuju ke hutan di sepanjang Pesisir Utara sampai bubungan rendah perbukitan muncul di kiri kami. Annabeth menyuruh sang sopir menepi di Farm Road 3141, di bawah Bukit Blasteran.
Sang sopir mengernyitkan dahi. “Nggak ada apa-apa di sini, Non. Kau yakin mau keluar?”
“Ya, terima kasih.” Annabeth menyerahkan segulung uang fana kepadanya, dan sang sopir memutuskan untuk tidak protes.
Annabeth dan aku mendaki ke puncak bukit. Naga penjaga yang masih muda sedang terkantuk-kantuk, bergelung mengelilingi pohon pinus, tapi dia mengangkat kepalanya yang berwarna tembaga saat kami mendekat dan membiatkan Annabeth menggaruk bagian bawah dagunya. Uap berdesis ke luar lubag hidungnya seperti dari poci teh, dan matanya dijulingkan karena keenakan.
“Hei, Peleus,” kata Annabeth. “Menjaga agar semuanya aman, ya?”
Kali terakhir aku melihat si naga panjangnya masih sekitar dua meter. Sekarang panjangnya paling tidak sudah dua kali lipat, dan ukuran badannya nyaris setebal pohon yang dilingkarinya. Di atas kepadanya, di dahan terendah pohon pinus, Bulu Domba Emas gemerlapan, sihirnya melindungi batas-batas perkemahan dari serangan. Si naga tampak rileks, seolah semuanya baik-baik saja. Di bawah kami, Perkemahan Blasteran terlihat damai—ladang-ladang hijau, hutan, bangunan-banguna putih kemilau ala Yunani Rumah perternakan empat latai yang kami sebut Rumah Besar berdiri dengan bangga di tengah- tengah ladang stroberi. Di utara, selewat pantai, Selat Long Island berkilau di tengah terpaan cahaya matahari. Walau begitu ... ada sesuatu yang terasa salah. Ada ketegagan di udara, seolah bukit itu sendiri sedang menahan napas, menanti terjadinya sesuatu yag buruk.
Taksi keluar di Router 25A. Kami menuju ke hutan di sepanjang Pesisir Utara sampai bubungan rendah perbukitan muncul di kiri kami. Annabeth menyuruh sang sopir menepi di Farm Road 3141, di bawah Bukit Blasteran.
Sang sopir mengernyitkan dahi. “Nggak ada apa-apa di sini, Non. Kau yakin mau keluar?”
“Ya, terima kasih.” Annabeth menyerahkan segulung uang fana kepadanya, dan sang sopir memutuskan untuk tidak protes.
Annabeth dan aku mendaki ke puncak bukit. Naga penjaga yang masih muda sedang terkantuk-kantuk, bergelung mengelilingi pohon pinus, tapi dia mengangkat kepalanya yang berwarna tembaga saat kami mendekat dan membiatkan Annabeth menggaruk bagian bawah dagunya. Uap berdesis ke luar lubag hidungnya seperti dari poci teh, dan matanya dijulingkan karena keenakan.
“Hei, Peleus,” kata Annabeth. “Menjaga agar semuanya aman, ya?”
Kali terakhir aku melihat si naga panjangnya masih sekitar dua meter. Sekarang panjangnya paling tidak sudah dua kali lipat, dan ukuran badannya nyaris setebal pohon yang dilingkarinya. Di atas kepadanya, di dahan terendah pohon pinus, Bulu Domba Emas gemerlapan, sihirnya melindungi batas-batas perkemahan dari serangan. Si naga tampak rileks, seolah semuanya baik-baik saja. Di bawah kami, Perkemahan Blasteran terlihat damai—ladang-ladang hijau, hutan, bangunan-banguna putih kemilau ala Yunani Rumah perternakan empat latai yang kami sebut Rumah Besar berdiri dengan bangga di tengah- tengah ladang stroberi. Di utara, selewat pantai, Selat Long Island berkilau di tengah terpaan cahaya matahari. Walau begitu ... ada sesuatu yang terasa salah. Ada ketegagan di udara, seolah bukit itu sendiri sedang menahan napas, menanti terjadinya sesuatu yag buruk.
Kami berjalan turun ke lembah dan mendapati sesi musim panas sedang meriah-meriahnya. Sebagian besar pekemah telah tiba Jumat lalu. Jadi, aku merasa sudah ditinggalkan. Para satir sedang memainkan seruling mereka di ladang stroberi, membuat anaman tumbuh dengan sihir rimba. Para pekemah sedang mengikuti pelajaran berkuda, terbang di atas hutan di punggung pegasus mereka. Asap membubung dari bengkel logam, dan palu berdenting saat anak-anak membuat senjata mereka sendiri untuk pelajaran Seni dan Kerajinan. Tim Athena dan Demeter sedang mengadakan balapan kereta tempur keliling lintasan, dan di atas danau kano beberapa anak di atas kapal perang Yunani sedang melawan ular-ular laut besar berwarna jingga. Hari yang biasa-biasa saja di perkemahan.
“Aku perlu bicara kepada Clarisse,” kata Annabeth.
Aku menatapnya seakan dia baru saja berkata Aku perlu makan sepatu bot besar yang bau. “Untuk apa?”
Clarisse dari pondok Ares adalah salah satu orang yang paling tidak kusukai. Dia penindas yang kejam dan tidak tahu terima kasih. Ayahnya, sang dewa perang, ingin membunuhku. Clarisse mencoba memukuliku sampai jadi bubur secara rutin. Di luar semua itu, dia memang hebat.
“Kami sedang mengerjakan sesuatu,” kata Annabeth. “Sampai ketemu nanti.”
“Mengerjakan apa?”
Annabeth melirik ke hutan.
“Akan kuberi tahu Chiron kau ada di sini,” katanya. “Dia pasti ingin bicara denganmu sebelum dengar pendapat.” “Dengar pendapat apaan?”
“Aku perlu bicara kepada Clarisse,” kata Annabeth.
Aku menatapnya seakan dia baru saja berkata Aku perlu makan sepatu bot besar yang bau. “Untuk apa?”
Clarisse dari pondok Ares adalah salah satu orang yang paling tidak kusukai. Dia penindas yang kejam dan tidak tahu terima kasih. Ayahnya, sang dewa perang, ingin membunuhku. Clarisse mencoba memukuliku sampai jadi bubur secara rutin. Di luar semua itu, dia memang hebat.
“Kami sedang mengerjakan sesuatu,” kata Annabeth. “Sampai ketemu nanti.”
“Mengerjakan apa?”
Annabeth melirik ke hutan.
“Akan kuberi tahu Chiron kau ada di sini,” katanya. “Dia pasti ingin bicara denganmu sebelum dengar pendapat.” “Dengar pendapat apaan?”
Tapi, dia berlari-lari kecil menyusuri jalan setapak menuju arena panah tanpa melihat ke belakang.
“Iya, deh,” gumamku. “Aku juga senang ngobrol denganmu.”
Saat aku jalan-jalan keliling perkemahan, aku mengucapkan salam kepada beberapa temanku. Di pelataran Rumah Besar, Connor dan Travis Stoll dari pondok Hermes sedang mengutak-atik kabel mobil SUV perkemahan untuk menyalakan mesinnya. Silena Beuregard, kepala konselor untuk pondok Aphrodite, melambai kepadaku dari pegasusnya saat dia terbag melintas. Aku mencai-cari Grover, tapi aku tidak melihatnya. Akhirnya aku sampai ke arena pedang, tempat aku biasanya pergi ketika suasana hatiku sedang jelek. Berlatih selalu membuatku tenang. Mungkin karena bermain pedang adalah satu hal yang sungguh-sungguh kupahami.
Aku berjalan masuk ke amfiteater dan jantungku hampir berhenti. Di tengah-tengah lantai arena, sambil memunggungiku, terdapat anjing jenis hellhound terbesar yang pernah kulihat.
Maksudku, aku sudah pernah melihat anjing neraka yang lumayan besar. Seekor yang berukuran sebesar badak mencoba membunuhku ketika umurku dua belas. Tapi anjing neraka ini lebih besar daripada tank. Aku tidak punya gambaran bagaimana cara ia melewati batas-batas sihir perkemahan. Ia terlihat santai, seolah berada di rumah sendiri, berbaring di atas perutnya, menggeram nyaman sambil mengunyah kepala boneka target. Ia belum menyadari kehadiranku, tapi kalau aku mengeluarkan suara, aku tahu
dia bakal merasakan keberadaanku. Tidak ada waktu untuk pergi minta bantuan. Aku mengeluarkan Reptide dan membuka tutupnya.
“Hiaaaaat!”Aku menyerbu. Aku menurunkan bilah pedang ke sisi belakang si monster yang berukuran luar biasa besar saat entah dari mana pedang lain memblok seranganku.
KLANG! Si anjing neraka mengangkat telinganya. “GUK!”
“Iya, deh,” gumamku. “Aku juga senang ngobrol denganmu.”
Saat aku jalan-jalan keliling perkemahan, aku mengucapkan salam kepada beberapa temanku. Di pelataran Rumah Besar, Connor dan Travis Stoll dari pondok Hermes sedang mengutak-atik kabel mobil SUV perkemahan untuk menyalakan mesinnya. Silena Beuregard, kepala konselor untuk pondok Aphrodite, melambai kepadaku dari pegasusnya saat dia terbag melintas. Aku mencai-cari Grover, tapi aku tidak melihatnya. Akhirnya aku sampai ke arena pedang, tempat aku biasanya pergi ketika suasana hatiku sedang jelek. Berlatih selalu membuatku tenang. Mungkin karena bermain pedang adalah satu hal yang sungguh-sungguh kupahami.
Aku berjalan masuk ke amfiteater dan jantungku hampir berhenti. Di tengah-tengah lantai arena, sambil memunggungiku, terdapat anjing jenis hellhound terbesar yang pernah kulihat.
Maksudku, aku sudah pernah melihat anjing neraka yang lumayan besar. Seekor yang berukuran sebesar badak mencoba membunuhku ketika umurku dua belas. Tapi anjing neraka ini lebih besar daripada tank. Aku tidak punya gambaran bagaimana cara ia melewati batas-batas sihir perkemahan. Ia terlihat santai, seolah berada di rumah sendiri, berbaring di atas perutnya, menggeram nyaman sambil mengunyah kepala boneka target. Ia belum menyadari kehadiranku, tapi kalau aku mengeluarkan suara, aku tahu
dia bakal merasakan keberadaanku. Tidak ada waktu untuk pergi minta bantuan. Aku mengeluarkan Reptide dan membuka tutupnya.
“Hiaaaaat!”Aku menyerbu. Aku menurunkan bilah pedang ke sisi belakang si monster yang berukuran luar biasa besar saat entah dari mana pedang lain memblok seranganku.
KLANG! Si anjing neraka mengangkat telinganya. “GUK!”
Aku melompat ke belakang dan secara instingtif menyerang si pemegang pedang—seorang pria berambut kelabu yang mengenakan baju zirah Yunani. Dia menangkis seranganku dengan mudah.
“Tenanglah yang di sana!” katanya. “Damai!”
“GUK!” Gonggongan si anjing neraka mengguncangkan arena.
“Itu anjing neraka!” teriakku.
“Dia tidak berbahaya,” kata sang pria. “Itu Nyonya O’Leary.”
Aku berkedip. “Nyonya O’Leary?”
Mendengar bunyi namanya, si anjing neraka menggonggong lagi. Aku menyadari dia tidak marah. Dia sedang senang. Dia menyikut boneka target basah yang kondisinya sudah parah karena dikunyah- kunyah ke arah si pria berpedang.
“Gadis pintar,” kata pria itu. Dengan tangannya yang bebas dia mencengkeram leher manekin berzirah itu dan melemparkannya ke bangku penonton. “Ambil si orang Yunani! Ambil si orang Yunani!”
Nyonya O’Leary melompat mengejar buruannya dan menerkam si boneka, menginjak baju zirahnya sampai gepeng. Dia mulai mengunyah helm si boneka.
Si pria berpedang tersentum kering. Usianya lima puluhan, tebakku, dengan rambut kelabu pendek serta janggut kelabu yang terpangkas rapi. Dia bugar untuk ukuran pria tua. Dia mengenakan celana mendaki gunung berwarna hitam dan pelindung dada perunggu tersandang di atas T-shirt jingga perkemahan. Di dasar lehernya ada tanda aneh, noda keunguan layaknya tanda lahir atau tato, tapi sebelum aku bisa mengetahui apa itu, dia memindahkan tali baju zirahnya dan tanda itu pun menghilang di balik kerahnya.
“Tenanglah yang di sana!” katanya. “Damai!”
“GUK!” Gonggongan si anjing neraka mengguncangkan arena.
“Itu anjing neraka!” teriakku.
“Dia tidak berbahaya,” kata sang pria. “Itu Nyonya O’Leary.”
Aku berkedip. “Nyonya O’Leary?”
Mendengar bunyi namanya, si anjing neraka menggonggong lagi. Aku menyadari dia tidak marah. Dia sedang senang. Dia menyikut boneka target basah yang kondisinya sudah parah karena dikunyah- kunyah ke arah si pria berpedang.
“Gadis pintar,” kata pria itu. Dengan tangannya yang bebas dia mencengkeram leher manekin berzirah itu dan melemparkannya ke bangku penonton. “Ambil si orang Yunani! Ambil si orang Yunani!”
Nyonya O’Leary melompat mengejar buruannya dan menerkam si boneka, menginjak baju zirahnya sampai gepeng. Dia mulai mengunyah helm si boneka.
Si pria berpedang tersentum kering. Usianya lima puluhan, tebakku, dengan rambut kelabu pendek serta janggut kelabu yang terpangkas rapi. Dia bugar untuk ukuran pria tua. Dia mengenakan celana mendaki gunung berwarna hitam dan pelindung dada perunggu tersandang di atas T-shirt jingga perkemahan. Di dasar lehernya ada tanda aneh, noda keunguan layaknya tanda lahir atau tato, tapi sebelum aku bisa mengetahui apa itu, dia memindahkan tali baju zirahnya dan tanda itu pun menghilang di balik kerahnya.
“Nyonya O’leary adalah binatang peliharaanku,” dia menjelaskan. “Aku tak bisa membiarkanmu menancapkan pedang ke pantatnya, iya, kan? Itu mungkin bakal menakutinya.”
“Siapa kau?”
“Janji tak membunuhku kalau aku menyingkirkan pedangku?”
“Kayaknya, sih.”
Dia menyarungkan pedangnya dan mengulurkan tangannya. “Quintus.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya sekasar ampelas.
“Percy Jackson,” kataku. “Maaf soal—Bagaimana sampai Anda, eh—“
“Punya binatang peliharaan berupa anjing neraka? Ceritanya panjang, melibatkan banyak situasi nyaris tewas yang genting dan beberapa mainan kunyah raksasa. Omong-omong, aku instruktur tarung pedang yang baru. membantu Chiron sementara Pak D sedang pergi.”
“Oh.” Aku mencoba tidak menatap saat Nyonya O’Leary merobek perisai boneka target dengan lengan yang masih melekat dan mengguncang-guncangnya bagaikan Frisbee. “Tunggu dulu, memang Pak D sedang pergi?” “Iya. Well ... masa-masa sibuk. Bahka Dionysus pun harus membantu. Dia akan mengunjungi beberapa teman lama. Memastikan mereka ada di pihak yang benar. Aku mungkin seharusnya tidak mengatakan lebih daripada itu.”
“Siapa kau?”
“Janji tak membunuhku kalau aku menyingkirkan pedangku?”
“Kayaknya, sih.”
Dia menyarungkan pedangnya dan mengulurkan tangannya. “Quintus.”
Aku menjabat tangannya. Tangannya sekasar ampelas.
“Percy Jackson,” kataku. “Maaf soal—Bagaimana sampai Anda, eh—“
“Punya binatang peliharaan berupa anjing neraka? Ceritanya panjang, melibatkan banyak situasi nyaris tewas yang genting dan beberapa mainan kunyah raksasa. Omong-omong, aku instruktur tarung pedang yang baru. membantu Chiron sementara Pak D sedang pergi.”
“Oh.” Aku mencoba tidak menatap saat Nyonya O’Leary merobek perisai boneka target dengan lengan yang masih melekat dan mengguncang-guncangnya bagaikan Frisbee. “Tunggu dulu, memang Pak D sedang pergi?” “Iya. Well ... masa-masa sibuk. Bahka Dionysus pun harus membantu. Dia akan mengunjungi beberapa teman lama. Memastikan mereka ada di pihak yang benar. Aku mungkin seharusnya tidak mengatakan lebih daripada itu.”
Kalau Dionysus sedang pergi, itu adalah kabar terbaik yang kuterima sepanjang hari. dia menjadi direktur perkemahan kami semata karena Zeus mengirimnya ke sini sebagai hukuman karena mengejar peri pohon yang terlarang. Dia membenci para pekemah dan mencoba membuat hidup kami sengsara. Karena dia pergi, musim panas ini mungkin saja bakal betul-betul asyik. Di sisi lain, kalau Dionysus berhenti bersantai-santai dan sungguh-sungguh mulai membantu para dewa untuk merekrut tenaga melawan ancaman Titan, kelihatannya keadaan sudah lumayan buruk.
Di kiriku, terdengar bunyi BUM nyaring. Enam peti kayu seukuran meja piknik ditumpuk di dekat sana, dan peti-peti itu berkelontangan. Nyonya O’Leary memiringkan kepalanya dan berderap ke arah peti- peti itu.
“Tenang, Non!” ujar Quintus. “Itu bukan buatmu.” Dia mengalihkan perhatian si anjing neraka dengan Frisbee dari perisai perunggu.
Peti-peti itu berderak dan berguncang. Ada huruf-huruf tercetak di sisi-sisinya, namun berkat diseleksiaku perlu beberapa menit bagiku untuk mengartikan kata-kata berikut:
PETERNAKAN TRIPEL G MUDAH PECAH
ATAS SEBELAH SINI
Di sepanjang bagian bawah, dengan huruf-huruf yang lebih kecil: BUKA DENGAN HATI-HATI. PETERNAKAN TRIPEL G TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUSAKAN PROPERTI, LUKA-LUKA, ATAU KEMATIAN YANG LUAR BIASA MENYAKITKAN.
“Apa yang ada di dalam kotak?” tanyaku. “Sedikit kejutan,” kata Quintus. “Kegiatan latihan untuk besok malam. Kau bakal menyukainya.”
Di kiriku, terdengar bunyi BUM nyaring. Enam peti kayu seukuran meja piknik ditumpuk di dekat sana, dan peti-peti itu berkelontangan. Nyonya O’Leary memiringkan kepalanya dan berderap ke arah peti- peti itu.
“Tenang, Non!” ujar Quintus. “Itu bukan buatmu.” Dia mengalihkan perhatian si anjing neraka dengan Frisbee dari perisai perunggu.
Peti-peti itu berderak dan berguncang. Ada huruf-huruf tercetak di sisi-sisinya, namun berkat diseleksiaku perlu beberapa menit bagiku untuk mengartikan kata-kata berikut:
PETERNAKAN TRIPEL G MUDAH PECAH
ATAS SEBELAH SINI
Di sepanjang bagian bawah, dengan huruf-huruf yang lebih kecil: BUKA DENGAN HATI-HATI. PETERNAKAN TRIPEL G TIDAK BERTANGGUNG JAWAB ATAS KERUSAKAN PROPERTI, LUKA-LUKA, ATAU KEMATIAN YANG LUAR BIASA MENYAKITKAN.
“Apa yang ada di dalam kotak?” tanyaku. “Sedikit kejutan,” kata Quintus. “Kegiatan latihan untuk besok malam. Kau bakal menyukainya.”
“Eh, oke, deh,” kataku, meskipun aku tidak yakin soal bagian “kematian yang luar biasa menyakitkan”.
Quintus melemparkan perisai perunggu, dan Nyonya O’Leary tertatih-tatih mengejarnya. “Kalian anak muda perlu lebih banyak tantangan. Mereka tidak punya perkemahan seperti ini waktu aku masih kanak-kanak.”
“Anda—Anda blasteran?” aku tidak bermaksud untuk kedengaran begitu kaget, tapi aku tidak pernah melihat manusia setengah dewa yang tua sebelumnya.
Quintus terkekeh. “Beberapa dari kita berhasil selamat sampai masa dewasa, kau tahu. Tidak semua dari kita menjadi subjek ramalan mengerikan.”
“Anda tahu tentang ramalanku?”
“Aku sudah dengar beberapa hal.”
Aku ingin menanyakan beberapa hal apa, tapi tepat saat itu Chiron berkelotakan masuk ke arena. “Percy, di situ kau rupanya!”
Dia pasti baru saja datang dari mengajar panahan. Ada sarung anak panah serta busur yang tersandang di atas T-shirt CENTAURUS #1-nya. Dia telah memangkas rambut dan jenggot cokelat keritingnya untuk musim panas, dan separuh tubuh sebelah bawahnya, yang berupa kuda putih, diperciki lumpur dan rumput.
“Kulihat kau sudah bertemu instruktur baru kita.” Nada suara Chiron ringan, tapi ada pandangan gelisah di matanya. “Quintus, apa kau keberatan kalau kupinjam Percy?” “Tidak sama sekali, Tuan Chiron.”
Quintus melemparkan perisai perunggu, dan Nyonya O’Leary tertatih-tatih mengejarnya. “Kalian anak muda perlu lebih banyak tantangan. Mereka tidak punya perkemahan seperti ini waktu aku masih kanak-kanak.”
“Anda—Anda blasteran?” aku tidak bermaksud untuk kedengaran begitu kaget, tapi aku tidak pernah melihat manusia setengah dewa yang tua sebelumnya.
Quintus terkekeh. “Beberapa dari kita berhasil selamat sampai masa dewasa, kau tahu. Tidak semua dari kita menjadi subjek ramalan mengerikan.”
“Anda tahu tentang ramalanku?”
“Aku sudah dengar beberapa hal.”
Aku ingin menanyakan beberapa hal apa, tapi tepat saat itu Chiron berkelotakan masuk ke arena. “Percy, di situ kau rupanya!”
Dia pasti baru saja datang dari mengajar panahan. Ada sarung anak panah serta busur yang tersandang di atas T-shirt CENTAURUS #1-nya. Dia telah memangkas rambut dan jenggot cokelat keritingnya untuk musim panas, dan separuh tubuh sebelah bawahnya, yang berupa kuda putih, diperciki lumpur dan rumput.
“Kulihat kau sudah bertemu instruktur baru kita.” Nada suara Chiron ringan, tapi ada pandangan gelisah di matanya. “Quintus, apa kau keberatan kalau kupinjam Percy?” “Tidak sama sekali, Tuan Chiron.”
“Tidak perlu memanggilku ‘Tuan’,” kata Chiron, meskipun dia kedengarannya senang. “Ayo, Percy. Kita punya banyak hal untuk didiskusikan.”
Aku melirik Nyonya O’Leary sekali lagi, yang sekarang sedang mengunyah kaki si boneka target.
“Yah, sampai ketemu,” kataku kepada Quintus.
Saat kami berjalan menjauh, aku berbisik kepada Chiron, “Quintus seperti agak—“
“Misterius?” Chiron menyarankan. “Sulit dipahami?”
“Iya.”
Chiron mengangguk. “Blasteran yang sangat cakap. Ahli pedang yang luar biasa. Hanya saja kuharap aku mengerti ....”
Apa pun yang akan dia katakan, dia rupanya berubah pikiran. “Hal yang utama lebih dulu, Percy. Annabeth memberitahuku kau bertemu sejumlah empousa.”
“Iya.” Aku memberitahunya tentang pertarungan di Goode, dan bagaimana Kelli meledak menjadi kobaran api.
“Mm,” kata Chiron. “Monster-monster yang lebih kuat bisa melakukan itu. Dia tidak mati, Percy. Dia cuma melarikan diri. Bukan berita bagus bahwa para monster waita itu mulai bergerak.” “Apa yang mereka lakukan di sana?” tanyaku. “Menungguku?”
Aku melirik Nyonya O’Leary sekali lagi, yang sekarang sedang mengunyah kaki si boneka target.
“Yah, sampai ketemu,” kataku kepada Quintus.
Saat kami berjalan menjauh, aku berbisik kepada Chiron, “Quintus seperti agak—“
“Misterius?” Chiron menyarankan. “Sulit dipahami?”
“Iya.”
Chiron mengangguk. “Blasteran yang sangat cakap. Ahli pedang yang luar biasa. Hanya saja kuharap aku mengerti ....”
Apa pun yang akan dia katakan, dia rupanya berubah pikiran. “Hal yang utama lebih dulu, Percy. Annabeth memberitahuku kau bertemu sejumlah empousa.”
“Iya.” Aku memberitahunya tentang pertarungan di Goode, dan bagaimana Kelli meledak menjadi kobaran api.
“Mm,” kata Chiron. “Monster-monster yang lebih kuat bisa melakukan itu. Dia tidak mati, Percy. Dia cuma melarikan diri. Bukan berita bagus bahwa para monster waita itu mulai bergerak.” “Apa yang mereka lakukan di sana?” tanyaku. “Menungguku?”
“Mungkin.” Chiron mengernyitkan dahi. “Ajaib kau selamat. Kekuatan tipuan mereka ... hampir semua pahlawan pria mana saja akan jatuh ke dalam mantra mereka dan kemudian dilahap.”
“Aku pasti bakal dilahap,” akuku. “Kalau bukan karena Rachel.”
Chiron mengangguk. “Ironis, diselamatkan oleh manusia fana, tapi kita berutang budi kepadanya. Apa yang dikatakan si empousa tentang serangan keperkemahan—kita harus membicarakan ini lebih lanjut. Tapi sekarang, ayo, kita harus ke hutan. Grover pasti akan menginginkanmu di sana.”
“Di mana?”
“Didengar pendapat formalnya,” kata Chiron muram. “Dewan Tetua Berkuku Belah sedang rapat sekarang untuk menentukan nasibnya.”
Chiron bilang kami harus bergegas. Jadi, kubiarkan dia memberiku tumpangan dipunggungnya. Saat kami berderap melewati pondok-pondok, aku melirik ke aula makan—paviliun Yunani terbuka di atas bukit yang menghadap ke laut. Inilah pertama kalinya aku melihat tempat itu sejak musim panas lalu, dan hal itu mengembalikan kenangan buruk.
Chiron masuk ke dalam hutan. Para peri mengintip ke luar pohon untuk menonton kami melintas. Sosok-sosok besar berdesir dalam bayang-bayang—monster-monster yang disimpan di sini sebagai tantangan bagi para pekemah.
Kupikir aku mengenal hutan ini cukup baik setelah main tangkap bendera di sini pada dua musim panas, tapi Chiron membawaku ke jalan yang tidak kukenali, menembus terowonga pohon-pohon dedalu tua, melewati air terjun kecil, dan memasuki bukaan yang diselimuti bunga-bunga liar. Sekumpulan satir sedang duduk melingkar di rumput. Grover berdiri di tengah-tengah, berhadapan dengan tiga satir yang amat tua, amat gendut, yang duduk di singgasana dedaunan yang dibentuk dari semak mawar. Aku tidak pernah melihat ketiga satir tua itu sebelumnya, tapi kutebak mereka pasti Dewan Tetua Berkuku Belah.
“Aku pasti bakal dilahap,” akuku. “Kalau bukan karena Rachel.”
Chiron mengangguk. “Ironis, diselamatkan oleh manusia fana, tapi kita berutang budi kepadanya. Apa yang dikatakan si empousa tentang serangan keperkemahan—kita harus membicarakan ini lebih lanjut. Tapi sekarang, ayo, kita harus ke hutan. Grover pasti akan menginginkanmu di sana.”
“Di mana?”
“Didengar pendapat formalnya,” kata Chiron muram. “Dewan Tetua Berkuku Belah sedang rapat sekarang untuk menentukan nasibnya.”
Chiron bilang kami harus bergegas. Jadi, kubiarkan dia memberiku tumpangan dipunggungnya. Saat kami berderap melewati pondok-pondok, aku melirik ke aula makan—paviliun Yunani terbuka di atas bukit yang menghadap ke laut. Inilah pertama kalinya aku melihat tempat itu sejak musim panas lalu, dan hal itu mengembalikan kenangan buruk.
Chiron masuk ke dalam hutan. Para peri mengintip ke luar pohon untuk menonton kami melintas. Sosok-sosok besar berdesir dalam bayang-bayang—monster-monster yang disimpan di sini sebagai tantangan bagi para pekemah.
Kupikir aku mengenal hutan ini cukup baik setelah main tangkap bendera di sini pada dua musim panas, tapi Chiron membawaku ke jalan yang tidak kukenali, menembus terowonga pohon-pohon dedalu tua, melewati air terjun kecil, dan memasuki bukaan yang diselimuti bunga-bunga liar. Sekumpulan satir sedang duduk melingkar di rumput. Grover berdiri di tengah-tengah, berhadapan dengan tiga satir yang amat tua, amat gendut, yang duduk di singgasana dedaunan yang dibentuk dari semak mawar. Aku tidak pernah melihat ketiga satir tua itu sebelumnya, tapi kutebak mereka pasti Dewan Tetua Berkuku Belah.
Grover tampaknya sedang bercerita kepada mereka. Dia memilin-milin bagian bawah T-shirt-nya, bergerak gelisah di atas kaki kambingnya. Dia tidak banyak berubah sejak musim dingin lalu, mungkin karena satir menua setengah kali lebih lambat daripada manusia. Jerawatnya sudah membengkak. Tanduknya telah membesar sedikit sehingga menyembul keluar di atas rambut keritingnya. Aku menyadari sambil terkesiap bahwa aku lebih tinggi daripada dia sekarang.
Berdiri di satu didi lingkaran ada Annabeth, gadis lain yang tak pernah kulihat sebelumnya, dan Clarisse. Chiron menurunkanku di sebelah mereka.
Rambut cokelat lepek Clarisse diikat ke belakag dengan badaa kamuflase. Sepertinya dia bahkan terlihat lebih kekar, seakan dia sudah berolahraga rutin. Dia memelototiku dan bergumam, “Berandal,” yang pasti berarti suasana hatinya sedang bagus. Biasanya dia mengucapkan halo dengan cara mencoba membunuhku.
Annabeth merangkulkan lengannya di sekeliling di gadis yang satu lagi, yang terlihat seakan dia baru saja menangis. Dia kecil—mungil, kurasa begitulah kau menyebutnya—dengan rambut tipis berwarna cokelat kekuningan serta wajah cantik bagaikan peri. Dia mengenakan chiton—pakaian terusan ala Yunani kuno—berwarna hijau serta sandal berenda, dan dia mentol-notol matanya dengan saputangan. “Dengar pendapatnya berjalan buruk,” isaknya.
“Tidak, tidak.” Annabeth menepuk-nepuk bahunya. “Dia akan baik-baik saja, Juniper.”
Annabeth memandangku dan mengucapkan kata-kata pacar Grover tanpa suara. Paling tidak kupikir itulah yang dikatakannya, tapi itu tidak masuk akal. Grover punya pacar? Lalu aku memandang Juniper lebih dekat, dan kusadari telinganya agak lancip. Matanya, alih-alih merah karena menangis, memiliki nuansa hijau, warna klorofil. Dia seorang peri pohon—dryad.
Berdiri di satu didi lingkaran ada Annabeth, gadis lain yang tak pernah kulihat sebelumnya, dan Clarisse. Chiron menurunkanku di sebelah mereka.
Rambut cokelat lepek Clarisse diikat ke belakag dengan badaa kamuflase. Sepertinya dia bahkan terlihat lebih kekar, seakan dia sudah berolahraga rutin. Dia memelototiku dan bergumam, “Berandal,” yang pasti berarti suasana hatinya sedang bagus. Biasanya dia mengucapkan halo dengan cara mencoba membunuhku.
Annabeth merangkulkan lengannya di sekeliling di gadis yang satu lagi, yang terlihat seakan dia baru saja menangis. Dia kecil—mungil, kurasa begitulah kau menyebutnya—dengan rambut tipis berwarna cokelat kekuningan serta wajah cantik bagaikan peri. Dia mengenakan chiton—pakaian terusan ala Yunani kuno—berwarna hijau serta sandal berenda, dan dia mentol-notol matanya dengan saputangan. “Dengar pendapatnya berjalan buruk,” isaknya.
“Tidak, tidak.” Annabeth menepuk-nepuk bahunya. “Dia akan baik-baik saja, Juniper.”
Annabeth memandangku dan mengucapkan kata-kata pacar Grover tanpa suara. Paling tidak kupikir itulah yang dikatakannya, tapi itu tidak masuk akal. Grover punya pacar? Lalu aku memandang Juniper lebih dekat, dan kusadari telinganya agak lancip. Matanya, alih-alih merah karena menangis, memiliki nuansa hijau, warna klorofil. Dia seorang peri pohon—dryad.
“Tuan Underwood!” Anggota dewan di kanan berseru memotong apa pun yang Grover coba katakan. “Apa kau benar-benar berharap agar kami memercayaimu?”
“T-tapi, Silenus,” Grover terbata-bata. “Itulah yang sebenarnya!”
Si tetua Dewan, Silenus, berpaling kepada keloganya dan menggumamkan sesuatu. Chiron mencongklang ke depan dan berdiri di samping mereka. Aku ingat dia adalah anggota kehormatan dewan, tapi aku tak pernah terlalu memikirkannya. Para tetua tidak terlihat terlalu mengesanka. Mereka mengingatkanku akan kambing di kebun binatang terbuka. Tempat pengunjung bisa mengelus-elus hewan—perut besar, ekspresi mengantuk, dan mata kosong yang tidak bisa melihat melampaui segumpal pakan kambing berikutnya. Aku heran kenapa Grover terlihat gugup sekali.
Selenus menarik kaus polo kuningnya menutupi perutnya dan menyesuaikan diri di atas singgasana mawarnya. “Tuan Underwood, selama enam bulan—enam bulan—kami telah mendengar klaim-klaim sesat bahwa kau mendengar dewa alam liat Pan berbicara.”
“Tapi aku memang mendengarya!”
“Kurang ajar!” kata tetua di sebelah kiri.
“Nah, Maron,” kata Chiron. “Sabarlah.”
“Sabar, benar!” kata Maron. “Aku sudah cukup muak sampai ke ujung tanduk dengan omong kosong ini. memangnya dewa alam liat mau bicara kepada ... kepada dia.” Juniper terlihat seolah dia ingin menerjang di satir tua dan memukulinya, tapi Annabeth dan Clarisse menahannya. “Pertarungan yang salah, Nona,” gumam Clarisse. “Tunggu.”
“T-tapi, Silenus,” Grover terbata-bata. “Itulah yang sebenarnya!”
Si tetua Dewan, Silenus, berpaling kepada keloganya dan menggumamkan sesuatu. Chiron mencongklang ke depan dan berdiri di samping mereka. Aku ingat dia adalah anggota kehormatan dewan, tapi aku tak pernah terlalu memikirkannya. Para tetua tidak terlihat terlalu mengesanka. Mereka mengingatkanku akan kambing di kebun binatang terbuka. Tempat pengunjung bisa mengelus-elus hewan—perut besar, ekspresi mengantuk, dan mata kosong yang tidak bisa melihat melampaui segumpal pakan kambing berikutnya. Aku heran kenapa Grover terlihat gugup sekali.
Selenus menarik kaus polo kuningnya menutupi perutnya dan menyesuaikan diri di atas singgasana mawarnya. “Tuan Underwood, selama enam bulan—enam bulan—kami telah mendengar klaim-klaim sesat bahwa kau mendengar dewa alam liat Pan berbicara.”
“Tapi aku memang mendengarya!”
“Kurang ajar!” kata tetua di sebelah kiri.
“Nah, Maron,” kata Chiron. “Sabarlah.”
“Sabar, benar!” kata Maron. “Aku sudah cukup muak sampai ke ujung tanduk dengan omong kosong ini. memangnya dewa alam liat mau bicara kepada ... kepada dia.” Juniper terlihat seolah dia ingin menerjang di satir tua dan memukulinya, tapi Annabeth dan Clarisse menahannya. “Pertarungan yang salah, Nona,” gumam Clarisse. “Tunggu.”
Aku tidak tahu apa yang lebih mengejutkanku Clarisse menghalangi seseorang berkelahi, atau fakta bahwa dia dan Annabeth, yang saling membenci, hampir tampak seolah mereka bekerja sama.
“Selama enam bulan,” Silenus melanjutkan, “kami telah menuruti keinginanmu, Tuan Underwood. Kami membiarkanmu bepergian. Kami mengizinkanmu menyimpan izin pencarimu. Kami menunggumu membawakan bukti akan klaimmu yang tidak masuk akal. Dan apa yang sudah kau temukan dalam enam bulan perjalanan?”
“Aku hanya perlu lebih banyak waktu,” Grover memohon.
“Tidak ada!” timpal si tetua di tengah-tengah. “Kau tidak menemukan apa-apa.”
“Tapi, Leneus—“
Silenus mengangkat tangannya. Chiron menyorongkan tubuhnya dan mengatakan sesuatu kepada para satir. Para satir tidak terlihat senang. Mereka bergumam dan saling debat, tapi Chiron mengatakan hal lain, dan Silenus mendesah. Dia mengangguk dengan enggan.
“Tuan Underwood,” Silenus mengumumkan, “kami akan memberimu satu kesempatan lagi.”
Grover berbinar. “Terima kasih!”
“Seminggu lagi.”
“Apa? Tapi, Tuan! Itu mustahil!” “Seminggu lagi, Tuan Underwood. Dan kemudian, kalau kau tidak bisa membuktikan klaimmu, sudah waktunya bagimu untuk mengejar karier lain. Sesuatu yang cocok dengan bakat dramatismu. Sandiwara boneka mungkin. Atau tarian tap.”
“Selama enam bulan,” Silenus melanjutkan, “kami telah menuruti keinginanmu, Tuan Underwood. Kami membiarkanmu bepergian. Kami mengizinkanmu menyimpan izin pencarimu. Kami menunggumu membawakan bukti akan klaimmu yang tidak masuk akal. Dan apa yang sudah kau temukan dalam enam bulan perjalanan?”
“Aku hanya perlu lebih banyak waktu,” Grover memohon.
“Tidak ada!” timpal si tetua di tengah-tengah. “Kau tidak menemukan apa-apa.”
“Tapi, Leneus—“
Silenus mengangkat tangannya. Chiron menyorongkan tubuhnya dan mengatakan sesuatu kepada para satir. Para satir tidak terlihat senang. Mereka bergumam dan saling debat, tapi Chiron mengatakan hal lain, dan Silenus mendesah. Dia mengangguk dengan enggan.
“Tuan Underwood,” Silenus mengumumkan, “kami akan memberimu satu kesempatan lagi.”
Grover berbinar. “Terima kasih!”
“Seminggu lagi.”
“Apa? Tapi, Tuan! Itu mustahil!” “Seminggu lagi, Tuan Underwood. Dan kemudian, kalau kau tidak bisa membuktikan klaimmu, sudah waktunya bagimu untuk mengejar karier lain. Sesuatu yang cocok dengan bakat dramatismu. Sandiwara boneka mungkin. Atau tarian tap.”
“Tapi, Tuan, aku—aku tidak bisa kehilangan izin pencariku. Seluruh hidupku—“
“Rapat dewan ini ditangguhkan,” kata Silenus. “Dan sekarang mari kita nikmati makan siang kita!”
Si satir tua menepukkan tangannya dan sekumpulan peri hutan meleleh keluar pohon beserta nampan- nampan berisi sayuran, buah-buahan, kaleng-kaleng, dan hidangan kambing lainnya. Lingkaran satir bubar dan menyerbu makanan. Grover berjalan patah semangat ke arah kami. T-shirt biru pudarnya bergambar satir. Tulisannya PUNYA KAKI KAMBING?
“Hai, Percy,” katanya, begitu depresi sampai-sampai dia bahkan tidak mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman. “Yang tadi itu berjalan baik, ya?”
“Kambing-kambing tua itu.” Kata Juniper. “Oh, Grover, mereka tidak tahu betapa kerasnya kau mencoba!”
“Ada pilihan lain,” kata Clarisse muram.
“Tidak. Tidak.” Juniper menggelengkan kepalanya. “Grover, aku tidak akan membiarkanmu.”
Wajah Grover memucat. “Aku—aku harus memikirkannya. Tapi kita bahkan tidak tahu di mana harus mencari.”
“Kalian ngomongin apa, sih?” tanyaku. Di kejauhan, trompet kerang berbunyi.
“Rapat dewan ini ditangguhkan,” kata Silenus. “Dan sekarang mari kita nikmati makan siang kita!”
Si satir tua menepukkan tangannya dan sekumpulan peri hutan meleleh keluar pohon beserta nampan- nampan berisi sayuran, buah-buahan, kaleng-kaleng, dan hidangan kambing lainnya. Lingkaran satir bubar dan menyerbu makanan. Grover berjalan patah semangat ke arah kami. T-shirt biru pudarnya bergambar satir. Tulisannya PUNYA KAKI KAMBING?
“Hai, Percy,” katanya, begitu depresi sampai-sampai dia bahkan tidak mengulurkan tangan untuk mengajakku bersalaman. “Yang tadi itu berjalan baik, ya?”
“Kambing-kambing tua itu.” Kata Juniper. “Oh, Grover, mereka tidak tahu betapa kerasnya kau mencoba!”
“Ada pilihan lain,” kata Clarisse muram.
“Tidak. Tidak.” Juniper menggelengkan kepalanya. “Grover, aku tidak akan membiarkanmu.”
Wajah Grover memucat. “Aku—aku harus memikirkannya. Tapi kita bahkan tidak tahu di mana harus mencari.”
“Kalian ngomongin apa, sih?” tanyaku. Di kejauhan, trompet kerang berbunyi.
Annabeth memonyongkan bibirnya. “Akan kuberi tahu kau nanti, Percy. Kita sebaiknya kembali ke pondok kita. Inspeksi sudah dimulai.”
***
Sepertinya tak adil bahwa aku harus berbenah demi inspeksi pondok saat aku baru saja sampai di perkemahan, tapi begitulah cara kerjanya. Setiap siang, salah satu konselor senior berkeliling dengan daftar ceklis di gulungan papirus. Pondok terbaik mendapat jam mandi pertama yag berarti air panas dijamin. Pondok terburuk mendapat patroli dapur setelah makan malam.
Masalahnya bagiku: aku biasanya adalah satu-satunya orang di pondok Poseidon, dan aku bukan termasuk tipe yang disebut rapi. Para harpy pembersih baru datang pada hari terakhir musim panas, jadi keadaan pondokku mungkin sama seperti ketika aku meninggalkannya di musim dingin: bungkus permen dan kantong keripikku masih di tempat tidur susun, baju zirahku untuk tangkap bendera berserakan di sepenjuru pondok.
Aku berpacu ke arah halaman bersama, tempat dua belas pondok—satu untuk setiap dewa-dewi Olympia—berdiri membentuk U di sekeliling lapangan rumput di tengah-tengah. Anak-anak Demeter sedang menyapu pondok mereka dan menumbuhkan bunga-bunga segar di kotak jendela mereka. Hanya dengan cara menjentikkan jari mereka bisa membuat sulur-sulur kamperfuli merekah di ambang pintu dan aster menutupi atap, dan itu betul-betul tidak adil. Kupikir mereka tidak pernah dapat tempat terakhir saat inspeksi. Anak-anak di pondok Hermes sedang tergopoh-gopoh dengan panik, menyembunyikan cucian kotor di bawah tempat tidur dan menuduh satu sama lain mencuri barang- barang. Mereka pemalas, tapi mereka lebih unggul daripada aku.
Di pondok Aphrodite, Silena Beauregard baru saja keluar, mengecek daftar di gulungan inspeksi. Aku menggerutu. Silena baik, sih, tapi dia betul-betul maniak kebersihan, inspektur yang terburuk. Dia ingin segalanya tampak cantik. Aku mana bisa ber-“cantik” ria. Aku hampir bisa merasakan lenganku yang jadi berat karena semua peralatan makan kotor yang bakal harus kucuci malam ini. Pondok Poseidon ada di ujung barisan pondok-pondok “dewa pria” di sisi kanan lapangan. Pondok tersebut terbuat dari batuan laut kelabu yang bertahtakan kerang, panjang dan rendah seperti bunker, tapi punya jendela-jendela yang menghadap ke laut dan selalu ada angin nyaman yang berembus melaluinya.
***
Sepertinya tak adil bahwa aku harus berbenah demi inspeksi pondok saat aku baru saja sampai di perkemahan, tapi begitulah cara kerjanya. Setiap siang, salah satu konselor senior berkeliling dengan daftar ceklis di gulungan papirus. Pondok terbaik mendapat jam mandi pertama yag berarti air panas dijamin. Pondok terburuk mendapat patroli dapur setelah makan malam.
Masalahnya bagiku: aku biasanya adalah satu-satunya orang di pondok Poseidon, dan aku bukan termasuk tipe yang disebut rapi. Para harpy pembersih baru datang pada hari terakhir musim panas, jadi keadaan pondokku mungkin sama seperti ketika aku meninggalkannya di musim dingin: bungkus permen dan kantong keripikku masih di tempat tidur susun, baju zirahku untuk tangkap bendera berserakan di sepenjuru pondok.
Aku berpacu ke arah halaman bersama, tempat dua belas pondok—satu untuk setiap dewa-dewi Olympia—berdiri membentuk U di sekeliling lapangan rumput di tengah-tengah. Anak-anak Demeter sedang menyapu pondok mereka dan menumbuhkan bunga-bunga segar di kotak jendela mereka. Hanya dengan cara menjentikkan jari mereka bisa membuat sulur-sulur kamperfuli merekah di ambang pintu dan aster menutupi atap, dan itu betul-betul tidak adil. Kupikir mereka tidak pernah dapat tempat terakhir saat inspeksi. Anak-anak di pondok Hermes sedang tergopoh-gopoh dengan panik, menyembunyikan cucian kotor di bawah tempat tidur dan menuduh satu sama lain mencuri barang- barang. Mereka pemalas, tapi mereka lebih unggul daripada aku.
Di pondok Aphrodite, Silena Beauregard baru saja keluar, mengecek daftar di gulungan inspeksi. Aku menggerutu. Silena baik, sih, tapi dia betul-betul maniak kebersihan, inspektur yang terburuk. Dia ingin segalanya tampak cantik. Aku mana bisa ber-“cantik” ria. Aku hampir bisa merasakan lenganku yang jadi berat karena semua peralatan makan kotor yang bakal harus kucuci malam ini. Pondok Poseidon ada di ujung barisan pondok-pondok “dewa pria” di sisi kanan lapangan. Pondok tersebut terbuat dari batuan laut kelabu yang bertahtakan kerang, panjang dan rendah seperti bunker, tapi punya jendela-jendela yang menghadap ke laut dan selalu ada angin nyaman yang berembus melaluinya.
Aku melesat ke dalam sembari menimbang-nimbang apakah kira-kira aku bisa berbenah kilat dengan cara menyelipkan segalanya ke balik kasur seperti anak-anak Hermes, sewaktu kudapati saudara tiriku Tyson sedang menyapu lantai.
“Percy!” raungnya. Dia menjatuhkan sapunya dan berlari menghampiriku. Kalau kau tak pernah diterjang oleh Cyclops antusias yang mengenakan celemek bunga-bunga dan sarung angan karet untuk bersih-bersih, kuberi tahu ya, terjangan itu bakal membangunkanmu cukup cepat.
“Hei, Jagoan!” kataku. “Adaow, hati-hati dengan tulang rusuknya. Tulang rusukku.”
Aku berhasil selamat dari pelukan ala beruangnya. Dia menurunkanku, menyeringai bak orang gila, satu matanya bagai anak sapi penuh semangat. Gigi-geliginya kuning dan miring seperti biasanya, dan rambutnya mirip sarang tikus. Dia mengenakan jin XXXL usang dan kemeja flanel compang-camping di balik celemek bunga-bunganya, tapi tetap saja mencolok bagi mata yang lelah sekalipun. Sudah hampir setahun aku tidak melihatnya, sejak dia pergi ke bawah laut untuk bekerja di penempaan para Cyclops.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Nggak dimakan monster?”
“Tidak sedikit pun.” Aku menunjukkan kepadanya bahwa aku masih memiliki dua lengan dan dua kaki, dan Tyson bertepuk tangan dengan gembira.
“Asyik!” katanya. “Sekarang kita bisa makan roti isi selai kacang da naik kuda poni ikan! Kita bisa bertarung lawan monster dan ketemu Annabeth dan membuat semua jadi BUM!” Kuharap maksudnya bukan melakukan semuanya pada waktu bersamaan, tapi kuberi tahu dia bahwa pasti kami akan bersenang-senang musim panas ini. tidak bisa tidak, aku tersenyum, dia begitu antusias akan segalanya.
“Percy!” raungnya. Dia menjatuhkan sapunya dan berlari menghampiriku. Kalau kau tak pernah diterjang oleh Cyclops antusias yang mengenakan celemek bunga-bunga dan sarung angan karet untuk bersih-bersih, kuberi tahu ya, terjangan itu bakal membangunkanmu cukup cepat.
“Hei, Jagoan!” kataku. “Adaow, hati-hati dengan tulang rusuknya. Tulang rusukku.”
Aku berhasil selamat dari pelukan ala beruangnya. Dia menurunkanku, menyeringai bak orang gila, satu matanya bagai anak sapi penuh semangat. Gigi-geliginya kuning dan miring seperti biasanya, dan rambutnya mirip sarang tikus. Dia mengenakan jin XXXL usang dan kemeja flanel compang-camping di balik celemek bunga-bunganya, tapi tetap saja mencolok bagi mata yang lelah sekalipun. Sudah hampir setahun aku tidak melihatnya, sejak dia pergi ke bawah laut untuk bekerja di penempaan para Cyclops.
“Kau baik-baik saja?” tanyanya. “Nggak dimakan monster?”
“Tidak sedikit pun.” Aku menunjukkan kepadanya bahwa aku masih memiliki dua lengan dan dua kaki, dan Tyson bertepuk tangan dengan gembira.
“Asyik!” katanya. “Sekarang kita bisa makan roti isi selai kacang da naik kuda poni ikan! Kita bisa bertarung lawan monster dan ketemu Annabeth dan membuat semua jadi BUM!” Kuharap maksudnya bukan melakukan semuanya pada waktu bersamaan, tapi kuberi tahu dia bahwa pasti kami akan bersenang-senang musim panas ini. tidak bisa tidak, aku tersenyum, dia begitu antusias akan segalanya.
“Tapi pertama-tama,” kataku, “kita harus cemas soal inspeksi. Kita sebaiknya ....”
Lalu aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa Tyson telah menyibukkan diri. Lantai sudah disapu. Tempat tidur susun sudah dirapikan. Pancuran air asin di pojok baru saja di sikat sampai batuan koralnya berkilau di ambang jendela, Tyson telah menempatkan vas berisi air dengan anemon laut dan tanaman aneh kemilau dari dasar samudra, lebih indah daripada buket bunga mana pun yang bisa dimunculkan anak-anak Demeter.
“Tyson, pondok kelihatan ... luar biasa!”
Dia berbinar-binar. “Lihat kuda-kuda poni ikan? Kutaruh mereka di langit-langit.”
Sekawanan miniatur hippocampus perunggu tergantung di kawat dari langit-langit sehingga mereka seolah sedang berenang di udara. Aku tidak bisa percaya bahwa Tyson, dengan tangannya yang besar, bisa membuat benda yang begitu kecil dan rumit. Lalu aku memandang tempat tidur susunku, dan kulihat perisai lamaku, tergantung di dinding.
“Kau memperbaikinya!”
Perisai itu rusak parah saat serangan manticore musim dingin lalu, tapi sekarang perisai itu kembali sempurna—tidak ada goresan sama sekali. Semua gambar perunggu yang melukiskan petualanganku bersama Tyson dan Annabeth di Lautan Monster dipoles dan berkilat.
Aku memandang Tyson. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadany.
Lalu seseorang dibelakangku berkata, “Oh, ya ampun.” Silena Beauregard berdiri di ambang pintu dengan gulungan inspeksinya. Dia melangkah masuk ke pondok, berputar-putar cepat, lalu mengangkat alisnya kepadaku. “Yah, aku punya keraguan. Tapi usahamu beres-beres boleh juga, Percy. Akan kuingat itu.”
Lalu aku melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa Tyson telah menyibukkan diri. Lantai sudah disapu. Tempat tidur susun sudah dirapikan. Pancuran air asin di pojok baru saja di sikat sampai batuan koralnya berkilau di ambang jendela, Tyson telah menempatkan vas berisi air dengan anemon laut dan tanaman aneh kemilau dari dasar samudra, lebih indah daripada buket bunga mana pun yang bisa dimunculkan anak-anak Demeter.
“Tyson, pondok kelihatan ... luar biasa!”
Dia berbinar-binar. “Lihat kuda-kuda poni ikan? Kutaruh mereka di langit-langit.”
Sekawanan miniatur hippocampus perunggu tergantung di kawat dari langit-langit sehingga mereka seolah sedang berenang di udara. Aku tidak bisa percaya bahwa Tyson, dengan tangannya yang besar, bisa membuat benda yang begitu kecil dan rumit. Lalu aku memandang tempat tidur susunku, dan kulihat perisai lamaku, tergantung di dinding.
“Kau memperbaikinya!”
Perisai itu rusak parah saat serangan manticore musim dingin lalu, tapi sekarang perisai itu kembali sempurna—tidak ada goresan sama sekali. Semua gambar perunggu yang melukiskan petualanganku bersama Tyson dan Annabeth di Lautan Monster dipoles dan berkilat.
Aku memandang Tyson. Aku tidak tahu bagaimana harus berterima kasih kepadany.
Lalu seseorang dibelakangku berkata, “Oh, ya ampun.” Silena Beauregard berdiri di ambang pintu dengan gulungan inspeksinya. Dia melangkah masuk ke pondok, berputar-putar cepat, lalu mengangkat alisnya kepadaku. “Yah, aku punya keraguan. Tapi usahamu beres-beres boleh juga, Percy. Akan kuingat itu.”
Dia mengedipkan matanya kepadaku dan meninggalkan ruangan.
Tyson dan aku menghabiskan siang itu sambil mengobrol dan nongkrong bareng, yang terasa menyenangkan setelah pagi yang diisi oleh serangan dari pemandu sorak monster.
Kami turun ke bengkel logam dan membantu Beckendorf dari pondok Hephaestus menempa logamnya. Tyson menunjukkan kepada kami bagaimana dia belajar merakit senjata ajaib. Dia membentuk kapak perang bermata ganda yang menyala-nyala dengan begitu cepat sehingga bahkan Beckendorf pun terkesan.
Sementara dia bekerja, Tyson bercerita kepada kami tentang tahun yang dihabiskannya di bawah laut. Matanya berkilat-kilat saat dia memaparkan tentang penempaan Cyclops serta istana Poseidon, tapi dia juga memberi tahu kami setegang apa keadaannya. Dewa-dewa laut lama, yang berkuasa pada masa Titan, mulai menyatakan perang pada ayah kami. Saat Tyson pergi, pertempuran telah berkobar di seluruh Samudra Atlantik. Mendengar hal itu membuatku merasa gelisah, rasanya aku sebaiknya membantu, tapi Tyson meyakinkanku bahwa Ayah ingin agar kami berdua berada di perkemahan.
“Di laut juga banyak orang jahat,” kata Tyson. “Kita bisa membuat mereka jadi bum.”
Setelah bengkel logam, kami menghabiskan waktu di danau kano bersama Annabeth. Dia betul-betul senang melihat Tyson, tapi aku bisa tahu bahwa pikirannya sedang terusik. Dia terus-menerus memandangi hutan, seakan dia sedang memikirkan masalah Grover dengan dewan. Aku tidak bisa menyalahkannya. Grover tidak kelihatan di mana pun, dan aku ikut merasa tidak enak untuknya. Menemukan dewa Pan yang hilang adalah cita-citanya seumur hidup. Baik ayah maupun pamannya hilang karena mengejar impian yang sama. Musim dingin lalu, Grover mendengar suara di kepalanya: Aku menunggumu—suara yang diyakininya berasal dari Pan—tapi rupanya pencariannya tidak menghasilkan apa-apa. Kalau dewan mengambil izin pencarinya sekarang, itu akan menghancurkannya.
Tyson dan aku menghabiskan siang itu sambil mengobrol dan nongkrong bareng, yang terasa menyenangkan setelah pagi yang diisi oleh serangan dari pemandu sorak monster.
Kami turun ke bengkel logam dan membantu Beckendorf dari pondok Hephaestus menempa logamnya. Tyson menunjukkan kepada kami bagaimana dia belajar merakit senjata ajaib. Dia membentuk kapak perang bermata ganda yang menyala-nyala dengan begitu cepat sehingga bahkan Beckendorf pun terkesan.
Sementara dia bekerja, Tyson bercerita kepada kami tentang tahun yang dihabiskannya di bawah laut. Matanya berkilat-kilat saat dia memaparkan tentang penempaan Cyclops serta istana Poseidon, tapi dia juga memberi tahu kami setegang apa keadaannya. Dewa-dewa laut lama, yang berkuasa pada masa Titan, mulai menyatakan perang pada ayah kami. Saat Tyson pergi, pertempuran telah berkobar di seluruh Samudra Atlantik. Mendengar hal itu membuatku merasa gelisah, rasanya aku sebaiknya membantu, tapi Tyson meyakinkanku bahwa Ayah ingin agar kami berdua berada di perkemahan.
“Di laut juga banyak orang jahat,” kata Tyson. “Kita bisa membuat mereka jadi bum.”
Setelah bengkel logam, kami menghabiskan waktu di danau kano bersama Annabeth. Dia betul-betul senang melihat Tyson, tapi aku bisa tahu bahwa pikirannya sedang terusik. Dia terus-menerus memandangi hutan, seakan dia sedang memikirkan masalah Grover dengan dewan. Aku tidak bisa menyalahkannya. Grover tidak kelihatan di mana pun, dan aku ikut merasa tidak enak untuknya. Menemukan dewa Pan yang hilang adalah cita-citanya seumur hidup. Baik ayah maupun pamannya hilang karena mengejar impian yang sama. Musim dingin lalu, Grover mendengar suara di kepalanya: Aku menunggumu—suara yang diyakininya berasal dari Pan—tapi rupanya pencariannya tidak menghasilkan apa-apa. Kalau dewan mengambil izin pencarinya sekarang, itu akan menghancurkannya.
“Apa, sih ‘cara lain’ itu?” tanyaku kepada Annabeth. “Yang Clarisse sebut-sebut tadi?”
Dia memungut batu dan melemparkannya menyeberangi danau. “Sesuatu yang Clarisse ketahui dari hasil pengamatannya. Aku membantunya sedikit musim semi ini. Tapi itu bakal berbahaya. Terutama bagi Grover.”
“Bocah kambing membuatku takut,” Tyson bergumam.
Aku menatapnya. Tyson telah berhadap-hadapan dengan banteng bernapas api dan monster laut dan raksasa kanibal. “Kenapa kau takut pada Grover?”
“Kaki kambing dan tanduk,” celoteh Tyson gugup. “Dan bulu kambing bikin hidungku gatal.”
Dan itu kurang lebih mengakhiri percakapan kami tentang Grover.
Sebelum makan malam, Tyson dan aku turun ke arena pedang. Quintus senang ada yang menemaninya. Dia tetap tidak mau memberitahuku apa yang ada di dalam peti-peti kayu, tapi dia mengajariku beberapa gerakan berpedang. Laki-laki itu baik. Dia bertarung dengan cara layaknya sejumlah orang bermain catur—seolah dia merencanakan semua gerakan-gerakan bersamaan dan kau tidak bisa melihat polanya sampai dia melakukan pukulan terakhir dan menang dengan pedang di lehermu.
“Percobaan yang bagus.” Dia memberitahuku. “Tapi kewaspadaanmu terlalu lemah.”
Dia menyerbu dan aku menangkis. “Apa selama ini Anda selalu menjadi ahli pedang?” tanyaku.
Dia memungut batu dan melemparkannya menyeberangi danau. “Sesuatu yang Clarisse ketahui dari hasil pengamatannya. Aku membantunya sedikit musim semi ini. Tapi itu bakal berbahaya. Terutama bagi Grover.”
“Bocah kambing membuatku takut,” Tyson bergumam.
Aku menatapnya. Tyson telah berhadap-hadapan dengan banteng bernapas api dan monster laut dan raksasa kanibal. “Kenapa kau takut pada Grover?”
“Kaki kambing dan tanduk,” celoteh Tyson gugup. “Dan bulu kambing bikin hidungku gatal.”
Dan itu kurang lebih mengakhiri percakapan kami tentang Grover.
Sebelum makan malam, Tyson dan aku turun ke arena pedang. Quintus senang ada yang menemaninya. Dia tetap tidak mau memberitahuku apa yang ada di dalam peti-peti kayu, tapi dia mengajariku beberapa gerakan berpedang. Laki-laki itu baik. Dia bertarung dengan cara layaknya sejumlah orang bermain catur—seolah dia merencanakan semua gerakan-gerakan bersamaan dan kau tidak bisa melihat polanya sampai dia melakukan pukulan terakhir dan menang dengan pedang di lehermu.
“Percobaan yang bagus.” Dia memberitahuku. “Tapi kewaspadaanmu terlalu lemah.”
Dia menyerbu dan aku menangkis. “Apa selama ini Anda selalu menjadi ahli pedang?” tanyaku.
Dia menepis sayatan-di-atas-kepala yang kulakukan. “Selama ini aku sudah melakukan banyak hal.”
Tali pengikat di bahunya melorot, dan kulihat tanda di lehernya—noda ungu itu. Tapi itu bukan sekedar noda acak. Bentuknya jelas—burung dengan sayap terlipat, seperti burung puyuh atau semacamnya.
“Apa itu di leher Anda?” tanyaku, yang mungkin adalah pertanyaan yang tidak sopan, tapi kau tak bisa menyalahkan GPPH-ku. Aku cenderung menyemburkan beberapa hal begitu saja.
Quintus kehilangan iramanya. Aku memukul gagang pedangnya dan menjatuhkan bilah pedang dari tangannya.
Dia menggosok-gosok jemarinya. Lalu dia menggeser baju zirahnya untuk menyembunyikan tanda itu. Kusadari itu bukan tato. Itu adalah bekas luka bakar yang sudah lama ... seakan dia ditandai.
“Sebuah pengingat.” Dia memungut pedangnya dan tersenyum dengan terpaksa. “Sekarang, bagaimana kalau kita mulai lagi?”
Dia betul-betul mendesakku, tidak memberiku waktu untuk mengajukan pertanyaan lagi.
Sementara dia dan aku bertarung, Tyson bermain bersama Nyonya O’Leary, yang dia panggil “guguk kecil”. Mereka menikmati saat yang menyenangkan, bergulat untuk berebut perisai perunggu dan bermain Ambil Si Orang Yunani. Saat matahari terbenam, Quintus tidak berkeringat sedikit pun, yang tampaknya agak aneh; tapi Tyson dan aku kepanasan dan lengket, jadi kami mandi pancuran dan bersiap-siap untuk makan malam. Aku merasa baik-baik saja. Rasanya hampir seperti hari yang normal di perkemahan. Lalu waktu makan malam pun tiba, dan semua pekemah berbaris di dekat pondok dan berderap masuk ke paviliun makan. Sebagian besar dari mereka mengabaikan lekuk tertutup pada lantai marmer di jalan masuk—luka bergerigi sepanjang tiga meter yang tidak ada di sana musim panas lalu—tapi aku berhati-hati agar tidak menginjaknya.
Tali pengikat di bahunya melorot, dan kulihat tanda di lehernya—noda ungu itu. Tapi itu bukan sekedar noda acak. Bentuknya jelas—burung dengan sayap terlipat, seperti burung puyuh atau semacamnya.
“Apa itu di leher Anda?” tanyaku, yang mungkin adalah pertanyaan yang tidak sopan, tapi kau tak bisa menyalahkan GPPH-ku. Aku cenderung menyemburkan beberapa hal begitu saja.
Quintus kehilangan iramanya. Aku memukul gagang pedangnya dan menjatuhkan bilah pedang dari tangannya.
Dia menggosok-gosok jemarinya. Lalu dia menggeser baju zirahnya untuk menyembunyikan tanda itu. Kusadari itu bukan tato. Itu adalah bekas luka bakar yang sudah lama ... seakan dia ditandai.
“Sebuah pengingat.” Dia memungut pedangnya dan tersenyum dengan terpaksa. “Sekarang, bagaimana kalau kita mulai lagi?”
Dia betul-betul mendesakku, tidak memberiku waktu untuk mengajukan pertanyaan lagi.
Sementara dia dan aku bertarung, Tyson bermain bersama Nyonya O’Leary, yang dia panggil “guguk kecil”. Mereka menikmati saat yang menyenangkan, bergulat untuk berebut perisai perunggu dan bermain Ambil Si Orang Yunani. Saat matahari terbenam, Quintus tidak berkeringat sedikit pun, yang tampaknya agak aneh; tapi Tyson dan aku kepanasan dan lengket, jadi kami mandi pancuran dan bersiap-siap untuk makan malam. Aku merasa baik-baik saja. Rasanya hampir seperti hari yang normal di perkemahan. Lalu waktu makan malam pun tiba, dan semua pekemah berbaris di dekat pondok dan berderap masuk ke paviliun makan. Sebagian besar dari mereka mengabaikan lekuk tertutup pada lantai marmer di jalan masuk—luka bergerigi sepanjang tiga meter yang tidak ada di sana musim panas lalu—tapi aku berhati-hati agar tidak menginjaknya.
“Retakan besar,” kata Tyson ketika kami berada di meja kami. “Gempa bumi kali, ya?”
“Bukan,” kataku. “Bukan gempa bumi.”
Aku tidak yakin apakah aku sebaiknya memberi tahu dia. Ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Annabeth dan Grover serta aku. Tapi saat memandang mata besar Tyson, aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
“Nico di Angelo,” kataku, memelankan suaraku. “Dia itu anak Blasteran yang kami bawa ke perkemahan musim dingin lalu. Dia, eh ... dia memintaku menjaga kakak perempuannya dalam sebuah mis, dan aku gagal. Kakaknya meninggal. Sekarang dia menyalahkanku.”
Tyson mengerutkan kening. “Jadi, dia bikin retakan di lantai?”
“Ada kerangka-kerangka yang menyerang kami.” kataku. “Nico menyuruh mereka pergi, dan tanah terbuka begitu saja dan menelan mereka. Nico ....” Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tak ada yang mendengarkan. “Nico anak Hades.”
Tyson mengangguk-angguk serius. “Dewa orang mati.”
“Iya.”
“Jadi, si bocah Nico ini sekarang pergi?” “Aku—kukira begitu. Aku mencoba mencarinya musim semi ini. Annabeth juga. Tapi kami tidak beruntung. Ini rahasia, Tyson. Oke? Kalau sampai ada yang tahu bahwa da anak Hades, dia bakal ada dalam bahaya. Kau bahkan tak boleh kasih tahu Chiron.”
“Bukan,” kataku. “Bukan gempa bumi.”
Aku tidak yakin apakah aku sebaiknya memberi tahu dia. Ini adalah rahasia yang hanya diketahui oleh Annabeth dan Grover serta aku. Tapi saat memandang mata besar Tyson, aku tahu aku tidak bisa menyembunyikan apa pun darinya.
“Nico di Angelo,” kataku, memelankan suaraku. “Dia itu anak Blasteran yang kami bawa ke perkemahan musim dingin lalu. Dia, eh ... dia memintaku menjaga kakak perempuannya dalam sebuah mis, dan aku gagal. Kakaknya meninggal. Sekarang dia menyalahkanku.”
Tyson mengerutkan kening. “Jadi, dia bikin retakan di lantai?”
“Ada kerangka-kerangka yang menyerang kami.” kataku. “Nico menyuruh mereka pergi, dan tanah terbuka begitu saja dan menelan mereka. Nico ....” Aku melihat ke sekeliling untuk memastikan bahwa tak ada yang mendengarkan. “Nico anak Hades.”
Tyson mengangguk-angguk serius. “Dewa orang mati.”
“Iya.”
“Jadi, si bocah Nico ini sekarang pergi?” “Aku—kukira begitu. Aku mencoba mencarinya musim semi ini. Annabeth juga. Tapi kami tidak beruntung. Ini rahasia, Tyson. Oke? Kalau sampai ada yang tahu bahwa da anak Hades, dia bakal ada dalam bahaya. Kau bahkan tak boleh kasih tahu Chiron.”
“Ramalan buruk itu,” kata Tyson. “Para Titan mungkin memanfaatkannya kalau mereka tahu.”
Aku menatapnya. Kadang-kadang mudah untuk melupakan bahwa meskipun dia besar dan kekanak- kanakan, Tyson sebenarnya cukup pintar. Dia tahu bahwa anak berikutnya dari dewa Tiga Besar—Zeus, Poseidon, dan Hades—yang mencapai usia enam belas tahun diramalkan akan menyelamatkan atau menghancurkan Gunung Olympus. Sebagian besar orang mengasumsikan bahwa itu artinya aku, tapi kalau aku mati sebelum aku mencapai usian enam belas, ramalan bisa saja dengan mudah berlaku bagi Nico.
“Tepat,” kataku. “Jadi—“
“Mulutku tersegel,” janji Tyson. “Kayak retakan di tanah itu.”
Aku kesulitan tidur malam itu. Aku berbaring di tempat tidur sambil mendengarkan ombak di pantai, dan burung hantu, serta monster di hutan. Aku takut kalau aku tertidur aku bakal bermimpi buruk.
Soalnya, bagi blasteran mimpi tidak pernah hanya sekadar mimpi. Kami mendapat pesan. Kami melihat sekilas hal-hal yang terjadi pada teman-teman atau musuh-musuh kami. Kadang-kadang kami bahkan menyaksikan masa lalu atau masa depan. Dan di perkemahan, mimpi-mimpiku selalu lebih sering dan jelas.
Jadi, aku masih terjaga saat sekitar tengah malam, menatap kasur tempat tidur susun di atasku, ketika kusadari ada cahaya aneh dalam ruangan. Pancuran air asin tengah berkilau.
Aku melemparkan selimut dan berjalan dengan hati-hati ke arah pancuran. Uap membumbung dari air asin yang panas. Warna-warni pelangi berdenyar menumbusnya meskipun tidak ada cahaya dalam ruangan kecuali dari bulan di luar. Lalu suara menyenangkan sesorang wanita berbicara dari uap tersebut. Tolong masukkan satu drachma.
Aku menatapnya. Kadang-kadang mudah untuk melupakan bahwa meskipun dia besar dan kekanak- kanakan, Tyson sebenarnya cukup pintar. Dia tahu bahwa anak berikutnya dari dewa Tiga Besar—Zeus, Poseidon, dan Hades—yang mencapai usia enam belas tahun diramalkan akan menyelamatkan atau menghancurkan Gunung Olympus. Sebagian besar orang mengasumsikan bahwa itu artinya aku, tapi kalau aku mati sebelum aku mencapai usian enam belas, ramalan bisa saja dengan mudah berlaku bagi Nico.
“Tepat,” kataku. “Jadi—“
“Mulutku tersegel,” janji Tyson. “Kayak retakan di tanah itu.”
Aku kesulitan tidur malam itu. Aku berbaring di tempat tidur sambil mendengarkan ombak di pantai, dan burung hantu, serta monster di hutan. Aku takut kalau aku tertidur aku bakal bermimpi buruk.
Soalnya, bagi blasteran mimpi tidak pernah hanya sekadar mimpi. Kami mendapat pesan. Kami melihat sekilas hal-hal yang terjadi pada teman-teman atau musuh-musuh kami. Kadang-kadang kami bahkan menyaksikan masa lalu atau masa depan. Dan di perkemahan, mimpi-mimpiku selalu lebih sering dan jelas.
Jadi, aku masih terjaga saat sekitar tengah malam, menatap kasur tempat tidur susun di atasku, ketika kusadari ada cahaya aneh dalam ruangan. Pancuran air asin tengah berkilau.
Aku melemparkan selimut dan berjalan dengan hati-hati ke arah pancuran. Uap membumbung dari air asin yang panas. Warna-warni pelangi berdenyar menumbusnya meskipun tidak ada cahaya dalam ruangan kecuali dari bulan di luar. Lalu suara menyenangkan sesorang wanita berbicara dari uap tersebut. Tolong masukkan satu drachma.
Aku memadang ke arah Tyson, tapi dia masih mendengkur. Dia tidur kira-kira sama nyenyaknya seperti gajah dibius.
Aku tidak tahu harus berpikir apa. Aku tak pernah mendapatkan pesan-Iris tertagih sebelumnya. Satu drachma emas berkilat di dasar air terjun. Aku mengambilnya dan melemparkannya melewati kabut. Koin tersebut menghilang.
“Wahai Iris, Dewi Pelangi,” bisikku. “Tunjukkanlah kepadaku .... Eh, apa pun yang perlu kautunjukkan.”
Kabut berdenyar. Aku melihat tepian gelap sebuah sungai. Gumpalan kabut melayag menyebrangi air hitam. Pesisir tersebut bertabur batu-batu vulkais bergerigi. Seorang anak laki-laki yang masih kecil berjongkok di tepi sungai, membuat api unggun. Api itu menyala biru tak alami. Lalu kulihat wajah di anak laki-laki. Ternyata Nico di Angelo. Dia melemparkan carikan kertas ke dalam api—kartu koleksi Mythomagic, bagian dari permainan yang merupakan obsesinya musim dingin lalu.
Nico baru sepuluh tahun, atau mungkin sekarang sebelas, tapi dia terlihat lebih tua. Rambutnya tumbuh lebih panjang, acak-acakan dan hampir menyentuh bahunya. Matanya sangat gelap. Kulitnya yang sewarna zaitun telah memucat. Dia mengenakan jins hitam robek-robek serta jaket penerbang compang-camping yang beberapa ukuran lebih besar, resletingnya terbuka dan menunjukkan kemeja hitam di baliknya. Wajahnya kotor berminyak matanya sedikit liar. Dia terlihat seperti anak yang tinggal di jalanan.
Aku menunggunya memandangku. Tidak diragukan lagi dia bakal marah luar biasa, dan mulai menuduhku membiarkan kakak perempuannya mati. Tapi dia tampaknya tak melihatku.
Aku tetap berdiam diri, tidak berani bergerak. Kalau dia tidak mengirimkan pesan-Iris ini, siapa yang melakukannya? Nico melemparkan kartu koleks lain ke dalam nyala api biru. “Tidak berguna,” dia berkomat-kamit. “Aku tak percaya aku pernah suka barang ini.”
Aku tidak tahu harus berpikir apa. Aku tak pernah mendapatkan pesan-Iris tertagih sebelumnya. Satu drachma emas berkilat di dasar air terjun. Aku mengambilnya dan melemparkannya melewati kabut. Koin tersebut menghilang.
“Wahai Iris, Dewi Pelangi,” bisikku. “Tunjukkanlah kepadaku .... Eh, apa pun yang perlu kautunjukkan.”
Kabut berdenyar. Aku melihat tepian gelap sebuah sungai. Gumpalan kabut melayag menyebrangi air hitam. Pesisir tersebut bertabur batu-batu vulkais bergerigi. Seorang anak laki-laki yang masih kecil berjongkok di tepi sungai, membuat api unggun. Api itu menyala biru tak alami. Lalu kulihat wajah di anak laki-laki. Ternyata Nico di Angelo. Dia melemparkan carikan kertas ke dalam api—kartu koleksi Mythomagic, bagian dari permainan yang merupakan obsesinya musim dingin lalu.
Nico baru sepuluh tahun, atau mungkin sekarang sebelas, tapi dia terlihat lebih tua. Rambutnya tumbuh lebih panjang, acak-acakan dan hampir menyentuh bahunya. Matanya sangat gelap. Kulitnya yang sewarna zaitun telah memucat. Dia mengenakan jins hitam robek-robek serta jaket penerbang compang-camping yang beberapa ukuran lebih besar, resletingnya terbuka dan menunjukkan kemeja hitam di baliknya. Wajahnya kotor berminyak matanya sedikit liar. Dia terlihat seperti anak yang tinggal di jalanan.
Aku menunggunya memandangku. Tidak diragukan lagi dia bakal marah luar biasa, dan mulai menuduhku membiarkan kakak perempuannya mati. Tapi dia tampaknya tak melihatku.
Aku tetap berdiam diri, tidak berani bergerak. Kalau dia tidak mengirimkan pesan-Iris ini, siapa yang melakukannya? Nico melemparkan kartu koleks lain ke dalam nyala api biru. “Tidak berguna,” dia berkomat-kamit. “Aku tak percaya aku pernah suka barang ini.”
“Mainan anak-anak, Tuan,” suara lain menyetujui. Tampaknya suara tersebut berasal dari dekat api, tapi aku tak bisa melihat siapa yang berbicara.
Nico menatap ke seberang sungai. Di tepian jauh ada pesisir hitam yang diselubungi kabut. Aku mengenalinya: Dunia Bawah. Nico sedang berkemah di tepi Sungai Styx.
“Aku gagal,” gumamnya. “Tidak ada cara untuk mengembalikan kakakku.”
Suara lain itu diam saja.
Nico menoleh ke arah sumber suara dengan ragu-ragu. “Adakah? Bicaralah.”
Sesuatu berdenyar. Kupikir itu cuma cahaya api. Lalu kusadari itu adalah sosok seorang pria—gumpalan asap biru, bayangan. Kalau aku memandanginya baik-baik, dia tak ada di sana. Tapi kalau aku melihatnya dari sudut mata, aku bisa melihat bentuknya. Sesosok hantu.
“Hal itu tak pernah dilakukan,” kata si hantu. “Tapi mungkin ada suatu cara.”
“Pertukaran,” kata si hantu. “Satu jiwa untuk satu jiwa.”
“Aku sudah menawarkannya!”
“Bukan jiwamu,” kata si hantu, “Kau tidak bisa menawarkan jiwa yang akan ayahmu ambil juga pada akhirnya. Dan dia pun tak akan antusias akan kematian putranya. Maksudku adalah jiwa yang seharusnya sudah mati. Seseorang yang mencurangi kematian.” Wajah Nico menggelap. “Jangan yang itu lagi. Kau bicara soal pembunuhan.”
Nico menatap ke seberang sungai. Di tepian jauh ada pesisir hitam yang diselubungi kabut. Aku mengenalinya: Dunia Bawah. Nico sedang berkemah di tepi Sungai Styx.
“Aku gagal,” gumamnya. “Tidak ada cara untuk mengembalikan kakakku.”
Suara lain itu diam saja.
Nico menoleh ke arah sumber suara dengan ragu-ragu. “Adakah? Bicaralah.”
Sesuatu berdenyar. Kupikir itu cuma cahaya api. Lalu kusadari itu adalah sosok seorang pria—gumpalan asap biru, bayangan. Kalau aku memandanginya baik-baik, dia tak ada di sana. Tapi kalau aku melihatnya dari sudut mata, aku bisa melihat bentuknya. Sesosok hantu.
“Hal itu tak pernah dilakukan,” kata si hantu. “Tapi mungkin ada suatu cara.”
“Pertukaran,” kata si hantu. “Satu jiwa untuk satu jiwa.”
“Aku sudah menawarkannya!”
“Bukan jiwamu,” kata si hantu, “Kau tidak bisa menawarkan jiwa yang akan ayahmu ambil juga pada akhirnya. Dan dia pun tak akan antusias akan kematian putranya. Maksudku adalah jiwa yang seharusnya sudah mati. Seseorang yang mencurangi kematian.” Wajah Nico menggelap. “Jangan yang itu lagi. Kau bicara soal pembunuhan.”
“Aku bicara tentang keadilan,” kata si hantu. “Pembalasan dendam.”
“Keduanya nggak sama.”
Si hantu tertawa kering. “Kau bakal belajar bahwa akan lain ceritanya saat usiamu bertambah.”
Nico menatap nyala api: “Kenapa aku tidak bisa setidaknya memanggil kakakku? Aku ingin bicara padanya. Dia akan ... dia bakal akan membantuku.”
“Aku akan membantumu,” si hantu berjanji. “Bukankah aku telah menyelamatkanmu berulang kali? Bukankah aku telah membimbingmu melewati labirin dan mengajari bagaimana menggunakan kekuatanmu? Apa kau ingin balas dendam demi kakak perempuamu atau tidak?”
Aku tidak suka nada suara si hantu. Dia mengingatkanku akan seorang anak di sekolahku yang lama, tukang gertak yang meyakinkan anak-anak lain untuk melakukan hal-hal tolol seperti mencuri peralatan lab dan mencoret-coret mobil guru. Si tukang gertak sendiri tidak pernah kena masalah, tapi dia membuat banyak anak lain diskors.
Nico berpaling dari api sehingga si hantu tak bisa melihatnya, tapi aku bisa. Air mata merentas jalan menuruni wajahnya. “Baiklah. Kau punya rencana?”
“Oh, ya,” kata di hantu, terdengar cukup puas. “Kau punya banyak jalan gelap untuk dijelajahi. Kita harus mulai—“
Gambaran tersebut berdenyar. Nico menghilang. Suara sang wanita dari kabut berkata, Silakan masukkan satu drachma untuk lima menit lagi. Tidak ada koin lagi di pancuran. Aku merogoh sakuku, tapi aku sedang memakai piyama. Aku menyerbu meja di samping tempat tidur untuk mencari uang receh, tapi pesan-Iris sudah berpendar menghilang, dan ruangan pun menjadi gelap kembali. Sambungan telah putus.
“Keduanya nggak sama.”
Si hantu tertawa kering. “Kau bakal belajar bahwa akan lain ceritanya saat usiamu bertambah.”
Nico menatap nyala api: “Kenapa aku tidak bisa setidaknya memanggil kakakku? Aku ingin bicara padanya. Dia akan ... dia bakal akan membantuku.”
“Aku akan membantumu,” si hantu berjanji. “Bukankah aku telah menyelamatkanmu berulang kali? Bukankah aku telah membimbingmu melewati labirin dan mengajari bagaimana menggunakan kekuatanmu? Apa kau ingin balas dendam demi kakak perempuamu atau tidak?”
Aku tidak suka nada suara si hantu. Dia mengingatkanku akan seorang anak di sekolahku yang lama, tukang gertak yang meyakinkan anak-anak lain untuk melakukan hal-hal tolol seperti mencuri peralatan lab dan mencoret-coret mobil guru. Si tukang gertak sendiri tidak pernah kena masalah, tapi dia membuat banyak anak lain diskors.
Nico berpaling dari api sehingga si hantu tak bisa melihatnya, tapi aku bisa. Air mata merentas jalan menuruni wajahnya. “Baiklah. Kau punya rencana?”
“Oh, ya,” kata di hantu, terdengar cukup puas. “Kau punya banyak jalan gelap untuk dijelajahi. Kita harus mulai—“
Gambaran tersebut berdenyar. Nico menghilang. Suara sang wanita dari kabut berkata, Silakan masukkan satu drachma untuk lima menit lagi. Tidak ada koin lagi di pancuran. Aku merogoh sakuku, tapi aku sedang memakai piyama. Aku menyerbu meja di samping tempat tidur untuk mencari uang receh, tapi pesan-Iris sudah berpendar menghilang, dan ruangan pun menjadi gelap kembali. Sambungan telah putus.
Aku berdiri di tengah-tengah pondok, mendengarkan gelegak pancuran air asin dan gelombang laut di luar.
Nico masih hidup. Dia mencoba membangkitkan kakaknya dari kematian. Dan aku punya firasat aku tahu jiwa mana yang ingin dia tukar—seseorang yang telah mencurangi kematian. Balas dendam.
Nico di Angelo bakal datang mencariku.[]
Nico masih hidup. Dia mencoba membangkitkan kakaknya dari kematian. Dan aku punya firasat aku tahu jiwa mana yang ingin dia tukar—seseorang yang telah mencurangi kematian. Balas dendam.
Nico di Angelo bakal datang mencariku.[]
Comments
Post a Comment