Baca Novel Online Percy Jackson - Pertempuran Labirin BAB 10

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB SEPULUH
Kami Memainkan Kuis Kematian
Kami melaksanakan upacara pemanggilan setelah gelap, di dekat lubang sepanjang enam meter di hadapan septic tank. Septic tank itu berwarna kuning cerah, dengan wajah tersenyum serta kata-kata merah yang dicat di sisinya: PT PEMBUANGAN KOTORAN GEMBIRA. Rasanya tidak cocok dengan suasana pemanggilan orang mati.
Bulan purnama muncul di langit. Awan-awan perak berarak di angkasa.
“Minos seharusnya sudah di sini sekarang,” kata Nico, mengerutkan kening. “Sudah gelap gulita.”
“Mungkin dia tersesat,” kataku penuh harap.
Nico menuangkan root beer dan melemparkan daging panggang ke dalam lubang, lalu mulai berkomat-kamit dalam bahasa Yunani Kuno. Segera saja serangga-serangga di hutan berhenti bercericip. Dalam sakuku, peluit anjing dari es Stygian bertambah dingin, membeku di sisi kakiku.
“Suruh dia berhenti,” bisik Tyson kepadaku.
Sebagian dari diriku setuju. Ini tidak alami. Udara malam terasa dingin dan mengancam. Tapi sebelum aku mengucapkan apa-apa, arwah pertama muncul. Kabut belerang merembes keluar dari tanah. Bayang-bayang menebal menjadi sosok-sosok manusia. Satu bayangan biru melayang ke tepi lubang dan berlutut untuk minum.
“Hentikan dia!” kata Nico, sementara menghentikan rapalannya. “Cuma Bianca yang boleh minum!”
Aku menghunus Reptide. Hantu-hantu mundur sambil mendesis bersama-sama saat melihat bilah perunggu langit pedangku. Tapi sudah terlambat untuk menghentikan arwah pertama. Dia sudah memadat menjadi sosok pria berjenggot yang berjubah putih. Mahkota emas melingkari kepalanya, dan bahkan dalam kematian matanya menyala-nyala dengan kekejian.
“Minos!” kata Nico. “Apa yang kau lakukan?”
“Mohon maaf, Tuan,” si hantu berkata, meskipun dia tidak kedengaran terlalu menyesal. “Bau sesaji ini sedap sekali, aku tidak tahan.” Dia mengamati tangannya sendiri dan tersenyum. “Senang melihat diriku lagi. Hampir dalam bentuk padat—“
“Kau mengganggu upacara!” protes Nico. “Pergi—“
Arwah-arwah orang mati mulai berdenyar terang, menampakkan bahaya, dan Nico harus berkomat-kamit lagi untuk menghalau mereka.
“Ya, memang benar, Tuan,” kata Minos dengan girang. “Silakan terus merapal. Aku hanya datang untuk melindungimu dari para pembohong yang akan menipumu ini.”
Dia menoleh kepadaku seolah aku ini semacam kecoa. “Percy Jackson ... wah, wah. Putra-putra Poseidon belum membaik selama berabad-abad, ya?”
Aku ingin meninjunya, tapi kurasa kepalanku yang pertama akan langsung menembus wajahnya. “Kami sedang mencar Bianca di Angelo,” kataku. “Enyahlah.”
Si hantu terkekeh. “Aku tahu kau pernah membunuh Minotaurku dengan tangan kosong. Tapi hal-hal yang lebih buruk menantimu di dalam Labirin. Apa kau benar-benar percaya Daedalus akan membantumu?”
Arwah-arwah lain bergerak-gerak gelisah. Annabeth mengeluarkan pisaunya dan membantuku menjauhkan mereka dari lubang. Grover begitu gugup sampai-sampai dia menempel ke bahu Tyson.
“Daedalus tidak peduli pada kalian, Blasteran,” Minos memperingatkan. “Kalian tak bisa memercayainya. Dia teramat tua, dan lihai. Sikapnya getir karena merasa bersalah telah membunuh dan dia dikutuk para dewa.”
“Bersalah karena membunuh?” tanyaku. “Siapa yang dibunuhnya?”
“Jangan mengubah topik!” geram si hantu. “Kau menghalang-halangi Nico. Kau mencoba membujuknya agar meninggalkan tujuannya. Aku akan menjadikannya penguasa!”
“Cukup, Minos,” perintah Nico.
Si hantu mencibir. “Tuan, mereka ini musuhmu. Kau tidak boleh mendengarkan mereka! Biarkan aku melindungimu. Akan kubuat pikiran mereka gila, seperti yang kulakukan pada yang lain.”
“Yang lain?” Annabeth terkesiap. “Maksudmu Chriz Rodriguez? Itu perbuatanmu?”
“Labirin ini milikku,” kata si hantu, “bukan milik Daedalus! Yang masuk tanpa izin layak memperoleh kegilaan.”
“Pergi, Minos!” tuntut Nico. “Aku ingin bertemu kakakku!”
Si hantu menahan amarahnya. “Sesuai kehendakmu, Tuan. Tapi kuperingatkan kau. Kau tidak bisa mempercayai para pahlawan ini.”
Dengan itu, dia pun memudar menjadi kabut.
Arwah-arwah lain bergegas maju, tapi Annabeth dan aku menghalau mereka mundur.
“Bianca, muncullah!” seru Nico. Dia mulai berkomat-kamit lebih cepat, dan arwah-arwah bergerak-gerak gelisah.
“Jangan lama-lama,” gumam Grover.
Lalu cahaya keperakan berkelap-kelip di pepohonan—arwah yang tampak lebih terang dan lebih kuat daripada yang lain. Arwah itu datang mendekat, dan sesuatu memberitahuku agar membiarkannya lewat. Ia berlutut untuk minum dari lubang. Saat dia bangkit, ia adalah sosok hantu Bianca di Angelo.
Rapalan Nico terhenti. Aku menurunkan pedangku. Arwah-arwah lain berkerumun ke depan, tapi Bianca mengangkat tangannya dan mereka mundur ke hutan.
“Halo, Percy,” katanya.
Dia terlihat sama seperti waktu masih hidup: topi hijau yang dipasang miring di atas rambut tebalnya yang hitam pekat, mata gelap, dan kulit sewarna zaitun seperti adiknya. Dia mengenakan jin dan jaket keperakan, pakaian Pemburu Artemis. Busur tersadang di bahunya. Dia tersenyum samar, dan seluruh sosoknya berdenyar.
“Bianca,” kataku. Suaraku lemah. Lama aku merasa bersalah karena kematiannya, tapi melihatnya di hadapanku lima kali lipat lebih buruk, seolah kematiannya baru saja terjadi. Aku ingat mencari-cari di reruntuhan prajurit perunggu yang untuk mengalahkannya dia mengorbankan nyawanya, dan tidak menemukan tanda-tanda dirinya.
“Aku betul-betul minta maaf,” kataku.
“Kau tidak perlu minta maaf, Percy. Aku membuat pilihanku sendiri. Aku tidak menyesalinya.”
“Bianca!” Nico terhuyung-huyung maju seakan dia baru saja bangun tidur.
Dia menoleh kepada adiknya. Ekspresinya sedih, seakan-akan dia sudah lama mencemaskan momen ini. “Halo, Nico. Kau tambah tinggi.”
“Kenapa kau tidak menjawabku lebih awal?” serunya. “Aku sudah mencoba berbulan-bulan.”
“Aku berharap kau bakal menyerah.”
“Menyerah?” Dia terdengar sakit hati. “Bisa-bisanya kau mengatakan itu? Aku mencoba menyelamatkanmu!”
“Nggak bisa, Nico. Jangan lakukan ini. Percy benar.”
“Tidak! Dia membiarkanmu mati! Dia bukan temanmu.”
Bianca mengulurkan tangannya seakan untuk menyentuh wajah adiknya, tapi dia terbuat dari kabut. Tangannya terbuyarkan saat mendekati kulit manusia hidup.
“Kau harus mendengarkanku,” katanya. “Menyimpan dendam berbahaya bagi anak Hades. Itu kekuarangan fatal kita. Kau harus memaafkan. Kau harus berjanji padaku.”
“Aku nggak bisa. Nggak akan pernah.”
“Percy selama ini mengkhawatirkanmu, Nico. Dia bisa membantu. Aku membiarkanya melihat apa rencanamu, berharap agar dia menemukanmu.”
“Jadi memang kau,” kataku. “Kau mengirim pesan-Iris itu.”
Bianca mengangguk.
“Kenapa kau membantunya dan bukan aku?” jerit Nico. “Nggak adil!”
“Kau sudah dekat dengan kebenaran sekarang,” Bianca memberitahunya. “Kau bukan marah pada Percy, Nico, tapi padaku.”
“Tidak.”
“Kau marah karena aku meninggalkanmu untuk menjadi Pemburu Artemis. Kau marah karena aku mati dan meninggalkanmu sendirian. Aku minta maaf soal itu, Nico. Aku betul-betul minta maaf. Tapi kau harus mengatasi kemarahanmu. Dan berhenti menyalahkan Percy atas pilihanku. Melakukannya bakal membuatmu celaka.”
“Dia benar,” Annabeth menimpali. “Kronos sedang bangkit, Nico. Dia akan memutarbalikkan siapa pun yang dia bisa demi tujuannya.”
“Aku tidak peduli soal Kronos,” kata Nico. “Aku cuma ingin kakakku kembali.”
“Kau tidak bisa mendapatkanku kembali, Nico,” Bianca memberitahunya dengan lembut.
“Aku putra Hades! Aku bisa.”
“Jangan coba-coba,” kata Bianca. “Kalau kau sayang aku, jangan ....”
Suaraya menghilang. Arwah-arwah mulai berkumpul di sekeliling kami lagi, dan mereka tampaknya gelisah. Bayangan mereka bergerak-gerak. Suara mereka membisikkan, Bahaya!
“Tartarus bergolak,” kata Bianca. “Kekuatanmu menarik perhatian Kronos. Yang mati harus kembali ke Dunia Bawah. Tidak aman bagi kami untuk tetap tinggal.
“Tunggu,” kata Nico. “Kumohon—“
“Selamat tinggal, Nico,” kata Bianca. “Aku menyayangimu. Ingat apa yang kukatakan.”
Sosoknya bergetar dan hantu-hantu menghilang, meninggalkan kami sendirian dengan sebuah lubang, septic tank Kotoran Gembira, dan bula purnama yang dingin.
Tak satu pun dari kami tak sabar untuk bepergian malam itu, jadi kami putuskan untuk menunggu sampai pagi. Grover dan aku menumpang tidur di sofa kulit di ruang keluarga Geryon, yang jauh lebih nyaman daripada matras gulung di dalam Labirin; tapi itu tak membuat mimpi burukku membaik.
Aku bermimpi berada bersama Luke, berjalan melalui istana gelap di puncak Gunung Tam. Istana itu sekarang berupa bangunan sungguhan—bukan semacam ilusi setengah jadi yang kulihat musim dingin lalu. Api hijau berkobar-kobar di tungku-tungku di sepanjang dinding. Lantai berupa marmer hitam mengilap. Angin dingin berembus di lorong, dan di atas kami melalui langit-langit yang terbuka, langit menampakkan awan badai kelabu yang bergulung-gulung.
Luke berpakaian untuk bertempur. Dia mengenakan celana loreng, T-shirt putih, dan tameng dada perunggu, tapi pedangnya, Backbiter, tidak ada di sampingnya—hanya ada sarung pedang kosong. Kami berjalan masuk ke pekarangan besar tempat lusinan prajurit dan dracaena sedang bersiap-siap untuk perang. Waktu mereka melihatnya, para makhluk setengah dewa menegakkan badan. Mereka memukulkan pedang mereka ke perisai mereka.
“Sssssudah waktunyakah, Tuanku?” tanya seekor dracaena.
“Sebentar lagi,” janji Luke. “Lanjutkan pekerjaan kalian.”
“Tuanku,” sebuah suara berkata di belakangnya. Kelli si empousa tersenyum padanya. Dia mengenakan rok biru malam ini, dia kelihatan cantik sekali. Matanya berkelap-kelip—kadang cokelat tua, kadang merah menyala. Rambutnya terkepang ke belakang punggungnya dan terlihat seakan menangkap cahaya obor, seolah-olah tidak sabar untuk berubah kembali menjadi nyala api.
Jantungku berdebar-debar. Aku menunggu sampai Kelli melihatku, mengejarku hingga terbangun dari mimpi seperti yang dilakukannya sebelumnya, tapi kali ini dia tampaknya tidak menyadari kehadiranku.
“Kau kedatangan tamu,” dia memberi tahu Luke. Dia melangkah ke samping, dan bahkan Luke pun tampaknya terperangah pada apa yang dilihatnya.
Kampê si monster menjulang di atasnya. Ular-ularnya mendesis di sekeliling kakinya. Kepala-kepala hewan menggeram di pinggangnya. Pedangnya terhunus, dikilaukan oleh racun, dan dengan sayap kelelawarnya yang terentang, dia memenuhi seluruh koridor.
“Kau.” Suara Luke terdengar sedikit gemetar. “Ku suruh kau tinggal di Alcatraz.”
Kelopak mata Kampê berkedip ke samping seperti kelopak reptil. Dia berbicara dalam bahasa aneh bergemuruh itu, tapi kali ini aku mengerti, di suatu tempat di dalam benakku: Aku datang untuk melayani. Beri aku pembalasan dendam.
“Kau sipir,” kata Luke. “Tugasmu—“
Akan kubunuh mereka. Tak ada yang bisa kabur dariku.
Luke ragu-ragu. Segaris keringat menetes menuruni sisi wajahnya. “Baiklah,” katanya. “Kau akan pergi dengan kami. Kau boleh membawa benang Ariadne. Itu posisi yang sangat terhormat.”
Kampê mendesis ke bintang-bintang. Dia menyarungkan pedangnya dan berbalik, berderap di lorong dengan kaki naga raksasanya.
“Kita seharusnya meninggalkan yang satu itu di Tartarus,” omel Luke. “Dia terlalu kacau. Terlalu kuat.”
Kelli tertawa lembut. “Kau seharusnya tak takut akan kekuatan, Luke. Manfaatkanlah!”
“Lebih cepat kita pergi, lebih baik,” kata Luke. “Aku ingin cepat-cepat menyelesaikan ini.”
“Aww,” kata Kelli bersimpati, menelusurkan jarinya ke lengan Luke. “Kau tidak senang kau bisa menghancurkan perkemahan lamamu?”
“Aku tidak bilang begitu.”
“Kau tidak ragu soal, ah, tugas istimewamu?”
Wajah Luke mengeras. “Aku tahu tugasku.”
“Itu bagus,” kata si monster. “Apa pasukan penyerbu kita cukup, menurutmu? Atau apa aku perlu panggil Ibu Hecate untuk minta bantuan?”
“Kita punya lebih dari cukup,” kata Luke suram. “Kesepakatannya hampir beres. Yang kuperlukan sekarang adalah berunding agar kita bisa melewati arena dengan selamat.”
“Mmm,” kata Kelli. “Pasti menarik. Aku tak bakalan tahan melihat cakepmu di pasak seandainya kau gagal.”
“Aku tidak akan gagal. Dan kau, Monster, bukankah kau punya urusan lain untuk diurus?”
“Oh, ya.” Kelli tersenyum. “Aku membawakan keputusasaan untuk musuh kita yang tukang nguping. Aku sedang melakukannya sekarang.”
Dia memalingkan matanya tepat ke arahku, memamerkan cakarnya, dan merobek mimpiku.
Tiba-tiba aku berada di tempat lain.
Aku berdiri di puncak menara batu, menghadap ke tebing  berbatu dan laut di bawah. Daedalus sang pria tua sedang membungkuk di atas meja kerja, bergulat dengan semacam alat navigasi, seperti kompas raksasa. Dia kelihatan jauh lebih tua daripada ketika aku terakhir kali melihatnya. Dia bungkuk dan tangannya berbonggol-bonggol. Dia menympah-nyumpah dalam bahasa Yunani Kuno dan memincingkan mata seolah dia tidak bisa melihat pekerjaannya, meskipun hari itu cerah.
“Paman!” sebuah suara memanggil.
Seorang anak seusia Nico yang menyunggingkan senyum menaiki tangga, membawa kotak kayu.
“Halo, Perdix,” kata sang pria tua, meskipun nada suaranya terdengar dingin. “Sudah menyelesaikan proyekmu?”
“Ya, Paman. Pekerjaan mudah!”
Daedalus merengut. “Mudah? Memindahkan air ke atas bukit tanpa pompa masalah mudah?”
“Oh, ya! Lihat!”
Si anak laki-lai meletakkan kotaknya dan mengaduk-aduk rongsokan di dalamnya. Dia mengeluarkan lebaran papirus dan menunjukkan beberapa diagram dan catatan kepada sang penemu tua. Aku sama sekali tak mengerti, tapi Daedalus mengangguk-angguk dengan enggan. “Begitu. Tidak jelek.”
“Raja menyukainya!” kata Perdix. “Dia bilang aku bahkan mungkin lebih pintar daripada Paman.”
“Dia bilang begitu?”
“Tapi aku tidak memercayainya. Aku senang sekali. Ibu mengirimku untuk belajar dengan Paman! Aku ingin mengetahui semua yang Paman lakukan.”
“Yan,” gumam Daedalus. “Jadi saat kau mati, kau bisa mengambil alih tempatku, eh?”
Mata s bocah membelalak. “Oh, tidak, Paman! Tapi aku berpikir-pikir ... kenapa manusia harus mati, omong-omong?”
Sang penemu menggerutu. “Begitulah keadaannya, Nak. Semuanya mati kecuali para dewa.”
“Tapi, kenapa?” si bocah berkeras. “Seadainya kita bisa menangkap animus, jiwa dalam bentuk lain .... Yah, Paman sudah memberitahuku tentang automaton Paman. Kerbau, elang, naga, dan kuda perunggu. Kenapa tidak sosok perunggu untuk manusia?”
“Tidak, Nak,” kata Daedalus tajam. “Kau naif. Hal semacam itu mustahil.”
“Menurutku tidak,” Perdix berkeras. “Dengan menggunakan sedikit sihir—“
“Sihir? Bah!”
“Ya, Paman! Sihir dan mesin bersama-sama—dengan sedikit berusaha, seseorang bisa membuat tubuh yang bakal terlihat persis seperti manusia, hanya saja lebih baik. Aku sudah membuat catatan.”
Dia menyerahkan gulungan tebal kepada sang pria tua. Daedalus membuka gulungan itu. Matanya menyipit. Dia melirik si bocah, lalu menutup gulungan dan berdeham. “Ini takkan pernah berhasil, Nak. Saat kau lebih tua, akan kaulihat.”
“Boleh kuperbaiki astrolab itu, Paman? Apa sendi Paman bengkak lagi?”
Rahang sang pria tua mengatup rapat. “Tidak. Terima kasih. Sekarang bagaimana kalau kau pergi?”
Perdix tampaknya tak menyadari kemarahan sang pria tua. Dia meraih seekor kumbang perunggu dari tumpukan barangnya dan berlari ke tepi menara. Pembatas rendah mengelilingi menara, sampai setinggi lutut si bocah. Angin masih berembus kencang.
Mundur, aku ingin memberitahunya. Tapi suaraku tidak keluar.
Perdix memutar kunci kumbang dan melemparkannya ke langit. Si kumbang merentangkan sayapnya dan berdengung menjauh. Perdix tertawa girang.
“Lebih pintar daripada aku,” gumam Daedalus, terlalu pelan untuk didengar si bocah.
“Benarkah putra Paman meninggal karena terbang? Kudengar Paman membuatkannya sayap yang besar sekali, tapi sayap itu gagal.”
Tangan Daedalus mengepal. “Mengambil alih tempatku,” gumamnya.
Angin melecut-lecut di sekitar si bocah, menarik pakaiannya, membuat rambutnya mengombak.
“Aku ingin terbang,” kata Perdix. “Aku akan membuat sayapku sendiri yang takkan gagal. Apa Pama pikir aku bisa?”
Mungkin itu cuma mimpi dalam mimpiku, tapi tiba-tiba aku membayangkan Janus si dewa bermuka dua berdenyar di udara di samping Daedalus, tersenyum saat dia melempar-lemparkan kunci perak dari tangan ke tangan. Pilih,bisiknya kepada sang penemu tua. Pilih.
Daedalus mengambil satu lagi serangga logam si bocah. Mata sang penemu tua merah karena marah.
“Perdix,” katanya. “Tangkap.”
Dia melemparkan si kumbang perunggu kepada si bocah. Girang, Perdix mencoba menangkapnya, tapi lemparan itu terlalu jauh. Kumbang itu terbang ke langit terbuka, dan Perdix menjulurkan tangan terlalu jauh. Angin menangkapnya.
Entah bagaimana dia berhasil mencengkeram tepian menara dengan jemarinya saat dia terjatuh. “Paman!” teriaknya. “Tolong aku!”
Wajah sang pria tua bagaikan topeng. Dia tidak bergerak dari tempatnya.
“Lanjutkan, Perdix,” kata Daedalus lembut. “Buat sayapmu. Yang cepat ya.”
“Paman!” si bocah menjerit saat dia kehilangan pegangannya. Dia terjun ke arah laut.
Sesaat suasana hening sepenuhnya. Janus sang dewa berkelap-kelip dan menghilang. Lalu guntur mengguncang langit. Suara tegas seorang wanita berbicara dari atas: Kau akan membayar untuk itu, Daedalus.
Aku pernah mendengar suara itu sebelumbya. Itu ibu Annabeth: Athena.
Daedalus cemberut ke arah langit. “Aku selalu menghormatimu, Ibu. Aku telah mengorbankan segalanya untuk mengikuti jalanmu.”
Tapi bocah itu mendapatkan karuniaku juga. Dan kau membunuhnya. Untuk itu, kau harus membayar.
“Aku membayar dan membayar!” geram Daedalus. “Aku telah kehilangan segalanya. Aku akan menderita di Dunia Bawah, tak diragukan lagi. Tapi sementara ini ....”
Dia mengambil gulungan si bocah, mempelajarinya sesaat, dan mentelipkannya ke dalam lengan bajunya.
Kau tidak mengerti, kata Athena dingin. Kau akan membayar sekarang dan selamaya.
Tiba-tiba Daedalus terjatuh kesakitan. Aku merasakan apa yang dirasakannya. Sakit yang menusuk-nusuk mencekik leherku seperti kerah yang panas membara—menghalangi napasku, membuat segalanya gelap gulita.
Aku terbangun dalam kegelapan, tanganku memegangi leherku.
“Percy,” kata Grover dari sofa lain. “Kau baik-baik saja?”
Aku melambatkan napasku. Aku tidak yakin bagaimana harus menajawab. Aku baru saja menyaksikan laki-laki yang kami cari, Daedalus, membunuh keponakannya sendiri. Bagaimana mungkin aku baik-baik saja? Televisi sedang menyala. Cahaya biru berkedip-kedip ke sepenjuru ruangan.
“Jam—jam berapa ini?” kuakku.
“Jam dua pagi,” kata Grover. “Aku nggak bisa tidur. Aku sedang menonton Saluran Alam.” Dia mendengus. “Aku kangen Juniper.”
Aku menggosok-gosok mataku, mengusir kantuk. “Yah ... kau bakal segera bertemu dia lagi.”
Grover menggelengkan kepala dengan sedih. “Apa kau tahu hari apa ini, Percy? Aku baru melihatnya di TV. Sekarang tanggal tiga belas Juni. Tujuh hari sejak kita meninggalkan perkemahan.”
“Apa?” kataku. “Itu nggak mungkin.”
“Waktu lebih cepat di Labirin,” Grover mengingatkanku. “Kali pertama kau dan Annabeth turun ke bawah sana, kau pikir kalian baru pergi beberapa menit, betul kan? Tapi kalian pergi sejam.”
“Oh,” kataku. “Betul.” Lalu aku menyadari apa yang dikatakannya dan tenggorokanku terasa panas membara lagi. “Tenggat waktumu dengan Dewan Tetua Berkuku Belah.”
Grover memasukkan remote TV ke mulutnya dan mengunyah ujungnya. “Aku kehabisan waktu,” katanya dengan mulut penuh plastik. “Segera setelah aku kembali, mereka bakal mengambil izin pencariku. Aku nggak akan pernah diizinkan keluar lagi.”
“Kita akan bicara pada mereka,” janjiku. “Buat mereka memberimu lebih banyak waktu.”
Grover menelan. “Mereka tidak akan mau. Dunia sedang sekarat, Percy. Setiap hari keadaannya tambah buruk. Alam liar ... aku bisa merasakannya memudar. Aku harus menemukan Pan.”
“Kau bakal menemukannya, Bung. Tak diragukan lagi.”
Grover menatapku dengan mata kambing yang sedih. “Kau selalu menjadi teman yang baik, Percy. Apa yang kaulakukan hari ini—menyelamatkan hewan-hewan di perternakan dari Geryon—itu menakjubkan. Aku—kuharap aku bisa lebih sepertimu.”
“Hei,” kataku. “Jangan ngomong gitu. Kau sama heroiknya—“
“Nggak, aku nggak heroik. Aku terus mencoba, tapi ....” Dia mendesah. “Percy, aku nggak bisa kembali ke perkemahan tanpa menemukan Pan. Pokoknya aku nggak bisa. Kau paham, kan? Aku nggak bisa menghadapi Juniper kalau aku gagal. Aku bahkan nggak bisa menghadapi diriku sendiri.”
Suaranya begitu tak bahagia sampai-sampai rasanya sakit mendengarnya. Kami sudah melalui banyak hal bersama, tapi aku tidak pernah mendengarnya seputus asa ini.
“Akan kita pikirkan sesuatu,” kataku. “Kau belum gagal. “Kau bocah kambing juara, oke? Juniper tahu itu. Aku juga.”
Grover memejamkan matanya. “Bocah kambing juara,” dia bergumam murum.
Lama setelah dia tertidur, aku masih terjaga, menonton cahaya biru Saluran Alam menyinari trofi-trofi kepala isi di dinding Geryon.
Keesokan paginya kami berjalan turun ke arah sapi penjaga dan mengucapkan selamat tinggal.
“Nico, kau boleh ikut dengan kami,” semburku. Kurasa aku memikirkan mimpiku, dan betapa Perdix si anak laki-laki kecil mengingatkanku akan Nico.
Dia menggelengkan kepalanya. Kupikir tak satu pun dari kami tidur nyenyak di rumah peternakan monster, tapi Nico kelihatan lebih parah daripada yang lain. Matanya merah dan wajahnya coreng moreng. Dia terbungkus jubah hitam yang pastinya merupakan milik Geryon, soalnya jubah itu tiga ukuran kebesaran bahkan untuk pria dewasa.
“Aku perlu waktu untuk berpikir.” Matanya tidak mau bertemu pandang denganku, tapi aku tahu dari nada suaranya bahwa dia masih marah. Fakta bahwa kakaknya keluar dari Dunia Bawah untukku dan bukan untuknya tampaknya tidak bisa diterimanya.
“Nico,” kata Annabeth. “Bianca cuma ingin supaya kau baik-baik saja.”
Annabeth meletakkan tangannya di bahu Nico, tapi dia menjauh dan berjala susah payah menaiki jalan ke arah rumah peternakan. Mungkin cuma khayalanku, tapi kabut pagi tampaknya melekat padanya saat dia berjalan.
“Aku mencemaskannya,” Annabeth memberitahuku. “Kalau dia mulai bicara dengan hantu Minos lagi—“
“Dia akan baik-baik saja,” Eurytion berjanji. Sang gembala sapi sudah membersihkan diri. Dia mengenakan jin baru dan baju Western bersih dan dia bahkan memangkas jenggotnya. Dia mengenakan sepatu bot Geryon. “Bocah itu bisa tinggal di sini dan berpikir selama yang dia mau. Dia bakal aman, aku janji.”
“Bagaiana denganmu?” tanyaku.
Eurytion menggaruk bagian belakang salah satu dagu Orthus, lalu yang satu lagi. “Peternakan ini akan dijalankan sedikit berbeda mulai sekarang. Tidak ada lagi daging sapi keramat. Aku mempertimbangkan burger kedelai. Dan aku akan berteman dengan kuda-kuda pemakan daging itu. Mungkin juga mendaftar untuk rodeo berikutnya.”
Ide tersebut membuatku bergidik. “Yah, semoga berhasil.”
“Yep.” Eurytion meludah ke rumput. “Kuduga kalian akan mencari bengkel kerja Daedalus sekarang?”
Mata Annabeth berbinar. “Bisakah kau membantu kami?”
Eurytion mengamat-amati si sapi penjaga, dan aku punya firasat bahwa topik tentang bengkel kerja Daedalus membuatnya tidak nyaman. “Tidak tahu tempatnya. Tapi Hephaestus mungkin tahu.”
“Itulah yang dikatakan Hera,” Annabeth setuju. “Tapi bagaimana cara kami menemukan Hephaestus?”
Eurytion menarik sesuatu dari balik kerah bajunya. Rupanya seuntai kalung—piringan perak mulus di rantai perak. Piringan itu punya cekungan di tengah-tengah, seperti cetakan jempol. Dia menyerahkannya kepada Annabeth.
“Hephaestus datang ke sini sesekali,” kata Eurytion. “Mempelajari binatang dan sebagainya supaya dia bisa membuat tiruan berupa automaton. Terakhir kalinya, aku—eh—membantunya. Tipuan kecil yang ingin dia mainkan pada ayahku, Ares, dan Aphrodite. Dia memberiku kalung itu sebagai tanda terima kasih. Katanya kalau aku harus menemuinya, piringan itu akan membimbingku ke penempaannya. Tapi cuma sekali.”
“Dan kau memberikannya padaku?” tanya Annabeth.
Eurytion merona. “Aku tidak perlu melihat penempaan, Non. Cukup banyak yang harus dilakukan di sini. Tekan saja tomolnya dan aku dalam perjalanan ke sana.”
Annabeth menekan tombol dan piring itu menjadi hidup. Ia menumbuhkan delapan kaki logam. Annabeth memekik dan menjatujkannya, yang membuat Eurytion kebingungan.
“Laba-laba!” jeritnya.
“Dia, eh, sedikit takut pada laba-laba,” Grover menjelaskan. “Dendam lama antara Athena dan Arachne.”
“Oh.” Eurytion kelihatan malu. “Sori, Non.”
Si laba-laba tertatih-tatih menghampiri sapi penjaga dan menghilang di antara jeruji.
“Cepat,” kataku. “Benda itu tidak akan menunggu kita.”
Annabeth tidak antusias mengikutinya, tapi kami tidak punya banyak pilihan. Kami mengucapkan selamat tinggal kepada Eurytion, Tyson menarik sapi penjaga dari lubang, dan kami menjatuhkan diri kembali ke dalam labirin.
Kuharap aku bisa memasangi si laba-laba mekanis tali kekang. Ia merayap begitu cepat di terowongan sehingga hampir sepanjang waktu aku bahkan tidak bisa melihatnya. Kalau buka berkat pendengaran Tyson dan Grover yang luar biasa, kami tak akan pernah tahu ke arah mana ia pergi.
Kami berlari menyusuri terwongan marmer, lalu melesat ke kiri, dan hampir jatuh ke dalam jurang. Tyson merenggutku dan menggendongku ke belakang sebelum aku terjatuh. Terowongan berlanjut di hadapan kami, tapi tidak ada lantai sepanjang kira-kira sudah setengah jalan ke seberang, berayun dari jeruji ke jeruji dengan cara menembakkan benang laba-laba logam.
“Panjat-panjatan,” kata Annabeth. “Yang begini aku jago.”
Dia melompat ke jeruji pertama dan mulai berayun-ayun ke seberang. Dia takut pada laba-laba kecil, tapi tidak takut terjun ke kematian dari serangkaian panjat-panjatan. Bingung ngggak, sih?
Annabeth sampai ke sisi seberang dan berlari mengejar laba-laba. Aku mengikuti. Waktu aku sampai ke seberang, aku menoleh ke belakang dan melihat Tyson memberikan tumpangan di punggungnya untuk Grover. Si jagoan besar berhasil menyebrang dalam tiga ayunan, yang merupakan hal bagus, soalnya tepat saat dia mendarat, terali besi terakhir copot gara-gara bobotnya.
Kami terus bergerak dan melewati kerangka yang terenyak di terowongan. Ia mengenakan sisa-sisa kemeja, celana panjang, dan dasi. Si laba-laba tidak melambat. Aku tersandung setumpuk potongan kayu, tapi ketika aku menyorotkan cahaya, kusadari bahwa potongan-potongan kayu itu adalah pensil—ratusan pensil, semuanya patah jadi dua.
Terowongan terbuka ke sebuah ruangan besar. Cahaya menyilaukan menerpa kami. Setelah mataku terbiasa, hal pertama yang kulihat adalah kerangka. Lusinan kerangka berserakan di lantai di sekitar kami. Beberapa sudah lama dan putih berkelantang. Yang lain lebih baru dan jauh lebih menjijikkan. Baunya tak separah istal Geryon, tapi hampir.
Lalu aku melihat si monster. Dia berdiri di podium berkilauan di sisi seberang ruangan. Dia memiliki tubuh layaknya singa besar dan kepala perempuan. Dia seharusnya cantik, tapi rambutnya diikat kebelakang membentuk konde kencang dan dia memakai terlalu banyak rias wajah sehingga dia bisa dibilang mengingatkanku pada guru paduan suaraku di kelas tiga. Ada pin berpita biru terpasang di dadanya yang perlu waktu beberapa lama bagiku untuk membacanya: MONSTER INI TELAH DIBERI PERINGKAT PATUT DITELADANI!
Tyson merengek-rengek. “Sfinks.”
Aku tahu persis kenapa dia takut. Waktu dia kecil, Tyson pernah diserang seekor Sfinks di New York. Dia masih punya bekas luka di punggungnya untuk membuktikan hal itu.
Lampu sorot menyinari seluruh sisi tubuh makhluk itu. Satu-satunya jalan keluar adalah terowongan di belakang podium. Laba-laba mekanis merayap cepat di antara cakat di Sfinks dan menghilang.
Annabeth mulai maju, tapi si Sfinks mengaum menunjukkan taring-taring di wajah manusianya. Jeruji turun menutupi dua terowongan untuk jalan keluar, di belakang kami dan di depan.
Seketika geraman si monster berubah menjadi senyum cemerlang.
“Selamat datang, para kontestan yang beruntung!” dia mengumumkan. “Bersiaplah untuk memainkan ... JAWAB TEKA-TEKI ITU!”
Rekaman tepuk tangan bergemuruh dari langit-langit, seakan ada pengeras suara tak kasat mata. Lampu-lampu sorot menyapu ruangan dan terpantul di podium, melemparkan kelap-kelip lampu disko ke kerangka-kerangka di lantai.
“Hadiah-hadiah luar biasa!” kata si Sfinks. “Lewati ujian, dan kalian boleh terus! Gagal, dan aku bisa memakan kalian! Siapa yang akan jadi kontestan kita?”
Annabeth mencengkeram lenganku. “Aku bisa,” bisiknya. “Aku tahu apa yang bakal dia tanyakan.”
Aku tidak mendebat. Aku tidak mau Annabeth dilahap oleh monster, tapi kupikir kalau Sfinks akan menanyakan teka-teki, Annabeth adalah yang terbaik di antara kami untuk mencoba.
Dia melagkah maju ke podium kontestan, yang dihiasi kerangka berseragam sekolah yang membungkuk di atasnya. Annabeth mendorong kerangka itu dari hadapannya, dan kerangka itu jatuh berkelontangan ke lantai.
“Maaf,” kata Annabeth padanya.
“Selamat datang, Annabeth Chase!” seru si monster, meskipun Annabeth belum menyebutkan namanya. “Apa kau siap untuk ujianmu?”
“Ya,” kataya. “Tanyakan teka-tekimu.”
“Dua puluh teka-teki sebenarnya!” kata si Sfinks girang.
“Apa? Tapi dulu—“
“Oh, kami menaikkan standar! Supaya lulus, kau harus menunjukkan kecakapan pada kedua puluh-dua puluhnya! Bukankah itu hebat?”
Tepuk tangan dinyalakan dan dimatikan seperti ada seseorang yang memutar keran.
Annabeth melirikku dengan gugup. Aku memberinya anggukan untuk menyemangatinya.
“Oke,” katanya pada si Sfinks. “Aku siap.”
Bunyi pukulan drum terdengar dari atas. Mata si Sfinks berkilat penuh semangat. “Apakah ... ibu kota Bulgaria?”
Annabeth mengerutkan kening. Selama sesaat yang mengerikan, kupikir dia tak tahu.
“Sofia,” katanya, “tapi—“
“Betul! Lebih banyak rekaman tepuk tangan. Si Sfinks tersenyum lebar sekali sampai-sampai taringnya kelihatan. “Jangan lupa tandai jawabanmu dengan jelas di lebar ujianmu menggunakan pensil nomor 2.”
“Apa?” Annabeth terlihat bingung. Lalu buklet ujian muncul di podium di hadapannya, bersama sebatang pensil yang sudah diruncingkan.
“Pastikan agar kau melingkari semua jawaban dengan jelas dan jangan keluar dari bulatan,” kata di Sfinks. “Kalau kau perlu menghapus, hapus seluruhnya atau mesin tidak akan bisa membaca jawabanmu.”
“Mesin apa?” tanya Annabeth.
Si Sfinks menunjuk dengan cakarnya. Diterangi oleh lampu sorot, ada kotak perunggu dengan berbagai roda gigi dan tuas dan huruf Yunani besar Êta di sisinya, tanda Hephaestus.
“Nah,” kata si Sfinks, “pertayaan selanjutnya—“
“Tunggu sebentar,” protes Annabeth. “Bagaimana dengan ‘Apa yang berjalan dengan empat kaki di pagi hari?”
“Maaf?” kata di Sfinks, sekarang jelas-jelas kesal.
“Teka-teki tentang manusia. Dia berjalan dengan empat kaki di pagi hari, seperti bayi, dua kaki di siang hari, seperti orang dewasa, dan tiga kaki di malam hari, seperti laki-laki tua bertongkat. Itu teka-teki yang dulu kau tanyakan.”
“Itulah alasannya kenapa kami mengganti ujiannya!” seru si Sfinks. “Kalian sudah tahu jawabannya. Sekarang pertanyaan kedua, berapa akar enam belas?”
“Empat,” kata Annabeth, “tapi—“
“Betul! Presiden AS mana yang menandatangani Proklamasi Emansipasi?”
“Abraham Lincoln, tapi—“
“Betul! Teka-teki nomor empat. Berapa—“
“Tahan sebentar!” teriak Annabeth.
Aku ingin menyuruhnya berhenti mengeluh. Kerjanya bagus! Sebaiknya dia jawab saja pertanyaan-pertanyaan itu supaya kami bisa pergi.
“Itu bukan teka-teki,” kata Annabeth.
“Apa maksudmu?” bentak si Sfinks. “Tentu saja itu teka-teki. Materi ujia ini khusus dirancang—“
“Itu cuma sekumpulan fakta acak bodoh,” Annabeth berkeras. “Teka-teki seharusnya membuatmu berpikir.”
“Berpikir?” si Sfinks mengernyitkan dahi. “Buat apa aku menguji apakah kau bisa berpikir? Itu konyol! Nah, berapa gaya yang dibutuhkan—“
“Stop!” Annabeth berkeras. “Ini cuma ujian bodoh.”
“Eh, Annabeth,” potong Grover gugup. “Mungkin sebaiknya kau, tahulah, jawab dulu dan protes belakangan?”
“Aku anak Athena,” dia berkeras. “Dan ini penghinaan terhadap kecerdasanku. Aku tidak mau menjawab pertanyaan-pertanyaan ini.”
Sebagian dariku terkesan padanya karena melawan seperti itu. Tapi sebagian dariku berpikir bahwa kebanggaannya akan membuat kami semua terbunuh.
Lampu-lampu sorot bersinar menyilaukan. Mata si Sfinks berkilat hitam kelam.
“Kalau begitu, Sayangku,” kata si monster tenang, “kalau kau tak mau lulus, kau gagal. Dan karena kami tidak membiarkan anak-anak tinggal kelas, kalian akan DIMAKAN!”
Si Sfinks memamerkan taringnya, yang berkilau seperti baja tahan karat. Dia menerjang podium.
“Tidak!” serbu Tyson. Dia benci saat orang-orang mengancam Annabeth, tapi aku tak bisa percaya bahwa dia seberani itu, terutama karena dia punya pengalaman yang buruk sekali dengan Sfinks sebelumnya.
Dia menghantam si Sfinks di udara dan mereka berdua jatuh menghantam setumpuk tulang. Ini memberi Annabeth cukup waktu untuk mengumpulkan keberaniannya dan mengunus pisaunya. Tyson bangkit, bajunya dicakar sampai robek-robek. Si Sfinks menggeram, mencari titik lemah.
Aku menghunus Reptide dan melangkah ke depan Annabeth.
“Jadilah tak kasat mata,” aku memberitahunya.
“Aku bisa bertarung!”
“Tidak!” teriakku. “Si Sfinks mengincarmu! Biar kami selesaikan.”
Seolah untuk membuktikan maksudku, si Sfinks mendorong Tyson ke samping dan mencoba menerjang melewatiku. Grover menusuk matanya dengan tulang kaki seseorang. Dia menjerit kesakitan. Annabeth memakai topinya dan menghilang. Si Sfinks menyerang tepat di tempat Annabeth tadi berdiri, tapi hanya mendapati bahwa cakarnya kosong.
“Tidak adil!” lolong si Sfinks. “Curang!”
Dengan Annabeth yang tidak lagi terlihat, si Sfinks menoleh kepadaku. Aku mengangkat pedangku, tapi sebelum aku bisa menyerang, Tyson merenggut mesin menilai si monster dari lantai dan melemparannya ke kepala si Sfinks, membuat kondenya berantakan. Mesin itu mendarat berkeping-keping di sekelililngnya.
“Mesn penilaiku!” serunya. “Aku tidak bisa menjadi teladan tanpa nilai ujianku!”
Jeruji terangkat dari pintu keluar. Kami semua melesat ke terowongan di sisi jauh. Aku hanya bisa berharap Annabeth melakukan yang sama.
Si sfinks mulai mengikuti, tapi Grover mengangkat seruling alang-alangnya dan mulai bermain. Seketika pensil-pensil ingat bahwa mereka dulunya adalah bagian dari pohon. Mereka berkumpul di sekitar cakar si Sfinks, menumbuhkan akar dan cabang, dan mulai membungkuskan diri di sekeliling kaki si monster. Si Sfinks merobek-robek mereka, tapi hal itu sudah cukup memberi kami waktu.
Tyson menarik Grover ke terowongan, dan jeruji jatuh tertutup di belakang kami.
“Annabeth!” teriakku.
“Di sini!” katanya, tepat di sebelahku. “Terus bergerak!”
Kami berlari menyusun terowongan gelap, mendengarkan auman Sfinks di belakang kami saat dia mengeluh soal semua ujian yang harus dinilainya sendirian secara manual.[]

Comments