Baca Novel Online Percy Jakson - Pertempuran Labirin BAB 18

Percy Jackson and the OlympiansThe Battle of the Labyrinth (Pertempuran Labirin) Rick Riordan
BAB DELAPAN BELAS
Grover Bikin Heboh
Jarak lebih pendek di Labirin. Tetap saja, pada saat Rachel berhasil memandu kami ke Times Square, aku merasa kami kurang lebih sudah lari sepanjang jalan dari New Mexico. Kami memanjat keluar dari ruang bawah tanah Marriott dan berdiri di trotoar diterangi sinar matahari cerah musim panas, memincingkan mata ke arah lalu lintas dan kerumunan orang.
Aku tidak bisa memutuskan yang mana yang kelihatan kurang nyata—New York atau gua kristal tempat aku menyaksikan satu dewa mati.
Aku memimpin jalan ke sebuah gang, tempat aku bisa mendapatkan gema yang bagus. Lalu aku bersiul selantang yang kubisa, lima kali.
Semenit kemudian, Rachel terkesiap. “Mereka indah sekali!”
Sekawanan pegasus turun dari langit, menukik di antara gedung-gedung pencakar langit. Blackjack paling depan, diikuti oleh empat teman putihnya.
Yo, Bos! Dia bicara dalam pikiranku. Kau hidup.
“Iya,” kataku padaya. “Aku beruntung karena itu. Dengar, kami perlu tumpangan cepat ke perkemahan.”
Itu keahlianku! Ya ampun, cyclops itu ikut denganmu? Yo, Guido! Punggungmu kuat nggak?
Guido si pegasus mengerang dan mengeluh, tapi akhirnya dia setuju mengangkut Tyson. Semua mulai naik—kecuali Rachel.
“Yah,” katanya padaku, “kurasa sampai di sini.”
Aku mengangguk tidak nyaman. Kami berdua tahu dia tak bisa pergi ke perkemahan. Aku melirik Annabeth, yang sedang pura-pura sangat sibuk dengan pegasusnya.
“Makasih, Rachel,” kataku. “Kami tak mungkin bisa melakukannya tanpa dirimu.”
“Aku nggak bakalan melewatkannya. Maksudku, kecuali saat kita hampir mati, dan Pan ....” Suaranya menghilang/
“Dia bilang sesuatu soal ayahmu.” Aku teringat. “Apa maksudnya?”
Rachel memilin-milin tali tas punggungnya. “Ayahku ... Pekerjaan ayahku. Dia semacam pengusaha terkenal.”
“Maksudmu ... kalian kaya?”
“Iya.”
“Jadi, begitu caramu membuat si sopir membantu kita? Kau cuma menyebut nama ayahmu dan—“
“Ya,” Rachel memotongku. “Percy ... ayahku seorang pengembang. Dia terbang ke seluruh penjuru dunia, mencari lahan yang belum dikembangkan.” Dia menghela napas dengan gemetar. “Alam liar. Dia—dia membelinya. Aku benci itu, tapi dia menggalinya dan membangun subdivisi-subdivisi butut dan pusat-pusat perbelanjaan. Dan sekarang setelah aku melihat Pan ... kematian Pan—“
“Hei, kau nggak bisa menyalahkan dirimu karena itu.”
“Kau nggak tahu yang terburuk. Aku—aku nggak suka membicarakan keluargaku. Aku nggak mau kau tahu. Maafkan aku. Aku seharusnya nggak bilang apa-apa.”
“Hei,” kataku. “Nggak apa-apa. Dengar, Rachel, kau melakukan sesuatu yang hebat. Kau memandu kami melalui labirin. Kau berani sekali. Aku cuma akan menilaimu dari situ. Aku nggak peduli apa yang dikerjakan ayahmu.”
Rachel memandangku penuh terima kasih. “Yah ... kalau kapan-kapan kau pingin nongkrong bareng manusia fana lagi ... kau bolehh meneleponku atau apalah.”
“Eh, iya. Pasti.”
Dia merapatkan kedua alisnya. Kurasa aku terdengar tidak antusias atau apa, tapi bukan begitu maksudku. Aku cuma tidak yakin bagaimana mengatakannya dengan teman-temanku di sekitarku. Dan kurasa perasaanku jadi lumayan campur aduk beberapa hari terakhir.
“Maksudku ... aku mau.”
“Nomorku nggak ada di buku,” katanya.
“Aku sudah punya.”
“Masih di tanganmu? Nggak mungkin.”
“Bukan. Aku ... menghafalnya.”
Senyumnya kembali pelan-pelan, tapi jauh lebih gembira. “Sampai ketemu nanti, Percy Jackson. Pergi selamatkan dunia untukku, oke?”
Dia berjalan menyusuri Seventh Avenur dan menghilang ke dalam kerumunan orang.
Saat aku kembali ke kuda-kuda, Nico sedang mengalami masalah. Pegasusnya terus menjauh darinya, enggan membiarkannya naik.
Baunya kayak orang mati! Keluh si pegasus.
Jangan gitu, kata Blackjack. Ayolah, Porkpie. Banyak blasteran berbau aneh. Itu bukan salah mereka. Oh—eh, maksudku bukan kau, Bos.
“Pergilah tanpa aku!” kata Nico. “Lagi pula aku nggak mau kembali ke perkemahan itu.”
“Nico,” kataku. “Kami perlu bantuanmu.”
Dia bersedekap dan cemberut. Lalu Annabeth meletakkan tangannya di bahu Nico.
“Nico,” katanya. “Kumohon.”
Pelan-pelan, ekspresi Nico melembut. “Baiklah,” katanya enggan. “Demi kau. Tapi aku tidak akan tinggal.”
Aku mengangkat alis kepada Annabeth, kayak, Kok bisa-bisanya tiba-tiba Nico mendengarkanmu? Annabeth menjulurkan lidahnya kepadaku.
Pada akhirnya semua naik ke pegasus. Kami melesat ke udara, dan segera saja kami sudah berada di atas Sungai East denga Long Island terbentang di hadapan kami.
Kami mendarat di tengah-tengah area pondok dan seketika ditemui oleh Chiron, Silenus si satir berperut gentong, dan sepasang pemanah dari kabin Apollo. Chiron mengangkat alis saat dia melihat Nico, tapi kalau kuduga dia bakal dikejutkan oleh berita teranyar soal Quintus, yang adalah Daedalus, atau kebangkitan Kronos, aku salah.
“Itu juga yang kutakutkan,” kata Chiron. “Kita harus bergegas. Mudah-mudahan kalian sudah memperlambat sang raja Titan, tapi baris depannya masih akan lewat. Mereka akan sangat menginginkan darah. Sebagian besar anggota pasukan pertahanan kita sudah di tempat. Ayo!”
“Tunggu sebentar,” tuntut Silenus. “Bagaimana dengan pencarian Pan? Kau hampir terlambat tiga minggu, Grover Underwood! Izin pencarimu dicabut!”
Grover menarik napas dalam-dalam. Dia berdiri tegak dan memandang Silenus tepat di mata. “Izin pencari tak jadi soal lagi. Dewa agung Pan sudah mati. Dia berpulang dan meninggalkan semangat bagi kita.”
“Apa?” Wajah Silenus berubah menjadi merah cerah. “Penodaan dan kebohongan, Grover Underwood, akan kuasingkan kau karena bicara seperti itu!”
“Itu benar,” kataku. “Kami ada di sana waktu dia meninggal. Kami semua.”
“Mustahil! Kalian semua pembohong! Penghancur alam!”
Chiron mengamati wajah Grover. “Akan kita bicarakan ini nanti.”
“Kita akan membicarakanya sekarang!” kata Silenus. “Kita harus mengurus ini—“
“Silenus,” potong Chiron. “Perkemahanku sedang diserang. Perkara Pan sudah menunggu dua ribu tahun. Aku takut kita harus menunggu sedikit lebih lama lagi. Dengan asumsi kita masih di sini malam ini.”
Dan dengan perkataan riang itu, dia menyiapkan busurnya da mencongklang ke arah hutan, meninggalkan kami untuk mengikuti sebaik yang kami bisa.
Inilah operasi militer terbesar yang pernah kulihat di perkemahan. Semua berada pada bukaan di tepi hutan, mengenakan pakaian tempur lengkap, tapi kali ini bukan untuk menangkap bendera. Pondok Hephaestus sudah memasang jebakan di sekitar pintu masuk ke Labirin—kawat berduri tajam, lubang-lubang yang dipenuhi kendi-kendi berisi api Yunani, deretan tongkat tajam untuk menangkis serangan. Beckendorf menjaga dua ketapel seukuran truk pikap, sudah siap dan diarahkan ke Kepalan Zeus. Pondok Ares ada di baris depan, melatih formasi rapat denga Clarisse yang meneriakkan perintah. Pondok Apollo dan Hermes bersebar di hutan dengan busur dalam posisi siaga. Banyak yang mengambil posisi di atas pohon. Bahka para dryad bersenjatakan busur, da para satir berderap ke sana-kemari dengan gada kayu dan perisai yang terbuat dari kulit kayu kasar.
Annabeth pergi untuk bergabung dengan saudara-saudaranya dari pondok Athena, yang terlah mendirikan tenda komado dan tengah mengarahkan operasi. Panji-panji kelabu bergambar burung hantu berkibar di luar tenda. Kepala keamanan kami, Argus, berdiri berjaga-jaga di pintunya. Anak-aak Aphrodite berlarian untuk meluruskan baju zirah semua orang dan menawarkan untuk menyisir jambul rambut kuda di helm kami supaya tidak kusut. Bahkan anak-anak Dionysus pun menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Sang dewa sendiri masih tidak terlihat di mana pun, tapi kedua putra kembarnya berlarian ke sana-sini dan menyediakan air botolan dan jus kotak untuk para prajurit yang berkeringat.
Persiapan tampaknya cukup bagus, tapi Chiron bergumam di sebelahku, “Ini tidak cukup.”
Aku memikirkan apa yang kulihat di Labirin, semua monster di stadion Antaeus, dan kekuatan Kronos yang kurasakan di Gunung Tam. Hatiku melecus. Chiron benar, tapi Cuma ini yang bisa kami kumpulkan. Sekali ini aku berharap Dionysus ada di sini, tapi bahkan seandainya dia ada, aku tidak tahu apakah dia bisa melakukan sesuatu. Terkait dengan perang, dewa-dewi dilarang terlibat secara langsung. Rupanya, para Titan tidak memercayai larangan seperti itu.
Di tepi bukaan, Grover sedang bicara pada Juniper. Juniper memegang tangan Grover sementara dia menceritakan kisah kami kepada sang peri pohon. Air mata hijau terbentuk di mata Juniper saat Grover menyampaikan kabar tentang Pan.
Tyson membantu anak-anak Hephaestus mempersiapkan pertahanan. Dia mengangkat bongkahan-bongkahan batu dan menumpukkan di sebelah ketapel untuk ditembakkan.
“Tetap bersamaku, Percy,” kata Chiron. “Saat pertarungan dimulai, aku ingin kau menunggu sampai kita tahu apa yang kita hadapi. Kau harus pergi ketampat kita paling memerlukan bala bantuan.”
“Saya melihat Kronos,” kataku, masih tercengang oleh fakta itu. “Saya menatap tepat ke matanya. Dia Luke ... tapi juga bukan.”
Chiron menelusurkan jarinya di sepanjang tali busurnya. “Dia punya mata keemasan, kutebak begitu. Dan saat dia hadir, waktu seakan berubah menjadi cairan.”
Aku mengangguk. “Bagaimana bisa dia mengambil alih tubuh seseorang yang fana?”
“Aku tidak tahu, Percy. Dewa-dewa sudah lama mewujud seperti manusia, tapi sungguh-sungguh menjadi manusia ... membaurkan wujud sejati dewa dengan wujud fana. Aku tak tahu bagaimana ini bisa dilakukan tanpa mengubah wujud Luke menjadi abu.”
“Kronos bilang tubuhnya telah disiapkan.”
“Aku gemetar memikirkan apa maksudnya. Tapi mungkin itu akan membatasi kekuatan Kronos. Selama beberapa waktu, paling tidak, dia terkekang ke wujud manusia. Wujud manusia menyatukannya. Mudah-mudahan wujud itu jua membatasinya.”
“Pak Chiron—seandainya dia memimpin serangan ini—“
“Kupikir tidak, Nak. Aku akan merasakannya apabila dia semakin dekat. Tidak diragukan lagi dia berencana untuk itu, tapi aku yakin kau membuatnya tidak nyaman saat kau meruntuhkan ruang singgasananya di atas dirinya.” Dia menatapku, menyalahkan. “Kau dan temanmu Nico, putra Hades.”
Tenggorokanku tersumbat. “Maafkan saya, Pak Chiron. Saya tahu saya seharusnya memberi tahu Bapak. Hanya saja—“
Chiron mengangkat tangannya. “Aku mengerti kenapa kau melakukannya, Percy. Kau merasa bertanggung jawab. Kau ingin melindunginya. Tapi, Nak, kalau kita ingin bertahan hidup dari semua ini, kita harus saling melindungi. Kita harus ....”
Suaranya menghilang. Tanah di bawah berguncang.
Semua orang di bukaan menghentikan apa yang mereka lakukan. Clarisse meneriakkan satu perintah: “Kunci perisai!”
Kemudian pasukan sang raja Titan menghambur keluar dari Labirin.
Tentu saja aku sudah pernah bertempur sebelumnya, tapi yang ini adalah pertempuran besar-besaran. Hal pertama yang kulihat adalah selusin raksasa Laistrygonian menyembur dari tanah, berteriak begitu keras sampai-sampai kupingku rasanya mau pecah. Mareka membawa perisai yang terbuat dari mobil gepeng, dan pentungan berupa batang pohon dengan duri karatan mencuat di ujungnya. Salah satu raksasa menyerbu formasi pertahanan Ares, menghantamnya ke samping dengan pentungannya, dan seluruh anggota pondok terlempar ke samping, selusin prajurit terenyak ditiup angin seperti boneka kain perca.
“Tembak!” teriak Beckendorf. Ketapel berayun melaksanakan aksinya. Dua bongkahan batu meluncur ke arah para raksasa. Salah satu dipentalkan oleh perisai mobil nyaris tanpa menimbulkan penyok, tapi yang lain mengenai dada satu Laistrygonian, dan si raksasa terjatuh. Para pemanah Apollo menembakkan misil berupa lusinan aak panah yang menancap di perisai tepal para raksasa seperti duri landak. Beberapa menemukan celah baju zirah, dan beberapa raksasa buyar terkena sentuhan perunggu langit.
Tapi tepat ketika kelihatannya para Laistrygonian bakal kewalahan, gelombang berikutnya menyembur ke luar labirin: tiga puluh, mungkin empat puluh dracaena berpakaian tempur lengkap, menyandang perisai dan jaring. Mereka menyebar ke segala arah. Beberapa menabrak jembatan yang telah dihaparkan pondok Hephaestus. Salah satu tersangkut tombak dan menjadi target mudah bagi para pemanah. Yang lain memicu kawat jebakan, dan kendi-kendi api Yunani meledak menghasilkan nyala hijau, menelan beberapa wanita naga. Tapi lebih banyak lagi yang terus berdatangan. Argus dan para prajurit Athena bergegas maju untuk menghadapi mereka. Kulihat Annabeth mengunus pedang dan menyerang salah satu dari mereka. Di dekat sana, Tyson sedang menunggang raksasa. Entah bagaimana dia berhasil memanjat ke punggung si raksasa dan memukuli kepalanya dengan perisai perunggu—BONG! BONG! BONG! BONG!
Chiron dengan tenang membidikkan anak panah demi anak panah, menjatuhkan satu monster seiring tiap tembakan. Tapi lebih banyak musuh terus memanjat ke luar labirin. Akhirnya seekor anjing neraka—bukan Nyonya O’Leary—melompat keluar dari terowongan dan meluncur tepat ke arah para satir.
“PERGI!” teriak Chiron kepadaku.
Aku menghunus Reptide dan menyerang.
Saat aku berpacu menyebrangi medan tempur, kulihat hal-hal mengerikan. Blasteran musuh sedang bertarung dengan seorang putra Dionysus, tapi pertarungan itu tidak seimbang. Musuh menikam lengannya kemudia memukul kepalanya dengan gagang pedangnya, dan putra Dionysus pun terjatuh. Prajurit musuh yang lain menembakkan anak panah yang terbakar ke pepohonan, membuat para pemanah kami serta para dryad panik.
Selusin dracaena tiba-tiba memisahkan diri dari pertempura utama dan melata memisahkan diri dari pertempuran utama dan melata menyusuri jalan setapak yang menuju ke arah pekemahan, seakan mereka tahu ke mana mereka pergi. Kalau mereka keluar, mereka bisa membakar seluruh tempat ini, tanpa lawan sama sekali.
Satu-satunya orang yang berada dekat sana adalah Nico di Angelo. Dia menikam seekor telekhine, dan mata pedang hitam Stygian-nya menyerap intisari si monster, mereguk energinya sampai tidak ada yang tersisa selain debu.
“Nico!” teriakku.
Dia memandang ke arah yang kutujuk, melihat para wanita ular, dan paham seketika.
Dia menghela napas dalam-dalam dan mengulurkan pedang hitamnya. “Layani aku,” serunya memanggil bala bantuan.
Bumi berguncang. Retakan terbuka di depan para dracaena, dan lusinan prajurit zombi merayap dari tanah—mayat-mayat mengerikan yang mengenakan seragam militer dari berbagai periode waktu yang berbeda—pejuang Revolusi AS, centurion Romawi, kavaleri Napoleon yang menunggangi kerangka kuda. Sebagai satu kesatuan, mereka menghunus pedang mereka dan menyerbu para dracaena. Nico jatuh berlutut, tapi aku tak punya waktu untuk memastikan apa dia baik-baik saja.
Aku menghalangi si anjing neraka, yang sekarang menggiring para satir kembali ke hutan. Makhluk itu berusaha menggigit salah satu satir, yang menari kabur dari lintasannya, tapi kemudian ia menerjang satur lain yang terlalu lambat. Perisai kulit kayu si satuir retak saat dia jatuh.
“Hei!” teriakku.
Si anjing neraka menoleh. Ia menyerigai kepadaku dan melompat. Ia pasti bakal mencakarku sampai tercabik-cabik, tapi saat aku jatuh ke belakang, jemariku menggenggam sebuah kendi tanah liat—salah satu wadah Beckendorf yang berisi api Yunani. Aku melemparkannya ke kerongkongan si anjing neraka, dan makhluk itu pun terbakar. Aku terhuyung-huyung menjauh, tersengal-sengal.
Satir yang terinjak tidak bergerak. Aku bergegas menghampiri untuk memeriksanya, tapi kemudian kudengar suara Grover: “Percy!”
Kebakaran hutan telah terpicu. Nyala api menggelora pada jarak tiga meter dari pohon Juniper, dan Juniper serta Grover heboh berusaha menyelamatkannya. Grover memainkan lagu hujan dengan seluringnya. Juniper susah payah mencoba memadamkan api dengan cara memukul-mukulkan selendang hijaunya, tapi semua itu cuma membuat keadaan tambah buruk.
Aku lari ke arah mereka, melompat melewati duel-duel, berbelok-belok di antara kaki para raksasa. Air terdekat terletak di sungai, lebih dari setengah kilometer jauhnya ... tapi aku harus melakukan sesuatu. Aku berkonsentrasi. Ada tarikan di perutku, gemuruh di telingaku. Kemudian dinding air memacar melewati pepohonan. Air menyiram api, Juniper, Grover, dan bisa dibilang semuanya.
Grover menyemburkan air. “Makasih, Percy!”
“Nggak masalah!” Aku lari kembali ke arah pertempuran, dan Grover serta Juniper mengikuti. Grober memegang gada di tangannya dan Juniper memegang tongkat—seperti cemeti gaya lama. Dia terlihat sangat marah, seakan dia bakal mencambuki bokong seseorang.
Tepat ketika pertempuran tampaknya seimbang lagi—seakan kami mungkin punya peluang—pekikan tak wajar bergema keluar dari Labirin, bunyi yang pernah kudengar sebelumnya.
Kampê terlontar ke angkasa, sayap kelelawarnya terentang sempurna. Dia mendarat di atas Kepalan Zeus dan mengamati pembantaian di sekitarnya. Wajahnya dipenuhi kegembiraan keji. Kepala-kepala hewan mutan menggeram di pinggirnya. Ular-ular berdesis dan meliak-liuk di sekitar kakinya. Di tangan kaannya dia memegang bola benang gemerlapan—benang Ariadne—tapi dia melemparkan bola benang itu ke mulut seekor singa di pinggangnya dan mengeluarkan pedang lengjyngnya. Bilahnya berkilau hijau karena racun. Kampê memekikan kemenangan, dan beberapa pekemah menjerit. Yang lain mencoba berlari dan terinjak oleh anjing neraka atau raksasa.
“Di Immortales!” teriak Chiron. Dia cepat-cepat membidikkan anak paah, tapi Kampê tampaknya merasakan kehadirannya. Dia pun terbang dengan kecepatan luar biasa, dan anak panah Chiron berdesing melewati kepalanya tanpa melukainya.
Tyspn melepaskan dirinya dari si raksasa yang dia hajar sampai tidak sadarkan diri. Dia lari ke barisan kami, meneriakkan, “Berdiri! Jangan lari darinya! Bertarung!”
Tapi kemudian seekor anjing neraka melompat ke arahnya, dan Tyson serta si anjing berguling menjauh.
Kampê mendarat di atas tenda komando Athena, menghantamnya sampai rata. Aku lari mengjarnya dan mendapati Annabeth di sisiku, berusaha menyesuaikan diri dengan kecepatanku, pedangnya di tangannya.
“Mungkin ini akhirnya,” katanya.
“Bisa saja.”
“Senang bertarung bersamamu, Otak Ganggang.”
“Sama.”
Bersama-sama kami melompat ke dalam jangkauan si monster. Kampê mendesis dan menyabet ke arah kami. Aku menghindar, mencoba mengalihkan perhatiannya, sementara Annabeth melakukan serangan. Tapi si monster tampaknya bisa bertarung dengan kedua tangannya secara bebas. Dia memblok pedang Annabeth, dan Annabeth harus melompat mundur untuk menghindari kepulan racun: Berada dekat makhluk itu saja rasanya seperti berdiri di tengah-tengah kabut asam. Mataku perih. Paru-paruku tak bisa mendapatkan cukup udara. Aku tahu kami tidak bisa bertahan selama lebih dari beberapa detik.
“Ayo!” teriakku. “Kita perlu bantuan!”
Tapi tidak ada bantuan yang datang. Semua orang entah sudah gugur, atau berjuang demi nyawa mereka, atau terlalu takut untuk bergerak maju. Tiga anak panah Chiron mencuat dari dada Kampê, tapi dia cuma meraung lebih kencang.
“Sekarang!” kata Annabeth.
Bersama-sama kami menerjang, menangkis sabetan si monster, masuk ke daerah pertahanannya, dan hampir ...hampir berhasil menusuk dada Kampê, tapi kepala beruang besar melecut dari pinggang si monster, dan kami harus bersusah payah mundur untuk menghindar supaya tidak tergigit.
Plak!
Penglihatanku jadi gelap. Hal berikutnya yang kutahu, Annabeth dan aku sudah di tanah. Si monster menekankan kaki depannya ke dada kami, menahan kami. Ratusan ular melata tepat di atasku, mendesis-desis seakan tertawa. Kampê mengangkat pedangnya yang bernuansa hijau, dan aku tahu Annabeth dan aku kehabisan pilihan.
Lalu, di belakangku, sesuatu melolong. Dinding kegelapan menabrak Kampê, mengirimkan si monster melayang ke samping. Dan Nyonya O’Leary berdiri melampaui kami, menggeram dan menggonggongi Kampê.
“Gadis baik!” kata sebuah suara yang familier. Daedalus berjuang untuk keluar dari Labirin, menyabet musuh di sana-sini saat dia berjalan ke arah kami. Di sebelahnya ada seseorang yang lain—raksasa yang familier, jauh tinggi daripada raksasa Laistrygonian, dengan ratusan tangan berotot, masing-masing memegang potongan besar batu.
“Briares!” teriak Tyson terkejut.
“Salam, Adik kecil!” raung Briares. “Tetap waspada!”
Dan saat Nyonya O’Leary melompat dari lintasan tembak, sang Tangan Seratus melacarkan voli batu besar kepada Kampê. Batu-batu itu tampaknya membesar saat meninggalkan tangan Briares. Ada banyak sekali batu sampai-sampai kelihatannya separuh bumi sedang belajar terbang.
BUUUUUM!
Di tempat Kampê berdiri sesaat sebelumnya cuma ada segunung batu, hampir setinggi Kepalan Zeus. Satu-satunya tanda bahwa monster itu pernah ada hanyalah dua unung pedang hijau yang mencuat keluar lewat retakan.
Sorak-sorai diserukan oleh para pekemah, tapi musuh kami belum habis. Salah satu dracaena berteriak, “Bantai mereka! Bunuh mereka sssssemua atau Kronossss akan menguliti kalian hidup-hidup!”
Rupanya, ancaman itu lebih menakutkan daripada kami. Para raksasa mendesak maju dalam serangan putus asa yang terakhir. Salah satu mengangetkan Chiron dengan pukulan singkat ke kaki belakangnya, dan dia pun terhuyung-huyung dan terjatuh. Enam raksasa berseru kegirangan dan bergegas maju.
“Tidak!” teriakku, tapi aku terlalu jauh untuk membantu.
Kemudian itu terjadi. Grover membuka mulutnya, dan bunyi paling mengerikan yang pernah kudengar mengemuka. Kedengarannya seperti bunyi trompet kuningan yang diperbesar seribu kali—bunyi rasa takut murni yang amat sangat.
Sebagai satu kesatuan, kekuatan Kronos menjatuhkan senjata mereka dan lari menyelamatkan diri. Para raksasa menginjak para dracaena yang mencoba masuk ke Labirin lebih dulu. Para telekhine dan anjing neraka dan blasteran musuh tergopoh-gopoh menyusul mereka. Terowongan bergemuruh tertutup, dan pertempuran pun usai. Bukaan sepi, hanya ada api membakar hutan, dan erangan orang-orang yang terluka.
Aku membantu Annabeth berdiri. Kami lari menghampiri Chiron.
“Apa Bapak baik-baik saja?” tanyaku.
Dia berbaring miring, sia-sia mencoba bangun. “Memalukan sekali,” gumamnya. “Kupikir aku akan baik-baik saja. Untunglah kita tidak menembak centaurus yang patah ... Aw! ... patah kaki?”
“Bapak perlu bantuan,” kata Annabeth. “Akan saya panggil tenaga medis dari pondok Apollo.”
“Tidak,” Chiron berkeras. “Ada cedera yang lebih serius yang mesti ditangani. Pergilah! Aku baik-baik saja. Tapi, Grover ... nanti kita harus mengobrol soal bagaimana kau melakukan yang tadi.”
“Tapi itu luar biasa,” aku setuju.
Grover merona. “Aku nggak tahu dari mana asalnya.”
Juniper memeluknya erat-erat. “Aku tahu!”
Sebelum Juniper bisa mengakatakan lebih banyak lagi, Tyson berseru, “Percy, cepat ke sini! Nico!”
Ada asap mengepul-ngepul dari pakaian hitamnya. Jemarinya mengepal, dan rumout di sekeliling tubuhnya menguning dan mati.
Aku menggulingkannya selembut yang kubisa dan meletakkan tanganku di dadanya. Jantungnya berdenyut lemah. “Ambil nektar!” teriakku.
Salah satu pekemah Ares terpincang-pincang mendekat dan menyerahkan wadah minuman kepadaku. Aku meneteskan sejumlah minuman ajaib itu ke mulut Nico. Dia batuk-batuk dan tersedak, tapi kelopak matanya bergerak terbuka.
“Nico, apa yang terjadi?” tanyaku. “Apa kau bisa bicara?”
Dia mengangguk lemah. “Tidak pernah mencoba memanggil sebanyak itu sebelumnya. Aku—aku akan baik-baik saja.”
Kami membantunya duduk tegak dan memberinya nektar lagi. Dia berkedip-kedip memandang kami, seakan dia sedang mencoba mengingat-ingat siapa kami, dan kemudian dia memusatkan perhatian pada seseorang di belakangku.
“Daedalus,” kuaknya.
“Ya, Nak,” kata sang penemu. “Aku melakukan kesalahan yang sangat buruk. Aku datang untuk memperbaikinya.”
Di tubuh Daedalus ada beberapa luka gores yang mengucurkan minyak keemasan, tapi dia terlihat lebih baik daripada sebagian besar dari kami. Rupanya tubuh automatonnya menyembuhkan diri dengan cepat. Nyonya O’Leary membayangi di belakangnya, menjilati luka-luka di kepala majikannya sehingga rambut Daedalus tampak lucu karena berdiri semua. Briares berdiri di sampingnya, dikelilingi oleh sekelompok pekemah dan satir yang terkagum-kagum. Dia kelihatannya malu, tapi dia menorehkan tanda tangan di baju zirah, perisai, dan T-shirt.
“Aku menemukan sang Tangan Seratus saat aku melewati labirin,” Daedalus menjelaskan. “Tampaknya dia punya ide yang sama, untuk datang membatu, tapi dia tersesat. Dan oleh sebab itu kami pun datang bersama-sama. Kami berdua datang untuk menebus kesalahan.”
“Hore!” Tyson melompat naik-turun. “Briares! Aku tahu kau bakal datang!”
“Aku tidak tahu,” kata sang Tangan Seratus. “Tapi kau mengingatkanku akan siapa diriku, Cyclops. Kaulah pahlawannya.”
Tyson merona, tapi aku menepuk punggungnya. “Aku sudah lama tahu soal itu,” kataku. “Tapi, Daedalus ... pasukan Titan masih di bawah sana. Bahkan tanpa benang, mereka bakal kembali. Mereka bakal menemukan cara cepat atau lambat, dengan Kronos yang memimpin mereka.”
Daedalus menyarungkan pedangnya. “Kau benar. Selama Labirin masih ada di sini, musuh kalian bisa menggunakannya. Itulah sebabnya Labirin tak bisa berlanjut.”
Annabeth menatapnya. “Tapi Anda bilang Labirin terikat dengan daya hidup Anda! Selama Anda masuh hidup—“
“Ya, Arsitek Mudaku,” Daedalus setuju. “Saat aku mati, Labirin juga akan mati. Dan oleh sebab itu aku punya hadiah untukmu.”
Dia melepaska tas kulit dari punggungnya, membuka resletingnya, dan mengeluarkan komputer laptop perak mulus—salah satu yang kulihat di bengkel kerja. Di tutup ada simbol D biru.
“Pekerjaanku ada di sini,” kataku. “Cuma ini yang berhasil kuselamatkan dari kebakaran. Catatan tentang proyek-proyek yang tidak pernah kumulai. Beberapa rancangan favoritku. Aku tidak bisa mengembangkan ini selama beberapa milenium terakhir. Aku tidak berani mengungkapkan karyaku ke dunia fana. Tapi mungkin kau akan menganggapnya menarik.”
Dia menyerahkan komputer itu kepada Annabeth, yang menatapnya seperti emas murni. “Anda akan menyerahkan ini padaku? Tapi ini tak ternilai! Harganya ... aku bahkan tidak tahu berapa!”
“Kompensasi kecil atas tindakanku,” kata Daedalus. “Kau benar, Annabeth, mengenai anak-aak Athena. Kita semestinya bijaksana, dan aku tidak. Suatu hari kau akan menjadi arsitek yang lebih hebat daripada aku. Ambil gagasan-gagasanku dan kembangkanlah. Inilah paling tidak yang bisa kulakukan sebelum aku berpulang.”
“Tunggu,” kataku. “Berpulang? Tapi Anda tidak bisa membunuh diri Anda begitu saja. Itu salah!”
Dia menggelengkan kepalanya. “Tidak sesalah bersembunyi dari kejahatan selama dua ribu tahun. Kegeniusan bukan alasan untuk kejahatan, Percy. Waktuku sudah tiba. Aku harus menghadapi hukumanku.”
“Anda tidak akan memperoleh persdangan yang adil,” kata Annabeth. “Arwah Minos duduk di kursi penghakiman—“
“Akan kuterima apa yang datang,” katanya. “Dan memercayai keadilah Dunia Bawah, apa adanya. Cuma itu yang bisa kulakukan, kan?”
Dia memandang tepat ke mata Nico, dan wajah Nico menggelap.
“Ya,” katanya.
“Akankah kau ambil jiwaku untuk tebusan, kalau begitu?” tanya Daedalus. “Kau bisa menggunakannya untuk mengembalikan kakakmu.”
“Tidak,” kata Nico. “Aku akan membantumu membebaskan jiwamu. Tapi Bianca sudah pergi. Dia harus tinggal di tempatnya berada sekarang.”
Daedalus menganggu. “Kerja bagus, putra Hades. Kau jadi bijaksana.” Kemudian dia menoleh kepadaku. “Aku minta tolong untuk terakhir kalinya, Percy Jackson. Aku tidak bisa meninggalkan Nyonya O’Leary sendirian. Dan dia tidak mau kembali ke Dunia Bawah. Maukah kau merawatnya?”
Kupandang anjing hitam besar itu, yang merengek-rengek menyedihkan, masih menjilati rambut Daedalus. Aku berpikir bahwa apartemen ibuku tak akan mengizinkan anjing dipelihara, terutama anjing yang lebih besar daripada bangunan apartemen, tapi kubilang, “Iya. Tentu saja aku mau.”
“Kalau begitu aku siap bertemu putraku ... dan Perdix,” katanya. “Aku harus memberi tahu mereka betapa menyesalnya aku.”
Ada air mata di mata Annabeth.
Daedalus menoleh ke arah Nico, yang menghunus pedangnya. Awalnya aku takut Nico bakal membunuh sang penemu tuda, tapi dia cuma berkata, “Waktumu sudah lama tiba. Bebaslah dan beristirahatlah.”
Senyum lega melintasi wajah Daedalus. Dia membeku seperti patung. Kulitnya berubah jadi transparan, mengungkapkan gigi roda da mesin perunggu yang berubah menjadi abi kelabu dan hancur.
Nyonya O’Leary melolong. Aku menepuk-nepuk kepalanya, mencoba menghiburnya sebisaku. Bumi bergemuruh—gempa bumi yang mungkin bisa dirasakan di semua kota besar di seluruh negeri—saat Labirin kuno runtuh. Di suatu tempat, kuharap, sisa-sisa pasukan penyerbu Titan terkubur.
Aku melihat ke sekeliling, ke bekas-bekas pembantaian di bukaan, dan wajah letih teman-temanku.
“Ayo,” kataku pada mereka. “Kita punya pekerjaan untuk dilakukan.”[]

Comments