Percy Jackson and the Olympians—The Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) —Rick Riordan—
BAB EMPAT
Annabeth Melanggar Peraturan
Chiron berkeras agar kami bicara pada pagi harinya, yang rasanya seperti, Hei, hidupmu dalam bahaya maut. Tidur yang nyenyak ya! Sulit untuk tertidur, tapi ketika aku akhirnya terlelap, aku memimpikan penjara.
Aku melihat seorang anak laki-laki yang memakai tunik Yunani dan sandal sedang berjongkok sendirian dalam sebuah ruangan batu yang sangat besar. Langit-langitnya terbuka ke langit malam, tapi dinding- dindingnya setinggi tujuh meter dan terbuat dari marmer mengilap, mulus sepenuhnya. Di sepenjuru ruangan seolah peti-peti kayu. Beberapa retak dan terguling seolah peti-peti tersebut telah dilemparkan ke sana. Perangkat perunggu tertumpah keluar dari salah satu kotak—sebuah kompas, sebuah gergaji, dan bermacam-macam benda lain yang tidak kukenali.
Si anak laki-lakai meringkuk di sudut, gemetar karena kedinginan, atau mungkin ketakutan. Dia bersimbah lumpur. Lengan, kaki, dan wajahnya lecet-lecet seakan dia telah diseret ke sini beserta kotak- kotak itu.
Lalu pintu ek ganda berkeriut terbuka. Dua pengawal berbaju zirah perunggu berderap masuk, memegangi seorang pria tua di antara mereka. Mereka melemparkannya bagaika gundukan babak-belur, ke lantai.
“Ayah!” Si anak laki-laki berlari ke arahnya. Jubah si pria compang-camping. Rambutnya diselingi warna kelabu, dan jenggotnya panjang serta keriting. Hidungnya patah. Bibirnya berdarah.
Si anak laki-laki merengkuh kepala sang pria tua dalam pelukannya. “Apa yang mereka lakukan pada Ayah?” Lalu dia meneriaki para pengawal. “Akan kubunuh kalian!”
“Tidak akan ada pembunuhan hari ini,” ujar sebuah suara. Para pengawal bergerak minggir. Di belakang mereka berdirilah seorang pria tinggi berjubah putih. Dia mengenakan mahkota berupa lingkaran emas tipis di kepalanya. Jenggotnya lancip seperti mata tombak. Matanya berkilat kejam. “Kau membantu warga Athena membunuh Minotaurusku, Daedalus. Kau membuat putriku sendiri berpaling melawanku.”
Chiron berkeras agar kami bicara pada pagi harinya, yang rasanya seperti, Hei, hidupmu dalam bahaya maut. Tidur yang nyenyak ya! Sulit untuk tertidur, tapi ketika aku akhirnya terlelap, aku memimpikan penjara.
Aku melihat seorang anak laki-laki yang memakai tunik Yunani dan sandal sedang berjongkok sendirian dalam sebuah ruangan batu yang sangat besar. Langit-langitnya terbuka ke langit malam, tapi dinding- dindingnya setinggi tujuh meter dan terbuat dari marmer mengilap, mulus sepenuhnya. Di sepenjuru ruangan seolah peti-peti kayu. Beberapa retak dan terguling seolah peti-peti tersebut telah dilemparkan ke sana. Perangkat perunggu tertumpah keluar dari salah satu kotak—sebuah kompas, sebuah gergaji, dan bermacam-macam benda lain yang tidak kukenali.
Si anak laki-lakai meringkuk di sudut, gemetar karena kedinginan, atau mungkin ketakutan. Dia bersimbah lumpur. Lengan, kaki, dan wajahnya lecet-lecet seakan dia telah diseret ke sini beserta kotak- kotak itu.
Lalu pintu ek ganda berkeriut terbuka. Dua pengawal berbaju zirah perunggu berderap masuk, memegangi seorang pria tua di antara mereka. Mereka melemparkannya bagaika gundukan babak-belur, ke lantai.
“Ayah!” Si anak laki-laki berlari ke arahnya. Jubah si pria compang-camping. Rambutnya diselingi warna kelabu, dan jenggotnya panjang serta keriting. Hidungnya patah. Bibirnya berdarah.
Si anak laki-laki merengkuh kepala sang pria tua dalam pelukannya. “Apa yang mereka lakukan pada Ayah?” Lalu dia meneriaki para pengawal. “Akan kubunuh kalian!”
“Tidak akan ada pembunuhan hari ini,” ujar sebuah suara. Para pengawal bergerak minggir. Di belakang mereka berdirilah seorang pria tinggi berjubah putih. Dia mengenakan mahkota berupa lingkaran emas tipis di kepalanya. Jenggotnya lancip seperti mata tombak. Matanya berkilat kejam. “Kau membantu warga Athena membunuh Minotaurusku, Daedalus. Kau membuat putriku sendiri berpaling melawanku.”
“Kau melakukan itu pada dirimu sendiri, Yang Mulia,” kata sang pria tua parau.
Seorang pengawal melayangkan tendangan ke wajah sang pria tua. Dia mengerang kesakitan. Si anak laki-laki menjerit, “Hentikan!”
“Kau sangat mencintai labirinmu,” kata sang raja. “Aku telah memutuskan untuk membiarkanmu tinggal di sini. Ini akan menjadi bengkel kerjamu. Buatkan aku keajaiban-keajaiban lain. Buat aku senang. Semua labrin memerlukan monster. Kau akan menjadi milikku!”
“Aku tidak takut padamu,” erang sang pria tua.
Sang raja tersenyum dingin. Dia melekat pandangan matanya pada si anak laki-laki. “Tapi seorang pria peduli akan putranya, bukan? Buat aku tidak senang, pria tua, dan kali lain pengawalku menjatuhkan hukuman, dialah yang akan menerimanya!”
Sang raja berdesir ke luar ruangan bersama para pengawalnya, dan pintu terbanting tertutup, meninggalkan si anak laki-laki dan ayahnya sendirian dalam kegelapan.
“Apa yang akan kita lakukan?” keluh si anak laki-laki. “Ayah, mereka akan membunuhmu!”
Sang pria tua menelan ludah dengan susah payah. Dia mencoba tersenyum, tapi senyumnya mengerikan akibat mulutnya yang berdarah.
“Beranilah, Putraku.” Dia menengadah ke bintang-bintang. “Aku—aku akan menemukan jalan.” Jeruji diturunkan melintangi pintu dengan bunyi BUM fatal, dan aku terbangun sambil berkeringat dingin.
Seorang pengawal melayangkan tendangan ke wajah sang pria tua. Dia mengerang kesakitan. Si anak laki-laki menjerit, “Hentikan!”
“Kau sangat mencintai labirinmu,” kata sang raja. “Aku telah memutuskan untuk membiarkanmu tinggal di sini. Ini akan menjadi bengkel kerjamu. Buatkan aku keajaiban-keajaiban lain. Buat aku senang. Semua labrin memerlukan monster. Kau akan menjadi milikku!”
“Aku tidak takut padamu,” erang sang pria tua.
Sang raja tersenyum dingin. Dia melekat pandangan matanya pada si anak laki-laki. “Tapi seorang pria peduli akan putranya, bukan? Buat aku tidak senang, pria tua, dan kali lain pengawalku menjatuhkan hukuman, dialah yang akan menerimanya!”
Sang raja berdesir ke luar ruangan bersama para pengawalnya, dan pintu terbanting tertutup, meninggalkan si anak laki-laki dan ayahnya sendirian dalam kegelapan.
“Apa yang akan kita lakukan?” keluh si anak laki-laki. “Ayah, mereka akan membunuhmu!”
Sang pria tua menelan ludah dengan susah payah. Dia mencoba tersenyum, tapi senyumnya mengerikan akibat mulutnya yang berdarah.
“Beranilah, Putraku.” Dia menengadah ke bintang-bintang. “Aku—aku akan menemukan jalan.” Jeruji diturunkan melintangi pintu dengan bunyi BUM fatal, dan aku terbangun sambil berkeringat dingin.
Aku masih merasa terguncang keesokan paginya saat Chiron mengadakan rapat perang. Kami bertemu di arena pedang, yang kupikir agak aneh—mencoba mendiskusikan nasib perkemahan sementara Nyonya O’Leary mengunyah-ngunyah yak karet merah jambu seukuran aslinya yang berdecit-decit.
Chiron dan Quintus berdiri di depan dekat rak senjata. Clarisse dan Annabeth duduk bersebelahan dan memimpin pengarahan. Tyson dan Grover duduk sejauh mungkin dari satu sama lain. Di sekeliling meja juga ada: Juniper di peri pohon, Silena Beauregard, Travis dan Connor Stoll, Beckendorf, Lee Fletcher, dan bahkan Argus, kepala keamanan kami yang bermata seratus. Begitulah aku tahu bahwa ini serius. Argus nyaris tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, kecuali saat sesuatu yang besar sedang terjadi. Sepanjang waktu saat Annabeth bicara, dia berusaha memusatkan pandangan keseratus mata birunya kepada Annabeth dengan sangat keras sehingga seluruh tubuhnya memerah.
“Luke pasti tahu soal pintu masuk Labirin,” kata Annabeth. “Dia tahu segalanya tentang perkemahan.”
Kupikir aku mendengar sedikit kebanggaan dalam suaranya, seakan-akan dia masih menghormati cowok itu meskipun dia jahat.
Juniper berdeham. “Itulah yang kucoba bertahukan padamu kemarin malam. Pintu masuk gua sudah lama ada di sana. Luke dulu pernah menggunakannya.”
Silena Beauregard mengernyitkan dahi. “Kau tahu tentang pintu masuk Labirin, dan kau tidak mengatakan apa-apa?”
Wajah Juniper menghijau. “Aku tak tahu itu penting. Cuma gua. Aku tak suka gua tua menjijikkan.”
“Juniper punya selera bagus,” kata Grover. “Aku pasti tak akan memperhatikannya kalau bukan karena ... yah, itu kan Luke.” Juniper merona sedikit lebih hijau lagi.
Chiron dan Quintus berdiri di depan dekat rak senjata. Clarisse dan Annabeth duduk bersebelahan dan memimpin pengarahan. Tyson dan Grover duduk sejauh mungkin dari satu sama lain. Di sekeliling meja juga ada: Juniper di peri pohon, Silena Beauregard, Travis dan Connor Stoll, Beckendorf, Lee Fletcher, dan bahkan Argus, kepala keamanan kami yang bermata seratus. Begitulah aku tahu bahwa ini serius. Argus nyaris tidak pernah menunjukkan batang hidungnya, kecuali saat sesuatu yang besar sedang terjadi. Sepanjang waktu saat Annabeth bicara, dia berusaha memusatkan pandangan keseratus mata birunya kepada Annabeth dengan sangat keras sehingga seluruh tubuhnya memerah.
“Luke pasti tahu soal pintu masuk Labirin,” kata Annabeth. “Dia tahu segalanya tentang perkemahan.”
Kupikir aku mendengar sedikit kebanggaan dalam suaranya, seakan-akan dia masih menghormati cowok itu meskipun dia jahat.
Juniper berdeham. “Itulah yang kucoba bertahukan padamu kemarin malam. Pintu masuk gua sudah lama ada di sana. Luke dulu pernah menggunakannya.”
Silena Beauregard mengernyitkan dahi. “Kau tahu tentang pintu masuk Labirin, dan kau tidak mengatakan apa-apa?”
Wajah Juniper menghijau. “Aku tak tahu itu penting. Cuma gua. Aku tak suka gua tua menjijikkan.”
“Juniper punya selera bagus,” kata Grover. “Aku pasti tak akan memperhatikannya kalau bukan karena ... yah, itu kan Luke.” Juniper merona sedikit lebih hijau lagi.
Grover mendengus. “Lupakan apa yang kukatakan soal selera bagus.”
“Menarik.” Quintus memoles pedangnya sambil bicara. “Dan kau yakin pemuda ini, Luke, bakal berani menggunakan Labirin sebagai rute penyerbuan?”
“Jelas,” kata Clarisse. “Kalau dia bisa memasukkan sepasukan monster ke Perkemahan Blasteran, muncul begitu saja di tengah-tengah hutan tanpa harus mencemaskan soal perbatasan sihir, kita nggak bakalan punya peluang. Dia bisa menyapu bersih kita dengan mudah. Dia pasti sudah merencanakan ini selama berbulan-bulan.”
“Dia sudah mengirimkan pengamat ke dalam labirin,” kata Annabeth. “Kami tahu karena ... karena kami menemukan seorang.”
“Chris Rodriguez,” kata Chiron. Dia memberi Quintus pandangan penuh arti.
“Ah,” kata Quintus. “Orang yang di .... Ya. Aku paham.”
“Orang yang di apa?” tanyaku.
Clarisse memelototiku. “Intinya, Luke sedang mencari cara untuk menjelajahi labirin. Dia mencari bengel kerja Daedalus.”
Aku ingat mimpiku malam sebelumnya—pria tua berdarah-darah yang berjubah compang-camping. “Orang yang menciptakan labirin.” “Ya,” kata Annabeth. “Sang arsitek terhebat, penemu terhebat sepanjang masa. Kalau legenda itu memang benar, bengkel kerjanya ada di pusat Labirin. Dialah satu-satunya yang tahu bagaimana menjelajahi labirin dengan sempurna. Kalau Luke berhasil menemukan bengkel kerja dan meyakinkan Daedalus untuk membantunya, Luke tidak perlu susah payah ke sana-kemari untuk menemukan jalan, atau mengambil risiko kehilangan pasukannya dalam jebakan-jebakan labirin. Dia bisa pergi ke mana pun dia mau—dengan cepat dan aman. Pertama-tama ke Perkemaha Blasteran untuk mengenyahkan kita. Lalu ... ke Olympus.”
“Menarik.” Quintus memoles pedangnya sambil bicara. “Dan kau yakin pemuda ini, Luke, bakal berani menggunakan Labirin sebagai rute penyerbuan?”
“Jelas,” kata Clarisse. “Kalau dia bisa memasukkan sepasukan monster ke Perkemahan Blasteran, muncul begitu saja di tengah-tengah hutan tanpa harus mencemaskan soal perbatasan sihir, kita nggak bakalan punya peluang. Dia bisa menyapu bersih kita dengan mudah. Dia pasti sudah merencanakan ini selama berbulan-bulan.”
“Dia sudah mengirimkan pengamat ke dalam labirin,” kata Annabeth. “Kami tahu karena ... karena kami menemukan seorang.”
“Chris Rodriguez,” kata Chiron. Dia memberi Quintus pandangan penuh arti.
“Ah,” kata Quintus. “Orang yang di .... Ya. Aku paham.”
“Orang yang di apa?” tanyaku.
Clarisse memelototiku. “Intinya, Luke sedang mencari cara untuk menjelajahi labirin. Dia mencari bengel kerja Daedalus.”
Aku ingat mimpiku malam sebelumnya—pria tua berdarah-darah yang berjubah compang-camping. “Orang yang menciptakan labirin.” “Ya,” kata Annabeth. “Sang arsitek terhebat, penemu terhebat sepanjang masa. Kalau legenda itu memang benar, bengkel kerjanya ada di pusat Labirin. Dialah satu-satunya yang tahu bagaimana menjelajahi labirin dengan sempurna. Kalau Luke berhasil menemukan bengkel kerja dan meyakinkan Daedalus untuk membantunya, Luke tidak perlu susah payah ke sana-kemari untuk menemukan jalan, atau mengambil risiko kehilangan pasukannya dalam jebakan-jebakan labirin. Dia bisa pergi ke mana pun dia mau—dengan cepat dan aman. Pertama-tama ke Perkemaha Blasteran untuk mengenyahkan kita. Lalu ... ke Olympus.”
Area hening, hanya ada bunyi jeroan mainan yak Nyonya O’Leary yang dikeluarka: CIIT! CIIT!
Akhirnya Beckendorf meletakkan tangannya yang besar di meja. “Tunggu dulu. Annabeth, kau bilang ‘meyakinkan Daedalus’? Bukankah Daedalus sudah mati?”
Quintus menggerutu. “Kuharap begitu. Dia hidup, kapan, tiga ribu tahun lalu? Dan bahkan kalaupun dia hidup, bukankah cerita kuno bilang dia kabur dari Labirin?”
Chiron mengentakkan kakinya dengan gelisah. “Itulah masalahnya, Quintus yang baik. Tidak ada yang tahu. Ada rumor ... yah, ada banyak rumor menggelisahkan tentang Daedalus, tapi salah satunya adalah dia menghilang, kembali ke dalam Labirin menjelang penghujung hidupnya. Dia mungkin saja mash ada di bawah sana.”
Aku berpikir tentang pria tua yang kulihat dalam mimpiku. Dia terlihat begitu rapuh, sulit memercayai bahwa dia bakal bertahan hidup seminggu lagi saja, apalagi tiga ribu tahun.
“Kita harus masuk.” Annabeth mengumumkan. “Kita harus menemukan bengkel kerja itu sebelum Luke menemukannya. Kalau Daedalus masih hidup, kita yakinkan dia agar membantu kita, bukan Luke. Kalau benang Ariadne masih ada, kita pastikan agar benang iru takkan pernah jatuh ke tangan Luke.”
“Tunggu sebentar,” kataku. “Kalau kita mencemaskan serangan, kenapa kita tidak meledakkan jalan masuk itu saja? Menyegel terowongan itu?” “Ide hebat!” kata Grover. “Akan kuambilkan dinamitnya!”
Akhirnya Beckendorf meletakkan tangannya yang besar di meja. “Tunggu dulu. Annabeth, kau bilang ‘meyakinkan Daedalus’? Bukankah Daedalus sudah mati?”
Quintus menggerutu. “Kuharap begitu. Dia hidup, kapan, tiga ribu tahun lalu? Dan bahkan kalaupun dia hidup, bukankah cerita kuno bilang dia kabur dari Labirin?”
Chiron mengentakkan kakinya dengan gelisah. “Itulah masalahnya, Quintus yang baik. Tidak ada yang tahu. Ada rumor ... yah, ada banyak rumor menggelisahkan tentang Daedalus, tapi salah satunya adalah dia menghilang, kembali ke dalam Labirin menjelang penghujung hidupnya. Dia mungkin saja mash ada di bawah sana.”
Aku berpikir tentang pria tua yang kulihat dalam mimpiku. Dia terlihat begitu rapuh, sulit memercayai bahwa dia bakal bertahan hidup seminggu lagi saja, apalagi tiga ribu tahun.
“Kita harus masuk.” Annabeth mengumumkan. “Kita harus menemukan bengkel kerja itu sebelum Luke menemukannya. Kalau Daedalus masih hidup, kita yakinkan dia agar membantu kita, bukan Luke. Kalau benang Ariadne masih ada, kita pastikan agar benang iru takkan pernah jatuh ke tangan Luke.”
“Tunggu sebentar,” kataku. “Kalau kita mencemaskan serangan, kenapa kita tidak meledakkan jalan masuk itu saja? Menyegel terowongan itu?” “Ide hebat!” kata Grover. “Akan kuambilkan dinamitnya!”
“Nggak semudah itu, Bodoh,” geram Clarisse. “Kami mencoba itu di pintu masuk yang kami temukan di Phoenix. Hasilya nggak bagus.”
Annabeth mengangguk. “Labirin adalah arstektur magis, Percy. Perlu kekuatan yang sangat besar untuk menyegel satu pintu masuknya saja. Di Phoenix, Clarisse merobohkan satu bangunan utuh dengan bola penghancur, dan pintu masuk labirin Cuma bergeser beberapa meter. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencegah Luke mengetahui cara menjelajahi Labirin.”
“Kita bisa melawan,” kata Lee Flecher. “Kita sekarang tahu di mana pintu masuknya. Kita bisa mendirikan garis pertahanan dan menunggu mereka. Kalau pasukan itu mencoba lewat, mereka bakal menemukan kita sedang menunggu dengan busur kita.”
“Kita jelas akan mendirikan pertahanan,” Chiron setuju. “Tapi aku khawatir Clarisse benar. Batas-batas sihir telah membuat perkemahan ini tetap aman selama ratusa tahun. Kalau Luke berhasil memasukkan sepasukan besar monster ke pusat perkemahan, memotong jalan lewat perbatasan kita ... kita mungkin tidak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka.”
Tidak ada yang terlihat senang soal kabar itu. Chiron biasanya mencoba bersikap ceria dan optimistis. Kalau dia memprakirakan bahwa kami tidak bisa menahan serangan, itu tak baik.
“Kita harus sampai ke bengkel kerja Daedalus lebih dulu.” Annabeth berkeras. “Menemukan benang Ariadne dan mencegah Luke menggunakannya.”
“Tapi kalau tidak ada yang bisa tahu arah di dalamnya,” kataku, “peluang apa yang bisa kita punya?”
“Aku sudah mempelajari arsitektur selama bertahun-tahun,” katanya. “Aku lebih tahu tentang Labirin Daedalus dari siapa pun.” “Karena membaca soal itu.”
Annabeth mengangguk. “Labirin adalah arstektur magis, Percy. Perlu kekuatan yang sangat besar untuk menyegel satu pintu masuknya saja. Di Phoenix, Clarisse merobohkan satu bangunan utuh dengan bola penghancur, dan pintu masuk labirin Cuma bergeser beberapa meter. Hal terbaik yang bisa kita lakukan adalah mencegah Luke mengetahui cara menjelajahi Labirin.”
“Kita bisa melawan,” kata Lee Flecher. “Kita sekarang tahu di mana pintu masuknya. Kita bisa mendirikan garis pertahanan dan menunggu mereka. Kalau pasukan itu mencoba lewat, mereka bakal menemukan kita sedang menunggu dengan busur kita.”
“Kita jelas akan mendirikan pertahanan,” Chiron setuju. “Tapi aku khawatir Clarisse benar. Batas-batas sihir telah membuat perkemahan ini tetap aman selama ratusa tahun. Kalau Luke berhasil memasukkan sepasukan besar monster ke pusat perkemahan, memotong jalan lewat perbatasan kita ... kita mungkin tidak punya kekuatan untuk mengalahkan mereka.”
Tidak ada yang terlihat senang soal kabar itu. Chiron biasanya mencoba bersikap ceria dan optimistis. Kalau dia memprakirakan bahwa kami tidak bisa menahan serangan, itu tak baik.
“Kita harus sampai ke bengkel kerja Daedalus lebih dulu.” Annabeth berkeras. “Menemukan benang Ariadne dan mencegah Luke menggunakannya.”
“Tapi kalau tidak ada yang bisa tahu arah di dalamnya,” kataku, “peluang apa yang bisa kita punya?”
“Aku sudah mempelajari arsitektur selama bertahun-tahun,” katanya. “Aku lebih tahu tentang Labirin Daedalus dari siapa pun.” “Karena membaca soal itu.”
“Eh, iya.”
“Itu nggak cukup.”
“Pasti cukup!”
“Nggak lah!”
“Kau mau membantuku atau tidak?”
Aku menyadari semua orang sedang menonton Annabeth dan aku seperti pertandingan tenis. Yak Nyonya O’Leary yang berdecit-decit berbunyi KRIIIEEET! Saat dia merobek kepala karet merah jambu si boneka.
Chiron berdeham. “Dahulukan yang utama. Kita perlu misi. Seseorang harus memasuki Labirin, menemukan bengkel kerja Daedalus, dan mencegah Luke menggunakan Labirin itu untuk menyerbu perkemahan ini.”
“Kita semua tahu siapa yang harus memimpin ini,” kata Clarisse. “Annabeth.”
Ada gumaman persetujuan. Aku tahu Annabeth sudah menunggu-nunggu misinya sendiri sejak dia masih kecil, tapi dia terlihat tak nyaman.
“Kau sudah melakukan banyak hal, sama sepertiku Clarisse,” katanya. “Kau juga harus pergi.” Clarisse menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau balik ke dalam sana.”
“Itu nggak cukup.”
“Pasti cukup!”
“Nggak lah!”
“Kau mau membantuku atau tidak?”
Aku menyadari semua orang sedang menonton Annabeth dan aku seperti pertandingan tenis. Yak Nyonya O’Leary yang berdecit-decit berbunyi KRIIIEEET! Saat dia merobek kepala karet merah jambu si boneka.
Chiron berdeham. “Dahulukan yang utama. Kita perlu misi. Seseorang harus memasuki Labirin, menemukan bengkel kerja Daedalus, dan mencegah Luke menggunakan Labirin itu untuk menyerbu perkemahan ini.”
“Kita semua tahu siapa yang harus memimpin ini,” kata Clarisse. “Annabeth.”
Ada gumaman persetujuan. Aku tahu Annabeth sudah menunggu-nunggu misinya sendiri sejak dia masih kecil, tapi dia terlihat tak nyaman.
“Kau sudah melakukan banyak hal, sama sepertiku Clarisse,” katanya. “Kau juga harus pergi.” Clarisse menggelengkan kepalanya. “Aku nggak mau balik ke dalam sana.”
Travis stoll tertawa. “Jangan bilang kau takut, Clarisse, pengecut?”
Clarisse bangkit. Kupikir dia bakal meremukkan Travis sampai jadi bubur, tapi dia berkata dengan suara gemetar: “Kau nggak ngerti apa-apa, Berandal. Aku nggak mau ke sana lagi. Nggak akan pernah.”
Dia menyerbu ke luar arena.
Travis melihat ke sekeliling, merasa bersalah. “Aku nggak bermaksud—“
Chiron mengangkat tangannya. “Gadis malang itu mengalami tahun yang sulit. Nah, apa kita setuju Annabeth sebaiknya memimpin mis ini?”
Kami semua mengangguk, kecuali Quintus. Dia bersendekap dan menatap meja, tapi aku tidak yakin ada orang lain yang memperhatikan.
“Baiklah.” Chiron menoleh kepada Annabeth. “Sayangku, inilah waktumu untuk mengunjungi sang Oracle. Mengasumsikan bahwa kau akan kembali kepada kami dalam keadaan utuh, kita akan mendiskusikan apa yang kita lakukan selanjutnya.”
Menunggu Annabeth lebih sulit daripada mengunjungi sang Oracle sendiri.
Aku pernah mendengarnya mengucapkan dua kali sebelumnya. Kali pertama adalah dalam loteng berdebu di Rumah Besar, tempat arwah Delphi tidur di dalam mayat seorang wanita hippie yang diawetkan. Kali kedua, sang Oracle keluar untuk jalan-jalan di hutan. Aku masih bermimpi buruk soal itu. Aku tidak pernah merasa terancam oleh kehadiran sang Oracle, tapi aku pernah mendengar cerita- cerita: para pekemah yang jadi gila, atau yang melihat visi yang begitu nyata sampai-sampai mereka mati ketakutan.
Clarisse bangkit. Kupikir dia bakal meremukkan Travis sampai jadi bubur, tapi dia berkata dengan suara gemetar: “Kau nggak ngerti apa-apa, Berandal. Aku nggak mau ke sana lagi. Nggak akan pernah.”
Dia menyerbu ke luar arena.
Travis melihat ke sekeliling, merasa bersalah. “Aku nggak bermaksud—“
Chiron mengangkat tangannya. “Gadis malang itu mengalami tahun yang sulit. Nah, apa kita setuju Annabeth sebaiknya memimpin mis ini?”
Kami semua mengangguk, kecuali Quintus. Dia bersendekap dan menatap meja, tapi aku tidak yakin ada orang lain yang memperhatikan.
“Baiklah.” Chiron menoleh kepada Annabeth. “Sayangku, inilah waktumu untuk mengunjungi sang Oracle. Mengasumsikan bahwa kau akan kembali kepada kami dalam keadaan utuh, kita akan mendiskusikan apa yang kita lakukan selanjutnya.”
Menunggu Annabeth lebih sulit daripada mengunjungi sang Oracle sendiri.
Aku pernah mendengarnya mengucapkan dua kali sebelumnya. Kali pertama adalah dalam loteng berdebu di Rumah Besar, tempat arwah Delphi tidur di dalam mayat seorang wanita hippie yang diawetkan. Kali kedua, sang Oracle keluar untuk jalan-jalan di hutan. Aku masih bermimpi buruk soal itu. Aku tidak pernah merasa terancam oleh kehadiran sang Oracle, tapi aku pernah mendengar cerita- cerita: para pekemah yang jadi gila, atau yang melihat visi yang begitu nyata sampai-sampai mereka mati ketakutan.
Aku mondar-mandir di arena, menunggu Nyonya O’Leary mentantap makan siangnya, yang terdiri dari setengah kilogram daging giling dan beberapa keping biskuit anjing seukuran tutup tong sampah. Aku bertanya-tanya dari mana Quintus mendapatkan biskuit anjing seukuran itu. Kurasa kau tak mungkin masuk begitu saja ke Pet Zone—Zona Hewan Peliharaan—dan meletakkan biskuit semacam itu di kereta dorongmu.
Chiron sedang bercakap-cakap serius dengan Quintus dan Argus. Bagiku sepertinya mereka sedang berselisih pendapat tentang sesuatu. Quintus terus-menerus menggelengkan kepala.
Di sisi lain arena, Tyson dan Stoll bersaudara sedang membalapkan miniatur kereta perang perunggu yang Tyson buat dari potongan-potongan baju zirah.
Aku berhenti mondar-mandir dan meninggalkan arena. Aku menatap ke seberang ladang, ke jendela loteng Rumah Besar, gelap dan terang. Kenapa Annabeth lama sekali? Aku cukup yakin aku tidak perlu waktu selama ini untuk mendapatkan ramalanku.
“Percy,” bisik seorang gadis.
Juniper sedang berdiri di semak-semak. Aneh rasanya bagaimana dia hampir tak kasat mata ketika dia dikelilingi oleh tetumbuhan.
Dia memberiku isyarat buru-buru untuk mendekat. “Kau perlu tahu: Luke bukan satu-satunya yang kulihat di sekitar gua itu.”
“Apa maksudmu?” Dia melirik ke arena. “Aku mencoba mengatakan sesuatu, tapi dia ada di sana.”
Chiron sedang bercakap-cakap serius dengan Quintus dan Argus. Bagiku sepertinya mereka sedang berselisih pendapat tentang sesuatu. Quintus terus-menerus menggelengkan kepala.
Di sisi lain arena, Tyson dan Stoll bersaudara sedang membalapkan miniatur kereta perang perunggu yang Tyson buat dari potongan-potongan baju zirah.
Aku berhenti mondar-mandir dan meninggalkan arena. Aku menatap ke seberang ladang, ke jendela loteng Rumah Besar, gelap dan terang. Kenapa Annabeth lama sekali? Aku cukup yakin aku tidak perlu waktu selama ini untuk mendapatkan ramalanku.
“Percy,” bisik seorang gadis.
Juniper sedang berdiri di semak-semak. Aneh rasanya bagaimana dia hampir tak kasat mata ketika dia dikelilingi oleh tetumbuhan.
Dia memberiku isyarat buru-buru untuk mendekat. “Kau perlu tahu: Luke bukan satu-satunya yang kulihat di sekitar gua itu.”
“Apa maksudmu?” Dia melirik ke arena. “Aku mencoba mengatakan sesuatu, tapi dia ada di sana.”
“Siapa?”
“Si ahli pedang,” katanya. “Dia menelaah batu-batu.”
Perutku jadi mulas. “Quintus? Kapan?”
“Aku nggak tahu. Aku nggak memperhatikan waktu. Mungkin seminggu lalu, waktu dia pertama kali datang.”
“Apa yang dilakukannya? Apa dia masuk”
“Aku—aku nggak yakin. Dia menyeramkan, Percy. Aku bahkan nggak melihatnya masuk ke pinggiran hutan. Tiba-tiba dia ada di sana begitu saja. Kau harus beri tahu Grover ini terlalu berbahaya—“
“Juniper?” Grover memanggil dari dalam arena. “Kemana saja kau?”
Juniper mendesah. “Lebih baik aku masuk. Ingat saja apa yang kukatakan. Jangan percayai laki-laki itu!”
Dia berlari masuk ke arena.
Aku menatap Rumah Besar, merasa lebih gelisah dari pada sebelumnya. Kalau Quintus merencanakan sesuatu ... aku perlu saran Annabeth. Dia mungkin tahu bagaimaa memahami berita dari Juniper. Tapi ke mana saja dia? Apa pun yang terjadi dengan sang Oracle, pastinya tak perlu waktu selama ini.
Akhirnya aku tidak tahan lagi. Memang melanggar peraturan, tapi lagi pula, tidak ada yang melihar. Aku berlari menuruni bukit dan menuju ke seberang ladang.
“Si ahli pedang,” katanya. “Dia menelaah batu-batu.”
Perutku jadi mulas. “Quintus? Kapan?”
“Aku nggak tahu. Aku nggak memperhatikan waktu. Mungkin seminggu lalu, waktu dia pertama kali datang.”
“Apa yang dilakukannya? Apa dia masuk”
“Aku—aku nggak yakin. Dia menyeramkan, Percy. Aku bahkan nggak melihatnya masuk ke pinggiran hutan. Tiba-tiba dia ada di sana begitu saja. Kau harus beri tahu Grover ini terlalu berbahaya—“
“Juniper?” Grover memanggil dari dalam arena. “Kemana saja kau?”
Juniper mendesah. “Lebih baik aku masuk. Ingat saja apa yang kukatakan. Jangan percayai laki-laki itu!”
Dia berlari masuk ke arena.
Aku menatap Rumah Besar, merasa lebih gelisah dari pada sebelumnya. Kalau Quintus merencanakan sesuatu ... aku perlu saran Annabeth. Dia mungkin tahu bagaimaa memahami berita dari Juniper. Tapi ke mana saja dia? Apa pun yang terjadi dengan sang Oracle, pastinya tak perlu waktu selama ini.
Akhirnya aku tidak tahan lagi. Memang melanggar peraturan, tapi lagi pula, tidak ada yang melihar. Aku berlari menuruni bukit dan menuju ke seberang ladang.
Ruang depan Rumah Besar, anehnya, sepi. Aku terbiasa melihat Dionysys dekat perapian, main kartu dan makan anggur dan memarahi satir, tapi Pak D masih pergi.
Aku berjalan menyusuri lorong, lantai papan berkeriat-riut di bawah kakuku. Ketika aku sampai di dasar anak tangga, aku ragu-ragu. Empat lantai di atas akan ada pintu tingkap kecil yang mengarah ke loteng. Annabeth pasti ada di suatu tempat di atas sana. Aku berdiri diam dan mendengarkan. Tapi apa yang kudengar bukanlah apa yang kuduga-duga.
Isak tangis. Dan datangnya dari suatu tempat di bawahku.
Aku berjingkat-jingkat memutar ke belakang tangga. Pintu ruang bawah tanah terbuka. Aku bahkan tidak tahu Rumah Besar punya ruang bawah tanah. Aku memincingkan mata ke dalam dan melihat dua sosok di pojok jauh duduk di tengah-tengah sekumpulan wadah ambrosia dan awetan stroberi. Salah satunya Clarisse. Yang lainnya cowok Hispanik yang mengenakan celana loreng compang-camping dan T- shirt hitam kotor. Rambut cowok itu berminyak dan gimbal. Dia memeluk bahunya sendiri dan terisak- isak. Dia Chris Rodriguez, blasteran yang pergi untuk bekerja bagi Luke.
“Nggak apa-apa.” Clarisse memberitahunya. “Coba nektak sedikit lagi.”
“Kau cuma ilusi, Mary!” Chirs mundur kian jauh ke pojok. “M-menjauhlah.”
“Namaku bukan Mary.” Suara Clarisse lembut, tapi benar-benar sedih. Aku tidak pernah tahu Clarisse bisa bersuara seperti itu. “Namaku Clarisse. Ingatlah. Kumohon.” “Gelap!” jerit Chris. “Gelap sekali!”
Aku berjalan menyusuri lorong, lantai papan berkeriat-riut di bawah kakuku. Ketika aku sampai di dasar anak tangga, aku ragu-ragu. Empat lantai di atas akan ada pintu tingkap kecil yang mengarah ke loteng. Annabeth pasti ada di suatu tempat di atas sana. Aku berdiri diam dan mendengarkan. Tapi apa yang kudengar bukanlah apa yang kuduga-duga.
Isak tangis. Dan datangnya dari suatu tempat di bawahku.
Aku berjingkat-jingkat memutar ke belakang tangga. Pintu ruang bawah tanah terbuka. Aku bahkan tidak tahu Rumah Besar punya ruang bawah tanah. Aku memincingkan mata ke dalam dan melihat dua sosok di pojok jauh duduk di tengah-tengah sekumpulan wadah ambrosia dan awetan stroberi. Salah satunya Clarisse. Yang lainnya cowok Hispanik yang mengenakan celana loreng compang-camping dan T- shirt hitam kotor. Rambut cowok itu berminyak dan gimbal. Dia memeluk bahunya sendiri dan terisak- isak. Dia Chris Rodriguez, blasteran yang pergi untuk bekerja bagi Luke.
“Nggak apa-apa.” Clarisse memberitahunya. “Coba nektak sedikit lagi.”
“Kau cuma ilusi, Mary!” Chirs mundur kian jauh ke pojok. “M-menjauhlah.”
“Namaku bukan Mary.” Suara Clarisse lembut, tapi benar-benar sedih. Aku tidak pernah tahu Clarisse bisa bersuara seperti itu. “Namaku Clarisse. Ingatlah. Kumohon.” “Gelap!” jerit Chris. “Gelap sekali!”
“Ayo keluar,” bujuk Clarisse. “Sinar matahari akan membantumu.”
“Ribuan ... ribuan tengkorak. Bumi terus menyembuhkannya.”
“Chris.” Clarisse memohon. Kedengarannya dia hampir menangis. “Kau harus membaik. Kumohon. Pak D akan segera kembali. Dia ahli dalam kegilaan. Bertahanlah.”
Lalu Chris melihat sekilas ke arahku dan membuat suara tercekik, ketakutan. “Putra Poseidon! Dia menyeramkan!”
Aku mundur, berharap Clarisse tidak melihatku. Aku mendengarkan, menduga dia akan menyerbu ke luar dan membentak-bentakku, tapi alih-alih dia justru terus bicara kepada Chris dengan suara memohon yang lembut, mencoba membujuknya agar meminum nektar. Mungkin Clarisse pikir yang tadi cuma bagian dari halusinasi Chris, tapi ... putra Poseidon? Chris tadi melihatku, tapi kenapa aku mendapat firasat bahwa dia sama sekali bukan bicara tentang aku?
Dan kelembutan Clarisse—tidak pernah terpikir olehku bahwa dia mungkin menyukai seseorang; tapi caranya menyebutkan nama Chris .... Dia sudah mengenal Chris sebelum dia membelot. Dia mengenal Chris jauh lebih baik daripada yang kusadari. Dan sekarang Chris gemetaran di ruang bawah tanah yang gelap, takut gelap, dan berceloteh tentang seseorang bernama Mary. Pantas saja Clarisse tidak mau berurusan dengan Labirin. Apa yang terjadi pada Chris di dalam sana?
Aku mendengar keriut dari atas—seperti pintu loteng yang terbuka—dan aku berlari ke pintu depan. Aku harus keluar dari rumah itu.
“Sayangku,“ kata Chiron. “Kau berhasil.” Annabeth berjalan masuk ke arena. Dia duduk di bangku batu dan menatap lantai.
“Ribuan ... ribuan tengkorak. Bumi terus menyembuhkannya.”
“Chris.” Clarisse memohon. Kedengarannya dia hampir menangis. “Kau harus membaik. Kumohon. Pak D akan segera kembali. Dia ahli dalam kegilaan. Bertahanlah.”
Lalu Chris melihat sekilas ke arahku dan membuat suara tercekik, ketakutan. “Putra Poseidon! Dia menyeramkan!”
Aku mundur, berharap Clarisse tidak melihatku. Aku mendengarkan, menduga dia akan menyerbu ke luar dan membentak-bentakku, tapi alih-alih dia justru terus bicara kepada Chris dengan suara memohon yang lembut, mencoba membujuknya agar meminum nektar. Mungkin Clarisse pikir yang tadi cuma bagian dari halusinasi Chris, tapi ... putra Poseidon? Chris tadi melihatku, tapi kenapa aku mendapat firasat bahwa dia sama sekali bukan bicara tentang aku?
Dan kelembutan Clarisse—tidak pernah terpikir olehku bahwa dia mungkin menyukai seseorang; tapi caranya menyebutkan nama Chris .... Dia sudah mengenal Chris sebelum dia membelot. Dia mengenal Chris jauh lebih baik daripada yang kusadari. Dan sekarang Chris gemetaran di ruang bawah tanah yang gelap, takut gelap, dan berceloteh tentang seseorang bernama Mary. Pantas saja Clarisse tidak mau berurusan dengan Labirin. Apa yang terjadi pada Chris di dalam sana?
Aku mendengar keriut dari atas—seperti pintu loteng yang terbuka—dan aku berlari ke pintu depan. Aku harus keluar dari rumah itu.
“Sayangku,“ kata Chiron. “Kau berhasil.” Annabeth berjalan masuk ke arena. Dia duduk di bangku batu dan menatap lantai.
“Jadi?” tanya Quintus.
Annabeth pertama-tama memandangku. Aku tidak tahu apakah dia mencoba memperingatkanku, atau apakah tatapan di matanya cuma rasa takut semata. Lalu dia memusatkan perhatian pada Quintus. “Aku mendapat ramalan. Aku akan memimpin misi untuk menemukan bengkel kerja Daedalus.”
Tidak ada yang bersork. Maksudku, kami semua suka Annabeth, dan kami ingin dia mendapat misi, tapi yang ini berbahaya sekali. Setelah aku melihat keadaan Chris Rodriguez, aku bahkan tak mau berpikir soal Annabeth yang turun ke dalam labirin aneh itu lagi.
Chiron menggesekkan kaki kudanya ke lantai tanah. “Apa bunyi ramalan itu tepatnya, Sayangku? Kata- katanya penting.”
Annabeth menarik napas dalam-dalam. “Aku, ah ... yah, katanya, Kau akan masuk ke dalam kegelapan labirin tanpa akhir ....”
Kami menunggu.
“Yang mati, yang berkhianat, dan yang hilang pun kembali hadir.”
Grover berseru girang. “Yang hilang! Maksudnya pasti Pan! Hebat!”
“Soal yang mati dan yang berkhianat,” tambahku. “Tidak bagus, tuh.”
“Dan?” tanya Chiron. “Selanjutnya apa?” “Di tangan sang raja hantu kebangkitan atau kegagalanmu ditentukan.” kata Annabeth, “Pertarungan terakhir anak Athena menanti.”
Annabeth pertama-tama memandangku. Aku tidak tahu apakah dia mencoba memperingatkanku, atau apakah tatapan di matanya cuma rasa takut semata. Lalu dia memusatkan perhatian pada Quintus. “Aku mendapat ramalan. Aku akan memimpin misi untuk menemukan bengkel kerja Daedalus.”
Tidak ada yang bersork. Maksudku, kami semua suka Annabeth, dan kami ingin dia mendapat misi, tapi yang ini berbahaya sekali. Setelah aku melihat keadaan Chris Rodriguez, aku bahkan tak mau berpikir soal Annabeth yang turun ke dalam labirin aneh itu lagi.
Chiron menggesekkan kaki kudanya ke lantai tanah. “Apa bunyi ramalan itu tepatnya, Sayangku? Kata- katanya penting.”
Annabeth menarik napas dalam-dalam. “Aku, ah ... yah, katanya, Kau akan masuk ke dalam kegelapan labirin tanpa akhir ....”
Kami menunggu.
“Yang mati, yang berkhianat, dan yang hilang pun kembali hadir.”
Grover berseru girang. “Yang hilang! Maksudnya pasti Pan! Hebat!”
“Soal yang mati dan yang berkhianat,” tambahku. “Tidak bagus, tuh.”
“Dan?” tanya Chiron. “Selanjutnya apa?” “Di tangan sang raja hantu kebangkitan atau kegagalanmu ditentukan.” kata Annabeth, “Pertarungan terakhir anak Athena menanti.”
Semua orang melihat ke sekeliling, merasa tak nyaman. Annabeth adalah putri Athena, dan pertarungan terakhir kedengarannya tidak bagus.
“Hei ... kita seharusnya tidak menyimpulkan begitu saja,” kata Silena. “Annabeth bukan satu-satunya anak Athena, kan?”
“Tapi siapa sang raja hantu?” tanya Beckendorf.
Tidak ada yang menjawab. Aku berpikir tentang pesan-Iris yang di dalamnya kulihat Nico memanggil arwah orang mati. Aku punya firasat buruk bahwa ramalan tersebut ada hubungannya dengan itu.
“Ada baris lain lagi?” tanya Chiron. “Ramalanya terdengar belum lengkap.”
Annabeth ragu-ragu. “Aku tidak ingat tepatnya.”
Chiron mengangkat alis. Annabeth dikenal akan ingatannya. Dia tidak pernah melupakan sesuatu yang didengarnya.
Annabeth bergeser di bangkunya. “Sesuatu soal ... Hancur beserta napas terakhir seorang pahlawan.”
“Dan?” tanya Chiron.
Annabeth berdiri. “Dengar, intinya adalah, aku akan masuk. Akan kutemukan bengkel kerja itu dan menghentikan Luke. Dan ... aku perlu bantuan.” Dia menoleh kepadaku. “Maukah kau ikut?” Aku bahkan tidak ragu-ragu. “Aku ikut.”
“Hei ... kita seharusnya tidak menyimpulkan begitu saja,” kata Silena. “Annabeth bukan satu-satunya anak Athena, kan?”
“Tapi siapa sang raja hantu?” tanya Beckendorf.
Tidak ada yang menjawab. Aku berpikir tentang pesan-Iris yang di dalamnya kulihat Nico memanggil arwah orang mati. Aku punya firasat buruk bahwa ramalan tersebut ada hubungannya dengan itu.
“Ada baris lain lagi?” tanya Chiron. “Ramalanya terdengar belum lengkap.”
Annabeth ragu-ragu. “Aku tidak ingat tepatnya.”
Chiron mengangkat alis. Annabeth dikenal akan ingatannya. Dia tidak pernah melupakan sesuatu yang didengarnya.
Annabeth bergeser di bangkunya. “Sesuatu soal ... Hancur beserta napas terakhir seorang pahlawan.”
“Dan?” tanya Chiron.
Annabeth berdiri. “Dengar, intinya adalah, aku akan masuk. Akan kutemukan bengkel kerja itu dan menghentikan Luke. Dan ... aku perlu bantuan.” Dia menoleh kepadaku. “Maukah kau ikut?” Aku bahkan tidak ragu-ragu. “Aku ikut.”
Dia tersenyum untuk pertama kalinya setelah berhari-hari, dan itu membuat segalanya bernilai. “Grover, kau juga? Dewa alam liar sedang menunggu.”
Grover tampaknya lupa betapa dia membenci bawah tanah. Bait tentang ”yang hilang” telah sepenuhnya menyulut energinya. “Aku akan mengepak tampahan barang-barang yang bisa didaur ulang untuk kudapan.”
“Dan Tyson,” kata Annabeth. “Aku bakal memerlukanmu juga.”
“Asyik! Waktunya meledakka barang-barang!” Tyson bertepuk tangan keras sekali sampai-sampai dia membangunkan Nyonya O’Leary, yang sedang berleha-leha di pojok.
“Tunggu, Annabeth,” kata Chiron, “Itu bertentangan dengan peraturan kuno. Seorang pahlawan hanya boleh ditemani dua rekan.”
“Aku perlu mereka semua.” Dia berkeras. “Pak Chiron, ini penting.”
Aku tidak tahu kenapa dia yakin sekali, tapi aku senang dia menyertakan Tyson. Aku tidak bisa membayangkan meninggalkan Tyson. Dia besar dan kuat, dan jago mengutak-atik barang-barang mekanis. Tidak seperti satir, Cyclops tidak keberatan berada di bawah tanah.
“Annabeth.” Chiron mengedikkan ekornya dengan gelisah. “Pertimbangkan baik-baik. Kau akan melanggar hukum kuno, dan untuk itu selalu ada konsekuensinya. Musim dingin lalu, lima orang pergi dalam sebuah misi untuk menyelamatkan Artemis. Hanya tiga yang kembali. Pikirkan itu. Tiga adalah angka keramat. Ada tiga Moirae, tiga Erinyes, tiga putra Olympia Kronos. Itu angka bagus yang kuat kukuh melawan banyak bahaya. Empat ... ini berisiko.”
Annabeth menarik napas dalam-dalam. “Aku tahu. Tapi kita harus mengambil risiko. Kumohon.” Aku tahu Chiron tidak menyukainya. Quintus memperhatikan kami, seakan dia sedang mencoba memutuskan yang mana di antara kami yang bakal kembali hidup-hidup.
Grover tampaknya lupa betapa dia membenci bawah tanah. Bait tentang ”yang hilang” telah sepenuhnya menyulut energinya. “Aku akan mengepak tampahan barang-barang yang bisa didaur ulang untuk kudapan.”
“Dan Tyson,” kata Annabeth. “Aku bakal memerlukanmu juga.”
“Asyik! Waktunya meledakka barang-barang!” Tyson bertepuk tangan keras sekali sampai-sampai dia membangunkan Nyonya O’Leary, yang sedang berleha-leha di pojok.
“Tunggu, Annabeth,” kata Chiron, “Itu bertentangan dengan peraturan kuno. Seorang pahlawan hanya boleh ditemani dua rekan.”
“Aku perlu mereka semua.” Dia berkeras. “Pak Chiron, ini penting.”
Aku tidak tahu kenapa dia yakin sekali, tapi aku senang dia menyertakan Tyson. Aku tidak bisa membayangkan meninggalkan Tyson. Dia besar dan kuat, dan jago mengutak-atik barang-barang mekanis. Tidak seperti satir, Cyclops tidak keberatan berada di bawah tanah.
“Annabeth.” Chiron mengedikkan ekornya dengan gelisah. “Pertimbangkan baik-baik. Kau akan melanggar hukum kuno, dan untuk itu selalu ada konsekuensinya. Musim dingin lalu, lima orang pergi dalam sebuah misi untuk menyelamatkan Artemis. Hanya tiga yang kembali. Pikirkan itu. Tiga adalah angka keramat. Ada tiga Moirae, tiga Erinyes, tiga putra Olympia Kronos. Itu angka bagus yang kuat kukuh melawan banyak bahaya. Empat ... ini berisiko.”
Annabeth menarik napas dalam-dalam. “Aku tahu. Tapi kita harus mengambil risiko. Kumohon.” Aku tahu Chiron tidak menyukainya. Quintus memperhatikan kami, seakan dia sedang mencoba memutuskan yang mana di antara kami yang bakal kembali hidup-hidup.
Chiron mendesah. “Baiklah. Mari kita tutup pertemuan ini. Para anggota misi harus mempersiapkan diri. Besok saat fajar, kami kirimkan kalian ke dalam Labirin.”
***
Quintus menarikku menepi saat sidang bubar.
“Aku punya firasat buruk soal itu,” dia memberitahuku.
Nyonya O’Leary datang menghampiri, mengibaskan ekornya kegirangan. Dia menjatuhkan perisainya di kakiku, dan aku melemparkan perisai itu untuknya. Quintus memperhatikannya melonjak-lonjak mengejar perisai itu. Aku ingat apa yang Juniper katakan soal Quintus yang menelaah labirin. Aku tidak memercayai Quintus, tapi saat dia memandangku, aku melihat kekhawatiran sungguhan di mataya.
“Aku tidak suka membayangkan kalian pergi ke bawah sana,” katanya. “Yang mana pun dari kalian. Tapi kalau kalian harus ke sana, aku ingin kau mengingat sesuatu. Labirin itu ada untuk mengakalimu. Labirin itu akan mengalihkan perhatianmu. Itu berbahaya bagi blasteran. Perhatian kita mudah dialihkan.”
“Anda pernah ke sana?”
“Dulu sekali.” Suaranya parau. “Aku hampir saja kehilangan nyawaku. Sebagian besar yang masuk ke sana tidak seberuntung itu.”
Dia mencengkeram bahuku. “Percy, ingat-ingatlah apa yang paling penting. Kalau kau bisa melakukan itu, kau mungkin bakal menemukan jalan. Dan nih, aku ingin memberimu sesuatu.” Dia menyerahkan tabung perak kecil kepadaku. Rasanya begitu dingin sehingga aku hampir menjatuhkannya.
***
Quintus menarikku menepi saat sidang bubar.
“Aku punya firasat buruk soal itu,” dia memberitahuku.
Nyonya O’Leary datang menghampiri, mengibaskan ekornya kegirangan. Dia menjatuhkan perisainya di kakiku, dan aku melemparkan perisai itu untuknya. Quintus memperhatikannya melonjak-lonjak mengejar perisai itu. Aku ingat apa yang Juniper katakan soal Quintus yang menelaah labirin. Aku tidak memercayai Quintus, tapi saat dia memandangku, aku melihat kekhawatiran sungguhan di mataya.
“Aku tidak suka membayangkan kalian pergi ke bawah sana,” katanya. “Yang mana pun dari kalian. Tapi kalau kalian harus ke sana, aku ingin kau mengingat sesuatu. Labirin itu ada untuk mengakalimu. Labirin itu akan mengalihkan perhatianmu. Itu berbahaya bagi blasteran. Perhatian kita mudah dialihkan.”
“Anda pernah ke sana?”
“Dulu sekali.” Suaranya parau. “Aku hampir saja kehilangan nyawaku. Sebagian besar yang masuk ke sana tidak seberuntung itu.”
Dia mencengkeram bahuku. “Percy, ingat-ingatlah apa yang paling penting. Kalau kau bisa melakukan itu, kau mungkin bakal menemukan jalan. Dan nih, aku ingin memberimu sesuatu.” Dia menyerahkan tabung perak kecil kepadaku. Rasanya begitu dingin sehingga aku hampir menjatuhkannya.
“Peluit?” tanyaku.
“Peluit anjing,” kata Quintus. “Untuk Nyonya O’Leary.”
“Eh, makasih, tapi—“
“Bagaimana peluit ini akan bermanfaat di dalam labirin? Aku tidak seratus persen yakin akan ada manfaatnya. Tapi Nyonya O’Leary anjing neraka. Dia bisa muncul saat dipanggil, tidak peduli seberapa jauhnya dia berada. Aku akan merasa lebih baik, tahu bahwa kau menyimpan ini. seandainya kau benar- benar perlu bantuan, gunakan, tapi hati-hati, peluit ini terbuat dari es Stygian.”
“Es apa?”
“Dari Sungai Styx. Sangat sulit diukir. Sangat rapuh. Peluit ini tidak bisa meleleh, tapi ia akan hancur waktu kau meniupnya, jadi kau hanya bisa menggunakannya sekali.”
Aku memikirkan Luke, musuh lamaku. Tepat sebelum aku pergi menjalani misiku yang pertama, Luke juga memberiku hadiah—sepatu ajaib yang dirancang untuk menyeretku ke kematianku. Quintus tampaknya baik sekali. Peduli sekali. Dan Nyonya O’Leary menyukainya, yang pastinya berarti. Nyonya O’Leary menjatuhkan perisai berlendir di kakiku dan menggonggong penuh semangat.
Aku merasa malu karena aku bahkan bisa-bisanya berpikir soal tak memercayai Quintus. Tapi tentu saja, aku dulu pernah memercayai Luke. “Makasih,” kataku pada Quintus. Aku menyelipkan peluit beku itu ke dalam saku, berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menggunakanya, dan aku melesat untuk mencari Annabeth.
“Peluit anjing,” kata Quintus. “Untuk Nyonya O’Leary.”
“Eh, makasih, tapi—“
“Bagaimana peluit ini akan bermanfaat di dalam labirin? Aku tidak seratus persen yakin akan ada manfaatnya. Tapi Nyonya O’Leary anjing neraka. Dia bisa muncul saat dipanggil, tidak peduli seberapa jauhnya dia berada. Aku akan merasa lebih baik, tahu bahwa kau menyimpan ini. seandainya kau benar- benar perlu bantuan, gunakan, tapi hati-hati, peluit ini terbuat dari es Stygian.”
“Es apa?”
“Dari Sungai Styx. Sangat sulit diukir. Sangat rapuh. Peluit ini tidak bisa meleleh, tapi ia akan hancur waktu kau meniupnya, jadi kau hanya bisa menggunakannya sekali.”
Aku memikirkan Luke, musuh lamaku. Tepat sebelum aku pergi menjalani misiku yang pertama, Luke juga memberiku hadiah—sepatu ajaib yang dirancang untuk menyeretku ke kematianku. Quintus tampaknya baik sekali. Peduli sekali. Dan Nyonya O’Leary menyukainya, yang pastinya berarti. Nyonya O’Leary menjatuhkan perisai berlendir di kakiku dan menggonggong penuh semangat.
Aku merasa malu karena aku bahkan bisa-bisanya berpikir soal tak memercayai Quintus. Tapi tentu saja, aku dulu pernah memercayai Luke. “Makasih,” kataku pada Quintus. Aku menyelipkan peluit beku itu ke dalam saku, berjanji kepada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menggunakanya, dan aku melesat untuk mencari Annabeth.
Selama aku berada di perkemahan, aku tidak pernah masuk ke dalam pondok Athena.
Pondok Athena berupa bangunan keperakan, tidak mewah, dengan tirai putih sederhana dan ukiran burung hantu dari batu di atas ambang pintu. Mata oniks di burung hantu seakan mengikutiku saat aku berjalan mendekat.
“Halo?” Aku berseru ke dalam
Tidak ada yang menjawab. Aku melangkah masuk dan menahan napas. Tempat itu adalah bengkel kerja bagi anak-anak pintar. Semua tempat tidur susun didorong merapat ke satu dinding seolah tidur tidak terlalu penting. Sebagian besar ruangan dipenuhi bangku dan meja kerja serta seperangkat peralatan dan senjata. Bagian belakang ruangan berupa perpustakaan besar yang disesaki gulungan tua dan buku bersampul kulit dan bersampul kertas. Ada meja gambar arsitek dengan berbagai penggaris serta busur derajat, serta beberapa model bangunan 3D. Peta-peta baju zirah digantung di bawah jendela, pelat- pelat perunggunya berkilat diterpa matahari.
Annabeth berdiri di bagian belakang ruangan, membongkar gulungan-gulungan lama.
“Tok, tok, tok?” kataku.
Dia menoleh sambil terkesiap. “Oh ... hei. Aku nggak dengar.”
“Kau nggak apa-apa?” Dia mengerutkan kening ke arah gulungan ditangannya. “Cuma mencoba meneliti. Labirin Daedalus besar sekali. Tidak ada hal yang sama dari setiap kisah. Peta-peta cuma mengarah dari antah berantah ke antah berantah”
Pondok Athena berupa bangunan keperakan, tidak mewah, dengan tirai putih sederhana dan ukiran burung hantu dari batu di atas ambang pintu. Mata oniks di burung hantu seakan mengikutiku saat aku berjalan mendekat.
“Halo?” Aku berseru ke dalam
Tidak ada yang menjawab. Aku melangkah masuk dan menahan napas. Tempat itu adalah bengkel kerja bagi anak-anak pintar. Semua tempat tidur susun didorong merapat ke satu dinding seolah tidur tidak terlalu penting. Sebagian besar ruangan dipenuhi bangku dan meja kerja serta seperangkat peralatan dan senjata. Bagian belakang ruangan berupa perpustakaan besar yang disesaki gulungan tua dan buku bersampul kulit dan bersampul kertas. Ada meja gambar arsitek dengan berbagai penggaris serta busur derajat, serta beberapa model bangunan 3D. Peta-peta baju zirah digantung di bawah jendela, pelat- pelat perunggunya berkilat diterpa matahari.
Annabeth berdiri di bagian belakang ruangan, membongkar gulungan-gulungan lama.
“Tok, tok, tok?” kataku.
Dia menoleh sambil terkesiap. “Oh ... hei. Aku nggak dengar.”
“Kau nggak apa-apa?” Dia mengerutkan kening ke arah gulungan ditangannya. “Cuma mencoba meneliti. Labirin Daedalus besar sekali. Tidak ada hal yang sama dari setiap kisah. Peta-peta cuma mengarah dari antah berantah ke antah berantah”
Aku memikirkan apa yang dikatakan Quintus, bagaimana labirin mencoba mengalihkan perhatian. Aku bertanya-tanya apakah Annabeth sudah tahu.
“Kita akan memecahkannya,” janjiku.
Rambutnya telah terlepas dan terurai membentuk pirang kusut di sekeliling wajahnya. Mata kelabunya kelihatan hampir hitam.
“Aku ingin memimpin misi sejak umurku tujuh tahun.” katanya.
“Haslnya bakalan hebat.”
Dia menatapku penuh terima kasih, tapi kemudian menunduk, memandangi semua buku dan gulungan yang telah dikeluarkannya dari rak. “Aku khawatir, Percy. Mungkin aku seharusnya tak memintamu melakukan ini. Atau Tyson, atau Grover.”
“Hei, kami teman-temanmu. Kami tidak mau ketinggalan.”
“Tapi ....” Dia menghentikan dirinya.
“Apa?” tanyaku. “Ramalan itu?”
“Aku yakin ramalan itu tidak kenapa-napa,” katanya dengan suara pelan. “Apa bunyi baris terakhirnya?”
“Kita akan memecahkannya,” janjiku.
Rambutnya telah terlepas dan terurai membentuk pirang kusut di sekeliling wajahnya. Mata kelabunya kelihatan hampir hitam.
“Aku ingin memimpin misi sejak umurku tujuh tahun.” katanya.
“Haslnya bakalan hebat.”
Dia menatapku penuh terima kasih, tapi kemudian menunduk, memandangi semua buku dan gulungan yang telah dikeluarkannya dari rak. “Aku khawatir, Percy. Mungkin aku seharusnya tak memintamu melakukan ini. Atau Tyson, atau Grover.”
“Hei, kami teman-temanmu. Kami tidak mau ketinggalan.”
“Tapi ....” Dia menghentikan dirinya.
“Apa?” tanyaku. “Ramalan itu?”
“Aku yakin ramalan itu tidak kenapa-napa,” katanya dengan suara pelan. “Apa bunyi baris terakhirnya?”
Lalu dia melakukan sesuatu yang betul-betul mengagetkaku. Dia berkedip untuk mengenyahkan air mata dan mengulurkan tangannya.
Aku melangkah maju dan memeluknya. Perutku mulai mulas teraduk-aduk.
“Hei, nggak ... jangan khawatir.” Aku menepuk-nepuk punggungnya.
Aku sadar sepenuhnya akan segalanya dalam ruangan itu. Aku merasa seperti bisa membaca cetakan terkecil pada buku manapun di rak. Rambut Annabeth berbau bagaikan sabun lemon. Dia gemetaran.
“Chiron mungkin benar,” gumamnya. “Aku melanggar peraturan. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku perlu kau di sana. Rasaya memang harus seperti itu.”
“Makanya, jangan khawatir soal itu,” aku berhasil berkata. “Kita pernah menghadapi banyak masalah sebelumnya, dan kita memecahkannya.”
“Ini beda. Aku tidak mau apa pun terjadi pada ... satu pun dari kalian.”
Di belakangku, seseorang berdeham.
Rupanya salah satu saudara tiri Annabeth, Malcolm. Wajahnya merah menyala. “Eh, sori,” katanya. Latihan memanah sudah mulai, Annabeth. Chiron menyuruhku mencarimu.”
Aku melangkah menjauh dari Annabeth. “Kami cuma melihat-lihat peta,” kataku bodoh. Malcolm menatapku. “Oke, deh.”
Aku melangkah maju dan memeluknya. Perutku mulai mulas teraduk-aduk.
“Hei, nggak ... jangan khawatir.” Aku menepuk-nepuk punggungnya.
Aku sadar sepenuhnya akan segalanya dalam ruangan itu. Aku merasa seperti bisa membaca cetakan terkecil pada buku manapun di rak. Rambut Annabeth berbau bagaikan sabun lemon. Dia gemetaran.
“Chiron mungkin benar,” gumamnya. “Aku melanggar peraturan. Tapi aku tidak tahu harus melakukan apa lagi. Aku perlu kau di sana. Rasaya memang harus seperti itu.”
“Makanya, jangan khawatir soal itu,” aku berhasil berkata. “Kita pernah menghadapi banyak masalah sebelumnya, dan kita memecahkannya.”
“Ini beda. Aku tidak mau apa pun terjadi pada ... satu pun dari kalian.”
Di belakangku, seseorang berdeham.
Rupanya salah satu saudara tiri Annabeth, Malcolm. Wajahnya merah menyala. “Eh, sori,” katanya. Latihan memanah sudah mulai, Annabeth. Chiron menyuruhku mencarimu.”
Aku melangkah menjauh dari Annabeth. “Kami cuma melihat-lihat peta,” kataku bodoh. Malcolm menatapku. “Oke, deh.”
“Beri tahu Chiron aku akan segera ke sana,” kata Annabeth, dan Malcolm pun pergi terburu-buru.
Annabeth menggosok-gosok matanya. “Kau duluan saja, Percy. Lebih baik aku siap-siap untuk panahan.”
Aku menggangguk, merasa lebih bingung daripada yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku ingin lari dari pondok ... tapi tentu saja aku tidak melakukannya.
“Annabeth?” kataku. “Mengenai ramalanmu. Baris tentang napas terakhir seorang pahlawan—“
“Kau bertanya-tanya pahlawan yang mana? Aku tak tahu.”
“Bukan. Sesuatu yang lain. Kupikir baris terakhir biasanya berima dengan baris sebelumnya— pertarungan terakhir anak Athena menanti. Apa ada hubungannya—apa baris terakhir diakhiri kata mati?”
Annabeth menunduk memandang gulungannya. “Kau sebaiknya pergi, Percy. Bersiap-siaplah untuk misi. aku—aku akan menemuimu besok pagi.”
Aku meninggalkannya di sana, menatap peta-peta yang mengarah dari antah beranta ke antah beranta; tapi aku tidak bisa mengenyahkan firasat bahwa salah seorang dari kami tak bakalan kembali hidup- hidup dari misi ini.[]
Annabeth menggosok-gosok matanya. “Kau duluan saja, Percy. Lebih baik aku siap-siap untuk panahan.”
Aku menggangguk, merasa lebih bingung daripada yang pernah kurasakan seumur hidupku. Aku ingin lari dari pondok ... tapi tentu saja aku tidak melakukannya.
“Annabeth?” kataku. “Mengenai ramalanmu. Baris tentang napas terakhir seorang pahlawan—“
“Kau bertanya-tanya pahlawan yang mana? Aku tak tahu.”
“Bukan. Sesuatu yang lain. Kupikir baris terakhir biasanya berima dengan baris sebelumnya— pertarungan terakhir anak Athena menanti. Apa ada hubungannya—apa baris terakhir diakhiri kata mati?”
Annabeth menunduk memandang gulungannya. “Kau sebaiknya pergi, Percy. Bersiap-siaplah untuk misi. aku—aku akan menemuimu besok pagi.”
Aku meninggalkannya di sana, menatap peta-peta yang mengarah dari antah beranta ke antah beranta; tapi aku tidak bisa mengenyahkan firasat bahwa salah seorang dari kami tak bakalan kembali hidup- hidup dari misi ini.[]
Comments
Post a Comment